Zean tak langsung ke apartment, tapi ia justru pulang ke rumah. Satu hari ini dirinya belum pulang dan tentunya belum ketemu dengan orang tuanya yang sudah sampai tadi siang.
Saat sampai, ia langsung masuk ke dalam rumah. Mendapati laki-laki paruh baya yang tengah duduk menyeruput segelas kopi hangat di ruang keluarga.
Pandangan itu mengarah padanya, lengkap dengan sebuah senyuman mengembang. Lanjut menghampiri dan memeluk laki-laki paruh baya itu.
“Kamu baru pulang di jam segini ... apa tiap hari?” Laki-laki bernama Dion itu menatap fokus pada putranya.
“Enggak, Pa. Aku baru pulang karena tadi nganterin Eren dulu ke rumahnya.”
“Syukurlah jika Serena sudah membaik. Papa turut bahagia, karena itu juga pastinya mempengaruhi kehidupan kamu.”
Dion yang seakan paham betul bagaimana posis