Hamil tidak datang dengan mudah.
Dua tahun. Dokter, suplemen, IVF percobaan pertama yang gagal di bulan ketujuh—gugur di rahim setelah satu bulan terdeteksi. Lara hampir putus asa. Kalau Mathias tidak menulis surat itu, kalau permintaan terakhirnya bukan permintaan untuk adik—Lara sudah menyerah enam bulan lalu.
"Aksel," ia bilang suatu malam, di kamar yang sama tempat mereka bertahun-tahun tidak bisa tidur setelah Mathias pergi. Ranjang yang sama. Selimut yang sama. Tapi udara di antaranya yang berubah. "Mungkin Mathias salah. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan punya anak lain."
Aksel memeluknya dari belakang. Tidak menjawab langsung—Aksel selalu memberi diam waktu untuk berbicara sebelum kata-kata.
"Kalau kita tidak punya anak, kita akan tetap sebuah keluarga—kau, saya, kenangan Mathias. Lara, kita tidak harus membuktikan apa-apa pada Mathias. Surat itu bukan ujian. Itu permintaan. Permintaan boleh tidak dipenuhi, kalau memang tidak bisa."
"Tapi aku ingin..."
"Saya tahu, Lara. Saya juga."
"Aksel, aku takut. Aku takut tubuhku bukan tubuh yang bisa hamil lagi. Aku takut—"
"Lara. Diam sebentar. Dengar saya."
Aksel membalik badan Lara supaya Lara menatapnya. Mata biru pucat itu, di cahaya lampu kamar yang lemah, terlihat lebih tenang dari yang Lara siapkan dirinya untuk lihat.
"Kita tunggu setahun lagi. Tidak coba IVF. Tidak suplemen. Tidak dokter. Hanya hidup. Kalau iya—iya. Kalau tidak—tidak. Mathias akan mengerti. Maja juga. Mereka tidak akan kecewa."
"Aksel..."
"Hidup, Lara. Hanya hidup. Kita sudah cukup banyak berusaha. Sekarang kita biarkan."
Lara mengangguk pelan di pelukannya. Untuk pertama kali dalam dua tahun terakhir, ia merasa—boleh berhenti.
***
Tiga bulan kemudian—Lara sudah berhenti memakai aplikasi siklus, sudah berhenti menghitung hari subur, sudah berhenti berharap—dia hamil.
Tes kehamilan rumahan di pagi hari Sabtu. Lara hampir tidak percaya garis kedua yang muncul. Ia menatapnya selama lima menit penuh sebelum keluar dari kamar mandi.
"Aksel."
Aksel di dapur, sedang memasak kopi pagi. "Iya, sayang."
"Aksel, lihat."
Aksel menoleh. Lara mengangkat tes kehamilan.
Aksel meletakkan ketel kopi pelan-pelan, supaya tidak menjatuhkannya. Ia berjalan ke arah Lara, mengambil tes itu dari tangan Lara dengan kedua tangannya, menatapnya selama tiga puluh detik penuh seperti seseorang yang membaca puisi yang tidak bisa ia mengerti.
"Lara."
"Iya."
"Ini..."
"Iya."
Aksel jatuh ke lutut di lantai dapur. Memeluk pinggang Lara. Menangis—bukan tangisan sedih, bukan tangisan terkejut—tangisan syukur yang Lara baru pertama kali lihat di pria itu sejak pernikahan mereka.
***
Mereka tidak memberi tahu siapa pun sampai trimester kedua. Bahkan Karen. Bahkan ibu Lara—walaupun ibu Lara, dengan instinct ibu, sudah curiga ketika Lara menolak kopi favoritnya selama satu bulan.
Saat akhirnya mereka memberi tahu, Karen menangis tanpa henti selama lima belas menit di telepon. Henrik harus mengambil alih telepon supaya bisa kongkalikong soal logistik.
"Maja membantu kalian," akhirnya Karen berkata, di antara isakannya. "Saya tahu. Saya tahu Mathias dan Maja di sana, mengirim anak ini. Saya tahu, Lara. Jangan bilang saya membayangkan."
"Iya, Karen. Aku tidak akan bilang."
***
Lara hamil dengan tenang. Tidak ada komplikasi. Mual pagi yang ringan di trimester pertama, lalu energi yang surprisingly kuat di trimester kedua. Anaknya perempuan—ditunjukkan di USG bulan keenam.
Mereka memberinya nama: **Maya.**
Bukan Maja—Mathias jelas-jelas bilang "jangan kasih nama saya, dia anak baru." Tapi Maya—dengan "y," bukan "j"—adalah nama Indonesia yang berarti "permata" atau "ilusi indah." Cocok dengan permintaan terakhir Mathias, yang bilang nama Maja artinya "permata Romawi."
"Adik kau permata juga, Mathias," bisik Lara di kuburan Mathias di bulan keenam kehamilannya, ketika ia datang sendirian dengan bunga musim panas. "Permata Indonesia."
***
Maya lahir di Haukeland—rumah sakit yang sama tempat Mathias dirawat, kamar yang berbeda, bidan yang berbeda, tapi rumah sakit yang sama. Aksel di samping Lara saat melahirkan, memegang tangannya selama enam jam labor, tidak pernah melepaskan.
Bayi sehat. Mata cokelat seperti Aksel, rambut hitam seperti Lara. Tes genetik di trimester ketiga sudah memastikan—Maya tidak punya gen mitokondria. Maya akan hidup panjang.
Aksel menggendongnya pertama kali, dan untuk pertama kali sejak Mathias pergi tiga tahun lalu, dia tertawa dari hati. Tawa yang dimulai dari dada, naik ke tenggorokan, keluar sebagai suara yang Lara baru pertama kali dengar di pria itu.
"Lara."
"Iya."
"Kita punya anak."
"Iya, Aksel. Kita punya anak."
Lara—yang masih lemah dari operasi cesar, karena Maya posisi sungsang di minggu terakhir—menatap suami dan bayinya, dan satu hal terbersit di kepalanya:
*Mathias, sayang. Kau benar. Rumah ini butuh suara baru.*
***
Tiga bulan kemudian, mereka mengundang teman dan keluarga untuk menyambut Maya. Pesta kecil di rumah putih—lebih kecil dari pernikahan, hanya keluarga inti dan teman dekat. Karen, Henrik, ibu Maja yang sekarang sudah delapan puluhan tapi masih tegar dengan tongkatnya, ibu Lara, Marta yang terbang dari São Paulo lagi karena—dengan kalimatnya—"Lara, semua momen besar di hidupmu, aku akan datang."
Karen membawa lukisan—lukisan Mathias yang terakhir, yang ia lukis di rumah sakit sebulan sebelum meninggal. Lukisan tiga orang dan satu bayi. Lukisan yang Karen simpan selama tiga tahun, tidak menunjukkannya pada Aksel atau Lara karena ia menunggu momen yang tepat.
Mereka tahu sekarang—bayi itu Maya. Mathias tahu. Mathias melukisnya sebelum siapa pun tahu. Mathias tahu adiknya akan lahir, walaupun ia tidak akan ada untuk bertemu.
"Karen..." Lara menutup mulutnya dengan tangan.
"Saya simpan supaya kalian punya bukti. Bukti bahwa Mathias tahu. Sekarang waktunya."
Lukisan itu digantung di kamar Maya, di samping foto Mathias yang sudah berbingkai. Maya kecil di buaian di sebelahnya, tertidur dengan jari kecilnya yang menggenggam selimut.
"Maya akan tahu kau, kakak," bisik Lara setiap malam saat menidurkan Maya. "Mama akan cerita kau setiap hari. Mama akan putar rekaman mama Maja juga. Maya akan punya dua kakak: kakak laki-laki di awan, dan mama yang melahirkanmu yang juga di awan. Tapi mama Lara akan tetap di sini, mengurusmu."
Maya tumbuh sehat. Setiap kontrol bulanan—Dokter Eriksen, yang sudah pensiun secara resmi tapi mau memantau Maya sebagai favor pribadi—mengatakan hal yang sama: "Bayi ini sehat sempurna. Tidak ada gejala. Tidak akan ada gejala."
Aksel, setiap kali kontrol selesai, akan menatap Dokter Eriksen dan berkata pelan: "Terima kasih."
"Tidak perlu, Tn. Berg. Saya senang."
***
Dan rumah putih di Bergen, yang dulu hampir menjadi rumah duka, sekarang menjadi rumah suara—tangis bayi, tawa anak kecil yang akan tumbuh, dan suara dua orang tua yang sudah pernah kehilangan tapi belajar mencintai lagi.
Suara baru. Suara yang Mathias minta.
Suara yang—Lara percaya, dengan keyakinan yang ia tidak bisa jelaskan secara ilmiah—terdengar sampai ke awan, dan membuat dua orang yang sudah lama tidak ada di sana tersenyum bersama.