Reksa asli kembali mengetuk pintu.
'Mei, jangan dengarkan orang di dalam! Aku di sini bersama Erly!'
Tiruan Reksa memperkuat bayangan pada mulut Bu Rena. Perempuan itu sulit bernapas, tetapi tangannya perlahan bergerak menuju kotak cermin di bawah kursi.
'Suruh dia pergi,' perintah peniru kepada Meisin.
'Kalau kamu benar Reksa, lepaskan ibuku dulu.'
'Aku sedang melindungimu. Cermin itu berbahaya.'
Meisin mengenali alasan tersebut. Owen pernah menyebut pemaksaan sebagai perlindungan. Peniru Reksa menggunakan rasa sayang sahabatnya, lalu membuang bagian yang menghormati pilihan.
'Reksa yang asli nggak akan mencekik ibuku supaya aku menurut.'
Makhluk itu marah. Dia menyeret Meisin mendekati pintu belakang kamar.
Owen menembus dinding dan menerjangnya. Tubuh mereka beradu seperti asap padat. Tiruan Reksa mengetahui cara Owen menyerang dari ingatan yang dicuri, sehingga dia selalu menghindar satu gerakan lebih dulu.
'Kamu nggak bisa mengalahkanku,' ejeknya. 'Aku dibentuk dari semua orang yang dia percaya, sedangkan wajahmu sudah dia lupakan.'
Owen memukul lebih keras. Kemarahannya justru membuat gerakan mudah ditebak. Meisin berteriak menyuruhnya berhenti.
'Dia sengaja memancingmu!'
Owen mundur. Untuk pertama kalinya, dia memilih menahan amarah sebelum kehilangan kendali.
Bu Rena berhasil menjatuhkan kotak. Penutupnya terbuka, tetapi cermin masih terbungkus kain. Bayangan yang menutup mulutnya melemah ketika berada dekat bingkai perak.
'Tanyakan keputusan baru!' seru Bu Rena.
Meisin menatap pintu. 'Reksa, apa yang kamu janjikan waktu kita membuat buku catatan?'
Tiruan di dalam menjawab, 'Kamu harus percaya karena aku mengenalmu.'
Dari luar, Reksa asli berseru, 'Aku cuma boleh memberi fakta yang kulihat. Aku nggak berhak menuliskan perasaan atau memutuskan siapa dirimu!'
Tiruan Reksa tertawa. Dia mulai menyebut kenangan lain untuk membuat Bu Rena ragu. Dia tahu nama guru pertama mereka, tempat Meisin menyembunyikan uang jajan, dan hari ketika Reksa menunggu semalaman di depan rumah setelah Meisin bertengkar dengan orang tuanya.
'Aku memiliki semua yang dia ingat tentangmu,' katanya. 'Apa bedanya aku dan lelaki di luar?'
Reksa asli menjawab dari balik pintu, 'Bedanya, ingatan itu milik Meisin juga. Aku nggak akan memakainya untuk memaksa dia memilihku.'
Peniru kehilangan senyum. Ia memiliki kerinduan Reksa, tetapi tidak memahami batas yang baru dipilih lelaki asli. Itulah celah yang dicari Meisin.
'Kalau kamu benar-benar menyayangiku, buka pintu dan biarkan aku menentukan siapa yang dipercaya,' tantang Meisin.
'Aku nggak perlu izinmu untuk melindungimu.'
'Berarti kamu sendiri yang membuktikan kalau kamu bukan Reksa.'
Bayangan pada kaki makhluk itu membesar. Dinding kamar dipenuhi potongan wajah Meisin yang sedang menangis. Tiruan tersebut mencoba memakai rasa bersalah, tetapi Meisin menutup buku catatan ke dadanya dan tidak mengalihkan pandangan.
Bu Rena menarik kain. Cermin tua diarahkan kepada peniru.
'Wajah Reksa, kembali kepada bayanganmu!' perintahnya.
Permukaan kaca mengeluarkan cahaya pucat. Wajah tiruan mengelupas seperti cat terkena air. Di bawahnya tidak ada mata, hidung, atau mulut.
Makhluk itu mencoba masuk ke layar monitor, tetapi Owen menahan jalannya. Meisin membuka pintu depan dan membiarkan Reksa asli masuk.
Saat dua sosok tersebut berdiri dalam satu pantulan, cermin mengenali pemilik wajah. Tiruan menjerit, berubah menjadi garis hitam, lalu tersedot ke bingkai.
Makhluk itu sempat mengganti wajah menjadi Bu Rena, Owen, dan Meisin sendiri. Setiap wajah memohon agar dilepaskan. Bu Rena hampir menurunkan cermin ketika melihat putrinya menangis dari dalam kaca.
'Jangan lihat wajahnya, Bu. Ingat pilihannya,' ucap Meisin.
Reksa menutup sisi cermin menggunakan kain sedikit demi sedikit. Jalan keluar peniru semakin sempit sampai seluruh garis hitam masuk ke ukiran.
Satu dari enam noda pada tepi cermin masuk ke ukiran mata keenam. Lima noda lainnya terus bergerak.
Bayangan yang membekap Bu Rena lenyap. Reksa memeluk perempuan itu, kemudian memeriksa Meisin.
'Kamu terluka?'
Meisin hendak menjawab, namun sebuah ingatan menghantam kepalanya.
Dia melihat dirinya berusia enam tahun berdiri di depan kelas baru. Kotak bekalnya jatuh dan nasi tumpah. Seorang anak lelaki bernama Reksa membantu mengumpulkan sendok, lalu memberikan separuh makanannya meski Meisin mengatakan tidak lapar.
'Aku ingat hari pertama kita bertemu,' bisik Meisin. 'Kamu kasih aku telur dari bekalmu.'
Reksa tersenyum lega. 'Dan kamu bilang telurnya terlalu asin.'
'Memang asin.'
Kenangan tersebut kembali lengkap, termasuk rasa malu dan tawa mereka. Mbah Raras benar. Enam wajah pinjaman membawa bagian-bagian ingatan yang diambil dari Meisin.
Meisin membuka halaman pertama buku. Fakta yang ditulisnya mengenai Reksa kini menyatu dengan perasaan asli yang baru kembali. Dia memahami perbedaan keduanya. Catatan dapat menjaga arah, tetapi ingatan membawa warna, bau, dan alasan yang membentuk sebuah pilihan.
'Kalau semua wajah kembali, apa semua ingatanku pulih?' tanya Meisin.
Mbah Raras muncul samar di sudut cermin. 'Ingatan yang diambil lonceng bisa kembali. Ingatan yang dibayar untuk benda masa lalu tetap membutuhkan jalan lain.'
Artinya wajah Owen mungkin membawa alasan penolakan yang dicuri saat lonceng keenam, tetapi lagu Bu Rena atau bagian lain yang dibayar untuk kunci serta jarum belum tentu berada di sana. Perjalanan memulihkan dirinya masih panjang.
Meisin menulis satu tambahan: ingatan yang kembali tidak otomatis mengubah keputusan hari ini. Dia boleh merasakan kedekatan lama dengan Reksa tanpa menjanjikan cinta, dan kelak boleh mengingat Owen tanpa harus menerima pernikahan arwah.
Dari dalam cermin terdengar suara peniru Reksa. 'Satu ingatan pulang. Lima masih menjadi milik kami.'
'Ingatan siapa yang dibawa wajah Owen?' tanya Meisin.
'Alasan pertama kamu berkata tidak.'
Owen berdiri di belakang Meisin. Wajahnya masih asing, tetapi isi catatan mengenai kesalahannya sudah cukup jelas.
'Jangan kejar makhluk itu cuma demi mengingatku,' katanya.
'Aku mengejar ingatanku, bukan kamu.'
'Dia akan memakai keinginanmu untuk menjebakmu.'
'Seperti yang dulu kamu lakukan?'
Owen menerima pertanyaan tersebut tanpa marah. 'Iya. Karena itu aku tahu caranya.'
Polisi dan petugas keamanan masuk setelah Erly membuka pintu. Mereka menemukan sisa lumpur hitam, tetapi tidak ada tubuh peniru. Bu Rena menjelaskan satu wajah sudah kembali ke cermin. Kini benda warisan itu harus dijauhkan dari ukiran mata ketujuh agar tidak disalahgunakan.
Alarm kamar jenazah berbunyi.
Owen memegang dadanya. Arwahnya tertarik menuju lantai bawah sampai kedua kakinya nyaris terangkat.
'Seseorang menyentuh tubuhku,' katanya.
Erly membuka kamera keamanan pada perangkat milik polisi. Seorang lelaki berwajah Owen berdiri di depan pintu kamar jenazah. Sidik jari yang digunakannya berhasil membuka kunci, karena bentuk tubuh peniru kini menyalin data pemilik wajah.
Di belakangnya berdiri Erly palsu sambil membawa surat tanah Kampung Dukun.
Keduanya masuk. Kamera di dalam memperlihatkan kantong jenazah bergerak sendiri.
Owen palsu membuka resleting dan menatap jasad yang memiliki wajah sama dengannya.
'Bangun,' perintahnya. 'Kita bawa nama ini pulang.' (*)