Dalam hitungan hari, waktu bergilir begitu cepat mengiring pada jenjang pendidikan menengah kejuruan. Tidak terasa, kemarin baru saja melaksanakan MOPD dan juga PERMATA. Sekarang, Mey harus mempersiapkan peralatan sekolah di awal malam. Ia sudah menjadi siswa resmi di SMK NEGERI 3 Tasikmalaya Jawa Barat. Mey bukanlah calon siswa berpenampilan seperti orang gila lagi. Waktu MOPD memang seperti itu. Pipi dan ujung hidung dibulati dengan lipstik merah, seragam SMP ditutupi dengan rompi kresek hitam, kepala ditutupi dengan topi besek berhias karton, tas selendang harus terbuat dari karung beras, dan sepatu bertali rapia warna-warni. Mengingat hal demikian, Mey menertawakan diri-nya sendiri pada sebuah foto moment MOPD. Ia sengaja meminta foto moment itu pada senior panitia MOPD. Malam itu, ia akan tidur dengan pulas. Kamar yang terang selalu menjadi teman disaat-nya tidur. Mey memang tidak suka dengan gelap. Besok, Ia akan pastikan berpenampilan rapih dengan seragam putih plus abu ditemani atribut lainnya.
(((
Pagi yang diharapkan telah tiba. Sebuah senyuman dan semangat belajar yang mendorong-nya pergi ke sekolah. Mey menggoes kedua roda sepeda dengan tenaga kaki betis-nya yang lumayan terbilang kuat. Entah berapa kilometer jarak dari rumah ke sekolah. Yang ia harapkan, ia bisa sampai di sekolah dengan tepat waktu dan selamat. Seperti biasa diawal masuk pertama sekolah, acaranya pasti tak berhujung benar. Semuanya belum terisi dengan kegiatan penuh dan keseriusan didalamnya. Lalu, seusai Upacara Bendera, akan diadakan kegiatan apa lagi? Mey bertanya-tanya dalam hati. Fitri mengajak-nya berjalan ke arah koridor. Pegal sekali berdiri dilapangan, apalagi panas terik matahari semakin menyorot. Berteduh sajalah!
“Kita akan masuk Teater bersama kan?” tanya Fitri sambil memegang tangan Mey.
“Iya, kita akan masuk bersama. Aku kan sudah janji!” jawab Mey sambil senyum meyakinkan.
Mey dan Fitri adalah sahabat yang bersama-sama masuk ke sekolah Seni Rupa. Tetapi, mereka berbeda jurusan. Hmm..tak apa! Meski berbeda jurusan yang penting harus bersama. Itulah guna seorang sahabat. Mereka tersenyum dan mengayun-ayunkan genggaman tangan mereka sambil berjalan santai. Ketika mereka hendak turun dari tangga koridor, beberapa siswa berjalan dan berlarian hingga hampir menabrak mereka yang tengah turun dari tangga. Mereka sama-sama bingung. Sebenarnya ada acara apa? Begitu penasarannya, mereka langsung melihat jadwal di mading dekat UKS. “Oo iya, Aku baru ingat!” Kata Mey mengagetkan Fitri. Hari pertama itu, akan ada pemilihan ekstrakurikuler. Itu merupakan kesempatan bagus untuk mereka berdua. Mereka segera pergi mengikuti rombongan siswa lainnya yang sama-sama akan memasuki masing-masing Basecamp.
“Permisi, Kamu masuk Ekskul apa?” Mey bertanya pada siswa laki-laki yang berbadan tinggi.
“Aku masuk Ekskul Paskibra.” Jawab siswa berbadan tinggi itu. Laki-laki tinggi itu langsung saja masuk ke ruangan teori 2. Mey langsung kaget, dan melihat ruangan yang dimasuki laki-laki itu. Gawat ! aku tidak boleh bertemu dengan kakak gendut itu. Bisa-bisa aku dipaksa masuk ke ruangan ini. iikkh...aku tidak mau! Gerutu Mey dalam hati sembari melihat kondisi ruangan basecamp Paskibra. Kakak Gendut yang di maksud oleh-nya adalah Seorang Panitia MOPD perwakilan dari Ekstra Paskibra yang dahulu pernah memaksa-nya untuk masuk ke Ekstra Paskibra. “Mey Ayo ! lebih cepat lagi jalannya.” Ajak Fitri menarik tangan Mey.
Ruangan Ekstra Teater ada diruangan paling atas. Mereka menggunakan anak tangga untuk mencapai ke atas. Dan sampai di tujuan . . .
“Ayo, Silahkan masuk!” Ajak seorang Kakak Kelas yang bernama Ardhi. Mey dan Fitri masuk ke ruangan. Mereka mencari tempat duduk. Bangku pertama yang mereka duduki. Calon Peserta Ekstrakulikuler Teater sudah berkumpul ditempat duduk mereka masing-masing. Lumayan, tidak terlalu sedikit dan juga tidak terlalu banyak. Artinya standar.
“Baiklah. Sebelum acara pengenalan Ekstra Teater dimulai, bagaimana jika kalian memperkenalkan diri?” Kata Kak Ardhi memulai bicara pada pertemuan pertama. Ia menoleh pada siswi berwajah lugu dan berkulit putih yang duduk dibangku pertama, yaitu Mey.
“Kamu, maju kedepan!” Ardhi menunjuk pada siswi berkerudung tali belakang yang tengah terlamun kaget. Mey maju ke depan dan memperkenalkan diri. Fitri mensuport teman dekat-nya yang sedang berkeadaan gugup berdiri didepan bersama Kak Ardhi yang menemani teman dekat-nya itu.
“Perkenalkan, nama saya Meysah Ray Idris. Saya biasa dipanggil Mey. Saya duduk dibangku x DKV3. . .” Mey bingung, ia tidak tahu harus berbicara apa lagi.
“Motivasi kamu masuk ke-Ekstra Teater apa? Apa hobi dan cita-cita kamu?” Kak Ardhi berusaha membantu Mey untuk menambah identitas perkenalan diri. Sekarang, Mey paham dan kembali meregakkan suara-nya yang kering.
“Motivasi saya masuk ke Teater ingin bisa akting dan juga ingin mencari tahu lebih dalam tentang seni drama teater. Hobi saya sebenarnya menyanyi, menggambar dan bermain gitar. Cita-cita saya ingin sekali menjadi Penulis dan pengusaha cetak digital offset. Terimakasih !” Kak Ardhi memberi Mey tepuk tangan, juga diikuti peserta lainnya.
“Hobi dan cita-cita kamu bagus sekali!” Kak Ardhi memuji Mey. Hati Mey tak enak dipuji seperti itu. Mey tidak mau berdiri lama didepan, sebaiknya ia kembali ke bangku asal-nya. Ya.. memang begitu seharusnya. Pengenalan diri masih berlanjut sampai akhirnya tahap pengisian formulir. Hari itu belum waktunya pemberian materi. Namanya saja baru memulai. Hanya itu saja mereka semua berkumpul di Basecamp. Sesudah itu langsung pulang. Belum puas sekolah hari ini!
“Kamu pulang naik apa?” tanya fitri. “Hari ini aku naik sepeda.” Jawab Mey dengan santai. “Berarti, aku pulang naik angkot sendirian dong?!” kata Fitri manyun menciut. Mereka berdua mengobrol sambil berjalan turun dari atas tangga. “Pergi saja dengan-ku. Kebetulan sepeda-ku punya jok belakang. Jadi, ada lowongan untuk kau pulang bersama-ku. Bagaimana? Kau mau tidak?” Tawar Mey pada Fitri. Fitri sejenak berpikir dan merespon dengan cepat. “Baiklah. Aku mau !” jawab-nya, ia mengangguk-angguk kegirangan.
Tak terduga dalam benak Mey, laki-laki gendut itu muncul diambang pintu ruangan Paskibra. Bumbum yang tengah bersandar pada ambang pintu tak sengaja melihat Mey bersembunyi dekat tangga. Apa yang harus aku lakukan? Rasa takut memutari pikiran Mey. Ia mencoba menghindar dan menarik tangan Fitri.
“Jangan jalan sana! Kita jalan kebelakang saja. Ayo!”
“Maksudmu? Memangnya kenapa kalau jalan depan?” Fitri sungguh keheranan melihat tingkah Mey yang gelisah ketakutan. Mey tidak bisa menceritakan dengan jelas padanya. Kalau pria gendut itu suka memaksa Mey untuk masuk Ekstra Paskibra. Hal yang Mey takuti, pria gendut itu mencoba menyeret-nya masuk ke ruangan itu. Masuk Ekstra, kenapa mesti ada pemaksaan segala?
“Aku tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya padamu. Sebaiknya kita pulang. Ayo!” Mereka berjalan dengan tergesa-gesa. Tiba-tiba ada sesuatu yang menahan langkah mereka. Mata mereka memusat ke bawah melihat sepatu hitam khas satpam bertali min kali kali min yang berukuran besar. Ternyata setelah mereka mengalihkan pandangan ke atas, mereka berdua nyaris kaget dan senyum melebar didepan pria gendut itu. Mey nyengir ketakutan.
“Hey, kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanya pria gendut itu menatap wajah Mey.
“Apa yang kakak inginkan dariku?” Mey menundukkan kepala disertai rasa takut dan malu. Setelah itu, Ia mengangkat kepala sekaligus memandang wajah bulat pria gendut itu. Sungguh, tidak nyaman bagi Mey untuk menatap wajah bulat Kak Bumbum. Yang ada, Mey akan terus tertawa. Kawanan pria gendut itu menghampiri Mey dan Fitri. Anggota ekstra Paskibra ternyata banyak juga. Berbeda sekali dengan Teater. Aduuh..mereka sebenarnya ingin apa? Kenapa mereka menatapku seperti itu? Tidak ! aku tidak boleh takut! Aku harus lawan mereka! Mulut Mey mulai terbuka secara lantang.
“Demo kalian waktu itu memang sangat bagus. Jadi, untuk apa kalian mendatangi-Ku dengan cara seperti ini. Kalau aku bilang tidak mau, ya TIDAK MAU ! Jangan memaksaku seperti itu!” Dengan kondisi genting, Mey berani berbicara dihadapan anggota Paskibra dan juga Koordinatornya. Fitri menatap wajah Mey yang berlumuran keringat pada atas bibir dan dagu. Anggota pasukan pengibar bendera itu tertawa. Mereka menduga sepertinya Mey sudah salah paham. Siapa yang akan memaksanya lagi? Pikir Koordinator Paskibra dalam hati.
“Ada yang harus kau ketahui tentang Paskibra. Paskibra menyambutmu dengan lembut dan sama sekali tidak ada pemaksaan. Hanya kami disini, memberi kesempatan luas bagimu untuk masuk ke Ekstra kami. Jika kau berminat, ya..itu kebahagiaan bagi kami. Hanya mungkin jika kau tak masuk, ini akan menjadi masalah bagi Kak Bumbum?” Kata Sang Koordinator Pasbar menyindir Pria gendut itu dengan kata-katanya yang sudah lumrah. Bumbum berkutik dengan halus didepan Mey.
“Jadi, maksud kami. Khususnya saya sendiri, merasa kecewa jika kau tidak masuk ke Paskibra. Karena poster badan mu yang tinggi dan langsing semampai itu sudah tercantum dalam kriteria Paskibra putri. Jadi bagaimana? Kau mau masuk? Atau tidak?”
“TIDAK !” Mey menolak dengan keyakinan. Bumbum manyun ketus setelah mendengar penolakan dari Mey. Susah sekali mengajak anak keras kepala ini! Pikir Bumbum.
“Baiklah, kalau tidak mau ya sudah ! ayo kita pergi!” Ajak Koordinator Pasbar yang bernama Panji. Anggota nya pun ikut pergi. Untuk apa juga memaksakan kehendak. Lagi pula sifatnya juga tidak enak di hati. Sudahlah pergi saja! “Tunggu!” ucapan itu terlontar dari mulut Fitri. Ia mendekat ke Anggota Pasukan merah putih. Fitri sudah seperti sahabat pengikut Mey. Apa yang Mey rasakan, Fitri pun ikut merasakannya juga. Saat itu, Mey merasa menjadi pusat permasalahan. Fitri mulai bersuara,“Aku mengerti dengan keinginan kalian. Tapi, bisakah kalian mengerti keinginan kami?”. Anak-anak Paskibra itu terlihat santai menyikapi ucapan fitri.
“Bisakah kau pelankan suaramu?” Koordiantor Panji mendekati fitri. “Kau tahu, kau sedang berbicara dimana dan kau sedang berbicara dengan siapa? Seharusnya kau malu, dilihat oleh siswa-siswa lainnya. Kalau ingin bicara dengan kami, jangan disini!”
“Masa bodo!” Fitri membantah. Mey menutup wajah-nya karena malu melihat sikap Fitri. Panji senyum terkekeh. “Aku dan mey, sudah sepakat untuk sekolah bersama disini. Dan itu kami bangun semuanya dari nol. Dan kami pun ingin masuk teater secara bersama. Kami tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Tapi, kau berusaha memisahkan kami!”
“Siapa yang ingin memisahkan kalian? Aku bilang, aku tidak akan memaksa temanmu itu. Aku hanya membuka kesempatan luas bagi Mey. Itu saja!”
“Tapi cara membujukmu itu sangat tidak etis! Kau pikir Paskibra itu Ekstra terbagus disekolah ini? Heh...jangan belagu ya!” Mey tidak enak dengan sikap fitri. Ia berusaha menengahi mereka. “Fitri sudah !”
“Tidak ada gunanya mengobrol dengan orang seperti mu! Ayo kita pergi!” Panji dan kawanannya pergi. Fitri belum puas berbicara, omongannya seperti tidak didengar dengan baik. Benar-benar menyebalkan!
“Seharusnya kau tidak usah berbicara seperti itu pada mereka!” Mey menasihati Fitri dengan nada agak menyentak.
“Kenapa memangnya?” Fitri mencelutuk.
“Aku tidak suka kau seperti itu! Kau itu belum tahu apa-apa soal mereka! Jadi, jaga sikap mu baik-baik!” Kata Mey seolah-olah menjadi pembela anak-anak Paskibra tadi. Pantas saja, Fitri keheranan mendengar tanggapan yang di ucapkan Mey.
“Kau benar-benar aneh!” Fitri menanggapi lagi sikap-Mey. Fitri jalan duluan. Sedangkan Mey terdiam, mengingat ucapan-nya tadi. Apa aku mengucapkan kata-kata yang salah? Tanya Mey keliru dengan diri-nya sendiri. Ia segera menyusul Fitri yang sepertinya sedang marah besar.
“Fitri !Tunggu aku ...!!!” (