Pria Pas-pasan di Kontrakan Pas-pasan
Anto selalu tahu posisinya di dunia. Bukan di panggung utama yang diterangi lampu sorot, bukan pula di balik tirai yang gelap. Ia ada di tengah-tengah, sebuah wilayah abu-abu yang disebut nanggung.
Wajahnya? Tidak bisa dibilang menawan, tetapi juga tidak jelek. Hidungnya biasa saja, matanya sipit tanpa ekspresi menonjol. Katakanlah, ia adalah wajah yang pas-pasan, jenis wajah yang mudah dilupakan, bahkan oleh kasir minimarket langganan. Begitu juga dengan nasibnya; serba nanggung.
Di usia kepala dua, Anto sudah beristri, meskipun belum dikaruniai anak. Kondisi ini membuat tekanan finansial terasa lebih mencekik. Mereka tinggal di sebuah kontrakan petak di pinggiran kota, letaknya persis di perbatasan antara hiruk pikuk kota industri dan hamparan sawah hijau yang mulai diuruk untuk pembangunan. Kontrakan itu sendiri adalah perwujudan dari kata pas-pasan: catnya mengelupas di beberapa sudut, beraroma lembap, dan jendelanya selalu buram oleh debu jalanan.
Pekerjaannya adalah potret nyata dari ketidakjelasan: serabutan. Anto adalah seorang teknisi listrik otodidak. Ia ahli dalam merangkai kabel, memasang MCB, dan memperbaiki korsleting. Ironisnya, ia ahli dalam mengatur arus listrik, tetapi tidak mampu mengatur arus keuangannya.
Aroma Tuntutan dan Kelelahan
Tepat sebelum ia meninggalkan kontrakan sore itu, perdebatan kecil dengan istrinya, Sari, masih menggantung tebal di udara, jauh lebih padat daripada kelembapan sore hari.
Sari berdiri di ambang pintu kamar, menatap Anto dengan tatapan yang dingin dan, yang lebih menyakitkan, lelah. Rambutnya yang diikat seadanya menampilkan dahi yang berkerut.
"Tolong, mas anto, cari uang yang benar," suara Sari terdengar datar, tetapi setiap kata mengandung beban tuntutan bertahun-tahun. "Uang jatah bulan ini kurang. Sewa kontrakan kita hampir jatuh tempo lagi. Sampai kapan kita begini terus?"
Anto merasakan panas menjalar dari leher hingga telinganya. Ia mencoba menghindar, mengambil kunci motor di meja.
"Aku sudah kerja, Ri," balas Anto, berusaha agar suaranya tidak meninggi. "Kemarin aku baru pasang di rumah Bu RT kompleks sana. Hasilnya lumayan."
"Lumayan untuk apa? Untuk rokokmu? Untuk bensin motor tua itu?" Sari mendekat satu langkah. "Aku sudah bosan, Mas. Aku bosan harus memilih antara beli sabun cuci piring atau membeli beras yang cukup untuk besok pagi."
Anto hanya bisa menghela napas panjang, menelan kembali semua pembelaan yang ingin ia lontarkan. Sari mewakili realitas yang dingin dan menusuk: cinta saja tidak bisa membayar sewa kontrakan. Selama ini, Anto menganggap tuntutan Sari adalah bentuk ketidakpuasan, tetapi kini ia melihatnya sebagai bentuk ketakutan Sari terhadap kemiskinan. Dan Anto tidak bisa menyalahkannya.
"Aku tahu, Sari," gumam Anto. "Aku akan berusaha lebih keras."
Keahlian Anto hanya satu-satunya yang ia andalkan: listrik. Ia memasang iklan sederhana di media sosial: "Anto Jasa Listrik. Terima Panggilan 24 Jam. Harga Nego Sampai Jadi."
Tiket Keluar Sementara
Pukul empat sore yang muram, saat bayangan matahari mulai memanjang seperti jari-jari yang mencakar, ponsel Anto bergetar keras di saku celananya. Sebuah nomor asing. Anto melihat panggilan itu sebagai tiket keluar sementara dari tekanan mata Sari yang seolah mengawasinya dari balik dinding.
"Halo? Mas Anto, ya? Yang pasang iklan perbaikan listrik itu?" Suara di ujung sana terdengar maskulin, tergesa-gesa, dan penuh otoritas.
"Iya, Bapak. Benar. Ada yang bisa saya bantu?" Anto langsung mengubah nada suaranya menjadi profesional, sebuah topeng yang ia kenakan untuk menghadapi dunia luar.
"Listrik di rumah Pak RT mendadak jeblog total. Gelap gulita. Padahal sebentar lagi acara tahlilan. Ini sangat mendesak, Mas. Bisa datang sekarang?"
Kata "Pak RT" dan "mendadak" adalah kunci emas. Ini berarti bayaran yang cepat dan tidak akan ditawar.
"Siap, Bapak. Saya meluncur sekarang, perkiraan 15 menit sampai," jawab Anto dengan semangat yang dibuat-buat.
Ia bergegas keluar. Sari hanya menoleh sekilas dari dapur, tatapannya masih diselimuti kecurigaan.
Anto menyalakan motor bebek tuanya yang knalpotnya sering batuk-batuk—bunyi yang oleh Anto selalu diartikan sebagai keluhan motor itu terhadap nasib pemiliknya. Ia melaju cepat, menembus batas-batas sawah yang kini tampak oranye kekuningan oleh cahaya senja, menuju desa tetangga. Ia mencoba meninggalkan suara-suara tuntutan, kecurigaan, dan perasaan pas-pasan yang membebaninya di belakangnya.
Goncangan di Tengah Kegelapan
Anto memarkirkan motornya di depan sebuah rumah yang cukup besar, jauh lebih terawat daripada kontrakan yang baru saja ia tinggalkan. Rumah itu tampak gagah, berdinding krem yang bersih dan memiliki halaman luas, namun kini diselimuti kegelapan total, kontras dengan rumah-rumah tetangga yang sudah menyalakan lampu teras.
Setelah disambut oleh pria yang ternyata adalah pak RT (orang yang meneleponnya), Anto segera bergegas memeriksa kotak meteran di samping rumah. Ia membuka panel, mencium bau hangus samar yang menandakan adanya short circuit yang signifikan. Ia mulai bekerja dengan tang dan obengnya. Inilah zona nyamannya; dunia yang ia kuasai, di mana masalah selalu memiliki solusi yang logis.
Tiba-tiba, jantung Anto melonjak keras. Bukan karena tegangan listrik yang ia tangani, melainkan karena kehadiran seseorang.
Seorang gadis cantik berkulit sawo matang datang menyodorkan gelas es teh dingin ke arahnya Gadis itu Bernama Luna, memiliki mata yang lebar dan memancarkan cahaya di tengah kegelapan yang tersisa. Matanya bukan hanya indah, tetapi juga tenang, seolah tidak terganggu oleh suasana darurat. Senyumnya tipis, tetapi tulus. Wajahnya sangat imut—jauh sekali dari kata pas-pasan. Ia adalah kontras visual yang sempurna terhadap kehidupannya yang muram. Luna berdiri di sana, seperti oasis di padang masalah.
Anto merasakan panas menjalar, kali ini bukan karena amarah atau malu, tetapi karena getaran yang asing dan menyenangkan. Ia merasa canggung, lidahnya mendadak kelu.
"Eh, i-iya, terima kasih," gumam Anto, suaranya tercekat. Ia mengambil gelas itu, dan jari-jari mereka sempat bersentuhan sejenak. Sentuhan itu ringan, tetapi terasa seperti sengatan listrik bertegangan rendah yang manis.
Luna memundurkan tangannya dengan sopan. "Maaf, Mas. Saya ganggu ya? Di sini panas sekali," katanya dengan suara lembut, yang entah mengapa, terdengar seperti melodi dibandingkan nada tinggi Sari.
Anto berusaha menenangkan diri, batuk kecil untuk membersihkan tenggorokannya. "Tidak kok, Neng. Saya memang lagi... fokus." Ia memegang gelas es teh itu erat-erat.
Tiba-tiba, Pak RT, seorang pria paruh baya yang berwibawa, keluar dari pintu rumah dengan senyum lebar.
"Nah, ini dia Mas Anto! Gimana? Sudah ketemu masalahnya?" Pak RT melihat interaksi Anto dan Luna, lalu tertawa kecil. "Dia anak saya, Luna. Tugasnya memang menyajikan minuman untuk tamu. Kamu jangan kaget, Mas, dia memang ramah."
Luna mengangguk dan tersenyum lagi, lalu berjalan masuk kembali.
Jantung Anto berdebar kencang, menabuh irama yang tidak karuan, berbeda sekali dengan detak jantungnya saat menghadapi kemarahan Sari di rumah. Ia kembali menghadap panel listrik, tetapi kini konsentrasinya buyar total. Panel listrik di depannya tampak seperti ilusi.
Di dalam gelap, sambil mencoba mencari tahu letak korsleting utama, pikiran Anto bekerja keras: Luna. Nama itu terasa ringan di lidahnya. Bayangan Luna, senyum tipisnya, dan gelas es teh dingin di tangannya adalah sebuah janji yang tiba-tiba muncul di tengah realitasnya yang gelap.
Ia baru saja bertemu Luna, dan Anto tahu: kehidupan pas-pasan yang ia jalani, yang penuh tuntutan dan kritik, baru saja mendapatkan guncangan yang tidak akan bisa ia perbaiki hanya dengan obeng dan tang. Ia telah menemukan sebuah hubungan pendek baru yang jauh lebih berbahaya daripada korsleting manapun. Ia tahu, perjalanan pulang malam ini tidak akan diisi oleh pikiran tentang tagihan, melainkan oleh bayangan mata lebar yang memancarkan cahaya di kegelapan.