Motor mio lama itu melaju pelan membelah gang sempit di depan rumah. Udara pagi masih menyisakan dingin sisa hujan semalam, menyusup lewat sela-sela jaket Ayu yang sudah menipis di bagian sikunya. Ayu sengaja tidak memacu motornya kencang-kencang. Di belakangnya Rizal memangku dua duz kue pesanan Bu Gatot dengan kedua tangannya. Kalau Ayu ngebut sedikit saja, bisa-bisa kue lumpur buatan Ibunya jadi berantakan sebelum sampai ke tangan pemesannya.
“Mba, ini kuenya wangi banget sih. Rizal boleh ambil satu ngga?” Tanya Rizal dari belakang sambil sedikit berteriak karena suaranya tertahan helm.
“Ngga boleh. Itu pesenan orang, bukan buat lu.” Jawab Ayu tak kalah keras.
“Satu doang mba…”
“Satu doang satu doang. Kalo kurang nanti Ibu yang malu, tau ngga.” Ayu sedikit menoleh ke belakang. “Nanti kalo di rumah masih ada sisa baru lu makan. Sekarang pegang yang bener, jangan miring-miring duznya.”
Rizal hanya manyun di balik helm merahnya. Memang sudah jadi kebiasaan Adik Ayu ini, apa saja yang berbau makanan pasti minta duluan. Ayu tersenyum sendiri di balik helm birunya.
Rumah Bu Gatot tidak terlalu jauh, hanya melewati tiga gang dan satu jalan kampung yang sudah dipaving. Sebuah rumah dengan pagar besi warna hitam dan halaman yang cukup luas untuk memarkir dua mobil. Bu Gatot memang termasuk orang yang berada di kampung itu, tapi beliau tidak pernah pilih-pilih tetangga. Sudah bertahun-tahun beliau selalu memesan kue kepada Ibu Ayu setiap kali ada arisan, pengajian, atau sekedar oleh-oleh untuk anaknya di Solo. Katanya, kue lumpur buatan Ibu Ayu itu paling pas, tidak terlalu manis dan tidak amis telur.
Pagar besi itu sudah setengah terbuka ketika Ayu memarkir motornya di pinggir jalan. Sebuah mobil warna silver sudah menyala di halaman, seperti sudah siap berangkat.
“Assalamualaikum, Bu Gatot.” Ayu memberi salam sambil melepas helmnya.
“Waalaikumsalam. Eh, Ayu. Ibu kira siapa.” Bu Gatot keluar dari pintu samping dengan tas jinjing besar di tangannya. “Wah, tepat waktu banget kamu nak. Ibu baru mau nelfon ibumu, takutnya kesiangan.”
“Ngga bu, Ibu udah bikin dari semalem kok. Ini kue lumpur sama arem-aremnya.” Ayu menyerahkan dua duz yang sudah diturunkan Rizal dari pangkuannya.
Bu Gatot membuka sedikit tutup duz yang paling atas, lalu menghirup aromanya dalam-dalam. “Hmm… masih anget. Ibumu ini emang ngga ada duanya. Bilangin ya, makasih banyak. Nanti anak Ibu di Solo pasti seneng, dia paling suka arem-arem buatan ibumu.”
“Iya bu, nanti Ayu sampein.” Jawab Ayu.
“Ibumu sehat kan? Kok akhir-akhir ini ngga keliatan pengajian?” Tanya Bu Gatot sambil mengeluarkan dompet dari tas jinjingnya.
Ayu terdiam sebentar. “Sehat bu. Cuma emang lagi rame pesenan aja, jadi Ibu sering ngga sempet.”
“Ya sukur kalo sehat. Bilangin jangan kecapean. Orang kaya ibumu itu suka lupa sama badannya sendiri.” Bu Gatot menyerahkan beberapa lembar uang kepada Ayu. “Ini ya, seratus lima puluh. Terus ini buat adekmu, jajan.” Beliau menyodorkan selembar uang lagi ke arah Rizal.
“Waduh, ngga usah bu, ngga enak.” Ayu buru-buru menolak.
“Lho, ini rejeki dari Ibu buat Rizal. Masa ditolak. Ambil, ambil.” Bu Gatot malah memasukkan sendiri uang itu ke tangan Rizal yang masih ragu-ragu.
“Makasih bu…” Kata Rizal sambil nyengir lebar.
“Iya. Rajin belajar ya. Udah kelas sepuluh, jangan main terus.” Bu Gatot menepuk pundak Rizal. “Oiya Yu, minggu depan Ibu ada arisan di rumah. Bilangin ibumu, Ibu pesen lagi ya. Jumlahnya nanti Ibu kabarin.”
“Siap bu. Nanti Ayu sampein.” Ayu tersenyum lebar. Dalam hati Ayu bersyukur, satu pesanan lagi berarti satu pemasukan lagi untuk Ibunya.
Setelah berpamitan, Ayu dan Rizal kembali menaiki motor. Beban di tangan Rizal sudah tidak ada, jadi sekarang dia bisa berpegangan dengan benar. Jarum jam di tangan Ayu menunjukkan pukul setengah tujuh lebih sedikit. Masih cukup waktu untuk mengantar adiknya ke sekolah.
“Mba, uangnya buat Rizal semua kan?” Tanya Rizal dari belakang.
“Iya, itu kan dikasih Bu Gatot buat kamu. Tapi jangan dihabisin sekali jajan ya. Disimpen.” Kata Ayu mengingatkan.
“Iya mba, bawel.”
“Bawel-bawel juga tiap pagi yang nganterin kamu siapa.” Balas Ayu sambil sedikit menggeber gas motornya, membuat Rizal terdorong ke belakang dan langsung memegang jaket kakaknya.
“Ihh mba Ayu!”
Ayu tertawa. Bagi Ayu, pagi seperti ini adalah salah satu waktu yang paling ia sukai. Hanya berdua dengan adiknya, saling meledek, tanpa memikirkan apa-apa. Sebentar lagi mereka akan sibuk dengan urusan masing-masing sampai malam.
Jalan menuju sekolah Rizal sudah mulai ramai. Anak-anak berseragam putih abu-abu berjalan berkelompok di pinggir jalan, sebagian lagi diantar orang tuanya. Ketika motor Ayu hampir sampai di tikungan dekat gerbang sekolah, sebuah motor menyalip dari sebelah kiri dengan suara knalpot yang memekakkan telinga, begitu dekat sampai spion kanan Ayu nyaris tersenggol. Ayu refleks menarik rem dan menepi.
“Astaghfirullah!” Ayu memegangi dadanya. Jantungnya berdegup kencang.
“Itu Anton mba.” Kata Rizal santai, seolah hal itu biasa saja.
“Anton anaknya pak kades itu?” Ayu memicingkan matanya ke arah motor yang sudah jauh di depan, meliuk-liuk di antara anak-anak sekolah yang menyeberang. “Ya Allah, bawa motor kok kaya ngga punya nyawa. Dia tu ngebahayain orang lain, bukan cuma dirinya sendiri.”
“Halah, dia mah emang gitu mba dari dulu.”
“Nah itu kamu tau.” Ayu kembali menjalankan motornya pelan-pelan. “Rizal, mba serius. Kamu jangan sekali-kali ikut-ikutan dia ya. Jangan mau kalo diajak boncengan.”
“Iya mba…” Jawab Rizal seadanya, dengan nada yang sudah bisa ditebak Ayu. Nada anak yang menjawab supaya kakaknya berhenti ceramah.
Ayu menghela nafas. Adiknya memang begitu, kalau dilarang justru penasaran. Ibunya pun sering kewalahan menghadapi sifat Rizal yang keras kepala itu.
Sampai di depan gerbang, Rizal turun dan menyerahkan helm merahnya.
“Rizal masuk ya mba.”
“Iya. Belajar yang bener. Nanti pulang langsung ke rumah, jangan kelayapan.” Kata Ayu sambil menerima helm dari tangan adiknya.
“Iyaaa…” Rizal berlari kecil masuk ke gerbang sekolah tanpa menoleh lagi.
Ayu memandangi punggung adiknya sampai hilang di balik tembok sekolah. Entah kenapa pagi itu ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, tapi Ayu tidak terlalu memikirkannya. Mungkin cuma karena kaget disalip Anton tadi, pikirnya.
***
Sampai di kampus, Ayu memarkir motornya di tempat biasa, di bawah pohon mangga dekat gedung Fakultas Ekonomi. Dari dalam tas ranselnya Ayu mengeluarkan satu kotak plastik berisi kue lumpur sisa pesanan semalam. Ibunya memang selalu membuat lebih dari jumlah yang dipesan, sisanya dibawa Ayu ke kampus untuk dijual kepada teman-temannya. Lumayan, hasilnya bisa untuk mengisi bensin.
Belum juga Ayu duduk di bangku depan kelas, kotak itu sudah dikerubuti.
“Yu, kue lumpur ya? Gue dua.” Kata salah satu temannya.
“Gue tiga, Yu. Bungkusin.”
“Sabar sabar… kaya ngga pernah makan aja.” Kata Ayu sambil tertawa, tangannya sibuk membungkus.
Belum sampai sepuluh menit, kotak itu sudah tinggal dua potong. Ayu memasukkan uang hasil jualannya ke dompet kecil di dalam tas. Sedangkan uang pesanan Bu Gatot ia lipat rapi dan ia selipkan di kantong paling dalam ranselnya, supaya nanti utuh sampai di tangan Ibunya.
“Yu!” sebuah suara memanggil dari koridor. Bella berjalan cepat ke arahnya dengan tas mahal yang tergantung di lengan. “Gue laper. Kuenya masih ada ngga?”
“Nih, tinggal dua. Buat lo aja.”
Bella langsung mengambilnya tanpa basa-basi. “Berapa?”
“Ya ngga usah bayar lah, orang cuma dua.”
“Ih ngga bisa. Ini kan dagangan.” Bella memasukkan selembar uang ke dalam kotak plastik Ayu. Uang yang jelas jauh lebih besar dari harga dua potong kue lumpur.
“Bell, kegedean. Ntar gue ngga ada kembaliannya.” Ayu berusaha mengembalikan.
“Udah ah, ribet lo. Anggep aja gue beli sekalian buat besok.” Kata Bella sambil melangkah masuk ke kelas duluan, tidak memberi Ayu kesempatan untuk menolak.
Ayu hanya bisa geleng-geleng kepala. Bella memang begitu, caranya membantu selalu dibungkus dengan alasan yang dibuat-buat supaya Ayu tidak merasa dikasihani. Sudah terlalu banyak yang Bella lakukan untuk Ayu dan keluarganya, dan justru itu yang sering membuat Ayu tidak enak hati.
Kuliah pagi itu berjalan seperti biasa. Ayu duduk di barisan paling depan, mencatat, sesekali bertanya. Dua jam berlalu tanpa terasa. Setelah kelas selesai, Ayu tidak bisa langsung pulang karena masih ada rapat pengurus BEM membahas proposal kegiatan bakti sosial yang akan diajukan ke pihak kampus.
Rapat yang seharusnya selesai jam satu ternyata molor. Bendahara datang terlambat, dan anggaran yang sudah disusun harus dirombak lagi karena ada beberapa mata anggaran yang dianggap terlalu besar. Ayu melirik jam tangannya berkali-kali. Bukan karena ia tidak perduli pada rapat, tapi karena ia harus sampai di rumah, mandi, dan berangkat kerja sebelum jam empat.
“Yu, lo buru-buru ya?” Tanya salah satu pengurus yang melihat gelagat Ayu.
“Iya nih, gue masuk kerja sore. Kalo bisa dipercepat sih enak.” Jawab Ayu jujur.
Rapat akhirnya ditutup dengan kesepakatan untuk melanjutkan pembahasan besok. Ayu buru-buru merapikan berkasnya, menitipkan sisa pembahasan kepada temannya, lalu setengah berlari menuju parkiran.
Matahari sudah condong ke barat ketika Ayu memacu motornya keluar dari gerbang kampus. Angin siang yang panas menampar wajahnya lewat celah helm. Di sepanjang jalan pikirannya justru melayang ke rumah. Terbayang wajah Ibunya yang semalam begadang membuat kue sampai subuh. Ayu berharap Ibunya benar-benar tidur siang tadi seperti yang dijanjikannya.
Ayu juga teringat uang seratus lima puluh ribu di dalam ranselnya, dan pesanan arisan minggu depan dari Bu Gatot. Sedikit demi sedikit, pikirnya. Yang penting dapur tetap ngebul, Rizal tetap sekolah, dan kuliahnya tetap jalan. Ayu tidak pernah meminta lebih dari itu.
Motor mio itu akhirnya masuk ke gang rumahnya. Ayu memarkirnya di halaman, di samping warung kelontong yang pintunya sudah setengah tertutup. Ia melepas helm birunya, menyampirkan tas ransel ke satu bahu, lalu melangkah ke pintu depan sambil sekali lagi melihat jam tangannya. Sudah lebih siang dari biasanya. Ayu harus cepat.