Kata polisi, penyebab kematian nenek yang nggak lain noni-noni Belanda yang diserap jiwa mudanya itu harus menunggu hasil autopsi.
Para polisi meninggalkan gedung hotel setelah melaksanakan tugasnya. Sementara aku dan perempuan yang kini menjadi muda masih berdiri berhadapan.
“Kamu nggak takut aku menyerap dirimu?” tanyanya bikin aku memutar bola mata.
Dia nggak tahu siapa aku jadi wajar kalau menantangku. Melangkah mendekatiku dengan percaya diri. Aku cuma bisa tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya yang memang nggak perlu dijawab.
Dia tertawa seakan ada sesuatu yang patut ditertawakan. Nih hantu jadi-jadian ternyata manusia sejati yang artinya wujudnya memang benar-benar nyata. Padahal awalnya kupikir dia hantu sebab itu yang kulihat pertama kali.
Tapi wujud tak kasat mata itu berubah jadi kasat mata setelah menyedot jiwa perempuan malang tadi.
“Siapa sebenarnya dirimu?” tanyaku penasaran karena baru kali ini aku bertemu dengan makhluk seperti dia.
Wajah culasnya mendadak berubah kalem lalu menangis tersedu-sedu, seperti yang ia lakukan tadi. Bikin aku heran dengan sikapnya yang sangat munafik.
“Aku nggak menyangka melihat kejadian yang mengerikan itu. Aku pasti mengalami trauma. Apalagi ia sebangsa denganku,” ujarnya sambil mengusap matanya dengan sapu tangan.
“Hon, katanya sarapan. Ayo! Lo orang ini kenapa?” tanya Steve.
Sekarang aku tahu alasan kenapa mendadak ia berubah. Wah hantu ini sih memang nggak bisa dikasih ampun. Sudah menyerap tubuh manusia masih juga pingin menggaet suamiku.
“Orang ini … hantu!” bisikku tepat di telinga Steve.
Steve memindai perempuan itu dari kaki hingga kepala lalu dari kepala hingga kaki. Tapi bukan Steve namanya kalau nggak percaya ucapanku. Ia mengangguk-angguk mengerti sambil merangkulku dan mengajakku pergi.
Saat melangkah menjauh aku memberinya jempol terbalik karena nggak bisa menaklukkan hati Steve. Nggak akan bisa.
***
Saat duduk di restoran, Steve kembali menanyakan soal hantu yang tadi ia lihat. Aku menceritakan apa yang terjadi dan ia mengangguk-angguk untuk menunjukkan kalau sedang memperhatikan ucapanku.
“Kita nggak bisa tinggal diam, Hon. Panggil saja POLIKHUSTRAL.” Steve menggenggam tanganku erat.
“Hadew, Steve. Kita ini Chasing Ghost,” ujarku agak berbisik, nggak enak sama tamu lain yang juga sedang menikmati makanan.
Nggak banyak orang yang tahu tentang ghost hunter atau pun chasing ghost. Aku nggak mau dikira nggak waras hanya karena bahas hal beginian. Wah, malulah.
“Ya, tapi kita kan mau honey moon. Masak kita malah bertugas. Duh, aku lebih suka bertugas menangkapmu dan membawamu ke ranjang. Mau bergelut berapa ronde pun hajar.”
Waduh kambuh lagi penyakitnya. Steve bikin aku gemas kalau bahas beginian.
“Jangan begitu, Steve. Nih badanku udah capek banget sudah kamu ajak sparring semalam sampai pagi. Ntar kalau kita berhasil membekuk tuh hantu jadi-jadian, boleh lah kamu makan aku sampai puas.”
“Aku harus telepon POLIKHUSTRAL dulu. Siapa tahu mereka bisa gerak cepat. Biar aku juga bisa gerak cepat denganmu.” Duh, kirain dia mau ngomong apa. Ternyata masih soal itu juga.
“Kamu kelamaan sembunyi ya sampai kalau ada masalah begini malah panggil POLIKHUSTRAL. Kalau Peter sih pasti ngajak aku buat menangkapnya baru hubungi pihak berwajib,” ucapku bikin bibirnya mengerucut.
“Kamu jangan sebut namanya di depanku, Hon. Sekalipun dia diriku juga, tapi aku cemburu kalau kamu menyebut namanya,” ucapnya dengan wajah ditekuk.
“Aduh, maaf, Sayangku….” Aku mencubit pipinya gemas. Tapi dia malah tertawa kegirangan setelah kusebut sayang.
Menikmati sarapan plus makan siang yang enak membuat suasana hatiku yang sempat kacau kini kembali lebih baik.
Setelah kenyang, aku dan Steve kembali ke kamar untuk merencakan cara meringkus tuh hantu yang sudah jadi manusia abal-abal.
Melewati lorong dekat kamar, aku kembali melihat perempuan itu. Berdiri nggak jauh dari kamarku, entah apa yang ingin ia lakukan.
Melihat dia bikin aku ingin membuatnya cemburu. Aku sengaja menarik Steve agar menghadapku. Aku terperangkap antara Steve dan tembok. Berdiri nggak jauh dari lift yang tertutup dan kamarku yang ada dekat dengan yang paling sudut.
“Honey, ada apa?” tanyanya.
Aku melirik perempuan itu yang masih berdiri memandangku. Satu sudut bibirku terangkat kemudian aku menjinjit dan mengecup bibir Steve.
Seperti yang kuduga, Steve gampang banget dirayu. Satu kecupan saja sudah bikin dia menyerang bibirku tanpa ampun. Sampai kakiku lemas jadi dia harus menopangku.
Steve menggendongku dan berjalan menuju kamar kami. Melewati perempuan yang matanya membulat saat melihat kemesraanku dengan Steve.
Memang akunya yang punya ide gilaa macam ini. Tapi puas sekali udah bikin manusia abal-abal itu panas dingin melihat adegan dewasa yang nggak pantas dilihat anak-anak. Tapi sebodoh amat meskipun aku yakin orang yang melihat CCTV pun jadi panas dingin melihat kami berdua.
Yang penting asik!
Di dalam kamar, Steve meletakkanku di atas ranjang. Menaikiku dengan penuh gairahh. Matanya berkabut dan itu membuatku merayap mundur. Aku tahu apa yang ada di kepalanya, tapi aku harus bertanggung jawab jadi mau nggak mau aku harus menerima hukumannya.
***
Badanku semakin remuk rasanya. Bahkan buat berdiri aja rasanya susah. Steve harus menggendongku ke kamar mandi karena aku sudah kehilangan banyak tenaga. Suamiku yang paling omesh dan doyan banget menjamahku itu memandikanku dengan sangat lembut dan hati-hati. Kali ini murni mandiin aku tanpa minta jatah lagi.
Saat mandi berendam di bath tub, ada angin berembus membuat gorden kamar mandi bergerak pelan. Aku merasakan kehadiran makhluk lain ada disini.
“Steve, aku sudah selesai,” ujarku.
Steve langsung mengambil bathrobe dan membantuku memakainya. Menggendongku kembali ke ranjang.
Baru kali ini tenagaku beneran habis. Bukan karena menghajar hantu tapi malah dihajar Steve. Mataku berat sekali jadi aku langsung tidur meskipun masih memakai bathrobe.
***
Aku bangun tidur dengan badan yang lebih enakan. Menguap sambil mengencangkan badan lalu baru kusadari kalau ternyata sudah memakai T shirt ijo dan celana pendek ijo army. Aku melihat ke daleman ternyata juga sudah pakai.
Steve emang bisa diandalkan.
Hari sudah malam, jam sudah menunjuk angka tiga pagi tapi Steve nggak ada di kamar. Mungkin di kamar mandi. Jadi aku segera melangkah dengan berat menuju kamar mandi.
“Kemana sih, Steve malem-malem gini,” gumamku.
Aku keluar kamar dan melongok ke kanan dan ke kiri. Tapi nggak ada siapapun kecuali suara yang sebenarnya nggak terlalu keras tapi masih kedengeran.
“Steve, apa bagusnya cewekmu itu. Dia item, dekil, jelek.” Suara perempuan yang bikin aku langsung ngeh kalau itu adalah manusia abal-abal yang menyedot energi muda noni-noni Belanda.
“Steve, apa yang kamu lakukan!” serunya lagi, dengan suara yang seperti ditahan.
Aku melangkah ke arah sumber suara. Steve dan perempuan itu berdiri berhadapan. Aku berada di samping mereka berdua tapi mereka nggak menyadarinya.
Steve mengulurkan tangan yang sudah menyala merah. “Nggak ada yang boleh jelekin istriku. Bunga itu cewek tercantik yang pernah kulihat. Aku miliknya. Nggak ada siapapun yang bisa mengambilku darinya. Apalagi setann seperti kamu!” ujarnya sambil mencekik cewek abal-abal itu.
Steve mencekik leher cewek itu sampai cewek itu bergetar hebat. Rambut hitamnnya tiba-tiba berubah putih. Kulit kencangnya tiba-tiba keriput. Steve masih terus mencekiknya, sampai lidah cewek itu menjulur panjang sampai melewati dagu.
Aku mendekati Steve dan memeluknya sambil melihat cewek jadi-jadian yang ingin merebutnya.
Steve tersenyum padaku, “I love you, Honey!” ujarnya.