Setelah kejadian memalukan dan menyebalkan di mall, malam harinya Vanessa berencana ingin mengundurkan diri dari MR Group. Sudah tidak lagi mempedulikan denda yang harus dibayar, karena ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Morgan. Lagi pula Vanessa juga bukan anak dari kalangan keluarga biasa, hanya dengan menjentikkan jari, orang tua yang selalu menyayanginya akan mengabulkan semua permintaannya.
"Apakah kamu benar-benar sudah yakin?" tanya Anne yang melihat sahabatnya sedang mempersiapkan surat pengunduran diri, Vanessa akan menyerahkannya besok pagi.
"Tentu, aku tidak ingin mati muda sebab menjadi sekretarisnya Morgan," sungut Vanessa.
"Ya, benar. Kamu masih sangat bisa menemukan perusahaan yang lebih bagus dari ini. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Tidak, aku hanya heran saja kenapa sikap Morgan seperti itu? Saat aku masih menjadi sekretarisnya, dia hanya orang yang dingin. Apa mungkin ada sesuatu di antara kalian? Atau kamu pernah menolak ajakan tidur bersamanya! Hingga menjadikanmu sekretaris pribadinya, dan menggunakan kesempatan itu untuk balas dendam dan mempersulitmu?"
Vanessa menoyor kepala Anne, bisa-bisanya sahabatnya itu berpikir sampai sejauh itu. "Jangan bicara aneh-aneh, dia tidak pernah menawariku untuk tidur bersama, dan dia bukan hanya mempersulitku, tapi menindasku!" jelas Vanessa.
Anne hanya tertawa lebar menanggapi kemarahan Vanessa. "Baiklah-baiklah, Nona Penyabar. Jangan marah-marah lagi, nanti wajah cantikmu ini bisa hilang," ujar Anne seraya mencubit besar kedua pipi Vanessa.
"Auw, sakit Anne. Cepat lepaskan!" teriak Vanessa seraya menepuk kedua tangan Anne kesal. Mentang-mentang kedua pipinya cukup tembem, sahabatnya itu seenaknya mencubit kedua pipinya. Namun, mereka tertawa bersama.
Begitulah cara kedua sahabat itu menghilangkan rasa marah untuk mencegah pertengkaran yang tidak berarti sama sekali.
Di saat kedua gadis tersebut sedang asyik bercanda. Suara dering ponsel Vanessa mengganggu keceriaan kedua orang tersebut.
"Siapa lagi? Jangan bilang itu Bosmu," ujar Anne kesal.
"Memang dia," sahut Vanessa malas.
Mengingat statusnya yang masih menjadi sekretaris, Vanessa dengan malas mengangkat telepon tersebut.
"Cepat datang ke apartemenku. Ada pekerjaan yang harus kau selesaikan. Aku tidak ingin mendengar penolakan dan kata ter-lam-bat. Waktumu hanya lima belas menit."
Tut....
Belum sempat Vanessa berbicara, sambungan telepon itu sudah diakhiri. Rasa kesal kembali menguasai hati Vanessa. Kali ini keputusannya untuk mengundurkan diri memang tidaklah salah, ia benar-benar sudah tidak lagi memiliki bos seperti Morgan.
Beruntung jalanan cukup lengang, jadi Vanessa dapat mengemudikan mobilnya dengan cepat. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, Vanessa sudah sampai di depan pintu apartemen Morgan.
Setelah beberapa kali membunyikan bel, pintu akhirnya terbuka.
"Masuk," ujar Morgan yang langsung berjalan meninggalkan Vanessa.
Jangankan sambutan ramah, bahkan Morgan tidak bersedia menunjukkan wajahnya kepada Vanessa.
"Cepat belikan barang yang sudah aku tulis, dan itu kartu akses agar kamu tidak membuatku repot untuk membukakan pintu untukmu." Morgan menunjuk dua kartu beserta secarik kertas yang berada di atas meja, dengan angkuhnya ia menggunakan telunjuk tangan kiri yang membuat Vanessa semakin kesal.
"Baik, Tuan." Tanpa berkata lebih, Vanessa langsung mengambil barang-barang tersebut dan kembali keluar.
Di dalam lift Vanessa tidak bisa berhenti menggerutu, beruntung hanya dirinya saja yang berada di dalam lift tersebut, dan juga tidak ada kamera pengawas yang akan membuatnya malu.
"Dynamite jittlada dan obat merah." Vanessa bingung dengan tulisan tersebut. "Apakah dia akan memakan dynamite jittlada dengan saus obat merah?" Pikiran konyol Vanessa berkelana, ia tidak bisa menahan tawa membayangkan hal itu terjadi.
Setengah jam kemudian Vanessa kembali dengan membawa semua pesanan Morgan. Saat melewati meja ruang tamu, Vanessa melihat tumpukan berkas beserta secarik kertas lagi.
'Taruh barang yang kamu beli di meja makan, lalu periksa semua berkas itu. Semakin cepat kamu memeriksanya, maka kamu juga bisa cepat pulang.'
Karena Vanessa ingin cepat pulang, dia dengan semangat akan menyelesaikan semua tugasnya. Ketika Vanessa sudah menyelesaikan separuh tumpukan berkas, Morgan datang dari arah dapur dengan membawa secangkir cokelat panas beserta kudapan manis untuk Vanessa.
"Makanlah," ujar Morgan singkat.
Vanessa yang merasa takjub, segera menoleh dan mengatakan terima kasih. Namun, ia terkejut saat melihat sudut bibir bosnya itu terluka.
"Tuan, apa yang terjadi dengan Anda?"
Bekas darah di sudut bibir Morgan sudah kering, dan sepertinya Morgan sengaja tidak membersihkan lukanya karena menunggu obat merah yang dibeli Vanessa.
"Bukan urusanmu," sahut Morgan acuh tak acuh, lalu ia segera berbalik dan meninggalkan Vanessa yang masih penasaran dengan apa yang sudah terjadi kepada bosnya tersebut.
Vanessa tidak menyangka jika ada orang yang berani melukai Morgan yang notabene seperti monster.
"Ya baguslah, sepertinya ia mendapatkan karmanya," gumam Vanessa yang bukannya merasa simpati. Namun, merasa senang.
Sedangkan Morgan yang berada di dapur, hendak mengobati lukanya. Namun, karena rasa kesal masih menyelimuti hatinya, Morgan tidak sengaja menuangkan obat merah itu kebanyakan dan akhirnya mengotori sepatunya.
"CK, sialan!"
Suara Morgan yang cukup keras, membuat Vanessa tersentak dan langsung mendatangi bosnya tersebut. Ia khawatir jika terjadi apa-apa dengan Morgan.
"Tuan, ada apa?"
Melihat obat merah di tangan Morgan, dan juga percikan obat merah yang mengotori sepatu Morgan, Vanessa dapat mengerti situasi apa yang sedang terjadi.
Refleks Vanessa mendekat dan merebut obat tersebut dari tangan Morgan.
"Biarkan saya saja." Naluri Vanessa sebagai seorang perempuan tentu tidak tega membiarkan orang kesulitan mengobati dirinya sendiri, dengan cekatan ia menuangkan sedikit obat tersebut ke atas kapas, dan tanpa sadar ia juga membantu mengobati luka sudut bibir bosnya.
Jantung Morgan berdetak kencang sebab perlakuan Vanessa, Morgan tidak dapat menyangkal jika ia sangat senang dengan situasi ini, dan berharap waktu bisa berhenti agar ia bisa menikmati momen indah ini lebih lama lagi.
Namun, tiba-tiba saja wajah Reymond muncul dalam benaknya. Refleks Morgan menepis kasar tangan Vanessa yang masih mengobati sudut bibirnya.
"Biar aku sendiri," ujar Morgan kaku, dalam hati ia merutuki kebodohannya sendiri, sekali lagi ia juga menyesali perbuatannya, dan berharap rumitnya perasaan ini segera berlalu, agar ia bisa hidup dengan damai ke depannya.
"Baik," sahut Vanessa sedikit ketus karena tidak dapat lagi menahan rasa kesalnya.
Bukannya mengucapkan terima kasih, tapi Morgan malah menepis tangannya. Tentu hal itu kembali memancing kemarahan Vanessa.
"Tuan, hari ini adalah hari terakhir saya bekerja, besok saya akan menyerahkan surat pengunduran diri saya."
Morgan tentu terkejut dengan pernyataan Vanessa yang tiba-tiba. "Kamu yakin? Bagaimana dengan denda yang harus kamu bayar?"
"Saya sangat yakin, dan saya tidak memusingkan hal itu," sahut Vanessa mantap.
Sejenak Morgan terdiam, lalu ia berdiri. "Cepat selesaikan pekerjaanmu!"
Tanpa menunggu jawaban Vanessa atau menanggapi soal pengunduran diri Vanessa, Morgan berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Vanessa tentu kesal. Namun, ia segera kembali melanjutkan pekerjaannya. Saat Vanessa sudah menyelesaikan pekerjaannya, dan menumpuk rapi semua berkas-berkas tersebut. Tiba-tiba saja Morgan melemparkan sebuah kotak beludru di atas meja yang jatuh tepat di depan Vanessa.
"Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena sudah mengobati lukaku."
Ketika melihat Vanessa hendak membuka mulutnya untuk berbicara, dengan cepat Morgan langsung menyela, "Tidak ada penolakan, dan sampai kapan pun aku akan menolak surat pengunduran dirimu."