Aku memasuki kelas tanpa berkata apapun, aku masih terus kepikiran tentang Ricardo. Jessi yang melihatku terdiam dari tadi pun membuyarkan lamunanku. Sontak aku langsung terkejut.
"Hayooo,, lagi Mikirin apa?" Tanya Jessi tertawa kecil
"Nggak mikirin apa-apa kok, ehm,,, apa kamu tau teman sekelas kita ada yang bernama Ricardo Pratama?" Jawabku balik bertanya kepada Jessi. Dia langsung mengangguk "kenapa"
"Kok aku baru tau?" Ucapku sedikit terkejut. Jessi langsung tertawa mendengar ucapanku "kamukan terlalu sibuk sendiri, lagian Ricardo itu jarang kesekolah. Yang aku tau hari ini dia di pecat karena kasus bolos, selalu terlambat dan bertengkar dengan anak dari sekolah lain. Bahkan Minggu lalu dia bertengkar dengan anak SMA SWASTA bintang bulan." Jelas Jessi menyodorkan sebuah coklat untukku.
"Makasih" Jessi hanya mengangguk. Tak lama kemudian pak Arifin memasuki kelas dan memulai pelajaran kedua.
***
Sepulang sekolah, aku bergegas menuju warteg yang terletak tidak jauh dari sekolah. Aku bekerja setelah pulang sekolah untuk membantu orang tuaku. Meskipun gajinya kecil namun cukup untuk kebutuhan sekolah kedua adikku yang masih SD dan SMP. Kulihat ibu Aisyah sibuk melayani pembeli, aku pun segera berganti pakaian dan segera membantunya. Setelah warteg agak sepi, Bu Aisyah menyuruhku mengerjakan tugas sekolah mumpung warteg sepi. Selain itu Bu Aisyah sudah menganggapku sebagai putri kandungnya sendiri, maklum lah sudah 15 Tahun menikah beliau belum di karuniai seorang anak. Suaminya baru beberapa bulan meninggal dunia karena penyakit jantung.
"Put, makan dulu nanti sakit baru lanjutin ngerjain tugas sekolahnya" ucap Bu Aisyah dengan lembut seperti biasa.
"Iya Bu" jawabku singkat. Setelah PR ku selesai, aku kemudian makan. Selesai makan aku membantu Bu Aisyah mencuci piring kotor dan menyapu lantai serta membersihkan meja dari sisa makanan. Saat aku membuang sampah di tempat sampah, kulihat anak laki-laki yang berlari kerahku di kejar oleh anak remaja lainnya. "Ricardo!" Pekikku dengan suara keras. Dia langsung berhenti berlari dan menoleh ke arahku sambil tersenyum. Dari arah depan, segerombolan anak remaja lainnya mengepungnya dan mulai mengeroyoknya. Aku berteriak meminta tolong, sehingga anak-anak tersebut pergi. Kulihat tubuh Ricardo lemas dengan darah yang keluar dari bibirnya. Tubuhnya penuh memar dan lebam. Para pelanggan yang ada di warteg Bu Aisyah turut membantuku mengangkat tubuh Ricardo ke rumah Bu Aisyah.
Bu Aisyah lalu menelepon sepupunya yang berprofesi sebagai dokter untuk memeriksa keadaan Ricardo. 10 menit kemudian, dokter Hendra tiba dan segera memeriksa keadaan Ricardo.
"Gimana keadaannya dok" tanyaku Dengan perasaan khawatir
"Dia tidak apa-apa, jangan khawatir sebentar lagi dia akan sadar. Aku akan memberikan obat untuknya" jawab dokter Hendra.
Bu Aisyah menyuruhku untuk tetap berada di samping Ricardo sampai dia sadar. aku pun menatap wajahnya yang tampan tertidur dengan suara halus. Tak lama kemudian dia tersadar dan menatapku dengan penuh tanda tanya.
" Kamu tadi pingsan di gebukin sama anak-anak dari sekolah lain" jelasku melihat raut wajahnya yang kebingungan. " Kata dokter kamu baik-baik saja" lanjutku lagi
"Makasih atas bantuanmu" jawabnya dengan suara pelan. Aku pun mengangguk sambil membantunya duduk lalu membawakan teh hangat untuknya. Dia meminumnya seteguk demi seteguk. Bu Aisyah membawakan air untuk mengompres mata bagian kirinya yang bengkak.
" Put, ini ibu bawakan air, untuk mengompres pembengkakan di bagian bawah matanya Ricardo" ucap Bu Aisyah seraya memberikannya kepadaku.
"Makasih Bu" kataku mengambil air yang di bawa Bu Aisyah
" Yaudah, ibu tinggal dulu sebentar, ibu mau tutup warteg dulu, kamu temani Ricardo dulu" ujar Bu Aisyah pergi meninggalkan kami berdua.
Aku pun mulai mengompres lukanya yang bengkak. Sesekali dia meringis menahan pedih.
"Aww, sakit" katanya sambil meringis
"Lain kali, nggak usah bertengkar. Kalau ginikan yang ngerasain sakitkan kamu, gimana kalau orang tuamu sampai tau kelakuanmu? Mereka akan merasa sedih dan merasa tidak bisa menjadi orang tua yang baik untukmu" nasehatku sedikit kepadanya. Dia tidak merespon apapun, dia hanya terdiam tanpa berkata apa-apa.
Setelah selesai mengompres lukanya, aku keluar dan membiarkannya istirahat. Kulihat warteg Bu Aisyah sudah tutup. Kutatap jam dinding, waktu menunjukkan pukul 16.30. sebelum pergi aku sekali lagi memastikan keadaan Ricardo baik-baik saja. Terlihat Ricardo sedang tertidur pulas. Aku pun berpamitan kepada Bu Aisyah.
" Bu, putri pulang dulu ya, nanti kalau keadaan Ricardo sudah membaik beritahu putri ya Bu. Soalnya putri nggak bisa nungguin sampai Ricardo bangun. Putri harus pulang sebelum kemalaman" ucapku sambil mencium punggung tangan Bu Aisyah.
" Iya put, hati-hati ya di jalan, kabarin ibu ya kalau udah sampai rumah" jawab Bu Aisyah lembut penuh kasih sayang.
"Iya Bu, putri pergi dulu." Bu Aisyah hanya mengangguk.
Aku pun bergegas pergi menuju warung-warung untuk mengambil wadah kue yang sudah ku titipkan tadi pagi. Tak lama kemudian aku sampai di rumah, namun rumah terlihat sepi. Seperti biasa kedua orangtuaku masih belum pulang dari sawah dan kedua adikku sudah pergi membantu orang tuaku. Aku bergegas membersihkan rumah, mencuci piring dan pakaian kotor dan menyiapkan makan malam. Aku segera mandi dan menunggu kepulangan orang tuaku dari sawah. Tak lupa aku mengabarkan Bu Aisyah bahwa aku sampai rumah dengan selamat dan menanyakan keadaan Ricardo. Setelah mendengar bahwa Ricardo telah pulang ke rumah di jemput sama neneknya aku pun merasa senang dan lega.