Reza menatap layar ponselnya dengan tatapan yang biasanya orang pakai untuk membaca surat tagihan. Tujuh belas paket. Tujuh belas paket harus selesai diantar sebelum jam empat sore, dan jam di pojok kanan atas layar dengan kejam menunjukkan pukul 14.43.
"Sabar, Rez. Sabar," gumamnya pada diri sendiri sambil menyeka keringat dengan punggung tangan.
Apartemen Graha Asri Tower B berdiri di hadapannya seperti tumpukan kotak sepatu raksasa. Reza menyeret troli kecilnya yang rodanya berdecit memilukan masuk ke lobi. Satpam di meja depan—Pak Karyo, namanya, Reza sudah hafal—mengangguk malas.
"Banyak amat hari ini, Rez."
"Hari gajian, Pak. Orang-orang pada belanja kalap." Reza mengeluarkan sebuah paket berbentuk kotak sedang dengan bungkus bubble wrap yang menggembung. "Yang ini ke unit 12-08, ya, Pak?"
Pak Karyo tidak benar-benar mendengarkan. Dia sedang sibuk dengan teka-teki silang. "Iya, iya. Lantai dua belas."
Itulah kesalahan pertama hari itu, meskipun Reza belum tahu.
Lift naik dengan tenang sambil memutar lagu instrumental yang membuat Reza nyaris tertidur berdiri. Pintu terbuka di lantai dua belas. Koridor sepi, berkarpet abu-abu, dengan deretan pintu identik. Reza membaca label di paket sekali lagi: nama penerima kabur tertimpa stiker logistik, hanya unitnya yang masih terbaca samar. Dia melihat angka 1208 dan, dengan mata yang lelah setelah enam belas paket sebelumnya, otaknya membaca 1208 padahal stiker berkata 1308.
Reza menekan bel unit 1208.
Hening sebentar. Lalu suara langkah kaki cepat dan keras dari dalam, seperti seseorang sedang berbaris untuk perang. Pintu terbuka tiba-tiba, dan Reza langsung berhadapan dengan seorang perempuan berusia awal dua puluhan dengan rambut diikat acak-acakan, mengenakan piyama bergambar kucing marah, dan ekspresi wajah yang jauh lebih marah daripada kucing di piyamanya.
"APA," kata perempuan itu. Bukan pertanyaan. Lebih seperti tuduhan.
"Eh—paket, Mbak." Reza menyodorkan kotaknya dengan senyum kurir terlatih. "Tanda tangan di sini, ya."
Perempuan itu menatap kotak seolah Reza menyodorkan ikan busuk. "Saya nggak pesan apa-apa."
"Tertulis unit 1208 kok, Mbak." Reza menunjuk stiker. Dia tidak menyadari bahwa jarinya menutupi angka tiga yang sebenarnya tercetak di sana.
"Saya. Nggak. Pesan. Apa-apa." Perempuan itu mengeja tiap kata seperti sedang mengajari anak TK. "Dengar ya, Mas, saya sudah punya hari yang sangat buruk. Sangat. Buruk. Saya baru putus dua hari lalu, kontrakan mantan saya yang bayar dan sekarang saya harus pindah, kucing saya muntah di sepatu kerja saya, dan sekarang ada kurir yang maksa-maksa nyodorin paket yang BUKAN punya saya. Jadi tolong, dengan segala hormat—" dia menarik napas, "—pergi."
Pintu menutup. Brak.
Reza berdiri mematung di koridor, masih memegang kotak. "Tapi tanda tangannya—" katanya pada pintu yang sudah tertutup.
Pintu terbuka lagi, hanya celah kecil. Sepasang mata menatap tajam. "Apa lagi."
"Tanda tangannya, Mbak. Buat bukti serah terima."
"Saya bilang ini BUKAN punya saya."
"Tapi sistem saya bilang—"
"Sistem Anda salah!"
Brak. Lagi.
Reza menghela napas panjang. Dia melirik jam. 14.51. Dia tidak punya waktu untuk drama. Dengan logika seorang kurir yang sudah kehabisan tenaga dan akal, dia mengambil keputusan yang akan mengubah hidupnya: dia meletakkan paket itu di lantai, di depan pintu unit 1208, memfoto sebagai bukti "barang sudah diterima di lokasi," lalu kabur ke lift.
"Beres," gumamnya. "Penerima menolak berkomunikasi. Drop di lokasi."
Yang Reza tidak tahu adalah bahwa paket itu memang bukan milik perempuan galak di unit 1208. Paket itu milik Bu Hartini di unit 1308, seorang nenek penyuka tanaman yang memesan pupuk organik dan sedang menunggu kirimannya dengan sabar sambil menyiram begonia.
Dan perempuan galak di unit 1208—yang bernama Sasa, meski Reza belum tahu—membuka pintu lima menit kemudian untuk membuang sampah, tersandung kotak itu, dan nyaris jatuh menelungkup.
"KURIR SIALAN!" teriaknya ke koridor kosong.
Di lift yang sedang turun, Reza bersin tanpa sebab. Dia menggosok hidungnya dan bergumam, "Ada yang ngomongin kayaknya."
Hari itu, Reza menyelesaikan tujuh belas paket. Dia pulang dengan punggung pegal, kaki gempor, dan rasa puas seorang pekerja yang telah menuntaskan kewajibannya. Dia tidur nyenyak.
Sasa, di sisi lain, tidak tidur nyenyak. Dia tidur sambil menyusun kata-kata komplain paling pedas yang pernah ditulis manusia, lengkap dengan rating satu bintang yang akan dia berikan dengan penuh dendam keesokan paginya.
Dan begitulah, tanpa keduanya sadari, sebuah benang takdir yang sangat tipis dan sangat konyol mulai terajut antara kurir paling lelah di kota itu dan perempuan paling galak di Graha Asri Tower B.