Wellton 1560
"Kau ingin menunjukan sebuah gua?” tanya Aracelli sedikit tercengang karena ini diluar dugaannya, kupikir dia akan mengajakku ke sebuah taman yang indah atau restoran mewah, pikirnya.
"Ayo..” ajak Dandelion, "ini adalah Gua Haske."
"Gua Haske?" tanya Aracelli, "ini pertama kalinya aku datang kesini."
Aracelli berjalan masuk mengikuti langkah Dandelion.
"Hati-hati jalannya licin.” Ucap Dandelion mengulurkan tangan hendak menggandeng Aracelli. “Seleler
"Kencan yang aneh.” Ucap Aracelli lirih menyambut tangan Dandelion.
"Kupikir kita hanya berteman.” Kata Dandelion meledek sambil tersenyum senang.
Siall.. Rutuk Aracelli dalam hati sambil menghentakan tangan Dandelion, melepasnya.
Dandelion tertawa, “Jalan nya benar-benar licin, kau bisa terjatuh.” Katanya lagi kembali menggandeng Aracelli.
Mereka sampai di dalam gua, Dandelion mempersilahkan Aracelli untuk menaiki sebuah perahu kecil. Belum juga benar-benar berada di tempat inti, Aracelli sudah terperangah melihat langit-langit dan dinding gua yang berkilau dan berkelap-kelip berwarna biru dan hijau.
“Woah..”gumamnya, hanya itu yang bisa ia ucapkan saking terpesonanya.
Semakin kedalam, cahanya kelap-kelip itu semakin banyak, cahanyanya berpendar layaknya bintang-bintang diangkasa.
“Apa ini sihir?” tanya Aracelli, “bagaimana di dalam gua ada banyak bintang?”
“Mereka bukan bintang.” Jawab Dandelion, “Mereka serangga.”
"Serangga?”
“Iya.. Seperti ubur-ubur di laut, atau seperti kunang-kunang, yang sedang kau lihat juga makhluk hidup bercahaya.” Dandelion mulai mengayuh perahunya perlahan, membiarkan Aracelli menikmati setiap detail Pemandangan di dalam gua yang indah.
“Jadi, apa ini masih menjadi kencan yang aneh?” tanya Dandelion.
“Bukankah kita hanya berteman?” Balas Aracelli.
Dandelion kembali terkekeh.
“Tapi ini keren sekali, sangat indah..” Lanjut Aracelli, “Sama sekali tidak aneh.”
Kali ini Dandelion tersenyum puas, “Ar..”
"Apa?” tanya Aracelli, “Kenapa?” Katanya karena Dandelion tidak melanjutkan kata-katanya.
"Aku ingin lebih mengenalmu, tapi aku tidak tahu harus memulai dari mana,”Jawab Dandelion sedikit gugup, “Apa aku harus bertanya tentang keluargamu? Atau tentang hal apa yang kau suka?”
"Apa yang biasanya kau tanyakan pada gadis-gadis lain?”
"Aku tidak punya gadis lain.” Jawab Dandelion jujur, meski terdengar seperti sedang menggombal.
"Benarkah? Wahh.. Aku terharu sekali.” Ledek Aracelli.
"Aku serius.”
"Hmm.. Baiklah.. Orang tuaku tinggal di Newels, ayahku seorang sorcerer, dan ibuku seorang ludzi.”
"Sorcerer?” Ulang Dandelion, “Benarkah? Apa dia berasal dari keluarga Raja? Apa dia pamanku?”
"Ayahku bilang, dia sepupu Raja.” Jawab Aracelli.
"Benarkah? Lalu?”
"Kalian mengusir ayahku karena menikahi ibu.” Lanjut Aracelli.
“Aku tidak ikut mengusirnya, kau jangan menyalahkanku.” Ucap Dandelion.
" Keluarga ayah tidak terima karena ayah memilih ibu, mereka bilang mereka butuh seorang sorcerer juga atau lebih dari itu jika ingin mempertahankan posisi mereka di Kerajaan.”
Dandelion hanya diam mendengarkan, bukan topik yang bagus untuk berkencan nih, pikir Dandelion.
"Umm. Kenapa kalian mendirikan sebuah Kerajaan?” tanya Aracelli.
"Entahlah.. Saat aku lahir semuanya sudah seperti ini.” Jawab Dandelion, “Kudengar awalnya para penyihir hanya ingin membuat kelompok organisasi, mereka mengangkat ayahku sebagai ketua karena saat itu hanya ayahku yang sudah menjadi seorang Sage, tapi ternyata kelompok mereka semakin hari semakin Besar dan kuat, sehingga menjadi seperti sekarang.”
"Lalu kenapa kalian tidak boleh menikahi ludzi?”
“Boleh.. Hanya saja..” Kata Dandelion enggan melanjutkan kata-katanya.
"Hanya saja kenapa?” tanya Aracelli.
"Bisakah kita tidak usah membahas ini?” pinta Dandelion , firasatku buruk, pikir Dandelion.
"Tidak.. Aku ingin tahu, aku bertanya pada ayah dan ibu, tapi mereka selalu tidak ingin membahasnya.”
"Ya tidak ada salahnya menikahi seorang ludzi, hanya saja seorang penyihir tidak akan memiliki keturunan yang kuat dan bisa jadi kekuatan si penyihir semakin hari hanya akan semakin menghilang.”
"Apa hebatnya menjadi seorang penyihir.” Rutuk Aracelli, “Aku benar-benar tidak menyukai kalian.”
Apa kubilang, gumam Dandelion dalam hati. “Ibumu orang yang seperti apa?" tanya Dandelion lagi.
“Dia wanita yang cantik, dia baik, dia seorang ibu yang sangat bijaksana dan penyayang.” Jawab Aracelli sambil menerawang, sambil membayangkan wajah ibunya.
"Tentu saja.” Ucap Dandelion, “Terlihat seperti dirimu.” Godanya.
Aracelli tersenyum kecil dan sangat ditahan.
"Aku yakin mereka orang tua yang baik, karena mereka berhasil membesarkan seorang gadis cantik seperrimu.” Lanjut Dandelion.
Tak terasa hari semakin sore, perbincangan mereka masih terus saja berlanjut dan menyenangkan, Membuat Aracelli sedikit membuka diri pada Dandelion.
"Kau benar-benar bisa terjatuh jika tidak memegang tanganku." kata Dandelion dalam perjalanan pulang keluar dari gua.
"Bilang saja kalau kau ingin memegang tanganku." kata Aracelli sambil berbalik badan menoleh pada Dandelion, tak disangka Dandelion berada tepat dibelakanganya, sangat dekat dan membuat Aracelli terkejut karena wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti.
Kedua tangan Aracelli mendarat tepat dibahu Dandelion karena pijakan kakinya tidak seimbang.
"Bukankah kubilang kau bisa terjatuh." ucap Dandelion dengan tangan berada di pinggang Aracelli.
Aracelli merasa kakinya lemas saking gugupnya, ia ingin segera beranjak pergi, tapi entah kenapa tubuh tidak merespon.
Pergi Aracelli, jangan biarkan dia menciummu, masih terlalu dini untuk melakukannya, ucap Aracelli dalam hati, sial.. kenapa tubuhku membangkang, kenapa aku bahkan ingin menciumnya. pergolakan batin terjadi di dalam pikiran Aracelli, sementara Dandelion masih menatapnya dan wajah pria itu semakin mendekat.
"Umm.. kurasa kira harus pulang," ucap Aracelli berhasil menguasai emosinya.
Dandelion tersentak dan mengurungkan niatnya, "Oh.. iya, ayo.." ucapnya gugup.
* * *
Wellton 2020
Dandelion sedang tertidur pulas ketika mimpi buruk itu datang lagi, tidurnya begitu gelisah, tubuh meringkuk dan tangannya berusaha meraih apapun untuk berpegangan saking takutnya.
“Ar...” teriaknya seperti biasa ketika ia mengalami mimpi buruk yang selalu sama.
Dandelion menyeka keringat di dahinya, ia sudah terbangun, tetapi dadanya masih begitu sesak. Keringat dingin bercucuran hingga membuat tubuhnya lemas.
Di tempat yang berbeda, Jessica masih terjaga, ia duduk di halaman rumahnya sambil membaca sebuah novel, tentang seorang wizard yang jatuh cinta, hingga sebuah adegan di dalam cerita novel itu mengingatkannya pada mimpi yang pernah ia alami.
"Apakah itu sebuah mantra?” Ucap Jessica sambil berpikir, “ Obicham te dhue, apa artinya?”
Bukk.. Terdengar suara seperti ada sesuatu yang menabrak pagar.
Jessica menyipitkan matanya memperhatikan seseorang di kejauhan, perlahan ia mendekati dengan hati-hati. “Ly..” Panggil Jessica ketika menyadari orang itu adalah Dandelion, “Apa kau sakit?” tanyanya ketika menyadari ada yang salah dengan Dandelion.
Dandelion menggeleng, tetapi pria itu berkeringat, dan terlihat lemah sambil berpegangan pada pintu pagar.
"Kau jelas-jelas sakit.” Kata Jessica yakin. “Ayo masuk.” Ajaknya Lalu membopong Dandelion masuk ke dalam. “Berbaring disini,” Katanya sembari membaringkan tubuh Dandelion, dan menyanggah kepalanya dengan bantal.”Tunggu Sebentar ya.”
Kenapa lagi-lagi aku mendatanginya? Pikir Dandelion, ia ingin pergi tapi kakinya terasa begitu lemas.
"Kau diam ya.” Kata Jessica setelah kembali dengan membawa sebuah mangkuk berisi air hangat dan handuk kecil, “Badanmu panas, kau harus di kompres, atau kau bisa step”
Astaga, bodoh.. Kau pikir aku bayi. Gerutu Dandelion dalam hati meski ia diam saja dan hanya pasrah terhadap apapun yang dilakukan Jessica padanya saat ini.
“Bagaimana kau bisa sampaii disini,?” tanya Jessica, Lalu ia berpikir sambil mengingat-ingat, “Aku Jelas sudah mengunci pagarnya, bagaimana kau bisa masuk?”
"Kau tidak menguncinya.”Jawab Dandelion.
“Benarkah? Kalau begitu aku harus menguncinya dulu.” Katanya bergegas pergi.
“Aku sudah menguncinya tadi.” Kata Dandelion memegang tangan Jessica, dan seketika membuat gadis itu gugup.
“Owhh.. Benarkah?” Katanya dengan wajah memerah karena Dandelion masih memegang tangannya.
“Hmm.. Tadi saat aku masuk.” Jawab Dandelion.
Jessica tersipu tanpa berusaha melepaskan tangan Dandelion. Dandelion tersenyum sembari menatap Jessica, kali ini senyumnya begitu hangat, entah apa yang dipikirkan pria itu, kali ini ia benar-benar tidak menjaga jarak dengan Jessica.
“Jess..” Panggil nenek yang terbangun karena mendengar suara orang asing dirumah, “sedang apa kalian?”
Dandelion bergegas bangun dan melepaskan tangan Jessica.
"Nenek.. Ini Dandelion,” Kata Jessica, “Dia teman di kampusku.”
"Iya Lalu sedang apa kalian malam-malam begini?” tanya nenek lagi.
"Dia sedang sakit.” Jawab Jessica lagi,
“Ly.. Kenalkan ini nenek ku.”
"Umm.. Apa kabar?” Sapa Dandelion begitu canggung, “Aku Dandelion, aku teman Jessica, awalnya aku hanya lewat, Lalu saat aku merasa tidak enak badan, kupikir tidak apa-apa jika aku mampir untuk sedikit beristirahat.” Dustanya.
“Kau sakit?” Tanya nenek memegang dahi Dandelion.
"Tidak.. Umm.. Iya tapi aku sudah sembuh, sebaiknya aku pulang saja sekarang.” Katanya masih merasa begitu canggung.
"Menginap saja.” Kata nenek.
“Umm.. Tidak.usah, aku sudah baik-baik saja, sebaiknya aku pulang. “
“kau tidak akan kemana-mana.” Kata nenek dengan nada mengancam, “Kau terlihat masih sakit dan kau akan menginap malam ini.”
Dandelion menoleh pada Jessica, entah kenapa nyali seorang wizard dengan kekuatan hampir setingkat Sage begitu menciut dihadapan seorang nenek-nenek.
“Iya.. Menginap saja.” Kata Jessica malah setuju. “Kau akan tidur di kamar Jessica .” Perintah nenek.
"Ke kamarku?” tanya Jessica, “Iya Baiklah.. Ayo.”
"Istirahat saja disini, besok pagi jika sudah membaik kau baru boleh pulang.” Kata nenek tepat di depan pintu kamar Jessica.
"Baiklah.. Terimakasih nek.” Jawab Dandelion.
“Umm.. Nenek tenang saja, aku akan menjaganya, kami tidak akan melakukan apapun meski hanya berduaan didalam kamar.” Kata Jessica meyakinkan nenek.
“Siapa bilang kau akan tidur disini.” Kata nenek menepuk dahi Jessica. “Apa yang kau bayangkan? Ayo ke kamarku.” Katanya lalu menyeret Jessica.
Dandelion terkekeh geli melihat tingkah bodoh gadis itu. Entah dia adalah reinkarnasi Aracelli atau wajah mereka hanya mirip, yang Jelas Aracelli adalah gadis pintar dan elegant, sedangkan Jessica adalah segala hal yang bertentangan dengan itu semua.
( Dandelion love quotes : Sebesar apapun kekuatanmu, Tidak akan berarti dan kau akan menjadi lemah jika hatimulah yang sakit.)