Ratih Dian Virani, adalah seorang dokter umum yang bekerja sebagai manajer di salah satu rumah sakit swasta di Kota Malang. Saat ini dia sedang menghadiri sidang putusan cerai di Pengadilan Agama. Ratih berusaha menahan tangis sebisanya saat hakim pengadilan agama membacakan putusan perceraiannya dengan Zidan Ahmad Kurniawan, suaminya. Ah tidak, sekarang Zidan sudah jadi mantan suaminya. Berat rasanya harus berpisah dengan orang yang sangat dicintai dan sudah hidup bersama selama 9 tahun. Ya...sejujurnya Ratih masih sangat mencintai Zidan. Apalagi sudah ada 2 anak buah hati mereka, Ammar 8 tahun dan Azzam 3 tahun.
Ratih sudah juga mengajukan hak asuh kedua anaknya yang masih di bawah umur. Namun putusan hakim memberikan hak asuh kedua anaknya kepada Zidan. Mantan suaminya itu tidak terima dan dia merasa kedua anaknya tidak pantas diasuh oleh Ratih karena Ratih tidak bisa memberikan contoh yang baik kepada anak-anak mereka. Zidan merasa bahwa Ratih telah berselingkuh dengan salah satu temannya sesama dokter spesialis, Charis.
Tuduhan Zidan itu bukan tanpa alasan. Dia pernah beberapa kali melihat Ratih duduk berhadapan dengan Charis dan bercengkrama mesra di ruang kerjanya di rumah sakit. Bahkan Zidan pernah memergoki Charis memegang tangan istrinya, meskipun waktu itu Ratih langsung menarik tangannya dan menyuruh Charis keluar dari ruangannya. Terakhir, dia memergoki Charis sedang menyatakan perasaan suka kepada istrinya. Dan inilah yang membuat Zidan murka dan langsung men-talak istrinya saat itu juga tanpa meminta penjelasan dari Ratih.
Ratih sudah coba menjelaskan pada Zidan bahwa dia tidak ada hubungan spesial dengan Charis. Dia hanya membantu Charis mengerjakan tugas-tugas akreditasi rumah sakit. Zidan tetap tidak percaya, dan malah mengusir Ratih dari rumah. Sejak saat itu mereka tinggal terpisah. Ratih kembali ke rumah orang tuanya dan Zidan tetap di rumah mereka bersama anak-anak dan orang tuanya.
Ratih menggunakan kacamata hitam untuk menutupi matanya yang bengkak kemudian mendekati Ammar anak pertamanya dan berlutut di depannya.
"Kakak, Bunda dan Ayah sudah berpisah, tidak bisa tinggal bersama lagi. Kakak harus nurut ya sama Ayah, sama Uti dan Akung juga. Harus akur sama adik, jangan berantem ya!" Ratih berpesan kepada Ammar.
"Aku mau ikut Bunda aja, nggak mau ikut Ayah, hiks...hiks," Ammar berkata sambil menangis.
"Nggak apa-apa ikut Ayah nanti kan kita masih bisa ketemu dan telpon-telponan," Ratih mencoba menenangkan anaknya.
"Janji ya Bun?" tanya Ammar sambil menyodorkan kelingkingnya.
"Iya, Bunda janji," jawab Ratih sambil menautkan kelingkingnya dengan kelingking Ammar, sementara tangan lainnya menghapus air mata anaknya.
Ratih kemudian mendekati Zidan dan kedua mertuanya Rifat Kurniawan dan Sari Mulyawati.
"Pak, Bu saya minta maaf kalo selama jadi menantu Bapak dan Ibu saya banyak salah dan banyak merepotkan. Saya titip anak-anak ya Pak, Bu. Semoga Bapak dan Ibu sehat selalu." Ratih mencium tangan kedua mertuanya. Kemudian menggendong dan memeluk Azzam putra bungsunya.
Bu Sari kemudian memeluk menantunya dan menangis.
"Bagi ibu, Ratih tetep anak ibu, meskipun kamu sudah bercerai dengan Zidan. Ibu dan Bapak juga minta maaf ya, nduk," Bu Sari terlihat enggan melepaskan pelukannya.
Ratih kemudian mendekati Zidan, namun Zidan memalingkan wajahnya ke samping.
"Aku tau Mas masih marah sama aku. Tapi aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku bukan istri yang baik. Aku tidak bisa menjaga amanah dan kepercayaan suamiku. Demi Allah, aku tidak pernah mengkhianati Mas. Suatu hari nanti Mas akan mengetahui kebenarannya. Sekali lagi aku minta maaf ya Mas," selesai mengucapkan kata perpisahan Ratih segera meninggalkan Pengadilan Agama.
Zidan menoleh, menatap punggung Ratih dari kejauhan. Hatinya terasa tersayat-sayat. Ia ragu, akankah ia bisa menjalani hidup tanpa Ratih?