Hari ini, tidak ada yang istimewa, Ana, wanita itu hanya menghabiskan waktunya untuk bersantai ria di tempat biasa ia menghabiskan waktu. Mansion mewah milik Axel.
"Mohon maaf nyonya, ada tamu yang ingin menemui anda." Salah seorang pelayan di mansion mewah itu datang menemui Ana yang sedang asik dengan kegiatannya. Ana menutup majalah yang tadi ia baca. Dengan pakaian super sexy dan juga make up tebal seperti biasa wanita itu berdiri dari duduknya. Mengerutkan kening heran, siapa yang malam-malam begini ingin menemuinya.
"Siapa?" Tanya Ana kepada pelayan tadi.
"Aku." Ana membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Dengan senyuman lebar, wanita itu segera berlari memeluk orang itu.
"Wah, sepertinya kau sangat merindukanku ya." Orang itu terkekeh mendapat serangan tiba-tiba dari Ana.
"Kakek, aku merindukanmu." Ya, itu adalah kakek dari Ana. Haidar, lelaki tua yang memilih untuk menghabiskan masa tuanya di Prancis itu merupakan ayah kandung dari ibunya Ana. Lelaki tua yang berulang kali membujuk Ana untuk tinggal saja bersamanya namun cucu kesayangannya itu tidak pernah mau.
"Cucuku sudah dewasa, maafkan kakek karena baru bisa menjengukku sekarang. Bahkan kakek tidak bisa datang ke pernikahanmu."
Ana melepas pelukannya, wanita itu kemudian beralih memeluk lengan Haidar. "Tidak apa-apa kek, Ana senang kakek ternyata baik-baik saja. Kenapa kakek tidak mengatakan jika akan mengunjungi Ana."
Haidar tersenyum, mengacak rambut cucu perempuan satu-satunya itu dengan sayang. "Kau ini, apa pernikahanmu baik-baik saja, tidak ada masalah apapun bukan?"
Ana terdiam, raut wajahnya seketika berubah menjadi sendu. Namun sesegera mungkin Ana menetralkan wajahnya kembali. "Kami baik-baik saja kek, Axel sangat perhatian pada Ana. Ana pikir ia tidak akan menerima perjodohan ini, tapi nyatanya ia menerimanya."
Haidar menatap wajah cucunya itu dengan hangat, "Kakek senang mendengarnya. Kakek berharap kau akan selalu bahagia."
"Ana pasti bahagia kek..."
"Maaf kek, Ana terpaksa berbohong," lanjut Ana dalam hati.
"Ngomong-ngomong dimana suamimu?" Haidar yang memang tidak melihat keberadaan dari Axel menanyakan dimana cucu menantunya itu berada.
"Axel memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dikantornya, kemungkinan ia akan lembur kek."
Haidar hanya menganggukkan kepalanya saja, Ana menghembuskan napasnya lega, ia bersyukur karena Haidar percaya dengan ucapannya.
"Kakek sudah makan malam?"
Sepasang kakek dan cucu itu sambil berjalan kearah ruang keluarga dengan Ana yang terus menggandeng lengan Haidar. Haidar menghentikan langkahnya ketika mendengar pertanyaan dari cucunya itu.
"Kakek pasti belum makan malam, kalau begitu mari kita makan malam berdua. Rasanya sudah sangat lama Ana tidak menghabiskan waktu bersama kakek."
Haidar tersenyum, ia menganggukkan kepalanya, "Kau benar nak, kakekmu ini sudah lama tidak menghabiskan waktu denganmu, dan kakek juga sudah semakin tua, rasanya sangat kesepian jika makan malam seorang diri."
Ana terkekeh pelan, kakeknya itu benar-benar lucu, Ana tau jika maksud dari omongan Haidar adalah untuk menyindir dirinya.
"Baiklah, baiklah, kali ini kakek tidak akan kesepian, karena princess Ana akan menemani kakek makan malam."
Haidar tertawa hingga tampak kerutan-kerutan di wajah lelaki tua itu. Keduanya berjalan menuju meja makan dengan menu lengkap dan beberapa pelayan yang menyiapkan peralatan makan.
Haidar kemudian melepaskan gandengan ana pada lengannya. Lelaki tua itu menarik satu kursi untuk Ana, cucunya. "Silahkan Princess Ana, mari duduk dan makanlah."
Ana dengan senang hati menduduki kursi yang Haidar siapkan. Lalu kemudian, Haidar menarik satu kursi lagi untuknya dan mendudukinya.
"Kakek ingin makan apa?"
"Apa saja cucuku."
"Baiklah, Ana yang akan mengambilkan makanan spesial khusus untuk kakek."
Setelahnya, Ana dan Haidar menikmati makan malam mereka tanpa adanya pembicaraan. Hanya dentingan sendok yang terdengar di makan malam kali ini. Ana bahagia, jarang sekali ia bisa tersenyum selepas hari ini. Beberapa pelayan yang menyaksikan itu juga ikut tersenyum, rasanya selama ini mereka tidak pernah melihat nyonya mereka itu terlihat bahagia seperti sekarang.
Setelah makan malam selesai, Ana dan Haidar kemudian beranjak dari ruang makan dan menuju ke ruang keluarga.
"Kakek sebaiknya Istirahat sekarang, Ana akan mengantarkan kakek menuju kamar kakek."
Haidar hanya menganggukkan kepalanya, wanita tua itu sangat bahagia karena pada akhirnya bisa berkumpul kembali dengan cucu kesayangannya itu.
Setelahnya, sepasang kakek dan cucu itu menuju kamar yang telah disiapkan oleh para pelayan untuk Haidar. "Kakek istirahatlah, aku tau kakek pasti sangat capek setelah perjalanan dari Prancis ke Indonesia."
Haidar mengusap lembut tangan milik Ana, "Kakekmu ini memang sudah tua, tapi kakek masih sangat kuat dan sehat, jadi jangan pernah meremehkannya."
Ana menggelengkan kepalanya, wanita itu tertawa pelan, kakeknya itu memang tidak pernah mau kalah. "Baiklah, terserah kakek saja, sekarang kakek harus istirahat."
"Cucuku ini sangat cerewet, untung saja aku sangat menyayangimu." Haidar akhirnya mengalah, lelaki tua itu memilih untuk beristirahat dan memejamkan matanya.
Ana tersenyum, entahlah, sudah berapa banyak senyuman yang ia tunjukkan semenjak kedatangan kakeknya beberapa jam yang lalu. "Selamat malam kakek, Ana sangat menyayangimu." Setelah dirasa Haidar sudah terlelap, Ana perlahan meninggalkan kamar yang menjadi tempat Haidar menginap.
Ana menutup pintu kamarnya perlahan, lalu bernapas lega.
"Sampai kapan Kakekmu akan berada disini?"
Ana terkejut, wanita itu hampir saja berteriak jika saja tidak ingat jika sang kakek ada di sana. Kemudian, Ana langsung menarik tangan Axel, lelaki tadi untuk menjauh dari hadapan kamar tempat Haidar tidur.
"Kakekku mungkin akan berada disini cukup lama, aku juga tidak tau pasti. Jadi, aku mohon padamu untuk menjaga sikap, bersandiwaralah jika kita adalah sepasang suami istri yang bahagia, jangan membawa kekasihmu ke mansion ini untuk sementara."
"Ini mansionku, bagaimana bisa aku harus menuruti hal konyol yang kau katakan. Lagipula mengapa tiba-tiba sekali Kakekmu kemari, apa dia tidak memiliki rumah?"
Ana mengepalkan tangannya geram dengan ucapan Axel. Namun Ana berusaha meredam amarahnya, hal ini ia lakukan demi kebaikan dirinya dan tentu saja Axel.
"Aku mohon, kali ini saja turuti keinginanku. Jika kau tidak mau, maka akan berdampak buruk bagi dirimu sendiri, kau akan dituduh berkhianat pada istrimu jika sampai kakek tau bagaimana hubungan kita yang sebenarnya, apa kau ingin citramu menjadi buruk di depan semua orang? Sebaiknya kau pikirkan lagi." Lalu, tanpa aba-aba Ana meninggalkan Axel yang terdiam disana, lelaki itu mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut Ana.
"Sial, wanita itu benar-benar membuatku tidak bisa berkutik. Baiklah, akan aku ikuti permainannya."
***
Keesokan harinya, Ana sudah bersiap dengan setelan mini dress yang dikenakannya, rambut panjang berwarna pink di ujungnya itu tampak cantik dan berkilau. Dengan perlahan wanita itu menuruni satu persatu anak tangga mansion mewah milik Axel.
"Cucuku, kau sudah bangun nak?"
Ya, itu Haidar, lelaki tua yang merupakan kakek dari Ana itu sudah bangun terlebih dahulu.
Ana menatap kakeknya sambil tersenyum, lalu kemudian pandangan wanita itu beralih pada Axel yang juga berada di sana, wanita itu terkejut bukan main, bagaimana bisa Axel berada di sana bersama kakeknya.
"Kakek sedang apa di sini?"
"Tentu saja kakek sedang bermain catur bersama cucu menantu kakek."
Ana makin terkejut, tapi ia berusaha menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Axel hanya tersenyum mendengar jawaban dari Haidar.
"Kakek, sepertinya Axel sangat sibuk hari ini, jadi lebih baik sekarang kakek bermain dengan Ana saja."
"Oh, benarkah? Baiklah..."
"Tidak, aku tidak sibuk sama sekali, aku yang akan bermain dengan kakek."
Ana menatap tajam kearah Axel, namun Axel menatap wanita itu dengan santai.
"Kau dengar, Axel sendiri yang mengatakan jika ia tidak sibuk sama sekali, jadi sudahlah, jangan khawatir cucuku."
Ana hanya menghembuskan napasnya pelan, ia juga bingung dan tidak habis pikir dengan apa yang Axel lakukan, lelaki itu sedang merencanakan apa lagi sekarang. Ana pasrah, namun ia harus tetap hati-hati jika saja ada hal janggal yang mungkin saja akan terjadi.
"Ada apa sebenarnya?" Tanya Ana dalam hati sambil terus memandangi Axel dan kakeknya itu bermain catur dan sesekali bercanda satu sama lain.