Bab 7
Hari-hari setelah pemakaman terasa sunyi. Rumah nenek yang biasanya hangat kini hanya dipenuhi keheningan. Arfa sering duduk di kamar, menatap kosong layar ponselnya.
Namun, hidup harus terus berjalan. Uang tabungan nenek semakin menipis. Arfa tahu ia tak bisa terus bergantung pada belas kasihan orang lain.
Suatu malam, sambil rebahan, ia menatap kamera ponselnya.
"Apa… kalau aku coba bikin video? Banyak orang di internet bisa dapat duit dari situ. Kenapa aku nggak coba?" pikirnya.
Arfa mulai mencari tahu tentang vlog. Ia menonton banyak tutorial gratis di YouTube: bagaimana cara edit sederhana, bagaimana membangun channel, hingga cara monetisasi.
Keesokan harinya di sekolah, Arfa menceritakan niatnya pada Rama dan Fadil.
“Gue bakal bikin vlog,” kata Arfa tiba-tiba saat istirahat.
Rama langsung ketawa, “Vlog? Isinya apa, Fa? Jangan-jangan isinya cuma muka lo lagi ngupil.”
Fadil menepuk dagu, “Tapi sebenarnya… itu ide bagus. Lo kan lumayan kocak. Bisa jadi hiburan.”
Arfa cengar-cengir. “Ya pokoknya, gue coba aja. Kalau berhasil, bisa buat tambah-tambah uang jajan… sama bayar sekolah juga.”
Lyra yang duduk tak jauh dari mereka ikut mendengarkan. Ia menatap Arfa penuh haru, sadar sahabatnya itu sedang berusaha keras bertahan.
“Kalau gitu aku dukung, Arfa. Aku bisa bantu pegang kamera kalau kamu mau,” kata Lyra lembut.
Arfa tersenyum kecil, tapi matanya berkilat—sebuah harapan baru muncul.
---
Vlog Pertama
Arfa mulai rekaman sederhana. Dengan kamera ponsel seadanya, ia merekam kesehariannya di sekolah.
“Yo guys, ini pertama kalinya gue bikin video. Jangan ketawa, oke? Ini muka gue udah cukup bahan ketawaan,” ucapnya sambil nyengir.
Rama ikut nimbrung, tiba-tiba muncul di frame sambil pura-pura jatuh tersandung.
“Konten slapstick, biar rame!” katanya ngakak.
Fadil malah duduk di belakang, baca buku, cuek. Tapi ketika kamera menyorot, ia cuma mengangkat alis. “Apa sih…” yang justru membuat videonya makin lucu.
Lyra sesekali muncul, tersenyum tipis, memberikan komentar hangat.
Dari awal yang sederhana itu, channel Arfa mulai terisi video-video singkat tentang kehidupan remaja sehari-hari—belajar, bercanda di kelas, bahkan momen-momen sederhana seperti makan gorengan di kantin.
---
Dukungan yang Menguatkan
Malamnya, Arfa mengunggah video pertamanya. Ia tak berharap banyak, tapi beberapa hari kemudian, views-nya naik lumayan. Ada komentar dari orang-orang asing yang bilang, “Lucu juga,” atau “Semangat terus, bro.”
Arfa membaca komentar itu dengan mata berkaca-kaca.
“Akhirnya… aku bisa mulai sesuatu. Nenek, semoga kamu lihat aku dari sana,” bisiknya lirih.
Lyra mengirim pesan malam itu.
> Lyra: “Aku bangga sama kamu, Arfa. Kamu kuat banget.”
Arfa: “Aku cuma coba bertahan, Ly. Kalau nggak, aku nggak tau harus gimana.”
Lyra: “Kalau kamu jatuh, aku bakal ada buat nemenin. Janji.”
Arfa terdiam lama menatap layar ponsel. Senyuman kecil muncul, meski matanya masih sembab.
---
Akhir Bab 7:
Arfa belum sepenuhnya pulih dari luka kehilangan, tapi ia menemukan tujuan baru. Dari kamera kecil di tangannya, lahir secercah harapan yang bisa membawanya melangkah lebih jauh.