Malam itu, keheningan menyelimuti sebuah kamar di mansion mewah yang berdiri tegak di tengah kota. Di dalam kamar mandi, seorang gadis sedang menangis sendirian. Ia menatap nanar pantulan dirinya di cermin.
Air matanya luruh melihat penampilannya yang berantakan. Rasa lelah luar biasa menggelayutinya; ia sudah berusaha keras untuk berubah, namun keluarganya justru menghancurkan semangat itu hingga berkeping-keping. Sambil terisak, Szey memegangi perutnya.
"Kenapa... enggak ada yang bisa lihat aku sebagai manusia?" bisiknya lirih pada sunyi.
Setelah tangisnya perlahan mereda, Szey membasuh mukanya dengan air dingin, mencoba membasuh sisa-sisa kesedihan. Ia kemudian memaksakan diri menyelesaikan rutinitas perawatan malamnya sebelum tidur.
Dengan langkah gontai, Szey berjalan menuju ranjang besarnya. Ia mematikan lampu, menenggelamkan kamar bernuansa ungu itu ke dalam kegelapan. Sembari menarik selimut hingga menutupi setengah badannya, ia memejamkan mata, berharap bisa menjemput mimpi indah—pelarian sederhana dari kehidupan nyata yang tak pernah berpihak padanya. Selang beberapa menit, ruangan itu hanya dipenuhi oleh suara dengkur halus Szey yang akhirnya terlelap.
----
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui sela-sela gorden, mengusik tidur sang pemilik kamar yang langsung menggeliat tidak nyaman.
"Eungg..." Szey melenguh lirih. Badannya terasa kaku dan berat, seolah enggan untuk diajak berkompromi pagi ini. Namun, begitu manik matanya menangkap jarum jam dinding yang sudah melewati angka tujuh, matanya langsung membelalak. "Gawat, sudah jam tujuh lewat!"
Tanpa membuang waktu, Szey bergegas menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi. Gemercik air dari shower mulai membasahi seluruh tubuhnya, menyiram sisa-sisa kantuk sekaligus jejak kesedihan yang tertinggal dari semalam.
Selesai bersiap dan mengenakan pakaian rapinya, Szey melangkah menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Dari kejauhan, matanya menangkap suasana ruang makan yang tampak begitu hangat—pemandangan yang mendadak terasa asing dan membeku begitu langkah kakinya mendekat. Seketika, tawa dan obrolan di meja makan lenyap. Semua orang mendadak diam, menatap dingin ke arah Szey seolah dia adalah orang asing yang tak diundang.
Di tengah kecanggungan yang mencekik itu, hanya seorang pelayan wanita paruh baya bernama Bi Wery yang berani bersuara. "Eh, Nona Szey. Sarapan dulu, Nona," celetuknya ramah, mencoba mencairkan suasana.
"E-eh, aku bawa bek—" Kalimat Szey terputus begitu saja oleh suara nyaring decitan kursi yang bergeser serentak.
Tanpa sepatah kata pun, orang-orang di meja makan bangkit berdiri.
Mereka menyudahi sarapan begitu saja dan berjalan pergi, seolah-olah keberadaan Szey di ruangan itu adalah sebuah polusi. Szey terpaku di tempatnya, menatap nanar punggung keluarganya yang berjalan menjauh tanpa ada satu pun yang menawarinya untuk bergabung.
Sebelum benar-benar menghilang di balik pintu, Papanya berbalik dan melemparkan tatapan penuh cela. "Sudah overweight, enggak usah sok bawa makanan. Minum air saja sana," ucap beliau dingin, lalu melenggang pergi begitu saja.
Deg.
Rasanya seolah ada hantaman keras yang menghantam d**a Szey hingga sesak. Lagi-lagi, hatinya diiris sembilu oleh keluarganya sendiri—orang-orang yang mati-matian ia sayangi. Bagaimana mungkin ia bisa mempertahankan semangat untuk berubah dan berdiet, jika setiap usahanya justru dijatuhkan dengan kata-kata sekonkrit dan semenghancurkan itu?
"Emm... ya sudah, Bi. Aku enggak jadi bawa bekal. Nanti aku beli buah saja di luar," bisik Szey terbata, sekuat tenaga menahan getaran di suaranya agar air matanya tidak tumpah di depan pelayan mereka.
Bi Wery yang melihat perubahan drastis pada raut wajah sang nona muda langsung merasa iba. "Beneran, Nona? Enggak apa-apa, ini ayam panggang sehat, khusus untuk menu diet Nona," bujuk Bi Wery lembut.
Karena tak tega melihat Szey yang tampak begitu rapuh, sang pelayan tetap membungkus kotak bekal itu dan menyodorkannya ke tangan Szey. "Sudah, bawa ini saja ya, Nona."Hati Szey yang semula membeku seketika terenyuh. Di rumah semewah ini, justru perhatian dari seorang pembantulah yang menguatkannya.
"Terima kasih banyak ya, Bi Wery. Kalau begitu, aku berangkat dulu."
Setelah berpamitan, Szey melangkah keluar mansion menuju halaman depan, di mana sebuah mobil Mercedes-Benz hitam mengilat sudah menunggunya dengan mesin yang menyala halus.
Szey membuka pintu belakang dan segera masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk. "Maaf, Pak France, membuat Anda menunggu lama," ucapnya merasa tidak enak pada sang sopir pribadi.
"Ah, tidak apa-apa sama sekali, Nona. Memang sudah tugas saya untuk menunggu," jawab Pak France ramah seraya melempar senyum tulus dari kaca spion tengah.
Sedan mewah itu pun mulai bergerak perlahan, membelah jalanan keluar dari kompleks kediaman keluarga Quithers yang megah. Begitu mobil berakselerasi di jalan raya, Szey hanya bisa menatap kosong ke luar jendela.
Kilasan demi kilasan kata-kata tajam sang papa dan tatapan jijik dari keluarganya mendadak berputar hebat di kepalanya bagai kaset rusak.
Tanpa sanggup ia bendung lagi, genangan air mata meluncur deras ke pipinya, jatuh membasahi rok yang ia kenakan.
Begitu menyadari dirinya menangis, Szey bergegas menyeka pipinya dengan kasar. Aku harus kuat, Szey. Tidak boleh cengeng! batinnya menyemangati diri sendiri, meski dadanya masih terasa amat nyeri.
Waktu berlalu, hingga akhirnya mobil mewah itu melambat dan berhenti tepat di depan gerbang megah sebuah universitas ternama di kota mereka.
"Nona, kita sudah sampai," ucap Pak France memecah keheningan.
Szey menarik napas dalam-dalam. Ia segera membuka tasnya, merapikan kembali penampilannya yang sedikit berantakan, dan memperbaiki riasan wajahnya dengan cermat agar tidak ada satu pun orang di kampus yang menyadari bahwa ia baru saja menangis habis-habisan. Setelah memastikan semuanya tampak sempurna, ia memaksakan sebuah senyuman.
"Terima kasih banyak, Pak France," ucapnya manis sebelum membuka pintu mobil dan bersiap menghadapi harinya.
----
Entah mengapa, hari ini Szey benar-benar kehilangan seluruh semangatnya untuk mengikuti perkuliahan.
Sejak kelas dimulai, ia hanya duduk diam di kursinya dengan tatapan kosong yang lurus menatap papan tulis, tanpa benar-benar mencerna materi yang diberikan dosen.
Kotak bekal dari Bi Wery yang tersimpan di dalam tasnya bahkan sama sekali tidak menyentuh minatnya lagi. Rasa lapar Szey seolah menguap, digantikan oleh rasa sesak yang masih mengganjal di d**a.
"Szey!"
Sebuah seruan keras yang tiba-tiba tepat di samping telinganya seketika membuyarkan lamunan kelam gadis itu. Szey tersentak kaget.
"Calsey? Astaga, lo ngagetin gue tahu enggak!" kesal Szey sambil mengelus dadanya, menatap satu-satunya sahabat yang ia miliki di kampus itu.
Calsey terkekeh tanpa dosa, lalu melipat kedua tangannya di atas meja. "Ya lagian lo bengong terus dari tadi. Mikirin apa sih? Ada masalah?"
Szey memaksakan senyum tipis, buru-buru menggelengkan kepala. "Enggak... enggak mikirin apa-apa, kok."
Sebenarnya Calsey tahu betul bahwa sahabatnya itu sedang menyembunyikan sesuatu yang berat. Ada gurat kesedihan mendalam di mata Szey yang tidak bisa dibohongi. Namun, Calsey memilih untuk tidak mendesak jika Szey memang belum siap untuk bercerita.
"Yaudah, yuk ke kantin! Gue lagi pengen banget beli yang segar-segar nih, gerah banget hari ini," ajak Calsey riang, langsung menarik lembut tangan Szey untuk bangkit dari kursi.
Suasana kantin universitas siang itu sangat ramai dan bising. Setelah berputar-putar mencari tempat, mereka akhirnya berhasil mendapatkan satu meja kosong di sudut area luar.
"Lo tunggu di sini aja ya, jagain meja. Biar gue yang antre pesenin minuman buat kita. Lo mau minum apa?" tanya Calsey tanggap.
"Air mineral dingin aja, Cal," jawab Szey pelan.
"Oke, tunggu sebentar ya!" Calsey langsung melesat membelah kerumunan mahasiswa menuju stan minuman.
Kini Szey kembali sendirian. Ia menopang dagunya, memandangi es teh manis milik mahasiswa di meja sebelah, teringat kembali ucapan Papanya yang menyuruhnya cukup minum air saja karena tubuhnya yang tambun. Pikiran negatif itu kembali menjajah otaknya.
Namun, ketenangan singkat itu mendadak terusik ketika tiga bayangan orang berdiri tegap di depan mejanya, menghalangi cahaya matahari. Szey mendongak, dan seketika itu juga darahnya terasa berdesir dingin.
Jenny, Dezy, dan Micca. Geng pembuli yang paling ditakuti sekaligus dibenci di angkatannya kini tengah menatapnya dengan senyum meremehkan.
"Eh, ada si gentong minyak sendirian di sini," sindir Jenny, sang ketua geng, dengan suara yang cukup keras hingga memancing perhatian beberapa mahasiswa di sekitar mereka.
"Ikut kita bentar yuk," potong Dezy ketus. Sebelum Szey sempat menjawab atau menolak, Micca dan Dezy sudah mencengkeram kedua lengan Szey dengan paksa, menarik tubuhnya untuk berdiri dan menyeretnya menjauh dari area kantin yang ramai, bergegas menuju ke arah koridor sepi di dekat gudang belakang kampus. Szey mencoba memberontak, namun cengkeraman mereka terlalu kuat.
Beberapa menit kemudian, Calsey kembali ke meja dengan dua cup minuman di tangannya.
Dahinya mengernyit heran saat mendapati kursi di depannya sudah kosong melompong. Kotak bekal dan tas Szey masih ada di sana, tetapi sang pemilik tidak ada di tempat.
"Szey? Ke kamar mandi kah?" gumam Calsey cemas, mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin dengan perasaan yang mendadak tidak enak.
Sementara itu, di lorong belakang gudang yang sunyi, tubuh Szey didorong kasar hingga punggungnya membentur tembok bata. Szey meringis kesakitan, memegangi lengannya yang memerah.
Jenny melangkah maju, melipat tangan di d**a sambil memandangi Szey dari atas sampai bawah dengan tatapan luar biasa jijik.
"Lo itu ya... bener-bener enggak tahu diri," cibir Jenny pedas. "Mansion lo mewah, bokap lo kaya, tapi penampilan lo? Sumpah, lo itu ngerusak pemandangan kampus tahu enggak dengan badan lo yang segede gajah ini!"
"M-maksud kalian apa? Gue enggak pernah cari masalah sama kalian," cicit Szey, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Rasa trauma di rumah digabung dengan tekanan di kampus membuat pertahanannya runtuh.
Dezy tertawa renyah, melangkah mendekat lalu dengan lancang menusuk-nusuk perut Szey yang tertutup kemeja longgar menggunakan jarinya. "Enggak cari masalah kata lo? Badan lo itu masalahnya! Liat nih, lemak di mana-mana. Lo enggak malu apa jalan bersanding sama kita-kita yang proporsional? Sadar diri dong, badak!"
"Udah mukanya pas-pasan, gendut, cengeng lagi. Idih, jidat lo berminyak banget tuh, mending lo mandi pakai sabun cuci piring sana biar lemaknya luntur!" timpal Micca kejam, disusul gelak tawa puas dari ketiganya.
Tangis Szey akhirnya pecah. Kalimat-kalimat tajam itu menghujam tepat ke dalam luka hatinya yang belum kering sejak tadi pagi.
Di rumah dia dibuang, dan di kampus dia diinjak-injak. Dunia seolah benar-benar tidak menyisakan ruang bagi gadis bertubuh gemuk seperti dirinya untuk sekadar bernapas dengan tenang.
Di bawah tekanan tawa mengejek dari ketiga pembuli itu, Szey hanya bisa merosot berlutut di lantai dingin, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lutut, merutuki nasibnya yang begitu malang.