MURKA
Dengan mata berbinar bahagia Billy membuka amplop coklat itu dengan penuh semangat. Saat kertas tersebut terbuka, lalu dia membaca isi tulisan didalam kertas. Mata nya terbelalak membesar, dia begitu shock saat membaca surat ajuan perceraian untuk dirinya.
"Bagaimana,Mas? apa kamu menyukainya?aku sudah lama mempersiapkan kado spesial ini dihari ulang tahunmu," ucap Rika tersenyum sinis menatap Billy.
Billy terdiam tanpa sepatah katapun, matanya melirik kearah Vita yang sama terkejutnya dengan dirinya.
"Kenapa kamu hanya diam saja? bukankah perceraian ini yang kamu impikan selama ini? aku sudah mewujudkan semuanya. Sebagai istri yang baik, aku selalu mengabulkan keinginanmu," ucap Rika mencoba untuk tetap tenang tanpa mengeluarkan air mata.
"Ada apa Rika? kenapa tiba-tiba kau meminta cerai?" tanya Billy dengan suara bergetar, kertas ditangannya ikut bergetar.
"Tiba-tiba?" Rika tertawa kecil. "Tidak ada yang tiba-tiba dirumah ini,Mas. Semuanya sudah lama berjalan, hanya aku saja yang baru mengatakannya malam ini."
"Kamu pasti salah paham sayang, siapa yang mengisi kepala kamu dengan hal-hal aneh seperti ini?" ucap Billy meletakkan kertas itu diatas meja, lalu berusaha meraih tangan Rika.
Rika menarik tangannya, dia mengambil sebuah amplop putih dari laci bufet, lalu menjatuhkannya tepat disamping kue yang baru saja mereka potong bersama.
"Buka," ucap Rika singkat.
Billy membuka amplop itu dengan tangan yang mulai berkeringat. Puluhan lembar foto berjatuhan diatas meja. Foto dirinya menggandeng Erika keluar dari sebuah restoran, foto dirinya memasukkan kantong belanja kedalam mobil, dan foto dirinya mencium kening Erika didepan pintu rumah bercat krem itu.
"Ini... ini hanya rekan bisnis sayang, aku bisa jelaskan semuanya," ucap Billy dengan wajah pucat.
"Rekan bisnis?" Rika kembali tertawa. "Rekan bisnis yang mana yang kamu antar pulang setiap selesai kerja,Mas? Namanya Erika. Dulu dia penari disebuah bar. Apa perlu aku sebutkan juga warna gorden kamarnya?"
Billy terdiam. Keringat dingin mengalir dipelipisnya.
"Aku sudah menemuinya kemarin," lanjut Rika. "Dia bilang kita sedang proses bercerai. Ternyata dia lebih tahu isi rumah tangga kita daripada aku sendiri. Jadi malam ini aku hanya membenarkan ucapannya, biar dia tidak jadi pembohong."
"Rika, dengarkan aku dulu-"
"Aku melihatnya sendiri,Pa," ucap Vita yang sedari tadi berdiri mematung disamping meja kue.
Billy menoleh cepat kearah anaknya. "Vita, kamu jangan ikut campur urusan orang tua!"
"Di Korea. Aku ada disana. Aku melihat papa menggandeng wanita itu didepan hotel, dan malam itu aku menangis sendirian dikamar mandi bandara," ucap Vita dengan mata memerah. "Selama ini aku diam kerena aku tidak mau mama hancur. Ternyata mama jauh lebih kuat dari yang aku kira."
Billy jatuh terduduk dikursi. Semua yang dia sembunyikan rapat-rapat selama ini ternyata sudah terbuka, bahkan sebelum dia sempat menutupinya.
Tapi bukan penyesalan yang muncul diwajah Billy. Matanya justru menyipit menatap Rika, seolah dia baru saja menemukan senjata yang bisa dia pakai.
"Lalu laki-laki yang mengantar kamu pulang kemarin siang itu siapa?" tanya Billy dengan nada meninggi. "Satpam perumahan bercerita padaku, ada mobil hitam yang mengantar kamu sampai depan pagar. Kalian mengobrol lama sekali didalam mobil."
Rika menaikkan sebelah alisnya. "Jadi ini yang mau kamu bahas malam ini?"
"Jawab aku Rika! siapa dia?" bentak Billy berdiri, api cemburu menyala dimatanya.
"Namanya Damian, teman Ayu. Aku baru bertemu dengannya satu kali, dan dia hanya mengantarku pulang kerena Ayu pergi lebih dulu," jawab Rika dengan tenang. "Lucu ya,Mas. Kamu tidur dirumah wanita lain berbulan-bulan, tapi yang membuat kamu berdiri dan berteriak justru satu perjalanan pulang lima belas menit."
"Kamu itu istri saya!" bentak Billy mencengkeram pergelangan tangan Rika.
"Papa lepaskan tangan mama!" teriak Vita mendorong tubuh papanya.
Cengkeraman itu terlepas. Billy menatap tangannya sendiri, lalu menatap wajah anaknya yang memandangnya seperti memandang orang asing.
"Rasanya seperti ini,Mas, cemburu itu," ucap Rika sembari mengusap pergelangan tangannya yang memerah. "Panas, sesak, dan bikin malu sendiri. Aku sudah merasakannya dua kali. Yang pertama aku maafkan, yang kedua aku diamkan. Yang ketiga aku siapkan diatas meja itu."
Billy melirik surat perceraian yang tergeletak diantara piring-piring kue.
"Aku tidak akan menandatangani apapun," ucap Billy dengan rahang mengeras. "Kamu pikir kamu bisa hidup tanpa aku? rumah ini, mobil itu, semua yang kamu pakai berasal dari pabrik yang aku kelola."
Rika tersenyum. Senyum yang sudah beberapa minggu ini dia simpan khusus untuk malam ini.
"Coba kamu telepon Pak Hendra sekarang," ucap Rika.
Billy mengerutkan kening, tapi tangannya tetap meraih handphone dan menekan nomor kepala keuangan pabrik itu. Panggilan tersambung. Suara diseberang sana menjawab dengan gugup, menjelaskan bahwa tiga hari yang lalu seluruh sertifikat pabrik, rekening perusahaan, dan surat-surat kendaraan sudah berpindah nama atas permintaan pemegang saham mayoritas, yaitu Ibu Rika sendiri.
Handphone itu terlepas dari tangan Billy dan jatuh menghantam lantai.
"Kamu merampok saya!" bentak Billy dengan mata melotot.
"Merampok?" Rika berdiri menghadapinya tanpa gentar. "Tanah pabrik itu warisan orang tuaku. Modal pertamanya dari toko kain peninggalan ibuku yang aku jual diam-diam supaya kamu tidak malu. Aku yang menjaga buku kas selama dua puluh tahun, sementara kamu sibuk memilih gaun untuk perempuan itu. Aku tidak merampok apapun,Mas. Aku hanya mengambil kembali barang yang memang namaku."
Billy tak sanggup membalas satu kata pun.
"Mulai besok kamu tidak perlu repot pulang kerumah ini lagi," ucap Rika. "Pergilah kerumah yang gordennya kamu pilih sendiri."
Billy menyambar kunci mobilnya, lalu pergi keluar dengan membanting pintu. Suara ban mobilnya berdecit membelah malam.
Rumah itu kembali sunyi. Lilin diatas kue masih menyala, meleleh perlahan diatas tulisan nama Billy.
Vita memeluk mamanya erat-erat. Barulah saat itu Rika menangis, air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya tumpah dipundak anaknya.
"Maafkan mama ya nak, mama baru bisa berdiri sekarang," ucap Rika terisak.
"Mama tidak salah apa-apa," jawab Vita mengusap punggung mamanya.
***
Tengah malam, pintu rumah bercat krem itu diketuk berkali-kali.
Erika membuka pintu dengan mata mengantuk, lalu terkejut melihat Billy berdiri disana dengan kemeja kusut dan mata sembab.
"Kamu kenapa? kok datang jam segini?" tanya Erika bingung.
"Semuanya sudah habis, Erika," ucap Billy dengan suara serak. "Pabrik, rumah, rekening, tidak ada satupun yang tersisa untukku. Rika mengambil semuanya."
Senyum diwajah Erika membeku seketika.
"Maksud kamu apa? bagaimana bisa?" tanya Erika dengan suara meninggi.
Billy memeluk tubuh Erika erat-erat. "Sekarang yang aku punya tinggal kamu."
Erika menepuk punggung Billy dengan kaku, matanya menatap kosong kedinding, otaknya sibuk menghitung sesuatu.
Diatas meja ruang tamu, layar handphone Erika berkedip. Satu pesan masuk dari nama yang sudah lama tidak pernah dia balas.
Andre.
Bersambung ....
Terima kasih untuk para readers tercinta.
Kira-kira Erika masih mau menerima Billy yang sudah tidak punya apa-apa?
Jangan lupa tunggu UP berikutnya ya ??