Pernikahan yang berlangsung tiga hari setelah kejadian Rafa di sekap oleh para preman, tentunya membuat ia tidak menyangka akan hal itu. Tapi semuanya sudah takdir dan ia harus menjalaninya dengan ikhlas.
Memang wanita yang ia harapkan jauh dari perkiraan, tapi Insya Allah, Rafa bisa mengubah sifat dari istrinya itu. Kenapa ia menikahi wanita itu dengan cepat? Itu karena ia sudah berjanji pada diri sendiri. Barang siapa, yaitu wanita yang menyentuh dirinya dengan sengaja, ia akan ber-ta'aruf dengan orang itu. Dalam arti bersentuhan yang berlebihan. Erin menciumnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Rafa ketika memasuki rumah orangtuanya. Anggota keluarga Rafa, semuanya berprofesi sebagai dokter. Ia mempunyai adik perempuan yang masih kuliah kedokteran dan kakak lelakinya sudah menjadi seperti dirinya. Menjadi dokter bedah ertopedi. Gajinya tentu 'waw' sebanding dengan resiko pekerjaannya.
"Wa'alaikumsalam," sahut wanita paruh baya yang sedang membenarkan jilbab yang dikenakannya.
"Erin mana? Masih diluar?"
"Bu..." Rafa mencekal pergelangan tangan ibunya yang hendak keluar rumah lalu menatap wajah Ibunya sekarang yang sudah semakin menua. "Erin tidak datang. Dia ada urusan." Rafa berusaha tersenyum lalu berjalan menuju sofa ruang tamu. Hari itu ia memakai celana bahan warna hitam dan kemeja cokelat.
Ibunya bertanya, "ini hari Senin. Kau berpuasa?"
Rafa menjawab, "Insya Allah," seraya tersenyum.
"Di rumahmu tidak ada bahan makanan, 'kan? Lalu Erin sudah makan?" Tanya Ibunya, peduli.
"Sudah, Bu. Tadi pagi aku masakin buat dia," balas Rafa, lembut.
Ibunya tersenyum pada Rafa. Beliau tidak pernah menolak keinginan Rafa sepanjang itu adalah jalan menuju kebaikan. Pernikahan mendadak itu juga beliau setujui dengan lapang d**a. Tidak seperti sinetron yang menampilkan adegan saat mendapat menantu yang bukan idamannya, mertua itu akan kasar kepada wanita itu. Orangtua Rafa berbeda.
***
Wanita yang memakai jeans dengan bagian lutut di sobek-sobek dan hoodie hijau botol dengan tudung menutupi kepala, berjalan memasuki sebuah rumah satu lantai. Ia akan masuk ke dalam rumah itu, tapi susah sekali untuk di buka.
Erin mengumpat kemudian menendang pintu itu, kasar. "Dasar rumah orang miskin! Pakai macet segala lagi!"
Erin mengotak-atik tempat kunci rumah itu dan mencoba membukanya, tapi tidak bisa di buka. Sangat sulit. Bahkan yang keluar dari mulutnya saat itu adalah berbagai macam umpatan.
"Pintunya macet lagi?"
Suara seseorang dari belakang sana, membuat Erin berbalik. "Bukain dong."
Lelaki itu mendekat. "Dari kemarin aku tidak bisa menghubungimu. Kau kemana?" Lelaki itu mencoba membuka pintu rumah itu dan berhasil. Dengan begitu mudah!!!
Erin masuk ke rumah itu. "Aku sudah pindah dari rumah ini."
Lelaki itu tidak paham. "Pindah? Kemana? Kau dapat uang darimana sampai bisa pindah?"
Erin menggendong tas berisi barang-barang yang ia perlukan. Setelah itu, ia berdiri di hadapan pria itu. "Jean, maafin aku, ya. Aku menikah tanpa kasih kabar ke kamu." Erin melengos pergi.
Tapi dengan cepat, Jean mencekal lengan Erin. "Menikah? Apa maksudmu, huh? Dengan siapa kau menikah? Orang kaya? Demi uang kau menikah dengan orang kaya? Aku pacarmu, aku juga bisa kasih banyak uang ke kamu, kenapa menikah dengan lelaki lain?"
Erin melirik lengannya yang cukup sakit saat Jean menekannya cukup keras. Kemudian pandangannya beralih menatap wajah Jean. Matanya sudah memerah dan terlihat sangat marah. Erin tidak berani untuk berbicara karena lelaki itu mulai mengangkat tangannya hendak menampar.
"J-jangan!" Erin sudah menunduk takut. "Kumohon. Maafkan aku."
Tangan Jean yang terbuka kini sudah mengepal erat-erat di depan wajah Erin. Giginya bergemeletuk sampai akhirnya ia menarik kembali tangannya, tidak jadi melukai Erin. "Kau harus membayarnya."
Erin mendongak. "Dengan apa? Kau ingin apa dariku? Uang? Tentunya tidak karena kau anak orang kaya."
"Tetap berpacaran denganku."