3 hari berlalu setelah terakhir kali Lauren mencoba membuka komunikasi dengan Davian.
Hari ini, Lauren dikejutkan dengan kedatangan Davian ke rumahnya. Bahkan, lelaki itu datang seorang diri dan ketika Lauren hanya sendirian juga di rumah.
“K-kenapa ke sini nggak bilang-bilang?” tanya Lauren dengan gugupnya.
“Memangnya kenapa kalau saya ke sini bilang-bilang? Apa kamu akan sambut saya dengan atraksi Barongsai?” tanya Davian dengan nada dingin.
“Bukan begitu,” sahut Lauren. “Masalahnya, di rumah hanya ada aku dan keadaan rumah lagi berantakan,” ungkapnya.
“Saya nggak terbiasa ngobrol dengan posisi begini,” ujar Davian.
Sebab, Lauren hanya membuka setengah pintu dan membiarkan Davian berdiri di depan pintu saja.
“Kalau duduk di teras saja, gimana?” tanya Lauren.
“Hey! Saya tidak akan macam-macam denganmu. Saya kemari untuk membahas tentang pernikahan kita,” sahut Davian dengan kesal.
Lauren pun memperbolehkan Davian untuk masuk ke dalam rumahnya. Meskipun, ada sedikit rasa ragu di dalam dirinya.
Davian pun duduk di sofa ruang tamu, kemudian ia mengeluarkan 1 lembar kertas berisi nama-nama yang akan ia undang ke pernikahan mereka nanti.
“Nama-nama siapa ini?” tanya Lauren sembari meraih kertas itu. "Daftar nama-nama mantan kamu, ya?" tanyanya lagi.
“Nama tamu undangan saya,” jawab Davian. “Kamu lanjutkan untuk menulis, siapa saja yang mau kamu undang nanti,” sambungnya.
“Padahal hal begini bisa kamu kirim ke email aku,” gerutu Lauren.
“Kamu pikir, saya ke sini hanya untuk itu saja?” tanya Davian ketus.
“Lalu, untuk apa lagi?” balas Lauren tak kalah ketus.
“Saya tahu kamu sendirian di sini dan Mami kamu suruh saya untuk temani kamu sampai mereka pulang,” ungkap Davian. “Merepotkan saja,” gerutunya.
Lauren mendecak kesal ketika ia mendengar gerutuan yang keluar dari mulut Davian. Lantas, ia pun berkata, “Kalau nggak mau ke sini, tolak langsung ke Mami. Bukan malah ngomel ke aku. Memangnya aku yang suruh ke sini? Nggak, ‘kan?”
“Kamu tahu rasa bersyukur atau tidak?” tanya Davian sembari menatap kesal ke arah Lauren.
“Seharusnya gua yang kesal, 'kan? Kenapa malah dia yang kelihatan kesal begitu coba?” Lauren membatin.
“Kenapa diam?” tanya Davian lagi.
“Aku nggak mau berantem sama orang asing!” sahut Lauren. Kemudian, ia berjalan menaiki anak tangga – yang menuju kamarnya.
Bahkan, ketika sudah masuk ke dalam kamar, gadis itu menutup pintu kamarnya dengan cara membantingnya.
Davian yang mendengar suara itu dari ruang tamu, jelas matanya tertuju pada ujung anak tangga di atas sana. “Apa gua akan menghadapi sikapnya ini nantinya?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Tidak sampai 30 menit setelah Lauren memasuki kamarnya, suara mobil kedua orangtuanya terdengar memasuki pekarangan rumah.
Tentu saja, Lauren mendengar itu dan langsung keluar dari kamarnya. Namun, ia masih bersikap jutek terhadap Davian yang masih duduk di tempat yang sama sejak saat ia masuk ke rumah itu tadi.
“Kok lama sih, Mi?” tanya Lauren sembari memeluk Mamanya itu.
“Tadi macet banget, Nak,” jawab Mamanya Lauren. “Makanya Mami minta tolong Davian untuk temani kamu. Syukurnya, tadi dia ada nggak jauh dari sini,” ungkapnya.
“Davian-nya mana, Nak?” tanya Papanya Lauren ketika baru selesai memarkirkan mobil.
“Di dalam, tuh,” jawab Lauren.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah, dan saat itu juga Davian langsung bangkit dari tempat duduknya. Lalu, ia menyalami kedua orangtuanya Lauren yang baru saja sampai itu.
“Maaf, ya, Dav. Sudah merepotkan kamu,” ucap Papanya Lauren sembari menepuk pundak Davian dengan lembut.
“Tidak apa, Pi,” sahut Davian sembari tersenyum.
“Tadi aja pas sama gue, marah-marah terus. Sekarang malah jadi sekalem ini,” batin Lauren.
“Duduk dulu, yuk,” ajak Papanya Lauren.
“Maaf, Pi. Kayaknya aku harus pulang sekarang. Besok ada rapat pagi,” sahut Davian.
“Jadi, langsung pulang?” tanya Mamanya Lauren.
Davian menjawabnya dengan anggukan kepala diiringi dengan senyuman.
***
“Lo pikir aja, Nai. Masa dia punya kepribadian ganda?” tanya Lauren sesaat setelah ia menceritakan tentang sikap Davian kepadanya semalam.
“Kayaknya lo harus hati-hati, Ren. Kayaknya, dia pintar memanipulasi keadaan,” ucap Naira. “Lagian lo juga aneh, menilai orang dari pertemuan pertama aja,” sambungnya.
“Gue pikir, itu memang sikapnya, Nai,” sahut Lauren.
“Artinya apa, Ren?” tanya Naira.
“Gue nggak boleh menilai orang hanya dengan sekali pertemuan aja,” jawab Lauren. “Tapi, Mamang sayur langganan Bi Ayu, dari awal ketemu sampai sekarang, nggak berubah tuh sikapnya,” sungut Lauren.
“Itu beda cerita, Ren,” sahut Naira seraya menahan rasa kesalnya.
Lauren lantas hanya tertawa saja. Sebab, dirinya mengatakan hal tadi, tentu hanya untuk menggoda Naira saja.
“Gue juga agak bingung, Nai. Kayaknya, Papi bakalan menyegerakan pernikahan gue sama Davian, deh,” ungkap Lauren. “Soalnya, hari minggu ini, Mami suruh gue ke butik temannya untuk pilih gaun,” sambungnya.
“Benar-benar se-gerak cepat itu, Ren?” heran Naira.
“Lo aja heran, apalagi gue,” sahut Lauren. “Mami nikahin anaknya sudah kayak anak yang hamil duluan. Harus disegerakan pernikahannya,” kesal Lauren.
“Lo ngomongnya begitu banget, Ren,” tegur Naira.
“Gue dengar-dengar, ada yang mau nikah, ya?”
Pertanyaan itu keluar dari mulut seorang lelaki yang parasnya benar-benar seperti orang Belanda asli. Dia adalah Albert, teman sekelas Lauren dan Naira yang memiliki darah blasteran, Belanda-Jawa.
Albert izin kuliah selama satu minggu penuh kemarin. Karena, neneknya di Belanda sedang jatuh sakit dan terus mencari Albert.
“Ini Bule satu ke mana aja?!” kesal Lauren sembari melempar permen yang ada di tangannya.
“Tenang, Bu. Gua nggak ke mana-mana, kok. Masih di belahan bumi,” sahut Albert sembari menangkap permen itu lalu langsung membukanya dan memakannya.
Albert pun duduk di dekat Naira. Kemudian, ia kembali menanyakan tentang hal yang dirinya dengar ketika baru datang tadi.
“Makanya, punya grup itu dibuka. Bukan dianggurin aja,” kesal Naira.
“Nggak asik kalau dengar cerita cuman lewat chat grup,” sahut Albert.
“Intinya, gue dijodohin dan pernikahan gue akan disegerakan,” ungkap Lauren.
Seketika itu juga, Albert terdiam, namun mulutnya terbuka.
“Nggak usah segitunya juga, Al. Itu kayaknya mulut lo muat dua donat,” tegur Naira.
“Lo serius, Ren? Nggak lagi becandain gue, ‘kan?” tanya Albert, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Lauren tadi.
“Lo aja nggak percaya kalau gue bakalan segera menikah. Apalagi gue yang menjalaninya. Serasa mimpi, tahu nggak?” sahut Lauren.
“Lo ada foto cowoknya nggak?” tanya Albert yang penasaran.
Lauren pun mencarikan foto Davian. Yang untungnya, saat pertemuan pertama kemarin, dirinya diam-diam mengambil gambar Davian. Setelah menemukan foto Davian di galeri ponselnya, Lauren pun menunjukkan itu pada Albert.
Albert memperhatikan setiap inci wajah Davian di foto itu. “Siapa namanya, Ren?” tanyanya seolah kenal.
“Davian Gracio Albern,” jawab Lauren apa adanya.
“Lo tahu siapa orang ini?” tanya Albert lagi.
“Jelas Lauren tahu lah, Al. Dia kan calon suaminya,” timpal Naira. “Dan wajar aja sih kalau Lauren dijodohkan sama Davian,” sambungnya.
“Yang gua maksud, bukan jabatannya, Nai. Tapi, rumor yang setahun ini sudah beredar tentang dia,” sahut Albert.