Para paskibra pelajar teladan. Menempuh masa dan derita. Musuh kan gentar lari tunggang langgang. Takut sikap dan melati putih. Buanglah nafas-Mu tariklah yang dalam kobarkan semangat di dadamu. Pasukan Kibar Bendera. Raja segala lapangan. Biar lelah, biar lelah, biar lelah, biar lelah, biar lelah, biar lelah, biar lelah, PASKIBRA ! PASUKAN KIBAR BENDERA. SIAP DI MANA DI TEMPATKAN. . .
“Sudah hafal lagunya ?!” Tanya Teh Novian selesai bernyanyi. Cacapas menjawab serempak sambil geleng-geleng kepala, “BELUM TEH !!”. Para Pasbar geleng-geleng juga. “Eh, mana mungkin langsung hafal lah ?! Baru di ajarkan satu kali juga ?!
Bagaimana kalau kita menyanyi bersama sambil pijit pundak teman kalian yang di depan. Siap ?!” Seru Kak Bumbum.
“SIAP !!” jawab cacapas.
“Para Paskibra pelajar teladan menempuh masa dan derita, oke mulai ! satu ! dua ! tiga !” Nyanyian mars paskibra dinyanyikan secara bersama. Cacapas begitu kompak dalam bernyanyi apalagi sambil memijit-mijit pundak rekannya yang ada di depan. Suasana di lapangan berumput hijau yang lebat itu, kini terasa lengkap oleh kawanan para Raja Lapangan. Lalu, mau apa lagi kalau sudah usai bernyanyi? Pasbar tiada lain mengajarkan bagaimana hadap-hadapan yang benar. Hati mey jadi risau lagi. Tapi tak apalah ! Jalani saja Mey !
Matahari semakin terik. Uh panas nya !! Bisa-bisa kulit ku gosong ?! kata mey khawatir dalam hatinya.
“Hari ini, sebenar nya bukan waktu nya latihan. Tapi, ini sekedar materi saja untuk belajar hadap-hadapan yang benar. Dan ini di perlukan sebuah praktek. Saya mau coba nyuruh . . . . Nah ! kamu ! Ayo ke depan !” Ucap kang Ogi kepada Sandi. Orangnya tinggi sekali, badannya juga bagus. “Itu kan orang yang pernah ku sapa waktu . . .” Ucapan mey terpotong. “Apa mey?” tanya ayi. “Tidak apa-apa.” Mey menyembunyikan ucapan nya tadi. Namun, Ayi sudah bisa menebak. “Hmm... Sandi orang nya memang tampan, badannya tinggi, proposional dan juga atletis. Tapi, coba lihat! Bagaimana dengan itu?” Ayi menunjuk Gilang yang masih diam di posisi barisannya dengan tegak. “Kenapa dengan Gilang?” tanya Mey heran.
“Dia, teman sekelas-mu kan?” tanya Ayi kembali.
“Iya, kenapa memang nya?”
“Dia juga tampan. Apa kamu tertarik?”
“AYI !! DIAM !! Kang Ogi liatin kita terus tuh !!”. Ayi tertunduk malu sambil tertawa. Kang Ogi melanjutkan materi hadap-hadapan. Lalu ditiru oleh semua rekan cacapas. Hitung-hitung belajar lah.
Hari sudah semakin sore, Mey terlihat resah. Sudah jam 5 masih saja kumpulan. Apalagi ayah-Nya menelepon ia terus. Banyak sekali panggilan dari ayah-Nya yang tidak ia angkat. “Mey, kenapa?” tanya Ayi melihat mimik mey yang resah. “Tidak apa-apa. Masih lama ya?” tanya Mey penasaran.
“Sepertinya, iya. Tapi, biasanya jam segini sudah harus pulang. Kenapa memangnya? Mama-Mu telepon ya?”
“Bukan mama, tapi ayah. Kalau sudah sore gini, aku paling malas kalau sudah sampai rumah. Pasti di omelin lagi !”
“Hahaha” Ayi tertawa. “Sama kayak aku dong ?! Tapi, tenang saja, sebentar lagi bubar kok.” Kata ayi menenangkan mey. Mey hanya mengangkat halis-nya sambil menghembuskan nafas. Kang Bumbum memperhatikan wajah mey ketika duduk tersipu dibangku pertama. Bumbum langsung berbisik pada Kang Ogi, tanda ia peduli pada mey. Kang Ogi sadar seketika Kang Bumbum menyarankan agar bisa membubarkan cacapas. Sudah hampir setengah 6 sore belum juga dibubarkan. “O ia, baiklah. Akang kira perkumpulan kita cukup sampai disini. Karena sudah sore, awan juga terlihat mendung. Kalian harus siap-siap pulang. Dan jangan lupa buat besok, jam 6 pagi kalian harus sampai di sekolah untuk pelaksanaan apel pagi.” Kang Ogi menyuruh Kang Bumbum menutup acara juga membubarkan para cacapas. Hati mey sekarang lega. Akhirnya bisa pulang juga !
(((
Mey dan Ayi sedang menunggu mobil angkutan kota. Biasanya mey suka bawa sepeda, tapi hari ini tidak. Dari tadi Kang Bumbum sebenarnya memperhatikan gerak-gerik mey. Ia langsung menyapa. “Hai Mey, belum ada angkot nya ya? Kalau terus-terusan menunggu, pegel loh? Mau akang antar?” Mey tidak menatap wajah kang bumbum, ia mengacuhkan perhatian bumbum, dan memilih mengobrol dengan ayi. Tapi ayi yang peduli, “Mey, respon dulu pertanyaan kang bumbum !?” kata ayi berbicara pelan.
“Buat apa direspon?” jawab mey tak peduli. Namun hati kecilnya masih ada untuk menjawab pertanyaan kang bumbum. “Maaf Kak, angkot masih banyak. Aku tidak mau merepotkan kakak.”
“iiiikkh... Tidak apa-apa !? Akang malah senang.” Tiba-tiba mobil angkot berwarna kuning putih itu muncul. Mey senang, akhirnya ia bisa menghindari kang Bumbum. “Duluan ya, Kak..” Mey dan Ayi masuk angkot. Kang Bumbum hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Gilang ikut senang, Mey tidak jadi diantar oleh Kang Bumbum. “Orang tua Mey pasti cemas, bila dia tidak segera pulang. Untung saja, ada angkot. Duluan ya Kang..” kata gilang berbasa-basi. Sebenarnya ia sedang menyindir kang bumbum. Tapi, kang bumbum menganggap omongan gilang itu biasa saja.
(((
“Habis apa saja Mey? Ikutan ekskul kok lama-lama amat?” tanya sang mama yang tengah membantu Bi Wati mencuci piring. Mama menyusun piring-piring yang usai diangkat dari cucian. Tring ! Trang ! Tring ! bunyi-bunyi piring berdentring saat piring itu saling beradu. Mey melemparkan tas-nya ke kursi bersamaan ketika ia hendak duduk dengan membantingkan tubuhnya. Brukkk ! “Mey pindah ekskul Mah, jadinya ke Paskibra.” ucap mey dengan suara rendah sambil berusaha melepaskan kerudungnya. Rambutnya terlihat acak-acakan. Sepatunya ia lepas dengan sikap malas tak ingin bergerak. Mama selesai mencuci. Ia mengelap tangannya yang basah pada celemek yang sedang dipakainya. Lalu duduk mendekati mey. “Kenapa Pindah? Apa di Teater tidak betah?”
“Bukan nya tidak betah, ini keinginan mey sendiri.” Mama mengeluarkan desah dari nafas mulutnya, lalu bersandar pada kursi dan berkata, “Coba kalau hari ini Ayah kamu ada dirumah, kamu pasti kena omelannya. Untung saja, mama tidak banyak bicara soal kamu.”
“Memangnya, mama bilang apa sama ayah? Terus, ayah pergi kemana?” Mey penasaran. “Biasa, ayah kamu lagi itikaf di Masjid Al-Jamal. Mama bilang, kamu sudah pulang dari tadi. Mama tidak mau, kamu selalu di omelin gara-gara kamu aktif disekolah. Sudahlah ganti baju sana ! sebentar lagi maghrib.” Mama pergi ke kamarnya. Mey senyum senang. Mama memang
mengerti aku. Gumamnya dalam hati.
(((
Fitri mematikan lampu kamarnya, dan membiarkan lampu payung kecil berlampu kuning itu tetap menyinari kamarnya. Ketika tidur, ia sempat melihat fotonya bersama mey dalam sebuah figura di atas meja belajarnya. Ia melamunkan kejadian tadi, ketika mey melepaskan tangannya secara kasar. AKU BENAR-BENAR MINTA MAAF. AKU SUDAH BULAT UNTUK MASUK PASKIBRA. JADI, MESKI KITA BERBEDA EKSTRA. AKU HARAP PERTEMANAN KITA TERUS BERJALAN DENGAN BAIK.
“Kamu pembohong Mey ! Kamu sudah mengkhianati kesepakatan kita. Aku benci padamu mey ! AKU BENCI !!” Fitri melepas foto itu dari figura. Ia merobek-robek foto itu dengan penuh kebencian.
(((
Tiba-tiba gelas mey jatuh dari genggamannya. Bi Wati kaget mendengar suara gelas itu pecah “Non, kenapa bisa pecah?” Bi Wati mengambil pecahan gelas itu dengan tangannya, dibantu oleh mey yang terlihat gemetar. “Aku juga tidak tahu, Bi. Tiba-tiba saja gelas ini jatuh.” Mey membantu mencomot keping pecahan gelas itu dan AWW !! Jari telunjuk nya berdarah. “Non, hati-hati !" kata Bi Wati. Sang Mama terkejut bangun dari tidurnya dan melihat ke dapur. Matanya meletet sebelah, karena menyisakan kantuk.
“Ada apa ini? Kalian belum tidur?”
“Gelas pecah Bu..” Kata Bi Wati menjelaskan.
“Ooo ya sudah. Mohon bersihkan ya, Bi ?! Mey cepat tidur !” Mama tidak pernah marah jika ada kejadian ini. Ia pergi kembali ke kamarnya melanjutkan tidurnya tanpa ditemani suami. Hmmm kesepian....
“Untung si ibu tidak marah. Coba kalau marah, bibi yang kena !” Bi Wati segera membuang pecahan gelas itu ke tempat sampah. Mey hanya tersenyum simpul. “Mamah kan orang nya baik. Jadi, mana mungkin dia marah?!” Tenggorokan mey masih kering. Ia mengecek keadaan lemari es nya. Ternyata minuman juice kesukaannya habis. Terpaksa harus beli lagi ke Supermarket. “Bi..” panggilnya pelan. “Jangan dulu tidur ya? Mey mau belanja dulu sebentaaar saja! Tuh ke warung sana !” kata mey sambil menunjuk ke jendela.
“Oo ya sudah. Bibi jaga dulu rumah. Jangan lama-lama ya Non.”
“Iya, tenang saja Bi !” mey pergi keluar dan menutup pintu dengan amat hati-hati. Kenapa gelas itu tiba-tiba jatuh ya? Atau jangan-jangan ?! ia bertanya dalam hati. Tiba-tiba saja kejadian tadi bersama fitri terbayang di pikirannya. “Kenapa aku jadi ingat Fitri?” mey merasa bersalah telah mengkhianati fitri. Malam itu, sebenarnya mey sudah membohongi Bi Wati. Ia akan belanja lumayan jauh jika jalan kaki. Maka dari itu, Mey segera memakai sepeda-nya dan berangkat. Mau-mau saja Bi Wati dibohongi anak kecil. Hihi
(((
Jam 9 malam, mey masih berbelanja di Indomart. Minuman juice Buavita bermacam rasa, dia beli semuanya. Di Indomart, jika malam-malam mulai sepi. Tapi mey suka dengan keadaan ini. Hanya dia dan laki-laki dewasa yang sedang berbelanja. Mey selesai memilih belanjaan nya. Didalam keranjang belanjaan terisi penuh. Mey taru keranjang itu dimeja kasir. Bruukk !! Kasir wanita itu girang melihat mey berbelanja banyak sekali. “Aduh Teteh, habis gajihan ya? Uangnya pasti banyak?!” kasir itu mengambil satu persatu barang yang akan dihitung harganya ke mesin hitung komputer. Tit..titt..titt.. mesin hitung itu berbunyi. “Ah, tidak mba. Kebetulan isi lemari es saya habis, jadi belanja nya banyak. Tanggung Mba..”
“Semuanya 159.000.” kata kasir itu selesai menghitung. Semua belanjaan dimasukan ke plastik yang besar. Duhh..lumayan berat. “Ini mba uangnya.” Mey menyerahkan uang dua ratus ribu-nya, kemudian kasir itu menyerahkan uang kembalian. “Kalau isi kulkas nya habis , kapan-kapan belanja kesini lagi ya, Teh.” Kasir wanita itu mencoba merayu mey. “Iya mba..” mey tersenyum.
Diluar sana, malam-malam seperti ini masih saja ada yang berkeliaran sambil mengendarai motor. Kelihatan seperti pawai. Kebanyakan diantara mereka laki-laki yang memakai baju slank. Ada juga yang perempuan. Salah satu diantara mereka mengibarkan bendera slank. Tapi yang bagusnya, cara mereka mengendarai motor sangat tertib dan tidak mengundang bunyi kerusuhan. “Waaaaahhh.... mereka anak-anak slank mana ya?” tanya mey seusai keluar dari tempat perbelanjaan. Ia segera naik ke sepeda-nya. Untung saja sepeda mey mempunyai keranjang depan, jadi kresek besar yang berisi barang belanjaan itu bisa ia simpan ditempat itu. Saatnya melaju. . .
Disekitar jalan, masih saja ada pasukan slankers dan slanky yang berbondong-bondong mengendarai motor. Mey jadi kebingungan, jalan jadi terasa sempit baginya untuk menjalankan sepeda. Cara menjalankan sepeda-nya pun kaku dan roda depan sepeda jadi kebanyakan goyang. Ee..eeh..eeh.. kenapa ini? Yah..yaaahh.. Mey akhirnya terjatuh dari sepedanya. Salah satu slankers pengendara motor menertawakan mey. “Hey Non, bisa jalankan sepeda tidak? Hahaha..” ucapan laki-laki yang mengendarai motor honda itu telah menyakitkan dihati mey. “Ada orang jatuh, ditertawakan? Sebaiknya di tolong !” ucap laki-laki berkacamata dan berkaos merah bergambar slank yang menumpang dimotor temannya itu bermaksud peduli pada mey. Ia turun dan segera membantu mey. Kresek berisi barang belanjaan itu jatuh berantakan.
“Biar aku bantu ya?” Laki-laki berkacamata itu membuat mey ingin tertawa. Tetapi mey menahannya. “Tidak usah. Belanjaan ku sedikit kok.” Jawab mey. “Apa katamu? Sedikit? Belanja sebanyak ini kau bilang sedikit? Ah..dasar !” Barang itu selesai dirapihkan ke kresek dan dimasukan kembali ke keranjang sepeda. “Terimakasih ya?”
“Wanita muslimah seperti-mu jangan berkeliaran di tengah malam. Bahaya !” kata laki-laki itu menasihati mey. “Begitu ya? Lalu kau sendiri mau apa keluyuran tengah malam? Apa mau lihat konser slank?” tanya mey balik. “Kalau sudah tahu, sebaiknya kau pulang. Hati-hati dijalan !” laki-laki itu tampak acuh dan segera kembali naik motor temannya. Mey manyun ketus, “Huh.. menyebalkan !”
(((
Saat tiba dirumah, mey langsung menyelinap dapur dan beristirahat sejenak. “Hah..mataku perih. Pasti kena angin malam?!” katanya sambil menggosok-gosok matanya yang merah. Bi Wati terbangun ketika remot TV yang ia pegang jatuh. “Apa sudah siang?” kagetnya minta ampun. “Ooo masih malam? Hah?” Bi Wati curiga mengapa dapur masih menyala. “Perasaan tadi sudah dimatikan?” Ia mencoba memeriksa keadaan dapur dan siap-siap membawa tongkat. Ia pegang tongkat itu dengan kuat. Awas ya kalau maling, akan aku pukul sampai remuk. Awas kau ya?! Di dapur nampak seseorang sedang memegang pintu kulkas. Entah sedang apa? Ketika pintu kulkas dibuka, baru terlihat maling-malingan yang disangka-sangka Bi Wati.
“Hah.. Si Non ! bikin bibi kaget saja !” Bi Wati menepuk pundak mey. “Bibi kira, aku maling?” kata mey sambil memasukkan makanan dan minuman yang sudah ia beli ke kulkas. “Maaf Non ?! euu..non belanja nya banyak sekali? Sayur-sayuran, buah-buahan, dan yang lainnya. Waah kumplit sekali ?! Non, seperti sudah berumah tangga saja !?” Bi Wati melongo melihat keadaan kulkas terisi penuh. “Itulah guna seorang perempuan. Aku ngantuk Bi. Aku tidur ya?” Kata mey selesai dari pekerjaannya. “Selamat Tidur Non..” ucap bi wati sambil mematikan lampu dapur .
“Tunggu..tunggu !!” Bi Wati menyalakan kembali lampu dapur dan melihat makanan di dalam kulkas yang barusan dibeli Mey. “Tadi, katanya pergi belanja ke warung sebelah? Kok...belanjaannya mewah begini ya? Hmm.. Si Non udah bohong nih?! Dia pasti belanja ke indomart.”
(((
Dalam lamunan mey teringat laki-laki berkacamata tadi malam yang membantunya. Ia tersenyum sendiri. Posisi tidur nya dari tadi berubah-ubah. Sudah balik pinggir kiri ke pinggir kanan, begitu seterusnya. “Andai saja aku bisa lihat wajahnya? Dia seperti nya orang baik.”
(((
Slankers !! malam ini kita nyanyi sama-sama !! Apa ada disini yang anaknya Pak Tani? Kata Kaka, vokalis slank. ADA !! Seru seorang slankers yang memakai shall hitam ke kepalanya.
“Nih ! si To’ing !! Hahaha” katanya menunjuk sambil mendorong teman sesama slankers yang sedang mengibar-ngibarkan bendera slank. Oke ! kalau begitu kita mulai ! Tu ... Wa ... Ga ... Pat ... Lagu Pak Tani dimulai dengan musik rock plus nge-blues. Seluruh slankers menikmati nyanyian itu.
Sang Kancil curi laser disc nya Pak Tani Pak Tani lupa pasang alarm Untung Tv warna nya gak hilang Untung mobil BMW nya gak di bawa Kapan-kapan semua itu akan terjadi
Kapan-kapan Para Petani hidup bagai orang di kota.
Gak mungkin ! Gak mungkin ! Semua itu terjadi seratus tiga tahun mungkin Gak mungkin ! Gak mungkin ! Semua itu terjadi seratus tahun lagi mungkin
Para slankers jingkrak-jingkrak saat Lagu Pak Tani muncul dibagian musik rock pertengahan. Laki-laki berkacamata dan berbaju merah bergambar slank itu pun juga ikut main jingkrak-jingkrakan. Kacamata hitam besar membuatnya sulit untuk berjoged dengan lincah. Ia buka kacamata itu dan mencantelkannya pada kerah bajunya yang merah. Wajahnya yang lugu dan tampan itu nampak bahagia diposisi tengah para penonton lainnya. Semboyan nya dimalam ini adalah datang nya angin perdamaian, cinta, kekompakkan, dan rasa kehormatan. Itulah PLUR !! (