Matahari semakin merangkak naik, sebentar lagi waktu makan siang tiba. Namun, Vanessa belum juga selesai mempelajari jurnal yang baru saja diberikan oleh Morgan.
"Bisa lebih cepat? Cara membacamu sungguh seperti anak kecil yang baru bisa membaca," ejek Morgan yang risih melihat cara membaca Vanessa yang dinilai terlalu lambat.
"Baik, Tuan," sahut Vanessa yang terlihat patuh. Namun, dalam hati ia mengutuk bosnya tersebut.
Setengah jam berlalu, Vanessa tidak sadar jika ini sudah masuk waktu makan siang. Sedangkan Morgan yang merasa sudah lapar segera melirik jam tangannya.
"Cepat pesankan aku burrito isian lengkap dengan saus cabai, aku mau burrito itu ada di mejaku dalam waktu lima belas menit," ujar Morgan tiba-tiba.
"Apa?" Vanessa tentu terkejut, meskipun di seberang jalan kantor ini ada cafe yang menjual burrito, tapi waktu lima belas menit tidak akan cukup untuk kembali sampai ke ruangan ini tepat waktu.
"Tuan bercanda?"
"Apa wajahku terlihat seperti sedang bercanda?" sahut Morgan tanpa senyum sama sekali di wajahnya. "Dan waktumu kini sudah berkurang satu menit." Melemparkan kartu debit yang terlilit kertas kecil bertuliskan nomor pin ke atas meja.
Andaikan Vanessa bisa mengumpat sekarang, ia jelas sudah meneriakkan kalimat kotor tepat di depan wajah bosnya. Namun, sayangnya ia hanya bisa meneriakinya di dalam hati.
Setelah mengambil kartu tersebut, tanpa permisi Vanessa langsung berlari menuju lift, di sepanjang jalan wajah cantiknya tampak terlihat panik, hingga membuat banyak karyawan lain bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi dengannya?
Beruntung suasana cafe tidak terlalu ramai, karena banyak karyawan yang lebih memilih makan siang di kafetaria kantor. Tidak membutuhkan waktu yang lama, kantong berisi burrito sudah berada di tangan Vanessa. Ketika sudah menyeberang jalan, Vanessa hampir melupakan saus cabai yang diminta oleh bosnya.
"Oh iya, saus cabainya." Menepuk keningnya ringan, lalu buru-buru ia kembali lagi menyebrang jalan untuk menuju ke minimarket yang berada di sebelah cafe tadi.
Setelah masuk ke dalam minimarket, Vanessa langsung berjalan menuju rak yang menyediakan berbagai macam saus.
"Saus pedas, saus pedas manis-" Vanessa membaca satu persatu tulisan yang tertempel di botol saus yang berjejer di hadapannya.
"Nah, ini dia. Saus super pedas." Mengambil botol saus berukuran sedang itu dengan puas, dan berpikir jika pilihannya sudah tepat. Mungkin ini sebabnya bosnya menamainya saus cabai, karena terdapat banyaknya gambar cabai yang berada di kemasan botol tersebut.
Waktu lima belas menit sudah hampir selesai.
Braakk...
Dengan napas yang terengah-engah, Vanessa tidak sadar jika membuka pintunya terlalu kencang, beruntung pintu itu terbuat dari kayu, bukan dari kaca yang bisa dihancurkan oleh Vanessa sebab kelakuannya.
Morgan yang sedang duduk di sofa memandang tajam ke arah Vanessa. "Tidak bisakah kamu bersikap sopan sedikit?" tanyanya sinis.
"Maaf, Tuan. Waktunya sudah hampir habis, saya khawatir jika saya akan terlambat." Tersenyum canggung seraya menyodorkan kantong makanan ke atas meja. "Ini pesanan Anda, Tuan."
Tanpa menanggapi dan mengucapkan terima kasih, Morgan langsung membuka kantong tersebut. "Mana saus cabai yang kupesan?" Mengeluarkan burrito dan meletakkannya ke piring yang sudah ia siapkan sendiri.
"Di situ," sahut Vanessa seraya menunjuk kantong yang masih dipegang Morgan. "Sausnya juga berada di dalam kantong yang sama," lanjutnya dengan perasaan yang mulai ragu, sepertinya Vanessa mulai mencium aroma-aroma kesalahan.
Dugh...
Botol saus itu hampir saja mengenai kaki Vanessa jika saja ia tidak menghindar. Vanessa tidak menyangka jika Morgan akan melakukan hal ini kepadanya, apa salahnya? Hingga Morgan melemparkan saus yang tak berdosa itu ke lantai.
"Bodoh! Bukan itu yang aku maksud, aku minta cabai segar yang dihaluskan, bukan perasa pedas yang dicampur tomat seperti itu," teriak Morgan.
Vanessa tentu sakit hati, bukan hanya dengan perlakuan Morgan, tapi juga dengan kata-katanya. Padahal ini bukan sepenuhnya salah Vanessa, seharusnya Morgan dari awal menjelaskan saus apa yang diinginkannya, hingga Vanessa tidak salah menerka, jika saus cabai yang dimaksud bosnya itu bukanlah saus dalam botol kemasan tersebut.
Namun, Vanessa hanya bisa mengatakan, "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu jika yang Tuan Morgan maksud adalah sambal."
"Sambal?"
"Iya, orang Indonesia menyebutnya sambal," balas Vanessa yang berusaha menjelaskan dengan sabar.
"Terserah kamu menyebutnya apa? Lagi pula sejak dulu orang yang aku ajak bicara selalu mengerti apa yang aku maksud, hanya kamu saja yang bodoh," kilah Morgan. Sebenarnya dia juga selalu menjelaskan saus cabai yang ia maksud kepada orang-orang. Namun, tadi ia lupa memberi tahu Vanessa, beruntung ia memiliki rasa gengsi tingkat tinggi.
"Baik, sekali lagi maafkan saya," sahut Vanessa mengalah.
"Sekarang cepat kembali ke cafe itu lagi, dan suruh pegawainya untuk membuatkan saus cabai yang biasa aku pesan!" perintah Morgan.
"Baik, Tuan."
"Tunggu." Vanessa yang sudah mulai melangkah, kini membalikkan badannya kembali.
"Apa ada lagi yang Tuan inginkan?"
"Iya. Jangan pakai lift, pakai tangga darurat saja. Ini sebagai hukuman untukmu karena membuat waktu makan siang saya terlambat."
Vanessa menarik napas dalam-dalam guna meredakan amarahnya, lalu kemudian ia menjawab, "Baik, Tuan."
Penderitaan Vanessa tidak hanya sampai di sini, hari ini Vanessa juga harus lembur karena padatnya jadwal Morgan setelah makan siang.
Di saat Morgan sedang membersihkan diri di ruang pribadinya, Vanessa menggunakan kesempatan ini untuk mengirim pesan kepada sahabatnya.
[Anne, hari ini aku akan pulang terlambat. Ini memang hari sialku. Tidak! Lebih tepatnya aku yang sial karena harus menjadi sekretarisnya Bos yang sangat menyebalkan. Tidak hanya terkena amukannya, tapi aku juga harus lembur.]
Hanya centang satu. "Sepertinya Anne juga sedang sibuk," keluh Vanessa yang merasa bosan. Bukannya apa-apa, tapi Vanessa sudah menunggu bosnya selama satu jam, dan baru kali ini Vanessa melihat seorang laki-laki membutuhkan waktu hingga satu jam untuk mandi, padahal pekerjaan mereka masih banyak.
"Ayo." Tiba-tiba saja Morgan sudah berdiri di hadapan Vanessa.
Vanessa yang sedang melamun tentu saja terkejut. "Kita mau pergi ke mana, Tuan?" tanya Vanessa yang mengingat tidak ada jadwal pertemuan di luar kantor
Tanpa menjawab Morgan langsung berlalu begitu saja, sedangkan Vanessa tentu langsung mengikuti di belakangnya. Mereka berdua masuk ke dalam mobil milik Morgan, dan tanpa menyebutkan tempatnya, sang sopir langsung menjalankan mobilnya seperti sudah mengerti arah tujuannya.
Mereka tiba di sebuah cafe yang tampak cukup ramai. Vanessa baru menyadari jika ini sudah waktunya untuk makan malam. Morgan memilih tempat duduk yang agak sepi dari pengunjung lain.
"Seperti biasa," ujar Morgan saat sang pelayan menanyakan menu yang ia pesan.
Sedangkan Vanessa tanpa sungkan juga menyebutkan makanan yang ingin ia makan. Tidak ada pembicaraan di antara mereka hingga pesanan mereka tiba.
Vanessa mengernyitkan dahi ketika melihat menu yang dipesan oleh Morgan, yaitu avocado toast dengan semangkuk kecil sambal di sampingnya.
Isian roti panggang itu cukup normal seperti biasanya. Namun, yang membuat Vanessa merinding adalah, Morgan yang menaruh banyak sambal di atas telur setengah matang, lalu kemudian menutupnya kembali dengan roti yang sudah diolesi alpukat.
Jumlah sambal yang sama banyaknya dengan yang dicocol dengan burrito. Namun, kali ini Vanessa tidak dapat membayangkan lagi bagaimana rasanya makan avocado toast dengan sambal yang sangat banyak. Sungguh menggelikan.
"Jangan-jangan setiap dia makan tidak pernah mau ketinggalan sambal? Pantas omongannya sangat pedas, dasar manusia cabai," batin Vanessa.