Langit malam yang terakhir kali kulihat, telah berganti menjadi pemandangan yang menyilaukan. Aku mengangkat tangan, menempelkannya di dahi untuk melindungi pemandanganku dari cahaya matahari.
"Cuacanya bagus banget ya?" kataku berbasa-basi.
Membuat Steve yang tengah mendorong kursi roda menurunkan pandangannya. "Iya sih. Tapi jangan sekali-kali kamu berpikir buat ajak aku ke rumah Pak Juli hari ini, ya?"
Aku mendecak, lalu menyilangkan kedua tanganku di daada. "Kamu ini bisa baca pikiranku ya sekarang?"
Langkah Steve terhenti, begitu juga dengan kursi roda yang sedang kunaiki. Kami sudah tiba di depan mobil dan Steve merendahkan tubuhnya untuk bisa berbicara denganku. "Yes, Hon. Aku bisa tahu kalau kamu bakal suka sama aku dan cinta mati, makanya kita bisa nikah sekarang."
"Ih,