Samir berjalan pulang dengan langkah gontai. Hati nya terasa remuk. Dia tidak menyangka bahwa perasaannya akan ditolak oleh Vina.
"Kenapa harus gue?" batin Samir, sambil menghela napas.
Dia teringat saat-saat indah yang pernah dia lalui bersama Vina. Dia teringat bagaimana Vina selalu mendukungnya dalam bermusik. Dia teringat bagaimana Vina selalu tersenyum padanya.
"Semua itu hanya ilusi," batin Samir, sambil menggelengkan kepalanya.
Samir merasa sangat kesepian. Dia merasa kehilangan satu-satunya orang yang dia cintai.
"Gue harus ngelupain Vina," batin Samir, sambil memejamkan matanya.
Samir mencoba untuk mengalihkan pikirannya dengan bermain musik. Dia pergi ke studio musik milik temannya, Rian.
"Hai, Samir! Lama ngga ketemu," sapa Rian, sambil tersenyum.
"Hai, Rian," jawab Samir, sambil tersenyum tipis.
Samir terlihat lesu. Rian langsung menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan Samir.
"Kamu kenapa, Samir? Kok kayaknya lagi sedih gitu?" tanya Rian, sambil mendekati Samir.
Samir terdiam sejenak. Dia ragu-ragu untuk menceritakan masalahnya kepada Rian.
"Gimana sih, Samir? Cerita aja. Gue sahabat kamu," kata Rian, sambil menatap Samir dengan serius.
Samir menghela napas panjang. Dia memutuskan untuk menceritakan masalahnya kepada Rian.
"Gue baru aja ngungkapin perasaan gue ke Vina. Tapi, dia nolak gue," kata Samir, suaranya sedikit berbisik.
"Oh, gitu. Ya udah, lupain aja tuh cewek. Lupakin cewek yang ngga ngehargain lu," kata Rian, sambil menepuk pundak Samir.
"Tapi, gue sayang sama Vina," kata Samir, suaranya sedikit terisak.
"Lupain aja, Samir. Banyak cewek lain di luar sana yang lebih baik dari Vina," kata Rian, sambil tersenyum.
Samir terdiam. Dia tidak yakin dengan kata-kata Rian. Dia masih mencintai Vina.
"Lu main musik aja dulu. Lupain masalah lu sebentar," kata Rian, sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada Samir.
Samir mengangguk dan kembali memainkan drum. Dia berusaha untuk melupakan masalahnya dengan bermain musik.
Namun, bayangan Vina terus menghantuinya. Samir merasa sangat frustasi. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Gue harus ngelakuin sesuatu," batin Samir, sambil mengencangkan pukulan drumnya.
Samir merasa tertekan. Dia tidak ingin kehilangan Vina. Dia harus berjuang untuk mendapatkan hati Vina.
"Gue harus ngungkapin perasaan gue," batin Samir, sambil menatap Rian.
"Rian, gue mau ngungkapin perasaan gue ke Vina," kata Samir, sambil menatap Rian dengan serius.
"Serius, Samir? Kamu yakin?" tanya Rian, sambil menatap Samir dengan heran.
"Iya, gue yakin. Gue ngga mau nyesel," jawab Samir, sambil mengangguk.
"Oke, gue dukung kamu. Tapi, hati-hati ya," kata Rian, sambil tersenyum.
Samir mengangguk dan kembali memainkan drum. Dia merasa sedikit lega. Dia sudah memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Vina.