SMA Nusa Bangsa, sebuah bangunan megah yang menjadi saksi bisu lika-liku kehidupan remaja dengan segudang peristiwa. Di antara kerumunan siswa yang berlalu lalang di sekolah tersebut, ada seorang gadis bernama Dwi.Dwi yang akan menjadi MC dalam cerita ini.Rambutnya yang lurus terurai, wajahnya biasa saja, berpenampilan b aja dan tubuhnya cenderung sedikit berisi. Dwi adalah sosok yang sering dilupakan, kehadirannya seperti udara yang tak begitu diperhatikan di sekolah dan kelasnya. Dia juga tidak terlalu aktif dalam kegiatan sekolah.
Setiap hari, Dwi selalu melewati lorong yang sama setiap kali menuju ruangan kelas. Di ujung lorong itu, ada kelas XII IPA 2, tempat duduknya seorang siswa tampan bernama Dio. Dio adalah idola sekolahan, pintar, atletis, tampan dan memiliki senyum yang menawan + manis. Dwi diam-diam menyimpan rasa suka pada Dio, namun ia terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya.padahal dia selalu berdoa dan belajar untuk mengungkapkan perasaan yang dia miliki.
“Dwi, lo lagi ngapain bengong di sini?”
"Pas" "pagi pagi loh"!
suara cempreng Tina mengagetkan Dwi. Tina adalah sahabat sekaligus musuh bebuyutan Dwi di sekolah. Ia selalu mengejek penampilan Dwi yang dianggapnya kuno dan tidak mengikuti tren.
“Enggak ngapa-ngapain kok,” jawab Dwi pelan dengan sedikit menunduk.
“Liatin Dio lagi, ya? Hahaha, lo itu ngarep banget sih, Wi,” ejek Tina sambil tertawa terbahak-bahak. Teman-teman Tina yang lain ikut tertawa mengejek Dwi." Dikira Dio mau aja sama Luh"! "Selera Dio bukan kayak loh juga kali"!
Dwi hanya bisa menunduk malu dan selalu bergumam dalam hati. Ia sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu. Setiap hari, ia selalu menjadi bahan tertawaan teman-temannya.
Suatu hari, Dwi menemukan sebuah buku kuno sedikit berdebu dan lusuh di perpustakaan sekolah. Buku itu berisi mantra-mantra kuno yang konon bisa mengubah penampilan seseorang dengan cepat. Dengan rasa penasaran yang sangat besar, Dwi memutuskan untuk mencoba mantra tersebut. Setelah ia meminjam buku tersebut dari perpustakaan sekolah.Ia membaca mantra itu berulang kali sambil membayangkan dirinya menjadi cantik, menawan dan menarik.setelah dirasa cukup dia pun tidur.
Keesokan harinya, setelah dia bangun dan berangkat ke sekolah dengan percaya dirinya dan ketika Dwi datang ke sekolah, semua orang tertegun melihat perubahannya Dwi yang sangat berbeda. Rambutnya kini berkilau, wajahnya berseri-seri, senyumanya lebih manis dan tubuhnya terlihat lebih langsing. Dwi seperti seorang putri yang baru saja turun dari langit.
“Dwi? Itu kamu?” tanya Dio tak percaya.
Dwi hanya tersenyum malu. Ia tidak menyangka perubahannya akan membuat Dio sebegitu terkejutnya.
Sejak saat itu, hidup Dwi berubah drastis. Ia menjadi pusat perhatian di sekolah. Banyak siswa yang mengagumi kecantikannya, termasuk Dio. Dio pun mulai mendekati Dwi dan mereka akhirnya menjalin hubungan asmara.
Namun, di balik kebahagiaannya, Dwi merasa ada yang janggal. Ia merasa seperti sedang bermain peran dan peran yang dia perankan tidak sesuai dengan dia yang biasanya. Ia takut jika suatu saat Dio mengetahui jati dirinya yang sebenarnya yang dimana notabennya dia menggunakan sihir untuk mengubah penampilan.
Suatu hari, ketika Dwi sedang berjalan-jalan di taman sekolah bersama Dio, tiba-tiba saja muncul seorang gadis misterius yang sangat lusuh. Gadis itu menatap Dwi dengan tajam dan berkata, “Kau telah mencuri sesuatu yang tidak seharusnya kau miliki.”"kau merampas hak ku"
Dwi bingung dengan perkataan gadis itu. Ia tidak mengerti maksudnya.
“Aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku,” lanjut gadis misterius itu sambil mengeluarkan sebuah buku kuno dari tasnya dengan sedikit tergesa gesah. Buku itu adalah buku yang sama dengan yang pernah dibaca Dwi waktu lalu.
Gadis misterius itu kemudian membaca mantra dari buku tersebut. Sama seperti yang dilakukan Dwi dulu.Seketika itu juga, kecantikan Dwi mulai memudar dan semakin memudar. Rambutnya kembali kusut, wajahnya kembali pucat, dan tubuhnya kembali berisi.
Dwi merasa hancur. Ia kembali menjadi gadis biasa yang sering diejek orang. Dio yang melihat perubahan Dwi menjadi sangat kecewa. Ia tidak percaya bahwa gadis yang dicintainya selama ini hanyalah sebuah ilusi semata.
Dwi menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal telah menggunakan sihir untuk mengubah penampilannya. Ia sadar bahwa kecantikan sejati itu berasal dari dalam diri, bukan dari luar.
Kehidupan Setelah Perubahan
Setelah kejadian itu, Dwi menjadi lebih tertutup. Ia menghindari teman-temannya dan lebih banyak menghabiskan waktu di kamar seorang diri. Dio berusaha mendekati Dwi, namun Dwi selalu menghindarinya.
Suatu hari, Rani, sahabatnya, datang menjenguk Dwi.
“Dwi, kamu harus bangkit. Jangan biarkan kejadian ini menghancurkan hidupmu,” kata Rani.
Dwi menatap Rani dengan mata berkaca-kaca. “Aku merasa seperti tidak ada yang peduli padaku kecuali karena penampilan,” ucapnya lirih.
Rani menghela napas. “Itu tidak benar, Wi. Ada banyak orang yang menyayangimu apa adanya apalagi uang mu :) "really" jawab Dwi. "Tidak aku hanya bercanda". Kamu harus percaya diri dengan dirimu sendiri.”
Kata-kata Rani sedikit banyak membangkitkan semangat Dwi. Ia mulai menyadari bahwa ia tidak boleh terus berlarut dalam kesedihan ini. Ia harus bangkit dan menjalani hidupnya kembali.
Pertemuan dengan Masa Lalu
Suatu hari, Dwi bertemu dengan seorang nenek tua di pasar. Nenek itu melihat Dwi dan tersenyum.
“Cucu, aku melihat kesedihan di matamu. Apa yang membuatmu sedih?” tanya nenek tua itu dengan sedikit heran.
Dwi menceritakan semua yang telah terjadi padanya. Nenek tua itu mendengarkan dengan penuh perhatian.tak sedikit pun nenek ini melewatkan ceritanya.
“Dwi, kecantikan itu relatif. Yang terpenting adalah kecantikan hati. Jika hatimu baik, maka kamu akan selalu bersinar,” kata nenek tua itu kepadanya.
Nenek tua itu kemudian memberikan Dwi sebuah kalung sederhana.
“Kalung ini akan membantumu menemukan kekuatan sejati dalam dirimu,” kata nenek tua itu.
Dwi menerima kalung itu dengan penuh rasa terima kasih. Ia merasa ada kekuatan baru yang mengalir dalam dirinya.
Mulai dari Awal
Dwi memutuskan untuk memulai hidup baru. Ia bergabung dengan klub buku di sekolah dan mulai aktif menulis cerita pendek. Ia juga mengikuti les memasak dan belajar bermain gitar.
Perlahan tapi pasti, Dwi mulai merasa lebih bahagia dari sebelum sebelumnya. Ia menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Ia menyadari bahwa ia tidak perlu menjadi cantik untuk dicintai. Yang terpenting adalah menjadi diri sendiri istilahny Love yourself .
Suatu hari, Dwi bertemu dengan Dio di perpustakaan sekolah. Dio terlihat terkejut melihat perubahan Dwi.
“Dwi, kamu terlihat berbeda,” kata Dio.
Dwi tersenyum. “Aku memang berbeda. Aku lebih percaya diri sekarang.”
Dio merasa senang melihat Dwi kembali seperti dulu. Ia pun mulai mendekati Dwi lagi.
Bersambung...