Semenjak kejadian itu, Diana lebih banyak termenung dan terdiam. Teman temannya pun merasa aneh atas perubahan perilaku Diana. Karena Diana, cewek yang cerewet dan juga selalu ceria.
"Gigi lo sakit Di? kok lo gak bisa ngomong" tanya Hendra menatap Diana yang murung di kantin.
"Iya nih, beberapa hari ini Diana kayak batu. Diem aja gak ada respon? Kemana ya Diana yang cerewet sama suka ketawa ketawa sendiri" sindir Gisna sambil mencubit pipi Diana.
Diana hanya memberi senyum terpaksa, Diana terlalu sedih dan kecewa namun Diana masih canggung mengungkapkan perasaannya kepada teman temannya.
"Apa mungkin habis bertengkar sama cowok tajir yang narik Diana kemarin? siapa Gis namanya?" tanya Susi.
"Si Firman itu, kakak angkatan kita anak Arsitek?" jawab Gisna memastikan.
"Bener, kan seminggu yang lalu Diana habis ketemu sama cowok itu. Kamu punya hubungan apa Di sama kak Firman? pacar kamu? tapi selama ini kayaknya kak Firman deket sama cewek lain deh?" Susi memberi pertanyaan bertubi tubi kepada Diana.
Mendengar ucapan Susi, Diana hanya dapat menangis.
"Di lo kenapa?" tanya Hendra bingung "Lo bisa cerita ke kita, meski kita baru berteman tapi kita peduli sama lo. Kita bakal bantu lo sebisanya" tawar Hendra.
Diana malah menangis kecang, hampir seluruh mahasiswa yang beristirahat di kantin menatap ke arah Diana.
Diana pergi meninggalkan teman temannya, Dia merasa lebih baik untuk pulang dan menenangkan diri.
"Diana kenapa ya? apa kita perlu menyelidikinya?" tanya Gisna kebingungan.
"Mungkin" jawab Susi bingung melihat kepergian Diana yang tidak menjawab pertanyaan mereka sepatah katapun.
Sesampainya di rumah, Diana buru buru masuk ke kamar. Ibu menatap Diana yang masuk rumah dengan menangis tanpa mengucap salam dan langsung masuk menuju kamarnya, menutup pintu kamar dengan kencang.
"Diana kamu kenapa? kamu habis bertengkar sama temanmu?" tanya Ibu sambil mengetuk pintu kamar Diana.
"Diana jawab ibu kamu punya masalah sama siapa? sampai kamu menangis seperti itu?". Ibu merasa gelisah atas perilaku Diana, yang berubah menjadi pendiam selama minggu minggu ini.
Ibu mencoba menelepon ayah yang sedang bekerja.
Tut.... tut.....
"Ayah, Diana menangis setelah pulang dari kampus. Dan dia mengunci diri di kamar. Dari tadi ibu mengetuk pintu namun Diana tidak merespon, tolong ayah cepat pulang ya yah. Ibu takut Diana melakukan hal yang tidak tidak" suruh ibu.
"Iya bu, sebentar ayah harus memberikan beberapa laporan kepada atasan ayah mungkin 2 jam lagi ayah akan pulang" jelas ayah dengan rasa cemas.
"Sebisanya Ibu coba untuk membujuk Diana ya bu"
"Baik yah ibu akan mencoba" jawab Ibu.
Ayah bergegas menyelesaikan pekerjaannya, ayah berniat pergi ke ruangan atasannya untuk memberikan laporan. Tak disangka ayah bertemu dengan Firman yang berjalan menuju lift, bersama dengan pemilik perusahaan tempat ayah Diana bekerja. Ayah Diana bekerja di perusahaan Bandi's contraktor salah satu cabang bisnis dari Subandi's grup.
"Apa Firman anak dari pemilik perusahaan ini?" tanya ayah dalam hati.
Ayah bergegas menuju ruang manajer, dan menyerahkan beberapa laporan. Dan meminta izin untuk pulang dahulu, setelah mendapat izin ayah bergegas pulang untuk memastikan kondisi Diana.
*******
Firman pergi ke perusahaan Papanya, dia bermaksud menemui Papanya. Karena Fiman akan mulai magang beberapa bulan di perusahaan Papanya. Firman datang bersama menuju lantai 7 tempat dimana nantinya dia bekerja. Di temani Papanya, Firman menemui pak Candra selaku manajer di divisi perancangan contraktor.
"Senang bertemu dengan anda" sapa pak Candra kepada Firman
"Saya juga senang bisa membantu di perusahaan ini, semoga nantinya saya bisa bekerja denga baik" ucap Firman menjabat tangan pak Candra.
"Walaupun Firman anak saya, tapi tolong jangan mengistimewakan dia. Firman harus bekerja dengan kemampuan dia sendiri dan saya ingin dia berusaha dengan baik. Jadi saya harap kamu jangan memberi perilaku lebih terhadap anak saya, anggap saja dia anak magang biasa" ujar Papa Firman.
"Baik pak, saya akan melakukan perintah sesuai keinginan bapak. Dan mulai besok, kamu sudah bisa bekerja di divisi ini bergabung dengan beberapa karyawan" ucap pak Candra.
"Baik pak" jawab Firman.
Setelah mereka sepakat, Firman dan Papa keluar dari ruangan manajer tersebut menuju lift. Tak disangka, Firman berpapasan dengan ayah Diana meski dia tidak mengetahuinya.
Ayah menatap Firman bingung,
"Apa Firman anak dari pemilik perusahaan ini?" tanya ayah dalam hati.
Ayah bergegas pulang ke rumah, sesampainya di rumah ayah melihat ibu yang mondar mandir di depan kamar Diana.
"Ayah bagaimana ini?" tanya ibu gelisah.
"Tenang ibu, ayah akan coba bicara pada Diana" jawab ayah.
Tok... tok..
"Diana sayang, kamu kenapa? tolong buka pintunya. Kasihan ibu dari tadi khawatir sama kamu? Apa kamu tidk kasihan ibu nak?" bujuk ayah.
Terdengar suara teriakan di dalam kamar Diana,
"Kenapa dengan Diana yah?" ibu semakin cemas.
"Ayah akan mendobrak kamar Diana"
Tanpa aba aba ayah mendobrak kamar Diana.
Ayah dan ibu terkejut dengan kondisi Diana yang tidak karuan dan tergeletak di lantai sambil menangis. Ibu langsung memeluk Diana.
"Sayang kamu jangan seperti ini, kamu anak ibu satu satunya dan kamu paling berharga buat ibu" ibu menangis melihat kondisi Diana.
"Ceritakan apa masalahmu, kalau ayah dan ibu bisa bantu pasti kami carikan jalan keluar" ibu mencoba menenangkan Diana.
Diana mulai menceritakan masalah yang ada dalam hati dan fikirannya, rasa kecewa terhadap kelakuan Firman membuat Diana merasakan dilema.
Antara rasa cinta namun terasa sakit bila dikatakan cinta.
Karena cintanya kini telah menghianatinya, apa yang dirasakan Diana amat menyakitkan. Saat cinta terasa indah berharap selalu seperti itu, namun kini Diana telah dicampakkan oleh cintanya.
Diana mulai mau bicara setelah mengistirahatkan badannya yang terasa berat dan sakit.
"Ibu, diana merasa bingung apa diana harus tetap menunggu Firman mesti tidak ada kepastian, selama ini Diana sering bertemu dengan Firman namun dia tidak menganggapku. Dia selalu bersama dengan wanita lain, apa aku harus bertahan bu?" Diana meneteskan air mata dan menatap ibunya dengan wajah yang kecewa.
"Kamu tidak perlu menunggu cinta yang bukan untuk kamu Diana, mungkin dia bukan yang terbaik tapi nanti pasti kamu dapat mendapatkan yang terbaik" ibu memberi pelukan Diana dengan hangat.
"Dan masalah uang yang kita pinjam ke Firman, ayah dan ibu sudah memikirkannya setelah kejadian itu. Dan uang itu sudah terkumpul Diana, kita hanya harus mengembalikannya saja" ibu menjelaskan pada Diana.
"Iya bu, mungkin Diana akan coba memberanikan diri untuk menemui Firman lagi untuk mengembalikan semua yang dia punya" ucap Diana mencoba tegar.
Sudah hampir 1 minggu Diana tidak masuk kuliah, Gisna ,Susi dan Hendra merasa gelisah dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Diana. Saat Diana tidak ada di kampus, Gisna dan Susi berinisiatif untuk mencari tau hubungan antara Diana dan Firman. Ternyata cukup sulit mendapatkan informasi tentang hubungan mereka. Karena kebanyakan mahasiswa di kampus mengira Firman dan Sinta memiliki hubungan sebab mereka terlihat sangat dekat dan selalu menghabiskan waktu bersama.
"Cari info kemana lagi ini, Sus?" tanya Gisna terlihat frustasi.
"Entahlah, mungkin hanya Firman dan Diana yang tau sebenarnya ada apa di antara mereka" jawab Susi menyerah.
Tak di sangka saat Gisna dan Susi sedang asyik mengobrol, datang seorang cowok yang mendekati mereka.
"Kamu Susi?" tanya cowok itu.
"Iya saya susi" jawab susi sambil memandangi cowok itu.
"Perkenalkan aku Adrian, kamu temannya Diana kan? Aku kesini hanua ingin menanyakan sebenarnya kemana Diana sudah beberapa hari ini tidak pernah bertemu" tanya Adrian.
"Diana sakit mungkin, dia juga gak memberitahu kabar tentang dirinya ke aku. Kamu siapanya Diana?" tanya Susi.
"Aku dulu kakak kelas Diana dan kebetulan kita satu kampus, rumah kami juga satu arah. Aku pernah ajak Diana berangkat bersama tapi setelah itu aku gak pernah ketemu dia lagi" ucap Adrian.
"Kamu pacarnya?" tanya Gisna mencari informasi.
Adrian tersenyum "Bukan, masak Diana gak pernah cerita siapa pacarnya. Pacar Diana kan cukup terkenal di kampus ini, dan dia juga sudah dekat dengan cewek lain mungkin itu alasan Diana bingung apa dia harus menceritakan tentang pacarnya yang telah mencampakkannya".
"Apa mungkin tebakan kami benar, kak Firman pacarnya Diana?" Gisna mencoba memastikan.
Adrian hanya tersenyum dan meninggalkan mereka berdua di kantin. Susi dan Gisna saling bertatapan mengartikan isyarat dari Adrian.
"Benar selama ini Firman itu pacarnya Diana" Susi dan Gisna dengan kompak mengucapkannya.
*******
Hari ini adalah hari pertama Firman mulai magang di perusahaan milik Papanya. Namun sesuai dengan keinginan Papa Firman, dia hanya diperilaku sebagai mahasiswa magang biasa tidak ada yang istimewa.
"Perkenalkan nama saya Firman Subandi, saya berkuliah di Universitas Negri dan di sini saya akan bekerja untuk memenuhi nilai praktik kuliah saya, saya mohon bantuan dan bimbingannya terimakasih" Firman memperkenalkan diri di hadapan karyawan perusahaan yang berada di satu manajemen dengannya.
Firman melangkah dengan pasti menuju duduknya, dia mulai menata barang bawaannya dan beberapa berkas yang sudah disiapkan.
"Firman kamu disini akan membantu pak Handoko selaku penanggung jawab proyek yang sedang kita kerjakan, semoga kamu bisa bekerja sama dengan baik" pak Candra menjelaskana tugas untuk Firman.
Pak Handoko apa mungkin dia ayahnya Diana batin Firman
Firman mulai pergi menuju ruangan pak Handoko, dengan langkah pasti Firman masuk keruangan itu.
"Selamat siang pak Handoko" ucap Firman.
Ayah Diana mulai membalikkan badannya dan melihat siapa yang sedang bicara padanya.
"Ayah,...." ucap Firman tak percaya "Ayah bekerja disini?"tanya Firman
Pak Handoko geram mendengar Firman memanggilnya dengan sebutan ayah yang dia fikir tak pantas Firman memanggilnya seperti itu.
"Mohon untuk profesional disini kantor, jadi tolong panggil saya Bapak. Disini saya selaku atasan kamu jadi tolong jaga sopan santun kamu" ucap pak Handoko menahan emosi.
"Baik pak, saya mohon maaf. Disini saya hanya mau membantu pekerjaan bapak selaku atasan saya" Firman menundukkan kepalanya.
"Baik ini ada beberapa file dan berkas yang harus kamu pelajari dan saya meminta rancangan desain gedung yang cocok untuk klien kita ini, dan saya harap kamu melakukannya secara profesional" pak Handoko menatap tajam ke arah Firman dan menyuruhnya pergi dari ruangannya.
"Aku tidak akan terima bila kamu berani mempermainkan puteriku Firman," batin pak Handoko
bersambung.....