Aku sudah siap dengan pakaian paling manusiawi yang ada di dalam koper. Wulan benar-benar keterlaluan.
Dia hanya membawa dua potong kaos usang dan celana pendek buruk serta topi penyamaran untukku, jika sudah begini bagaimana aku akan percaya diri pergi bersama Dito.Langkahku memang sangat ragu-ragu saat menghampiri Wulan di area kolam renang untuk meminta izin.
"Lan, gue diajak pergi sama Pak Dito, gimana nih?" tanyaku lemah.
"Ke mana? Check in? Inget ya, Sarah. Lo bukan model kaleng-kaleng. Lo mantan runner up kontes kecantikan yang melambangkan keanggunan wanita Indonesia, jangan sampai ...." Wulan menghentikan kata-katanya sambil tersenyum kepada seseorang di belakangku.
"Nggak boleh ya? Atau Mbak Wulan mau ikutan?" Suara Dito terdengar sopan, membuatku sedikit kesulitan untuk tidak merasa besar kepala.
"Bukan begitu, Pak Dito." Wulan terlihat gugup melanjutkan kata-katanya. Tumben. Biasa dia sangat ahli debat kusir tanpa akhir, namun entah mengapa berhadapan dengan Dito membuat bibirnya yang lancip itu bungkam seketika.
Kulihat Dito mengetik sesuatu di ponselnya, kemudian di susul oleh denting notifikasi pada ponsel milik Wulan. Dito berkata bahwa dia sudah mengirimkan uang sejumlah lima juta rupiah sebagai entertain untuk kru kami termasuk Wulan selama aku pergi bersamanya.
Tentu saja Wulan setuju, dia memang benar-benar mata duitan dan lebih mirip lintah darat ketimbang managerku, untung saja wanita kejam itu selalu mengurus keperluanku dengan baik. Memperhatikan kontrak-kontrak kerja dan menegur client yang terlambat melunasi pembayaran.
Setelah negosiasi, akhirnya Wulan mengizinkanku pergi dengan Dito maksimal selama tiga jam.Dito sepakat dengan waktu yang diberikan sedangkan aku tidak. Jalanan di kota Bandung pasti akan macet dan tiga jam tidaklah cukup untuk bersenang-senang menikmati banyak hal di sana. Pria itu dengan lancang mencekal pergelangan tanganku, menariknya menuju ke mobil.
"Pak, tapi penampilan saya nggak banget nih." Aku menunduk lemah saat melihat refleksi diri di body mobil Dito. Penampilanku lebih mirip anak punk ketimbang foto model. Wulan memang benar-benar tidak punya akhlak!Iya, benar bahwa aku harus selalu dalam mode penyamaran di tempat umum, tapi kenapa harus celana model sobek-sobek dan kaos buruk yang sudah tidak jelas warna aslinya, sih.
"Perfect, Sarah." Dito mengacungkan jempol dan mengisyaratkan agar aku segera masuk ke dalam mobil.Laki-laki itu menyetir sendiri kendaraannya membelah jalanan di daerah Lembang. Aroma mobil Dito sangat segar seperti jus buah yang baru diolah, membuatku menghirupnya dalam-dalam beberapa kali.
Kami berhenti di sebuah restoran yang terletak di jalan Raya Cikole dan saat itu keadaan sedang ramai."Pak, kita bisa makan ayam goreng tepung aja nggak, sih?" tanyaku.
"Junk food?" Aku mengangguk cepat dan Dito mengulas senyum manis sekali sambil keluar dari area parkir menuju ke salah satu drive thru makanan cepat saji. Dia memesan beberapa potong ayam goreng tepung, nasi, burger, pudding dan minuman.
"Wow banyak banget ini, Pak. Kita kayak mau pesta."
"Iya, kamu yang pesta. Saya tamunya."Kami saling melempar senyum dan Dito mengarahkan kembali mobilnya ke Vila. Dia merencanakan agar kami menikmati malam itu di parkiran vila saja agar tepat waktu kembali sesuai kesepatannya dengan Wulan.
"Pak Dito takut ya, sama Wulan?" Aku menggoda Dito karena beberapa kali dia terlihat melirikku melalui kaca spion tengah.
"Ah, nggak. Kenapa harus takut sama Wulan? Memangnya dia penyihir? Kamu nih ada-ada saja."Aku menoleh ke luar kaca jendela bagian samping, sambil mengulum senyum. Mendadak aku ingin menanyakan hal bodoh kepada pria di sampingku itu meskipun sudah bisa kutebak jawabannya.
"Takut jatuh cinta, mungkin."
Dito tertawa kecil sambil melihat ke sekitarnya, "Ya kenapa memangnya?"
Sial.Kenapa dia justru berbalik bertanya seperti itu kepadaku. Seharusnya dia langsung menjawab tidak, nggak mungkin, impossible, mustahil, apapun yang intinya mengelak. Kalau responnya begitu, kan artinya masih abu-abu. Bisa iya, bisa tidak.Aku hanya terdiam karena takut mendengar jawaban lain dari bibir Dito tentang Wulan.
"Hei, malah bangong. Kenapa memangnya?" Dito berhenti di sebuah toko souvenir dan mengajakku turun.
"Kita mau ngapain sih?" ketusku.
"Beli oleh-oleh." Dito memeriksa dompetnya lalu bernapas lega. Aku pernah mendengar, dia memang sangat jarang membawa uang cash bahkan pernah sekali waktu, salah satu stafnya bercerita, Dito pernah meminjam uang kepada office boy hanya untuk membeli semangkok bakso.
"Buat siapa memangnya?"
"Buat Wulan." Aih! Aku menjejakkan kaki meski saat dia menoleh, setengah mati kupaksa bibir ini tersenyum. Tanganku sudah mengepal ingin menghantam sesuatu namun tiba-tiba saja Dito menyentuh jemariku, mengajakku masuk untuk mulai berbelanja.
"Kalau suka sama Wulan kenapa nggak pergi sama dia aja tadi? Wulan pasti suka diajak belanja-belanja begini." Aku menggerutu tak berselera untuk memilih apapun.Ini adalah sebuah pelecehan.
Bagaimana bisa seorang pria berkelas seperti Dito justru terang-terangan mengatakan ketertarikannya kepada managerku. Seharusnya dia tahu betapa sengsara hidup bersama Wulan, bahkan bisa-bisa dia akan mati kelaparan.Dia mau menjadikanku Mak Comblang untuk mendekati Wulan? Berani-beraninya!
"Memangnya kamu nggak suka diajak belanja-belanja, Sarah?" Dito meminta seorang pramuniaga mengambilkan koleksi terbaru yang pas untukku.
"Ukuran badanku dan Wulan nggak sama, Pak. Percuma di setting badan saya, bakalan kesempitan dia sih."
"Saya nggak peduli, Sarah."Dito melipat tangan sambil menamati wajahku yang entah, mungkin terlihat jelek dan menyebalkan. Tapi anehnya dia tersenyum seolah ingin menggodaku.
"Harusnya kamu peduli." Aku menunduk lemah.
"Saya pedulinya sama kamu."Oh my God. Bahuku rasanya merosot meleleh bagaikan lilin kecil yang dibakar oleh api besar. Sulit rasanya untuk menahan bibir ini tak terangkat di kedua sisinya. Meskipun Arjuna sangat jago menggombal, tapi rasanya Dito melakukannya lebih elegant. Membuatku cemburu sampai ke urat saraf, hingga keningku berkedut-kedut, memacu adrenalin, lalu menyiramku dengan sebaskom air es.
Merinding tapi aku sangat menyukainya. Lagi dong, Dito.
"Pilih yang kamu suka, kita mau makan ayam goreng habis ini." Dito mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Pak Dito suka yang mana?" Meskipun rasanya aneh menghabiskan malam dengan pria lain, namun sejujurnya aku sangat menyukai sikap Dito.
"Terserah, mungkin selera kita beda. Yang baik menurut saya belum tentu kamu suka."
"Bapak tahu dari mana kalau selera kita beda, lalu kenapa tadi pesan ayamnya harus dua porsi, burger juga dua, semua dua, kalau memang seleranya nggak sama kenapa bisa kebetulan keinginan kita sama?" Duh, pertanyaanku sepertinya semakin menyimpang ke mana-mana. Dito memicingkan kedua matanya dengan sorot mata bertanya, namun aku memilih untuk mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kita seperti dua orang pacaran yang sedang berantem, Sarah. Kamu lucu deh." Dito menutup mulutnya, menertawakan aku.Bersambung ....