Suara sirine ambulance itu meraung di tengah derasnya hujan. Di balik kaca rumah sakit yang berkabut, seorang anak kecil berusia enam tahun terlihat berdiri terpaku. Matanya yang besar menatap kosong ke arah pintu kamar emergency, tempat dua tubuh yang dibawa masuk di atas ranjang beroda. Aroma obat yang pekat dan udara lembap bercampur menjadi satu, serasa menyesakkan d**a kecilnya.
Laurent.
Gadis kecil dengan rambut hitam panjang yang basah dan menempel di wajahnya, hanya bisa menggenggam sebuah boneka beruang lusuh yang merupakan satu-satunya benda yang tersisa dari ayah dan ibunya.
Ia belum memahami apa itu kematian. Yang ia tahu hanya satu, yaitu kedua orang tuanya tidak akan pernah pulang dan hadir dalam kehidupannya.
Sudah tiga hari berlalu sejak kecelakaan itu. Hujan masih turun hampir setiap sore, seolah langit ikut merasakan kepedihan sang gadis kecil. Rumah yang dulu dipenuhi oleh tawa, kini sangat sunyi. Di kamar kecil yang temaram, Laurent duduk di tepi ranjang sambil menatap jendela yang basah oleh butiran hujan.
“Ma… Pa…” ucapnya lirih dengan jemari yang mengelus kepala boneka beruang itu. “Kenapa kalian enggak pulang?”
Air mata mengalir pelan, hingga jatuh membasahi boneka. Ia menatap kosong kearah langit - langit, berharap suara langkah ayahnya terdengar dari balik pintu atau suara lembut ibunya yang memanggilnya untuk makan malam. Tapi tak terdengar apa pun. Hanya suara gemericik air hujan dan petir yang menyambar jauh di kejauhan.
Pintu kamar tiba-tiba berderit. Seseorang berdiri di sana, tampak tinggi, kurus, dengan mata lembut yang menyimpan lelah.
“Laur…” suara itu pelan tapi menenangkan. “Kamu belum tidur?”
Laurent menoleh cepat.
“Paman Willy…”
Willy melangkah masuk, mengenakan kaus abu dan celana panjang sederhana. Rambutnya agak berantakan, mungkin karena terlalu sering begadang. Ia duduk di kursi dekat ranjang sambil menatap gadis kecil itu yang masih memeluk boneka lusuhnya.
“Masih mimpi buruk lagi?” tanyanya pelan.
Laurent mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.
“Setiap aku memejamkan mata, aku melihat mama sama papa… mereka pergi terus, paman. Aku berusahan mengejar, tapi selalu gagal dan tertinggal…”
Willy menarik napas pelan, menahan gejolak yang tiba-tiba menghantam dadanya. Ia tahu apa itu kehilangan, seperti yang ia rasakan ketika kedua orang tuanya harus pergi disaat usianya belum cukup matang karena kanker. Ia tahu bagaimana rasanya, hanya bisa berteriak dalam sunyi, berharap seseorang kembali, padahal takkan pernah.
Ia membuka kedua tangannya.
“Sini.”
Laurent langsung melompat kecil dan memeluknya. Tubuh mungilnya gemetar dengan wajah yang menempel ke d**a Willy.
“Laur…” suara Willy bergetar, “Papa sama mama kamu sudah tenang di sana. Mereka sangat bahagia disana, menari dan bernyanyi bersama malaikat - malaikat. Jadi, kamu tidak boleh sedih… Kalau mereka melihat kamu sedih, mereka juga akan sedih… Kamu enggak pernah sendirian kok, disini. Paman enggak akan ninggalin kamu.”
Laurent menatapnya dengan mata besar yang basah.
“Tapi nanti… kalau Paman juga ikut mama sama papa pergi? Aku sendirian, ya?”
Willy terdiam. Pertanyaan itu seakan menembus dadanya seperti hujan yang menembus jendela. Ia mengusap rambut hitam lembut Laurent dengan jemarinya. Wlly yang merupakan cucu dari sahabat kakek Laurent, ikut merasakan apa yang dirasakan Laurent.
“Selama paman masih hidup,” katanya pelan tapi tegas, “kamu enggak akan pernah sendirian. paman janji.”
Laurent diam sejenak, lalu menggenggam jari-jari Willy dengan erat sekali.
“Janji?”
“Janji.”
“Kalau aku nangis lagi?”
“Paman datang.”
“Kalau aku takut tidur?”
“Paman menemani.”
“Kalau aku kangen sama mama?”
“Paman akan peluk kamu, sampai kamu enggak kangen lagi.”
Laurent menatap wajah paman Willy lalu tersenyum tipis.
“Terima kasih, paman.”
Willy mengangkat selimut dan menutup tubuh kecil itu.
“Tidur, ya. Paman di sini dan eggak ke mana-mana.”
Laurent merebahkan kepala di pangkuannya.
Di luar, hujan turun makin deras. Di dalam kamar itu, hanya ada suara detak jam dan napas kecil Laurent yang perlahan teratur. Willy mengusap rambutnya dengan lembut, lalu berbisik hampir tak terdengar;
“Mulai sekarang… aku adalah rumahmu, Laur.”
Tahun pun berlalu.
Entah kenapa, setiap hujan turun, ia selalu teringat malam itu, malam di mana Willy memeluknya dan berjanji bahwa ia tidak sendirian.
Kini Laurent berusia sepuluh tahun. Ia tumbuh menjadi gadis yang manis, lembut, dengan mata yang masih menyimpan kesedihan masa lalu. Tapi setidaknya, ia tak lagi menangis setiap malam. Kakek Wijaya, kakek Laurent satu – satunya, selalu menceritakan masa muda ayahnya dan kisah cinta antara ayah ibunya. Seakan memberitahu bahwa Laurent tidak boleh melupakan seseorang yang selalu menyayanginya.
Sore itu, kakek Wijaya duduk termenung, menatap Willy dan kakek Brata, kakek Willy.
“Brata… sepertinya aku enggak bisa lagi merawat Laurent. Aku ingin dia tetap aman… dan satu – satunya yang bisa aku percaya adalah Willy dan kamu,” ucap kakek Wijaya pelan dengan mata yang berkaca-kaca.
Willy menunduk gugup.
“Aku… aku masih muda, Kakek. Tapi aku akan berusaha. Aku janji akan menjaganya seperti keluarga sendiri.”
Kakek Brata tersenyum lembut.
“Bagus, Willy. Kamu sabar, perhatian… Laurent membutuhkanmu. Kamu bisa menjadi rumah baginya.”
Kakek Wijaya menghela napas lega.
“Terima kasih, Willy. Aku lega menitipkannya padamu.”
Willy mengangguk. “Aku akan menjaga dia, Kek..”
Di usianya yang sudah tidak muda lagi membuat kakek Wijaya tak bisa menolak akan waktu. Ketika Laurent beranjak sepuluh tahun, dunia kembali menuntut satu cinta darinya.
Kakek Wijaya meninggal dunia.
Hari itu hujan turun sejak pagi. Langit berwarna kelabu, dan kabut tipis menggantung di halaman pemakaman.
Laurent berdiri di depan pusara dan menggenggam lengan Willy erat-erat. Tangannya gemetar, dan tubuhnya basah oleh air hujan, tapi ia tak bergeming. Pandangannya hanya tertuju pada nisan kecil di hadapannya.
“Paman…” suaranya serak, “aku takut.”
Willy memayunginya dengan satu tangan, dan dengan tangan satunya ia menyentuh bahu kecil Laurent.
“Laur… kakek enggak pergi jauh. Dia hanya… pulang. Ke tempat yang lebih tenang. Bersama mama dan papamu..”
“Kenapa semua orang pergi dari aku, paman?” Laurent mulai terisak. “Mama, Papa, sekarang Kakek…”
Ia menunduk dengan bahu yang bergetar.
“Kalau nanti paman juga pergi… aku sama siapa di dunia ini?”
Willy tak bisa menahan air matanya kali ini. Ia meletakkan payung, lalu berlutut di depan Laurent dengan tangan yang memegang wajah kecil itu.
“Lihat paman.”
Laurent menatapnya dalam hujan, wajahnya pucat, matanya penuh takut.
“Selama paman masih hidup, kamu nggak akan sendiri, Laur. Paman janji di depan Kakek kamu, paman enggak akan ninggalin kamu. Sekalipun dunia berubah, paman akan tetap disampingmu. Ingat, kamu masih punya paman dan kakek Brata. Kita akan selalu menjadi keluargamu.”
Laurent terdiam. Ia menatap wajah Willy, seakan ingin menyalin kata-kata itu ke dalam hatinya agar tidak hilang. Lalu ia memeluknya dengan erat, sambil menempel di d**a lelaki itu dan menangis tanpa suara. Willy membalas pelukan itu dengan lembut.
“Udah, Laur. Udah…” bisiknya. “Hujannya udah cukup deras, jangan biarin hatimu juga ikut basah.”
Laurent hanya bisa mengangguk kecil. Di tengah hujan, di antara nisan-nisan dingin, dua jiwa yang kehilangan menemukan sedikit kehangatan.
Malam itu hujan turun tanpa henti. Laurent kembali tak bisa tidur. Ia membuka jendela kamarnya, membiarkan udara lembap dan aroma tanah basah memenuhi ruangan. Dari luar, suara gitar pelan terdengar, Willy, yang sedang duduk di beranda sambil memainkan lagu kesukaannya. Laurent berdiri di ambang pintu kamar, lalu berjalan perlahan menghampiri.
“Paman belum tidur?” tanyanya pelan.
Willy menoleh sambil tersenyum kecil.
“Belum ngantuk.”
Laurent mendekat dan duduk di sampingnya. Hujan menetes dari ujung atap, menciptakan ritme pelan di atas tanah.
“Paman…” suaranya lirih, hampir tenggelam oleh suara hujan, “kalau nanti aku sudah besar, apakah paman masih di sini?”
Willy menatapnya lama. Ia tak menjawab. Hanya menatap gadis itu, lalu berkata pelan,
“Tidur lah, Laur. Besok kita bercerita lagi.”
Laurent menggigit bibirnya. Ia tahu ada sesuatu yang tidak diucapkan. Ia tahu suatu hari nanti, mungkin hujan akan turun tanpa Willy di sisinya. Tapi malam ini, setidaknya, ia masih punya bahu untuk bersandar. Ia memejamkan mata di bahu Willy, mendengarkan suara hujan, dan berbisik sangat pelan:
“Paman… kalau suatu hari aku kehilangan semuanya lagi… tolong biarkan aku tetap percaya… kalau aku enggak sendirian.”
Dan Willy, hanya bisa menjawab dalam hati:
“Kamu memang enggak pernah sendirian, Laur. Tapi mungkin suatu hari… akulah yang akan pergi dulu.”
***