Adzan subuh terdengar dari mushola di ujung gang ketika Hari masih terbaring dengan mata terbuka. Semalaman ia hanya memandangi langit-langit kamar, berulang kali membalikkan badan, tapi kantuk itu tak juga datang. Di sampingnya Diana tidur dengan wajah yang begitu tenang, tangannya masih memeluk guling seperti biasa. Justru ketenangan itulah yang paling menyiksa Hari. Bagaimana mungkin ia bisa menatap wajah perempuan yang sudah menerima segala kekurangannya, sementara kemarin sore ia baru saja melakukan hal yang paling dibencinya sendiri.
Hari bangkit pelan-pelan, mengambil air wudhu, lalu sholat subuh di ruang tamu seorang diri. Ketika sujud, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia meminta ampun berkali-kali, tapi rasa bersalah itu tidak juga berkurang sedikitpun.
“Mas kok pucet banget sih?” Tanya Diana ketika mereka sarapan berdua. Ayu masih tertidur di kamar. “Kamu sakit? Semalem aku liat kamu bolak-balik ngga bisa tidur.”
“Ngga papa bu. Cuma kepikiran kerjaan aja.” Jawab Hari sambil menunduk ke arah piringnya. Untuk pertama kalinya seumur hidup Hari berbohong kepada istrinya, dan itu terasa jauh lebih pahit dari yang ia bayangkan.
“Ya udah, jangan dipaksain kalo emang badannya ngga enak. Cari kerjanya besok aja.” Kata Diana sambil menuangkan teh ke gelas suaminya.
“Ngga bu, aku tetep berangkat. Malah kalo di rumah aku makin pusing.” Jawab Hari.
Sesungguhnya bukan mencari pekerjaan yang ada di kepalanya pagi itu. Ada satu hal yang harus ia selesaikan, dan ia sudah berjanji akan datang.
***
Warung itu belum genap dibuka ketika motor Rx King Hari berhenti di depannya. Siska sedang mengangkat papan penutup satu per satu. Wajahnya datar, tidak ada senyum seperti biasanya, matanya sembab seperti orang yang habis menangis semalaman.
“De’…” panggil Hari pelan sambil turun dari motor.
Siska tidak menjawab. Ia terus mengangkat papan itu dan menyusunnya di dinding.
“Aku mau ngomong.” Kata Hari lagi. “Soal kemarin, aku bener-bener minta maaf. Aku salah De’. Aku laki-laki yang ngga bisa jaga diri.”
“Terus mau mas apa?” Siska akhirnya menoleh. Suaranya bergetar. “Mas mau bilang itu semua salah, terus mas pergi, terus semuanya selesai gitu? Enak bener.”
“Bukan begitu maksudku.” Hari menghela nafas panjang. “Aku ngga akan lari dari tanggung jawab. Cuma… aku bingung De’. Aku punya istri, punya anak. Anakku masih kecil.”
“Ya aku tau mas!” Suara Siska meninggi, lalu langsung mengecil lagi karena sadar warung sebelah bisa mendengar. “Aku tau mas punya istri. Aku yang salah, aku yang mulai duluan. Aku lagi sakit hati, aku gelap mata. Jadi ngga usah mas pikirin. Anggep aja kemarin ngga pernah kejadian.”
“Mana bisa dianggep ngga pernah kejadian.” Kata Hari lirih.
Siska membuang muka. Air matanya jatuh, buru-buru ia hapus dengan punggung tangannya. “Ya udah, mas pulang aja. Aku ngga minta apa-apa dari mas. Ngga minta uang, ngga minta dinikahin, ngga minta apa-apa.”
Hari berdiri mematung di depan warung itu cukup lama. Ia ingin bicara lebih banyak, tapi tidak ada satupun kalimat yang terasa pantas keluar dari mulutnya. Akhirnya Hari pulang dengan beban yang justru bertambah berat. Ia berjanji dalam hati, mulai hari itu ia tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di warung itu.
***
Tiga minggu berlalu. Hari benar-benar menepati janjinya pada diri sendiri. Ia tidak lagi lewat jalan itu, apalagi mampir. Ia menyibukkan diri dari pagi sampai sore, keluar masuk perusahaan, menyerahkan lamaran, menunggu panggilan.
Sampai suatu siang, sebuah kabar baik akhirnya datang juga. Sebuah toko material besar di pinggir kota menerimanya di bagian penagihan. Gajinya jauh di bawah gaji lamanya, tapi bagi Hari itu sudah lebih dari cukup untuk memulai lagi. Sore itu ia pulang dengan membawa sebungkus martabak dan lollypop untuk Ayu.
“Alhamdulillah mas… Alhamdulillah…” Diana memeluk suaminya sambil berlinang air mata. “Kan aku udah bilang, rejeki itu pasti ada jalannya.”
“Iya bu. Makasih ya udah sabar sama aku.” Kata Hari. Ia membalas pelukan istrinya, tapi di dalam dadanya ada sesuatu yang menusuk. Ia merasa sama sekali tidak pantas menerima kebahagiaan itu.
Malam itu untuk pertama kalinya sejak tiga minggu Hari bisa tidur nyenyak. Ia mulai percaya, mungkin Allah sudah menutup pintu yang salah itu dan menggantinya dengan yang benar. Mungkin semuanya sudah selesai.
Ternyata ia keliru.
***
Sebulan kemudian, ketika Hari sedang menagih ke sebuah toko bangunan tak jauh dari sana, seorang anak kecil menghampirinya dan menyerahkan secarik kertas. Katanya dititipkan mbak yang jaga warung di ujung jalan. Isinya cuma satu kalimat pendek. Mas, aku perlu ketemu. Penting.
Perut Hari langsung terasa dingin.
Siang itu ia datang lagi ke warung yang sudah ia hindari berbulan-bulan. Siska duduk di bangku panjang depan etalase, wajahnya lebih kurus dari terakhir kali Hari melihatnya.
“Ada apa De’?” Tanya Hari sambil tetap berdiri.
Siska tidak langsung menjawab. Ia menunduk, memilin-milin ujung bajunya. “Aku udah telat dua bulan mas.” Katanya akhirnya, nyaris berbisik. “Kemarin aku ke bidan. Aku hamil.”
Dunia seperti berhenti berputar. Hari merasa kakinya tidak kuat lagi menopang badannya sendiri, ia terduduk di bangku panjang itu tanpa sadar. Beberapa kali ia membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.
“Aku ngga tau harus gimana mas.” Siska mulai terisak. “Aku ngga punya siapa-siapa disini. Kalo sampe ketauan orang, aku diusir dari sini mas. Anakku mau dianggep apa nanti? Anak haram?”
Hari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Di kepalanya berputar wajah Diana, wajah Ayu, wajah ibunya di kampung, wajah tetangga-tetangganya. Semua akan hancur. Tapi di depannya ada seorang perempuan yang mengandung darah dagingnya, perempuan yang masa depannya sudah ia rusak dengan tangannya sendiri.
“Aku tanggung jawab.” Kata Hari akhirnya, dengan suara yang sudah tidak berbentuk. “Aku nikahin kamu De’. Tapi aku harus ngomong dulu sama istriku. Aku ngga mau nikah diem-diem tanpa dia tau. Sekali aku bohongin dia, aku ngga mau dua kali.”
***
Malam itu adalah malam paling berat dalam hidup Hari. Ia menunggu Ayu tertidur, lalu mengajak Diana duduk di ruang tamu. Lampu neon di ruangan itu terasa terlalu terang, seolah ikut menelanjangi dirinya.
“Bu, aku mau ngomong. Tapi aku minta kamu dengerin sampe selesai.” Kata Hari sambil menggenggam tangan istrinya.
Diana mengernyitkan dahi. Ada sesuatu di nada suara suaminya yang membuat hatinya langsung tidak enak. “Ngomong apa mas?”
Hari menceritakan semuanya. Dari malam di tempat karaoke itu, dari warung tempat ia biasa singgah, sampai kejadian yang paling ia sesali seumur hidupnya. Ia tidak mengurangi apapun, tidak juga membela dirinya sendiri.
Diana mendengarkan tanpa berkedip. Tangannya perlahan terlepas dari genggaman Hari. Wajahnya berubah pucat.
“Terus?” Hanya itu yang keluar dari mulutnya, dengan suara yang aneh, seperti bukan suaranya sendiri.
“Dia hamil bu.” Kata Hari.
Bunyi jam dinding terdengar begitu keras di ruangan itu. Diana masih duduk diam, tapi bahunya mulai bergetar. Lalu tangis itu pecah, tangis yang ditahan-tahan supaya tidak membangunkan Ayu, tangis yang justru terdengar jauh lebih menyakitkan karena diredam.
“Kamu tega ya mas…” Diana menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Aku bela-belain bangun jam tiga pagi bikin kue biar kita bisa makan. Aku ngga pernah nuntut apa-apa sama kamu. Sekalipun ngga pernah…”
“Maafin aku bu…” Hari jatuh berlutut di depan istrinya. “Aku ngga minta kamu maafin sekarang. Aku cuma minta kamu tau dari mulutku sendiri, bukan dari mulut orang lain.”
“Keluar.” Kata Diana pelan.
“Bu…”
“Aku bilang keluar mas! Aku ngga mau liat muka kamu malam ini.” Diana berdiri dan masuk ke kamar, menutup pintunya, lalu menguncinya dari dalam.
Malam itu Hari tidur di ruang tamu, di lantai, tanpa alas apapun. Dari balik pintu kamar masih terdengar suara istrinya menangis sampai menjelang subuh.
***
Berhari-hari rumah itu berubah menjadi tempat yang sunyi. Diana tetap memasak, tetap membungkus kue, tetap mengurus Ayu, tapi ia tidak lagi bicara kepada suaminya kecuali seperlunya. Hari tidak berani memaksa. Ia hanya berangkat kerja, pulang, dan menaruh seluruh gajinya di meja tanpa berani menghitungnya lebih dulu.
Sampai suatu malam, Diana keluar dari kamar dengan mata yang sembab dan duduk di depan suaminya.
“Aku udah mikir berhari-hari mas.” Katanya dengan suara serak. “Aku bisa aja minta cerai. Aku bisa aja bawa Ayu pergi. Tapi tiap kali aku liat Ayu tidur, aku ngga sanggup bikin dia gede tanpa bapak.”
Hari hanya menunduk.
“Dan anak yang di kandungan perempuan itu ngga salah apa-apa.” Lanjut Diana. Air matanya kembali jatuh. “Dia ngga minta dilahirin dari kejadian kaya gini. Kalo kamu tinggalin dia, kamu nambah satu dosa lagi.”
“Jadi maksud kamu, bu?” Tanya Hari hati-hati.
“Nikahin dia mas.” Kata Diana. Kalimat itu keluar seperti disayat dari dalam dadanya sendiri. “Tapi ada syaratku. Jangan pernah kamu bawa dia kesini. Jangan pernah kamu pertemukan aku sama dia. Dan Ayu, sampai kapanpun, jangan sampe tau tentang ini.”
“Iya bu. Aku janji.” Jawab Hari cepat.
“Satu lagi mas.” Diana menatap suaminya lurus-lurus, untuk pertama kalinya sejak malam pengakuan itu. “Jangan kamu kira aku ikhlas. Aku belum. Aku cuma lagi milih mana yang paling sedikit dosanya. Kalo suatu hari nanti aku bisa ikhlas, itu urusan aku sama Allah, bukan sama kamu.”
Hari tidak sanggup menjawab. Ia hanya mengangguk sambil menahan tangis.
***
Akad itu dilangsungkan dua minggu kemudian, di sebuah rumah kontrakan kecil milik Ratna, kakak Siska satu-satunya yang tinggal tak jauh dari kota. Dari situlah Hari baru tau siapa keluarga perempuan yang ia nikahi. Tidak ada pelaminan, tidak ada undangan, tidak ada tetangga. Hanya seorang ustadz, Ratna dan suaminya sebagai saksi, dan dua orang dari kampung Siska. Nikah yang sah menurut agama, tapi tidak akan pernah tercatat di negara.
Diana tidak datang. Ia sudah bilang dari awal bahwa ia tidak akan datang.
Sore itu, di rumah, Diana menggelar sajadahnya menghadap kiblat. Ayu sedang tidur siang di kamar. Setelah salam, Diana tidak langsung bangkit. Ia tetap duduk di atas sajadah dengan kedua tangan menengadah, dan disitulah ia menangis sepuas-puasnya. Menangis yang tidak boleh dilihat siapapun, apalagi anaknya. Ia menangis bukan karena membenci suaminya, tapi karena hari itu ia harus belajar menerima bahwa ia bukan lagi satu-satunya.
Sejak sore itu, Diana punya satu kebiasaan baru yang akan ia bawa sampai bertahun-tahun kemudian. Kalau dadanya terasa penuh, ia menumpahkannya di atas sajadah, di jam-jam ketika tidak ada seorangpun yang melihat.
***
Beberapa minggu setelah itu, Diana mulai merasakan mual setiap pagi. Awalnya ia kira karena pikirannya yang terlalu berat. Tapi ketika ia menghitung-hitung tanggal, ia baru sadar sudah hampir dua bulan ia tidak datang bulan. Diana pergi ke bidan di dekat kampungnya, sendirian, tanpa memberitahu siapapun.
Malam itu ia menunggu suaminya pulang kerja.
“Mas, aku hamil.” Kata Diana singkat, tanpa senyum, tanpa air mata.
Hari terpaku di depan pintu dengan tas kerja yang masih di tangannya. Perlahan ia meletakkan tas itu, mendekat, lalu duduk berlutut di depan istrinya dan menempelkan keningnya ke tangan Diana.
“Makasih bu… makasih…” suaranya pecah. “Aku janji, mulai sekarang aku kerja lebih keras. Apapun aku kerjain. Ngga akan aku biarin kamu sama anak-anak kekurangan.”
Diana tidak menjawab. Ia hanya mengelus kepala suaminya seperti mengelus anak kecil, sambil memandang ke arah dinding. Di dalam hatinya masih ada luka yang belum kering, luka yang mungkin tidak akan pernah benar-benar kering. Tapi di dalam perutnya ada satu nyawa lagi yang harus ia jaga, dan Diana tau, ia tidak punya waktu untuk terus-terusan menangis.