Aliya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih setengah basah, handuk kecil tersampir di bahu nya. Di kasur, ponsel nya menyala berkali-kali, dan Aliya sudah bisa menebak isinya bahkan sebelum ia mengambilnya.
Gua jemput jam 7 ya. Jangan molor.
Dean. Sate taichan. Aliya menghela napas, entah lega entah tidak.
Sebelum membalas, jempol Aliya justru bergerak ke atas, ke satu kontak yang baru masuk ke ponsel nya siang tadi. Calon menantu. Nama yang di simpan oleh mama nya sendiri, lengkap dengan huruf besar di depan, seakan-akan itu adalah gelar dan bukan panggilan.
Aliya membuka room chat nya. Kosong. Belum ada satu pun pesan di sana.
Halo, ini Aliya.
Di hapus.
Selamat sore, maaf mengganggu.
Di hapus juga.
“Ngapain sih gua.” Desis Aliya sembari melempar ponsel nya ke kasur. Ia bahkan tidak tahu nama orang itu, tidak tahu wajahnya, tidak tahu suara nya. Yang ia tahu cuma satu, laki-laki itu datang ke rumah nya siang tadi dan pulang tanpa sempat bertemu dengan orang yang menjadi alasan ia datang.
“Mbak, di panggil mama. Katanya di suruh makan dulu sebelum keluyuran.” Teriak Aletta dari balik pintu.
“Iya, bawel!” Balas Aliya.
*****
Dean datang jam tujuh lewat sepuluh, klakson dua kali, kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak mereka masih SMA. Aliya keluar dengan celana pendek dan kaos oversize, rambut nya di ikat asal, dan langsung masuk ke mobil tanpa basa-basi.
“Lo tuh kalau di ajak makan doang, rapihnya gak niat banget ya.” Ucap Dean.
“Ya sate taichan, De. Bukan gala dinner.” Jawab Aliya.
Mereka sampai di tempat langganan mereka dua puluh menit kemudian, sebuah tenda di pinggir jalan yang sudah mereka datangi entah sejak kapan. Tempat nya tidak berubah sama sekali, sampai posisi kipas angin nya pun masih sama. Dean memesan seperti biasa tanpa bertanya, tiga puluh tusuk, sambal nya di pisah, dua es teh manis, satu tanpa gula.
“Gua kangen sih sama tempat ini.” Ucap Dean sembari menaruh tissue di atas meja plastik yang lengket.
“Lo kangen tempat nya apa kangen gua?” Tanya Aliya asal, dan seketika ia menyesal karena pertanyaan itu keluar terlalu cepat dari yang seharusnya.
Dean menoleh, tersenyum. “Dua-dua nya.”
Aliya berpura-pura sibuk mengaduk es teh nya.
Sate nya datang, dan selama sepuluh menit pertama mereka tidak bicara apa-apa selain mengeluh soal sambal yang kepedasan. Aletta yang tidak ikut pun sempat mengirim pesan berisi foto piring kosong dengan tulisan jangan lupa bungkusin, dan Aliya membalas nya dengan satu emot yang isinya jelas bukan jawaban sopan.
“Adek lo gimana kaki nya?” Tanya Dean.
“Masih pakai penyangga. Tapi mulut nya udah sembuh duluan.” Jawab Aliya.
Dean tertawa. “Gua kangen loh sama Aletta. Dulu tuh dia bocil yang suka gua kasih permen biar diem, sekarang dia yang suka nge-roasting gua.”
“Ya gua juga heran, dia belajar dari mana.”
“Dari lo lah.” Ucap Dean sembari menunjuk Aliya dengan tusuk sate nya. “Kalau di rumah lo tuh sama aja, mulut nya gak ada rem nya. Cuma di kantor doang lo pakai topeng.”
“Sialan.” Setelah itu barulah Dean mulai bercerita, tentang pekerjaan, tentang Farid yang katanya mau ambil cuti panjang, tentang Eyang Uti yang mulai sering menanyakan kapan Aliya main ke rumah lagi.
“Eyang nanyain lo terus loh.” Ucap Dean.
“Bilangin gua sibuk.”
“Gua udah bilang. Terus kata Eyang, sibuk kok gak pernah sibuk pas sama Dean.” Ucap Dean sembari tertawa, dan Aliya cuma bisa mendengus.
Di tengah tawa itu, Aliya sempat berpikir untuk mengatakan nya. Satu kalimat saja. De, gua di jodohin. Kalimat nya bahkan sudah sampai di ujung lidah, sudah siap keluar, tinggal di dorong sedikit. Tapi kemudian Dean menunduk, mengambil tusuk sate terakhir, dan berkata sesuatu yang membuat kalimat itu mundur kembali ke tempat asalnya.
“Al, gua boleh nanya gak? Tapi lo jangan marah.” Ucap Dean.
“Nanya apa?”
“Kalau misalnya, ya misalnya doang nih, ada orang yang minta maaf sama lo setelah dia ninggalin lo di depan orang banyak. Lo bakal maafin gak?”
Aliya menaruh tusuk sate nya perlahan. Ia tahu persis siapa yang di maksud, dan tiba-tiba semua rasa lapar nya hilang begitu saja.
“Tergantung. Maaf nya buat apa. Buat nyelesain, atau buat mulai lagi?” Jawab Aliya.
Dean tidak menjawab. Ia cuma menyeruput es teh nya sampai habis, lalu memanggil penjual nya untuk minta bungkus tambahan buat Aletta.
Dan di situ Aliya sadar, malam itu bukan malam yang tepat untuk bicara soal perjodohan. Bukan karena ia takut, tapi karena ia tahu, kalaupun ia bicara, Dean sedang tidak ada di sana sepenuhnya.
*****
Sepanjang perjalanan pulang mereka mendengarkan lagu tanpa banyak bicara. Di depan pagar rumah, Dean menahan Aliya sebentar sebelum gadis itu turun.
“Al.”
“Apa?”
“Makasih ya.” Ucap Dean.
“Buat apa?”
“Ya buat semuanya. Buat yang malem itu, yang lo teriak-teriak di depan kamar gua. Gua inget kok, walaupun setengah sadar.” Jawab nya.
Aliya menatap sahabatnya itu beberapa detik, lalu menepuk pundak nya sekali, keras. “Jangan sok melow. Turun sana, eh, gua yang turun ding.”
Dean tertawa. Aliya turun, menutup pintu mobil, dan berjalan masuk tanpa menoleh lagi. Ia takut kalau menoleh, ia akan berubah pikiran dan mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan malam itu.
Di kamar, Aletta sudah menunggu dengan bungkusan sate di tangan.
“Lo cerita gak ke mas Dean soal perjodohan lo?” Tanya Aletta dengan mulut penuh.
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Belum penting.” Jawab Aliya singkat.
“Alesan. Lo takut dia kenapa-kenapa kan?” Ucap Aletta, dan Aliya melempar bantal ke arah adik nya itu sebelum sempat menjawab.
*****
Besok nya, Aliya berangkat lebih pagi dari biasanya.
Hari itu jadwal nya padat sekali. Dua meeting berturut-turut sebelum jam sepuluh, satu berkas revisi dari Bu Widya yang harus selesai siang, dan satu telepon panjang dari cabang yang membuat kepala nya berdenyut. Di sela-sela itu semua, tangan nya beberapa kali membuka room chat dengan Dean, mengecek kapan terakhir pria itu online.
Dean tidak muncul.
Jam sebelas, Aliya sempat naik ke lantai Dean dengan alasan mengantar berkas. Ruangan nya kosong, lampunya bahkan belum di nyalakan.
Jam satu, ketika ia turun ke kafetaria, ia sempat berpapasan dengan Farid yang cuma mengangkat bahu ketika di tanya.
“Dean? Gak tau, dari pagi izin keluar katanya. Urusan pribadi.” Jawab Farid.
Urusan pribadi. Dua kata yang di kepala Aliya terasa seperti dua batu.
Aliya kembali ke ruangan nya, mencoba fokus ke layar, dan gagal. Ia tahu betul dirinya sedang tidak berhak merasa apa-apa. Dean bukan siapa-siapa nya, Dean cuma sahabat nya, dan sahabat itu berhak punya hari yang tidak perlu ia laporkan kepada siapa pun. Aliya sudah mengulang kalimat itu di dalam kepalanya berkali-kali, dan tetap saja tidak membantu.
Sore nya, ketika langit di luar jendela mulai berubah oranye, Aliya masih duduk di kursi nya dengan satu berkas yang sama sejak tadi, halaman nya belum berpindah sama sekali. Ponsel nya tergeletak di sebelah keyboard, layar nya gelap, tanpa satu pun notifikasi baru.
Aliya menghela napas, menutup laptop nya, lalu mulai membereskan meja.
Mungkin besok Dean akan datang pagi-pagi ke ruangan nya, membawa Americano, dan bercerita seperti biasa. Mungkin memang tidak ada apa-apa. Mungkin Aliya yang kebanyakan mikir.
Baru saja ia berdiri untuk mengambil tas nya, pintu ruangan terbuka dan seseorang menyembulkan kepala nya dari balik pintu, membawa setumpuk map dan wajah yang sudah keburu memelas sebelum sempat bicara.