Di kediaman Humberson, tepatnya di kamar milik Alper, Bella tengah tersudut di sudut ranjang. Kedua tangannya ditekan kuat di sisi tubuh kecilnya dengan kaki juga diapit oleh Alper hingga membuatnya tak bergerak. Kedua mata Alper menatap tajam mata bulat Bella yang menantangnya. Tanpa ragu, Alper mendekatkan wajah ke leher Bella yang seketika menolak, tapi tak bisa berbuat banyak. Alper mencium aroma tubuh Bella seperti binatang yang sedang mengendus dengan mata terpejam dan hal itu tentu membuat Bella risih.
“Lepaskan dan hentikan perbuatan bodohmu!” maki Bella sambil menggerakkan tubuhnya serta kepala yang terus menggeleng geli karena Alper sesekali mengecup lehernya.
Alper tak menghiraukan semua amukan Bella dan tetap asik mencium serta sesekali menjilat leher hingga membuat Bella bergidig dan merinding. Merasakan jika Bella bergidig, Alper mengangkat wajahnya sebentar dan menyeringai, lalu langsung mendapat tatapan nyalang dari Bella. Namun, hanya senyuman yang terukir dari bibir Alper yang sedikit tebal nan merah. Kembali Alper mendaratkan bibir ke leher Bella dan tak lama berselang terdengar suara Bella yang memekik.
“Akh! Apa yang kaulakukan?” teriak Bella merasakan gigitan di lehernya. Alper mendongak dan tertawa senang melihat wajah kesal Bella yang melotot padanya kini.
“Kau berisik sekali jadi cewek rupanya. Aku sedang menggambar demi menuangkan bakat terpendamku. Kau cukup diam menjadi kanvasku menggambar. Mengerti?” jawab Alper yang meembuat Bella kesal dan ingin sekali mencolok matanya.
“Kurang ajar! Aku bukan kertas dan jangan seenak jidatmu menggambar di leherku. Lepaskan aku!” oceh Bella lagi dan terus meronta. Jangankan terlepas, bergerak sedikit pun tidak karena cengkeraman tangan Alper pada kedua pergelangan tangan Bella sangat kuat yang perlahan membuatnya melemah karena lelah.
“Percuma kauberteriak dan meronta karena tak ada satu orang pun yang akan mendengar dan peduli. Rumah ini milikku dan aku bisa melakukan apa pun keinginanku tanpa ada yang melarang. Jadi, lebih baik kaupasrah saja dan cukup menikmati apa yang akan kuperbuat pada tubuhmu. Deal, Bu Guru?” tutur Alper terdengar santai, tapi membuat amarah Bella naik disertai rasa takut yang semakin menyergap hatinya.
“Tidak! Kau pria tak waras. Kau bisa masuk penjara jika melakukan hal bodoh padaku. Aku tak akan segan melaporkanmu ke penjara jika berani melakukan sesuatu padaku. Kaudengar itu!” timpal Bella lantang dan membuat Alper kembali tertawa.
Mendapati ancamannya ditertawakan, Bella semakin kesal dan terus meronta. Namun, tanpa kata lagi, Alper justru melayangkan ciuman ke bibir Bella dan melumatnya kasar.
‘Hmmmpt’
Bella bungkam karena bibirnya dilumat oleh Alper. Bahkan, dengan lincah Alper melumat bihir Bella diiringi tubuh Bella yang terus meronta serta kedua kaki menendang. Alper tak berhenti dan justru menggigit bibir Bella yang membuatnya tak tahan sejak tadi. Dirasa cukup, Alper melepas ciumannya dan nampaklah bibir Bella yang basah dan sedikit bengkak akan ulahnya barusan. Alper menempelkan hidungnya ke hidung Bella, hingga keduanya bisa merasakan nafas satu sama lain. Mata keduanya saling menatap dan terdengar nafas Bella yang tersenggal karena lamanya durasi ciuman Alper barusan.
“Itu baru pemanasan karena berikutnya akan lebih seru lagi. Aku akan tunjukkan bagaimana caranya bergoyang dengan baik dan benar, hingga kau tak bisa diam untuk tidak mendesah di bawah kendali goyanganku. Bersiaplah!" tutur Alper percaya diri dengan senyum m***m yang sudah terlihat di wajah tampannya, tapi justru menakutkan bagi Bella.
Seketika hati Bella menciut mendengar ancaman Alper dan baru pertama kali dia dengar dari seorang pria untuknya. Mata Bella bergerak gelisah bersama tubuhnya yang kembali meronta. Namun, Alper langsung menarik baju Bella hingga bagian dadanya terlihat dan masih dibalut kain berwarna mocca.
“Tidak! Aku mohon jangan lakukan! Tolong lepaskan aku!” pinta Bella kali ini memohon dengan suara yang terdengar bergetar karena takut. Alper tak menjawab dan hanya menempelkan keningnya pada kening Bella tanpa memutus tatapan tajamnya yang telah berubah dengan gairah serta nafas berat.
“Aku menginginkanmu, Bella. Kau sudah tahu bahwa aku sangat menginginkanmu, bukan?” ujar Alper dengan saura bariton dan membuat Bella tercekat serta tak menjawab.
Bella menggeleng dan Alper tahu apa sebab Bella menggelengkan kepalanya. Maka, tampaklah rahang Alper yang mengeras dan dengan kasar tangan kanan Alper menarik kain penutup d**a Bella hingga terlihatlah apa yang membuat sudut bibir Alper tersenyum. Bella memejamkan matanya ketika melihat bagian tubuhnya tak tertutup lagi. Alper tanpa ragu mendaratkan bibirnya di sana dan melumat rakus. Bella mendesah merasakan lumatan yang dilakukan Alper pada tubuhnya dengan mata terpejam, lalu bergumam di sela kesadarannya.
“Jangan! A-aku mohon!” pinta Bella sambil menahan rasa geli serta desiran aneh yang dia rasakan untuk pertama kalinya karena disentuh oleh pria.
Ucapan Bella tentu tak digubris Alper yang justru semakin menikmati kesibukannya di bagian tubuh Bella yang sesekali dia gigit hingga membuat Bella kaget bersama desahan yang terus mencelos dari mulutnya yang terus menolak. Tak lama kemudian, Alper turun ke bagian perut Bella dan menciumnya kembali serta meninggalkan bekas gigitan hingga tangannya dengan yakin menarik sisa pakaian Bella hingga polos kini.
“Aku mohon jangan lakukan, hiks ….” Bella mulai terisak melihat dirinya yang tak berdaya kini di bawah kendali Alper yang terlihat senang. Alper bangun dari tubuh Bella dan mulai melepas kancing bajunya tanpa memutus kontak mata dengan Bella. Namun, sekilas Alper melepas pandangan, Bella bangun dan berlari menuju pintu dan dilihat oleh Alper yang tengah membuka celana, tapi dengan cepat Alper langsung meraih tubuh Bella yang kecil dan membawanya kembali ke ranjang saat tangannya baru menyentuh gagang pintu.
“Lepaskan … lepaskan!” teriak Bella dan terus meronta.
“Tidak akan! Aku tak akan melepaskanmu begitu saja sebelum aku dapatkan apa yang kumau dari dirimu, Bella!” ujar Alper dengan suara menggeram kini dan sontak membuat mulut Bella bungkam juga terkejut karena Alper terlihat begitu menyeramkan.
“Tidak! Aku tak mau. Lepaskan aku sekarang juga!” balas Bella yang terus meronta dan melayangkan tamparan ke pipi Alper.
Wajah Bella mendadak pucat setelah sadar apa yang sudah dia lakukan barusan dengan tangannya yang bebas. Alper menatap tak berkedip Bella yanga ada di bawah kungkungannya. Terlihat gurat kesal di wajah Alper karena tamparan Bella hingga tiba-tiba Bella memekik ketika merasakan ada sesuatu yang menyentuh area sensitifnya dan menyakitkan.
“Akh!” Bella memekik dan Alper terus menatap reaksi Bella akan ulahnya di bawah sana yang kembali dia ulang beberapa kali guna memastikan jika apa yang dia niatkan berhasil.
Setelah berhasil menembus apa yang dia inginkan, senyum Alper terukir. Hatinya sangat senang mendapati Bella masih perawan dan dia menjadi pria pertama baginya. Sudut mata Bella meneteskan air mata dan itu terlihat oleh Alper bersama kalimat yang keluar dari mulut Bella dan hanya dianggap angin lalu olehnya.
“AKU MEMBENCIMU!”