"Naz!”Kelvin menahan tangan Nazwa membuat Nazwa menghentikan langkahnya.
“Kamu kenapa menghindar terus, Sayang?” tanya Kelvin seraya menatapnya lekat.
“Ada apa, Vin? Aku mau ke kelas!” ujar Nazwa dingin.
“Oke, aku kasih waktu lagi sampe Jumat. Sabtu pagi aku jemput kamu.”
“Ngapain?”
“Jalan-jalan. Kita selesaikan masalah kita biar nggak kayak gini lagi.”
Nazwa menatap Kelvin lekat, lalu mengangguk, kemudian
pergi.
***
Setelah menjemput Nazwa di rumahnya, kali ini mereka berada dalam mobil, menyusuri jalanan ramai, bahkan macet. Sesekali Kelvin melirik Nazwa yang sedang asyik memainkan ponselnya. Sesekali, Nazwa menutup ponselnya, lalu membukanya kembali ketika dia merasa tidak ada hal yang bisa dilakukan selain membuka ponsel.
“Kita ke Pantai Ancol!” seru Kelvin memberi tahu membuat Nazwa sontak terkejut.
“Jam segini? Panas, dong, Vin!” keluh Nazwa.
Kelvin tertawa. “Kita bisa duduk di tempat yang teduh sambil minum kelapa muda, duduk berdua, lalu cerita!”
Nazwa tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Mereka disambut terik matahari, deburan ombak, dan keramaian. Kelvin mencari tangan Nazwa, kemudian menggandengnya. Beruntung, kali ini Nazwa tidak menolaknya.
“Nazwa!” panggil Kelvin ketika mereka sudah duduk di sebuah bangku menikmati kelapa muda.
Nazwa melepaskan kacamatanya, begitu pula Kelvin.
“Tatap aku, ya!” pinta Kelvin.
Nazwa mengerutkan keningnya, tidak mengerti.
“Biar aku bicara duluan.”
Nazwa menggangguk samar seraya menatap Kelvin lekat.
“Soal aku jalan sama cewek lain, dia anaknya temen mamaku. Mamaku yang meminta aku buat temenin dia ke mal. Aku sering kesulitan untuk menolak permintaan Mama, Naz. Aku minta maaf. Aku nggak aneh-aneh, kok sama dia, bahkan aku juga nggak ikutan makan ketika dia makan,” jelas Kelvin.
“Kalian dijodohin?”
Kelvin tertawa. “Nggak, Sayang! Kalau dijodohin juga aku nggak mau. Maunya Nazwa!”
Nazwa tersenyum tipis. “Terus kenapa nggak angkat teleponku?”
“Ketika hujan deras itu aku berada di ruang tamu nemenin anaknya temen mamaku. Handphone-ku di tas dan aku tidak mendengar handphone-ku bunyi. Setelah itu handphone-nya mati, terus aku cas. Ketika mau ke mal, eh ketinggalan.”
“Jadi gitu ceritanya?”
Kelvin menggenggam tangan Nazwa. “Aku minta maaf. Aku nggak mau kamu dingin kayak kemarin lagi. Aku nggak mau kamu menghindari aku terus.”
“Terus cewek yang ngobrol sama kamu siapa?”
Kelvin terdiam sejenak, tampak berpikir. “Oh, dia yang ngasih kamu cokelat waktu itu, Naz!” Kelvin merogoh sesuatu dari dalam tasnya. “Kemarin dia juga ngasih ini buat kamu.”
Nazwa terdiam sejenak, lalu menerima kotak berwarna silver itu. Kali ini Nazwa merasa malu atas segala pikiran-pikiran jahat yang sempat terus berputar dalam benaknya. Kali ini Nazwa merasa mendapat sesuatu yang spesial dari kekasihnya. Kali ini Nazwa merasakan kehangatan lagi.
“Maafin aku, ya,” lirih Kelvin.
Nazwa pun mengangguk seraya tersenyum. Kemudian dia
membuka kotak silver itu. Ada dua batang cokelat dan selembar kertas yang isinya: langgeng terus Kak Nazwa dengan Kak
Kelvin.
“Aamiin!” seru Kelvin.
Nazwa tersenyum sembari menutup kembali kotak itu. Kemudian dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
“Vin, kali ini aku yang pengen ngomong.” Nazwa menatap Kelvin, kemudian menatap ke depan. “Aku seneng Mama sama Papa berubah, tapi aku juga takut semua orang bakal mengira aku gila karena penyakitku,” lirih Nazwa. Dia terpejam meneteskan air matanya, membuat Kelvin khawatir.
“Naz, kamu akan sembuh kalau kamu nggak mikirin yang aneh-aneh kayak gini.” Kelvin menatap Nazwa, lalu mengusap air matanya. “Ada aku yang bakal setia di sisi kamu. Ada Mama, Papa,
Kak Veno, Alina, Helen, dan banyak orang yang sayang sama kamu. Cukup kemarin aja kamu sedih, sekarang jangan ya.“
Air mata Nazwa semakin menetes deras. Mengingat penyakitnya yang cukup serius, bahkan sering dianggap gila oleh orang-orang membuat Nazwa menjadi cemas dan takut. Baru akhir-akhir ini dia seperti itu, setelah mencari tahu lebih dalam mengenai penyakitnya.
“Naz, dengerin aku! Banyak orang yang sayang sama kamu. Percaya sama aku, kalau setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Orang yang sudah mengenal kamu lebih lama, akan memaklumi dan mendukung kamu agar cepat sembuh. Tolong jangan dengerin omongan mereka yang tidak mengenal kamu atau tidak kamu kenal. Aku dan yang sayang sama kamu akan terus berusaha menyemangati kamu. Oke, Sayang?”
Kelvin menarik Nazwa ke dalam pelukannya. Dalam pelukan Kelvin, Nazwa terisak pelan. Gadis itu mengangguk saat Kelvin mengulang pertanyaannya membuat Kelvin tersenyum lega.
“Udah jangan nangis lagi. Nanti jelek.” Kelvin terkekeh pelan membuat Nazwa mendengkus.
Setelah mengusap bekas air matanya, Nazwa menatap Kelvin teduh. “Makasih, Vin.”
“Sama-sama.” Kelvin mengusap puncak kepala Nazwa, mencium keningnya sejenak, lantas keduanya berjalan menyusuri bibir pantai.
Nazwa melepaskan sepatunya, membiarkan telapak kakinya menyentuh pasir yang hangat. Gadis itu berjalan menghampiri air laut, membuat rangkulan Kelvin terlepas.
Nazwa merasa bebannya seperti diangkat oleh angin setelah meluapkan segala isi hatinya yang mengganjal. Nazwa menunduk, memerhatikan air yang mengenai kakinya. Namun, kejadian tak terduga terjadi. Seorang anak kecil menyenggol lengannya, membuat sepatunya jatuh, lalu terseret ombak.
“Kelvin, sepatu aku!” teriaknya sembari terus menatap sepatu kesayangannya terseret ombak semakin menjauh.
Kelvin mendekat. Dia menyodorkan kayu yang berada di sebelahnya pada Nazwa, membuat Nazwa langsung berjalan mundur dengan raut wajah yang tidak mengerti.
“Buat apa?”
“Buat ngambil sepatu kamu.”
“b**o! Mana bisa pake kayu? Sandalnya udah jauh!”
“Kok ngatain aku b**o?” Kelvin membuang kayu ke sembarang arah.
“Ya emang! Ih, bikin emosi! Maksud aku beli yang baru aja!”
tekan Nazwa sebal.
“Ngomong, dong, dari tadi!” balas Kelvin.
“Kayaknya di pantai bikin otak kamu jadi bego.”
“Sialan.”
Nazwa lantas berlari menjauh. Sekuat tenaga gadis itu menghindari Kelvin yang saat ini tengah mengejarnya di belakang.
“Sini kamu, Naz!” teriak Kelvin.
Nazwa meleletkan lidahnya. “Nggak mau!”
Nazwa berteriak saat Kelvin berhasil menangkapnya, memeluknya dari belakang. Kelvin tertawa bahagia melihat sikap Nazwa yang menggemaskan, melihat teriakannya yang seolah tanpa beban. Kelvin harap ini menjadi langkah awal untuk Nazwa kembali bangkit dari keterpurukannya.
***
Nazwa menggigit bibirnya bawahnya, menahan senyum ketika melihat Kelvin sibuk melahap makanannya. Nazwa mencelupkan sedikit tempe mendoan ke dalam kecap pedas, lalu melahapnya.
Kelvin mengelap mulutnya menggunakan tisu setelah selesai memakan satu porsi ikan bakar dan meneguk segelas es jeruk. Kedua tangannya terlipat di atas meja. Membiarkan tempe mendoan begitu saja yang niatnya dimakan setelah makan ikan bakar.
“Aku kenyang, Naz.”
Nazwa meletakkan sendok dan garpunya setelah suapan terakhir. “Kan kamu makan nasi,” ujar Nazwa kemudian meminum es jeruknya.
“Enak nggak tempenya?”
“Enak.”
“Mau lagi?”
Nazwa menggeleng.
“Helen sama Alina lihat Riyan di depan toko sama perempuan,” tutur Kelvin setelah beberapa saat mereka terdiam.
Nazwa mendongak. “Kamu tahu dia siapa?”
“Nggak tahu. Mungkin dia cewek yang nyamperin Riyan di kantin,” jawab Kelvin seadanya.
“Adik kelas?”
“Mungkin.”
Nazwa mendengkus. “Kok mungkin terus? Masa kamu nggak tahu dia siapa?” cerca Nazwa. Muak melihat kelakuan Riyan akhir-akhir ini sampai membuat sahabatnya menangis.
“Iya, nggak tahu, Sayang!” ujar Kelvin lembut, lalu terkekeh pelan. “Ngapain ngomongin Riyan, sih? Mending ngomongin masa depan kita aja.”
“Ngomong aja sendiri,” balas Nazwa cuek.
“Dih, kok gitu?”
“Apa lagi, Vin?”
“Kamu cantik ya jika dilihat dari dekat. Dulu, aku cuma bisa lihat kamu dari jauh aja, bahkan memiliki kamu juga rasanya cuma khayalan. Eh, ternyata jadi kenyataan.”
“Ih, Kelvin gombal!” seru Nazwa sembari melirik Kelvin sekilas.
“Kalau mau menatap aku, tatap aja. Jangan melirik-lirik gitu!”
Kelvin terkekeh.
“Bodo!” tegas Nazwa membuat Kelvin tertawa.
***
Satu hal kecil yang membuat aku bahagia adalah perhatianmu—
sekarang, besok, dan selamanya.