Samir merasa jantungnya berdebar kencang saat melihat nomor telepon Sarah tertera di layar ponselnya. Ini adalah langkah baru yang dia ambil, melangkah keluar dari zona nyamannya, mencoba untuk membuka hati untuk kemungkinan baru.
"Gue harus berani," batin Samir, sambil menarik napas dalam-dalam.
Samir memutuskan untuk mengirim pesan kepada Sarah terlebih dahulu.
"Hai, Sarah. Ini Samir. Seneng bisa ngobrol sama lo tadi di perpustakaan," ketik Samir, sambil tersenyum.
Samir menunggu dengan harap-harap cemas. Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.
"Hai, Samir. Gue juga seneng ngobrol sama lo. Lo suka musik apa?" balas Sarah.
Samir tersenyum. Dia merasa lega dan gembira. Sarah membalas pesannya.
"Gue suka banyak musik. Tapi lagi suka banget sama The Beatles," jawab Samir.
"Gue juga suka The Beatles! Lagu favorit lo apa?" tanya Sarah.
Samir dan Sarah pun mulai bertukar pesan. Mereka mengobrol tentang musik, tentang film, tentang buku, dan tentang kehidupan. Samir merasa semakin tertarik dengan Sarah. Dia merasa bahwa Sarah adalah gadis yang baik, cerdas, dan menyenangkan.
"Gue harus ngajak dia ketemuan," batin Samir, sambil tersenyum.
Samir memutuskan untuk mengajak Sarah ketemuan. Dia ingin mengenal Sarah lebih dekat.
"Sarah, mau ketemuan nggak? Gue pengen ngajak lo ke kafe baru di dekat sekolah," ketik Samir, sambil tersenyum.
"Oke, gue mau," balas Sarah. "Kapan?"
"Besok sore gimana? Jam 4?" tanya Samir.
"Oke, gue bisa," jawab Sarah.
Samir merasa senang. Dia akhirnya bisa bertemu dengan Sarah. Dia ingin menghabiskan waktu bersama Sarah. Dia ingin mengenal Sarah lebih dekat.
"Gue harus siap-siap," batin Samir, sambil tersenyum.
Samir menghabiskan waktu untuk memilih baju dan memikirkan apa yang akan dia bicarakan dengan Sarah. Dia ingin membuat Sarah merasa nyaman dan senang.
"Gue harus bersikap natural," batin Samir, sambil tersenyum.
Keesokan harinya, Samir menunggu Sarah di kafe yang telah mereka sepakati. Samir merasa gugup. Dia tidak pernah merasa segugup ini sebelumnya.
"Gue harus tenang," batin Samir, sambil menarik napas dalam-dalam.
Beberapa menit kemudian, Sarah datang. Samir tersenyum. Sarah tampak cantik.
"Hai, Samir," kata Sarah, sambil tersenyum.
"Hai, Sarah," jawab Samir, sambil tersenyum.
Samir dan Sarah pun duduk di meja yang telah mereka pesan. Mereka mengobrol dengan santai. Mereka membahas tentang musik, tentang film, tentang buku, dan tentang kehidupan.
"Gue merasa nyaman ngobrol sama dia," batin Samir, sambil tersenyum.
Samir merasa bahwa dia bisa menjadi dirinya sendiri di depan Sarah. Dia merasa bahwa Sarah bisa menerima dirinya apa adanya.
"Gue harus jujur sama dia," batin Samir, sambil tersenyum.
Samir memutuskan untuk menceritakan tentang perasaannya kepada Vina. Dia ingin Sarah tahu tentang masa lalunya. Dia ingin Sarah tahu tentang perasaannya yang sebenarnya.
"Sarah, gue mau cerita sesuatu," kata Samir, sambil menatap mata Sarah.
"Apa?" tanya Sarah, sambil menatap mata Samir.
Samir pun menceritakan tentang perasaannya kepada Vina. Dia menceritakan tentang rasa sakit yang dia rasakan saat Vina menolaknya. Dia menceritakan tentang bagaimana dia berusaha untuk move on.
"Gue harus jujur sama dia," batin Samir, sambil menatap mata Sarah.
Sarah mendengarkan dengan saksama. Dia tidak menyela. Dia hanya menatap mata Samir dengan penuh perhatian.
"Gue ngerti," kata Sarah, sambil tersenyum. "Gue salut sama lo karena bisa move on."
"Thanks, Sarah," jawab Samir, sambil tersenyum.
Samir merasa lega. Dia merasa bahwa Sarah bisa memahami perasaannya. Dia merasa bahwa Sarah bisa menerima dirinya apa adanya.
"Gue harus terus maju," batin Samir, sambil tersenyum.
Samir bertekad untuk terus berjuang. Dia bertekad untuk terus menemukan kembali dirinya. Dia bertekad untuk terus membuka hatinya untuk cinta baru.
"Gue harus berani," batin Samir, sambil tersenyum