Makan malam kali ini adalah makan malam paling membahagiakan bagi Ana. Wanita itu begitu senang karena kakek dan bibi kesayangannya yang mengunjunginya di mansion milik Axel itu. Ketiga orang itu makan dengan dipenuhi canda dan tawa. Para pelayan yang melihat betapa lepasnya tawa nyonya mereka ikut tersenyum lega. Setidaknya kehadiran kakek dan bibi Ana disini membuat suasana mansion itu menjadi hidup. Tidak seperti biasanya, sunyi, mungkin hanya ada keributan yang ditimbulkan oleh Axel dan juga Ana.
"Bagaimana reaksi suamimu tadi ketika mendapatkan bekal makan siang dari mu Nak?" Helena sangat penasaran dengan cerita Ana. Tadi ketika ia baru saja tiba di mansion milik Axel itu, Helena tidak bertemu dengan Ana, dan Haidar mengatakan jika Ana sedang mengantarkan makanan untuk Axel di kantornya.
Ana menghentikan suapannya sejenak, wanita itu menatap bibinya. "Axel senang, dia sangat antusias memakan masakan ku bibi."
Helena tersenyum, "Syukurlah, aku senang senang mendengarnya. Sepertinya kau jauh lebih bahagia hidup dengan Axel, jika seperti itu, bibi tidak perlu lagi khawatir, begitupun dengan kakek."
Ana kembali mengulas senyum lebar dibibirnya, namun kemudian wanita itu melanjutkan makannya kembali.
"Maafkan Ana yang sudah berbohong pada kalian. Ana hanya tidak ingin membuat kalian khawatir," ujar Ana dalam hati.
"Selamat malam semuanya." Axel, lelaki itu menuju meja makan yang sudah terdapat Ana, Helena dan Haidar di sana. Lelaki yang masih mengenakan setelan jas kantoran itu terlihat sangat tampan dengan rambut coklatnya yang sedikit berantakan. Pandangan semua orang yang ada di meja makan itu tertuju pada Axel. Lelaki itu kemudian memilih untuk duduk di kursi sebelah Ana duduk.
Ana yang mendengar decitan kursi di sampingnya reflek menoleh, wanita itu melebarkan matanya, namun kemudian berusaha untuk menetralkan kembali wajahnya. "Ka-kau kenapa duduk di sini?"
"Ana, biarkan suamimu duduk di sampingmu, kau ini ada apa?"
Ana tersadar mendengar teguran dari kakeknya. Wanita itu langsung mengalihkan pandangannya kearah sang kakek.
"I-itu, emb, tidak kek, aku hanya bercanda saja."
Haidar menghela napasnya pelan, kemudian menggelengkan kepalanya. "Axel, ayo silahkan makan, sepertinya kau sangat kelaparan, apa pekerjaanmu begitu banyak?"
Axel tersenyum, lelaki itu menggelengkan kepalanya. "Tidak terlalu kek, aku hanya sedikit lelah saja. Lagi pula kalau tentang makan, aku sudah memakan masakan yang tadi Ana antarkan untukku."
"Cih, manipulatif sekali dia," Batin Ana berkata sambil melirik kearah Axel.
"Aku senang mendengarnya, sepertinya kau sangat mencintai Ana. Benar tidak Lena?"
"Ya Ayah, Ana sangat beruntung mendapatkan lelaki yang sangat mencintainya seperti dirimu."
"Tidak bibi, kakek, aku justru yang sangat beruntung mendapatkannya."
Wajah Ana semakin masam mendengar bualan yang Axel ucapkan.
"Ana, lihat, Axel benar-benar lelaki yang baik. Baru kali ini kakek setuju dengan pilihan ayahmu itu, biasanya kakek sama sekali tidak pernah menyetujuinya."
Ana menghela napasnya pelan, wanita itu tersenyum di paksakan sambil menatap Axel, lalu kemudian menatap Helena dan Haidar yang berada di sana.
"Ana mengerti kek, Ana pasti akan menjaga kepercayaan Axel."
Wanita itu sebenarnya sangat muak mengatakannya, sungguh drama yang sangat menyebalkan sekali.
***
Di sebuah ruangan dengan cat berwarna hitam dan lampu yang redup, seorang wanita dan seorang lelaki saling menatap satu sama lain. Sampai kemudian akhirnya lelaki itu mendekati wanita tadi dan menariknya diatas pangkuannya.
"Ahh, kau ini kenapa suka sekali tiba-tiba menarikku."
Laki-laki tadi terkekeh mendengar wanitanya yang mengomelinya.
"Tenang lah sayang, aku hanya ingin agar obrolan kita terasa hangat, bukan sudah cukup menegangkan pembicaraan kita beberapa jam tadi?"
Sang wanita hanya memutar bola matanya malas. "Katakan saja jika kau ingin hal yang lebih."
"Kau memang sangat pintar sayangku, baiklah, apa bisa aku meminta hal yang lebih?"
"Kenapa kau bertanya? Bahkan ketika aku tidak ingin pun kau akan tetap melakukannya."
Tanpa aba-aba, lelaki tadi langsung membawa wanita itu diatas tempat tidur miliknya. "Ayo kita bersenang-senang, sebelum kita menghancurkan seseorang."
***
Axel termenung di teras belakang mansionnya, lelaki itu meneguk kopi yang disiapkan oleh pelayan, kopi panas yang cukup membantu ya menaikkan suhu. Udara malam itu begitu dingin, namun kilau cahaya bulan cukup terang menyinari bumi.
Tanpa Axel sadari, Ana berjalan mendekat kearah lelaki itu. Dengan piyama tidur sexy yang biasa digunakannya, Ana kemudian duduk di kursi sebelah Axel.
"Apa maksudmu?"
Axel menoleh kearah Ana, lelaki itu mengambil cangkir kopi miliknya dan menyesap perlahan. Kemudian, setelahnya Axel meletakkan kembali cangkir kopi itu.
"Kau bicara apa?" Bukannya menjawab, Axel justru balik bertanya kepada Ana.
Ana berdecih pelan, "Kau benar-benar seorang aktor hebat, bagaimana bisa kau memainkan sandiwara seolah-olah sangat mencintaiku di depan kakek dan bibiku, padahal jelas-jelas kau sangat membenciku."
Axel tertawa pelan, lelaki itu tersenyum miring. "Bukan kah itu maumu? Kita harus terlihat seperti orang yang saling mencintai, saling menyayangi dan menginginkan satu sama lain."
"Kau tidak ingin membuat mereka bersedih bukan?" Lanjut Axel kembali melontarkan pertanyaan pada Ana.
Ana membenarkan apa yang Axel katakan dalam hati. Ia memang tidak ingin membuat orang yang ia sayang bersedih ketika mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.
"Axel."
Axel berdehem mendengar panggilan dari Ana untuknya. "Apa kau tidak lelah dengan semuanya?"
"Maksudmu?" Jujur saja, Axel sebenarnya tidak mengerti apa yang Ana maksud, ia mengerutkan keningnya, menunggu kalimat jawaban dari mulut Ana.
"Jujur aku lelah, aku lelah menjalankan kehidupan pura-pura ini, tapi aku berjanji untuk terus berjuang. Aku sudah berjanji jika akan terus bertahan sampai kapanpun itu. Mengenai pernikahan kita, aku tau kau terpaksa, aku pun sama, tapi pernikahan bagiku hanya sekali, tidak akan pernah ada lagi pernikahan kedua, ketiga atau seterusnya, jadi, bisakah kau belajar mencintaiku."
Axel merubah wajahnya menjadi sangat datar. Lelaki itu menatap langit malam yang menggelap akibat bulan yang tertutup awan.
"Ana, aku tidak bisa. Aku sangat mencintai Sherly, jadi sampai kapanpun aku akan tetap mencintainya. Bisakah kau mengerti."
Ana tersenyum dengan wajah sendunya, wanita itu menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku tidak akan pernah bisa memaksamu, memaksakan perasaan yang kau punya untukku. Tapi, aku mohon, agar tidak ada lah permusuhan antara kita, aku akan membiarkanmu bersama Sherly bebas melakukan apapun. Hanya saja, aku mohon, jangan di mansion ini, hormati aku sebagai istri sahmu, meskipun kau sama sekali tidak mencintaiku."
Axel tampak berpikir sejenak, kemudian ia menatap langit malam kembali, lalu ia beralih menatap kearah Ana yang menunggu persetujuannya. "Baiklah, aku setuju, aku tidak akan membawa Sherly lagi ke mansion ini."
Salam hati, Ana sangat senang, setidaknya misi yang ia lakukan berhasil.
"Terimakasih, aku senang kau mau mengabulkan permintaanku, aku sangat berterimakasih."
"Sudahlah, tidak masalah, sekarang kita bukan lagi musuh. Apa kau mau jadi temanku?" Axel menjulurkan tangannya untuk mengajak Ana berjabat.
Ana tersenyum, "Ayo kita sekarang berteman," balas Ana sambil menerima uluran tangan dari Axel.
Kedua anak manusia yang berstatus sebagai suami istri itu tersenyum satu sama lain. Bukan lagi senyuman penuh kebencian seperti biasanya, namun kali ini senyuman tulus, senyuman pertemanan yang mereka ciptakan.
"Ana."
"Ya."
Keduanya kembali duduk di kursi masing-masing dengan tenang. Sama-sama menikmati langit malam, mendengar suara-suara hewan malam yang sangat saling bersahutan.
"Untuk sementara kau boleh tidur di kamarku selama ada kakek dan bibimu."
Ana menatap Axel tidak percaya, "Tap----"
"Sudahlah, tidak apa-apa, kamarku sangat luas, didalam kamarku terdapat satu sofa untuk menonton TV yang besarnya hampir setara dengan tempat tidur sayu orang. Jadi tidak masalah, kau bisa menggunakan tempat tidurku, dan aku tidur di sofa."
Ana menggelengkan kepalanya, "Tidak, biarkan aku yang tidur di sofa, kau tidurlah di tempat tidurmu."
"Tidak, kau saja yang menggunakan tempat tidurku, aku laki-laki, jadi tidak masalah, sedangkan kau perempuan, kau harus mendapatkan tempat tidur yang nyaman."
Ana menghembuskan napas pasrah, "Baiklah, terserah kau saja."
Axel tersenyum, "Ternyata kau teman yang menyenangkan."
Bersambung. . .