Seminggu telah berlalu sejak Samir mengungkapkan perasaannya kepada Vina. Setiap hari terasa seperti mimpi buruk, di mana setiap sudut sekolah mengingatkannya pada Vina. Senyumnya, tawanya, dan bahkan aroma parfumnya masih terngiang di benaknya. Rasa sakit yang teramat dalam membuatnya sulit untuk berkonsentrasi di kelas.
"Gue harus bangkit," batin Samir, sambil menatap langit-langit kamarnya. "Gue nggak boleh terpuruk terus."
Samir tahu bahwa dia tidak bisa terus-menerus terjebak dalam kesedihan. Dia harus menemukan cara untuk move on. Dia harus menemukan kembali dirinya.
"Gue harus sibuk," pikir Samir. "Gue harus ngalihin perhatian gue."
Samir memutuskan untuk bergabung dengan band sekolah. Rudi, sahabatnya, adalah gitaris di band tersebut. Rudi selalu mendukung Samir dan mengajaknya untuk bergabung. Samir pun akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran Rudi.
"Oke, gue ikut," kata Samir, sambil tersenyum tipis.
"Yes! Gue udah tau lo bakal setuju," kata Rudi, sambil menepuk pundak Samir.
Samir merasa sedikit lega. Dia berharap bahwa bergabung dengan band bisa membantunya melupakan Vina.
"Gue harus fokus ke musik," batin Samir, sambil memainkan gitarnya.
Samir mulai berlatih dengan band. Dia merasa senang bisa bermain musik bersama teman-temannya. Dia juga mulai menulis lagu baru. Lagu-lagu tersebut berisi tentang perasaannya, tentang rasa sakit, tentang harapan, dan tentang pencarian jati diri.
"Samir, lagu lo keren banget," kata Anya, sambil tersenyum. Anya adalah vokalis di band tersebut.
"Thanks, Anya," jawab Samir, sambil tersenyum.
Samir merasa termotivasi. Dia merasa bahwa musik bisa menjadi pelariannya dari rasa sakit. Dia merasa bahwa musik bisa membantunya menemukan kembali dirinya.
"Gue harus terus berkarya," batin Samir, sambil memainkan gitarnya.
Suatu malam, Samir duduk di balkon rumahnya, menatap bintang-bintang. Dia merasa sedikit lebih tenang. Dia merasa bahwa dia mulai bisa move on dari Vina.
"Vina, gue harus ngelupain kamu," batin Samir, sambil menatap bintang-bintang.
Samir teringat saat-saat indah yang pernah dia lalui bersama Vina. Dia teringat saat pertama kali bertemu Vina di perpustakaan sekolah. Dia teringat saat pertama kali mengajak Vina makan siang. Dia teringat saat pertama kali menyatakan perasaannya kepada Vina.
"Gue harus move on," batin Samir, sambil menghela napas.
Samir memutuskan untuk melupakan masa lalunya. Dia memutuskan untuk fokus pada masa depannya. Dia memutuskan untuk menemukan kembali dirinya.
"Gue harus menemukan jati diri gue," batin Samir, sambil menatap bintang-bintang.
Samir bertekad untuk terus berkarya. Dia bertekad untuk terus bermusik. Dia bertekad untuk terus menemukan kembali dirinya.
"Gue harus bangkit," batin Samir, sambil menatap bintang-bintang.
Beberapa minggu kemudian, Samir dan bandnya mendapat kesempatan untuk tampil di festival musik sekolah. Samir merasa gugup. Dia belum pernah tampil di depan banyak orang sebelumnya.
"Gue harus tenang," batin Samir, sambil menarik napas dalam-dalam.
Samir naik ke atas panggung. Dia memegang gitarnya. Dia menatap penonton. Dia melihat Vina dan Aldo di antara penonton.
"Gue harus fokus," batin Samir, sambil menghela napas.
Samir mulai memainkan lagu yang dia tulis. Lagu itu tentang perasaannya, tentang rasa sakit, tentang harapan, dan tentang pencarian jati diri.
Samir menyanyikan lagu itu dengan sepenuh hati. Dia merasakan setiap lirik lagu itu. Dia merasakan setiap nada musik itu.
Penonton terdiam. Mereka terhanyut dalam lagu Samir. Mereka merasakan emosi yang sama dengan Samir.
Samir selesai menyanyikan lagunya. Penonton bertepuk tangan meriah. Samir merasa lega. Dia merasa bangga dengan dirinya sendiri.
"Gue berhasil," batin Samir, sambil tersenyum.
Samir turun dari panggung. Vina menghampirinya.
"Samir, lagu lo keren banget," kata Vina, sambil tersenyum.
"Thanks, Vina," jawab Samir, sambil tersenyum.
Samir merasa sedikit lega. Dia merasa bahwa Vina bisa menerima dirinya apa adanya.
"Gue harus move on," batin Samir, sambil menatap Vina.
Samir merasa bahwa dia sudah bisa move on dari Vina. Dia merasa bahwa dia sudah menemukan kembali dirinya.
"Gue harus terus berkarya," batin Samir, sambil tersenyum.
Samir bertekad untuk terus bermusik. Dia bertekad untuk terus menemukan kembali dirinya. Dia bertekad untuk terus berjuang.
"Gue harus bangkit," batin Samir, sambil menatap langit