Suara pisau yang beradu dengan talenan, desisan minyak panas, serta aroma rempah-rempah yang memenuhi ruang. Itulah dunia yang selama ini hanya dikenal Hima melalui buku-buku tebal dan tayangan dokumenter.
Hari ini merupakan hari pertamanya bekerja sebagai koki junior di restoran ternama, La Lune.
"Aku siap," gumamnya pelan sambil merapikan seragam silver yang masih tampak bersih dan baru.
Meskipun pengalaman praktiknya di dapur nyata dapat dikatakan minim, namun pengetahuan Hima seluas lautan. Ia hafal di luar kepala segala jenis teknik memotong, suhu ideal pengolahan, hingga sejarah serta komposisi setiap masakan dari berbagai belahan dunia. Hima percaya, dengan kecerdasan dan kemampuannya menangkap instruksi dengan cepat, ia akan mampu beradaptasi dalam waktu singkat.
ia berangkat kerja pagi itu dengan percaya diri jika dirinya bisa memulai kembali karirnya dari awal di usia dewasa ini. dia tak punya pilihan, dengan pekerjaan saat ini pun dia dapatkan dari bantuan temannya ,dan dia percaya dapat melakukannya dengan baik.
"Selamat datang, Hima. Namun perlu kau ketahui, dunia kerja berbeda dengan di sekolah atau di tempat kursus Selain pikiran yang tajam, ketangkasan tangan juga sangat dibutuhkan," ujar salah satu rekan senior dengan nada serius. "Terlebih lagi, nanti kau akan bertemu dengan pemimpin kita."
"Pemimpin? Apakah manajer restoran?" tanya Hima dengan penuh tanda tanya.
"Bukan. Kepala Koki kita. Aritma."
Belum sempat Hima bertanya lebih jauh, suasana dapur yang tadinya cukup hiruk-pikuk mendadak hening total. Suasana berubah menjadi sedingin udara di dalam ruang pembeku.
Pintu besar dapur terbuka lebar.
Masuklah seorang pria dengan postur tegap dan wajah yang sangat tampan. Namun, tatapan matanya sedingin es. Wajahnya tampak datar tanpa ekspresi, namun aura kewibawaan yang dipancarkannya membuat seluruh staf di ruangan itu menunduk hormat sekaligus merasa segan.
Hal yang paling mengejutkan bagi Hima adalah sosok pria itu tampak sangat muda, mungkin hanya berselisih beberapa tahun saja.
"Dia... Kepala Koki?" bisik Hima tak percaya.
Aritma berjalan melewati barisan koki dengan langkah tenang namun mengintimidasi. Pandangannya yang tajam mengamati setiap sudut, hingga akhirnya berhenti tepat di hadapan Hima yang masih berdiri mematung.
"Kamu junior chef yang baru?"
Suaranya rendah, dingin, dan tegas.
"Saya Hima, Chef! Saya sangat senang dapat bekerja sama dengan Anda," jawab Hima sambil membungkuk dalam. Jantungnya berdegup kencang, perpaduan antara rasa kagum dan gugup.
Aritma menatap Hima dari atas ke bawah dengan wajah datar. "Teori atau praktik?" tanyanya tiba-tiba dengan kalimat singkat dan memotong.
"Maaf, Chef?"
"Aku melihat matamu berbinar seperti murid yang hanya bisa menghafal buku. Sebutkan rasio yang tepat untuk membuat Sauce Hollandaise yang stabil dan tidak mudah pecah."
Pertanyaan itu dilontarkan dengan cepat dan tajam. Seluruh koki di sekitar pun menahan napas. Mereka menyangka karyawan baru ini akan gagap dan kesulitan menjawab.
Namun, Hima justru mengangkat wajahnya dengan penuh keyakinan.
"Rasio antara kuning telur dan mentega cair adalah satu berbanding delapan, Chef! Suhu mentega tidak boleh terlalu panas agar telur tidak matang secara mendadak, serta proses pengadukan harus dilakukan searah dengan kecepatan stabil agar emulsi terbentuk sempurna!"
Jawaban itu terlontar dengan lancar, rinci, dan penuh keyakinan.
Wajah Aritma yang sedari tadi datar, kini menunjukkan perubahan. Matanya sedikit membelalak dan alisnya terangkat tipis. sebuah ekspresi yang sangat jarang dia tampilkan ia tampak terkejut. Karena tidak terbiasa menyembunyikan perasaan, wajah galak itu seketika berubah terlihat polos dan bahkan terkesan lucu saat ia sedang kebingungan.
"Oh..." hanya itu kata yang keluar dari mulutnya. Ia terdiam sejenak, seolah memproses mengapa jawaban yang diterima begitu sempurna.
"Apakah terdapat kesalahan pada jawaban saya, Chef?" tanya Hima hati-hati.
Menyadari sikapnya yang tidak wajar, Aritma segera berdeham keras, "Ehem!", dan dengan cepat memasang kembali wajah serius serta galaknya untuk menutupi rasa kaget barusan.
"Cukup! Pengetahuan teoritis yang baik tidak menjamin rasa masakanmu akan enak!" serunya dengan tegas, meski nada suaranya terdengar sedikit dipaksakan. "Di dapur ini, yang terpenting adalah hasil akhir! Banyak bicara tidak ada gunanya, segera kerjakan tugasmu!"
Ia pun membalikkan badan dan berjalan menjauh, namun sesekali ia melirik ke arah tangan Hima yang mulai sibuk mengiris sayuran.
Gerakannya cepat... dan potongannya sangat rata. Padahal ini baru pertama kali ia bekerja, batin Aritma heran. Wanita yang aneh.
Padahal, ia sendiri yang terlihat lebih aneh karena sibuk memperhatikan dari kejauhan sambil berpura-pura membersihkan peralatan masak.
Hima menghela napas panjang sambil memegangi dadanya.
"Tangguh sekali karakternya. Namun... saat wajahnya terlihat kaget tadi, ternyata cukup menggemaskan juga," gumamnya pelan disertai senyum kecil. "Ternyata Kepala Koki muda ini memiliki sisi yang unik."
.
..................