Lara Pratiwi menatap surel itu untuk yang ketujuh kalinya, dan setiap kali kalimatnya terasa lebih asing—seolah ditulis untuk Lara yang lain, perempuan lain dengan nama yang sama tapi keberanian yang berbeda.
*"Selamat. Anda terpilih sebagai bagian dari Ekspedisi Antartika 2026 — tim peneliti es. Berangkat 14 Mei. Durasi: 90 hari."*
Sembilan puluh hari di kutub selatan. Tanpa sinyal stabil. Tanpa kafe. Tanpa matahari yang terbit dan terbenam pada jam yang masuk akal. Lara—yang seumur hidupnya tinggal di Bali dengan suhu rata-rata dua puluh delapan derajat, dengan aroma kembang frangipani di pagi hari dan kelapa muda di siang hari—akan dilempar ke tempat yang suhunya bisa menyentuh minus empat puluh.
Layar laptopnya berkedip pelan di atas meja kayu kafe pinggir pantai Sanur. Di luar, ombak siang menabrak tanggul beton dengan ritme yang sudah Lara hafal sejak kecil. Seekor anjing pantai berlari mengejar bayangannya sendiri di pasir. Pemandangan yang seharusnya menenangkan—tapi hari ini, semuanya terasa seperti dunia yang sedang ia lepas.
"Kamu yakin?" tanya Dinda, sahabatnya sejak SMA, sambil mengaduk es kopi di hadapan mereka. Sendok logam berdenting di gelas. "Sembilan puluh hari, La. Sama sembilan orang yang kamu nggak kenal. Di tengah es."
"Yakin nggak yakin, harus yakin." Lara menutup laptop. "Ini tiket karier. Lima tahun ke depan, namaku bakal masuk ke jurnal internasional. Bukan cuma riset terumbu Bali yang udah dua puluh peneliti tulis sebelum aku."
"Bukan itu yang aku tanyain."
Lara tahu. Tentu saja Lara tahu. Tapi Dinda—seperti biasa—tidak akan membiarkan jawaban setengah jadi.
"Ngomong langsung aja, Din."
Dinda meletakkan sendoknya. "Kamu mau lari, La. Sembilan puluh hari di Antartika itu cuma alasan teknis."
Lara menatap sahabatnya. Matahari Sanur memantul di kacamata Dinda, membuat Lara tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas. Tapi suaranya cukup—suara perempuan yang sudah membersamai Lara di malam hari pertunangannya batal, di pagi hari ia mengemasi barang-barang Daffa dari apartemen mereka, di tiga bulan setelahnya ketika Lara belajar mengingat namanya sendiri tanpa nama Daffa di belakangnya.
"Kalau iya, terus kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa. Aku cuma nggak mau kamu balik dari Antartika dan masih bawa beban yang sama, cuma sekarang plus radang dingin."
Lara tertawa kecil—tawa yang lebih dekat ke helaan napas. "Kalau aku tinggal di sini, aku juga bawa beban yang sama. Bedanya, di sana paling nggak nggak ada tempat yang ngingetin aku ke dia."
Dinda mengangguk pelan. Mereka berdua tahu jawabannya.
***
Tiga minggu kemudian, Lara berdiri di pintu kabin pesawat Hercules milik militer Argentina, mendengarkan deru mesin yang terlalu keras untuk percakapan biasa. Bagasi peralatan diikat di bagian belakang dengan jaring-jaring industrial. Bau bahan bakar, logam panas, dan keringat manusia bercampur dengan udara dingin yang menyusup dari celah-celah lambung pesawat.
Sembilan ilmuwan duduk di dua baris bangku besi yang dilas ke dinding kabin. Tidak ada jendela. Tidak ada pramugari. Tidak ada video keselamatan. Hanya helm darurat di atas masing-masing kepala dan map briefing di atas pangkuan.
Lara menyusuri barisan, mencari bangku kosong. Pria di bangku ketiga dari ujung mengangkat sedikit kepalanya—pria dengan rambut cokelat berantakan, jaket kutub yang setengah terlalu besar untuk tubuhnya, dan sebuah buku kecil bersampul kulit di tangannya.
Lara duduk di sebelahnya karena itu satu-satunya tempat yang tersisa.
"Aksel Berg," kata pria itu, suaranya dalam, dengan aksen Norwegia yang tipis. "Geolog. Stasiun Selatan, ekspedisi keempat."
"Lara Pratiwi. Biolog kelautan. Indonesia." Lara mengencangkan tali sabuk pengaman. "Pertama kali."
Aksel mengangguk pendek. Bukan ramah—bukan juga dingin. Sesuatu di antaranya, seperti seseorang yang sudah belajar menyimpan energinya untuk hal-hal yang lebih penting daripada basa-basi.
"Briefing pertama lima belas menit lagi," kata Aksel. "Kalau kau belum baca map—"
"Sudah. Tiga kali."
Sudut bibir Aksel terangkat samar. Bukan senyum, tapi pengakuan. "Bagus. Yang nggak baca akan keracunan karbon monoksida di hari ketiga."
Lara mengerjap. "Itu—itu bercanda?"
"Tidak juga."
Aksel kembali ke bukunya. Lara melirik sampulnya: tulisan Norwegia, judul yang ia tidak mengerti. Di bagian atas halaman ia bisa melihat tulisan tangan—catatan-catatan kecil yang Aksel selipkan di pinggir paragraf.
Tiga jam kemudian, ketika pesawat akhirnya menyentuh landasan es di Pulau Ross, Lara keluar dari kabin dan untuk pertama kalinya merasakan udara kutub menampar wajahnya. Bukan sekadar dingin—ini kering, asam, seperti menarik napas dari dalam freezer industri yang baru dibuka.
Putih. Putih yang tidak ia kenal sebagai warna. Putih yang menelan suara, menelan jarak, menelan ide bahwa ada dunia di luar ini.
Di belakangnya, Aksel berdiri sebentar di tangga pesawat. Tidak buru-buru turun. Hanya menatap horizon dengan ekspresi yang Lara tidak bisa baca—seperti pria yang sedang mengingat sesuatu yang ingin sekali ia lupakan, tapi tahu Antartika tidak pernah membiarkan apa pun benar-benar lupa.
Lara berbalik dan mengangkat tasnya yang tiba-tiba terasa dua kali lebih berat.
Direktur stasiun—pria Argentina tua bernama Romero, dengan jenggot abu-abu dan suara yang seperti pasir kerikil—berdiri di ujung landasan dengan papan klipboard.
"Pratiwi, Indonesia. Kamar 7B, lantai dua. Berg, kau sudah tahu kamarmu."
"Iya, Direktur."
"Briefing umum jam delapan malam. Jangan terlambat. Cuaca minggu ini diperkirakan stabil—itu artinya kalian punya tujuh hari maksimal untuk membiasakan diri sebelum cuaca jelek pertama datang."
Lara menatap kompleks beton merah di ujung landasan. Bangunan berjajar rendah, dengan koridor terhubung yang dilapisi pipa-pipa pemanas. Cerobong asap mengepul tipis di atas atap. Di belakang kompleks, tidak ada apa-apa—hanya hamparan es putih yang membentang sampai garis di mana langit bertemu permukaan, lalu hilang.
Lara menghela napas. Uapnya membeku di udara depan wajahnya.
Sembilan puluh hari.
Ia mengangkat tas, mengikuti barisan ilmuwan lain ke pintu utama, dan tidak menoleh ke belakang—di mana Aksel Berg masih berdiri di tangga pesawat, menatap horizon, seolah ada seseorang di sana yang ia harap akan datang untuk menjemputnya pulang.