Aliya menoleh ke arah papa nya dengan gerakan yang terlalu cepat sampai leher nya sendiri berbunyi.
“Apa pa?” Tanya Aliya.
“Dokter Herman. Papa nya calon suami kamu.” Ulang pria paruh baya itu dengan santai, sesantai orang yang sedang mengabari harga cabai naik.
“Papa serius?”
“Ya masa papa bercanda di rumah sakit.”
Aliya menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah ranjang tempat adik nya berbaring. Aletta yang sejak tadi pura-pura mengaduh kesakitan sekarang justru menyeringai lebar, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru saja di beri es krim dua scoop.
“Anjir mbak, kaki gua retak buat mempertemukan lo sama mertua lo. Gua pahlawan.” Bisik Aletta.
“Gua patahin yang sebelah nya ya.” Balas Aliya, juga berbisik, sembari mencubit lengan adik nya itu sampai Aletta menjerit dan mama nya langsung menoleh dengan tatapan tajam.
*****
Dokter Herman datang dua puluh menit kemudian.
Aliya tidak tahu apa yang ia bayangkan sebelumnya, mungkin seorang dokter yang galak dan kaku seperti di sinetron, tapi yang masuk ke ruangan itu justru seorang pria berumur dengan kacamata tipis dan senyum yang mudah sekali keluar. Beliau menyalami papa nya seperti menyalami teman lama, lalu menyalami mama nya, lalu berhenti tepat di hadapan Aliya.
“Ini yang sulung ya?” Tanya dokter Herman.
“Iya dok, ini Aliya.” Jawab sang papa.
“Masya Allah, mirip mama nya.” Ucap dokter Herman sembari tersenyum, dan Aliya buru-buru menunduk, menyalami tangan beliau dengan tangan yang, entah kenapa, terasa dingin sekali.
Setelah itu semuanya berjalan cepat. Dokter Herman memeriksa kaki Aletta, menjelaskan hasil rontgen dengan bahasa yang bahkan Aliya bisa mengerti, menyebut satu istilah yang Aliya lupa detik itu juga, lalu memutuskan bahwa Aletta tidak perlu operasi, cukup di pasang penyangga dan kontrol rutin.
“Tapi jangan bandel ya. Anak muda suka merasa tulang nya karet.” Ucap dokter Herman kepada Aletta.
“Siap om.” Jawab Aletta dengan cengiran khas nya.
“Om?” Dokter Herman tertawa. “Panggil papa juga boleh, sebentar lagi juga jadi keluarga.”
Aliya yang sedang minum air seketika tersedak. Mama nya menepuk-nepuk punggung nya sambil menahan tawa, sementara papa nya cuma menggeleng-geleng.
Dokter Herman menutup map nya, lalu menoleh ke arah Aliya lagi.
“Nak Aliya kerja di bank ya?” Tanya beliau.
“Iya om.” Jawab Aliya.
“Anak saya juga kerjanya urusan angka terus. Sampai sekarang saya gak ngerti dia ngomongin apa kalau lagi telepon.” Ucap dokter Herman sembari tertawa. “Nanti kalau kalian ketemu, tolong ya, jangan langsung di nilai dari muka nya. Muka nya emang gitu dari kecil, kayak orang lagi marah padahal lagi mikir.”
Aliya tersenyum sopan, sementara di dalam kepalanya ia mencatat satu hal: sampai detik itu, tidak ada satu pun orang di ruangan tersebut yang menyebutkan nama laki-laki yang di maksud.
“Anak nya lagi di luar kota, om?” Tanya Aliya, mencoba se santai mungkin.
“Lagi banyak urusan.” Jawab dokter Herman. “Tapi tenang, dia orang nya kalau udah janji, di tepatin.”
Lalu perawat memanggil beliau dari luar, dan dokter Herman pamit sebelum Aliya sempat bertanya apa pun lagi.
*****
Menjelang malam, ketika Aletta sudah di pindahkan ke kamar rawat dan mama nya sibuk mengatur bantal, Aliya berdiri di koridor rumah sakit bersama papa nya. Bau rumah sakit selalu membuat Aliya pusing, campuran antara obat, lantai yang baru di pel, dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
“Pa.” Ucap Aliya.
“Hm?”
“Anak nya dokter Herman itu, namanya siapa sih?”
Papa nya menoleh, menatap putri sulung nya agak lama, lalu tersenyum tipis. “Nanti juga kamu tau.”
“Ya kan aneh pa, masa mau di jodohin sama orang, nama nya aja gak tau. Nomor nya ada, tapi di kontak ke tulis Calon menantu. Papa gak kasihan apa sama anak papa?” Ucap Aliya.
“Kamu kan bisa chat sendiri. Kenalan sendiri. Papa sama mama gak mau ikut campur terlalu jauh.”
“Lah ini udah campur banget pa.”
Papa nya tertawa, lalu menepuk kepala Aliya seperti waktu ia masih kecil. “Al, papa cuma kenalin. Sisa nya kamu yang jalanin. Kalau kamu gak cocok, ya udah, papa gak akan maksa. Papa cuma pengen kamu ketemu dulu. Sekali aja.”
Aliya diam. Kalau papa nya sudah bicara dengan nada seperti itu, biasanya tidak ada yang bisa Aliya lakukan selain mengangguk.
“Orang nya gimana pa?” Tanya Aliya akhirnya.
“Kata dokter Herman sih, anak nya itu dingin. Susah di ajak ngobrol. Kerja terus.” Jawab papa nya. “Tapi kata beliau juga, sekali dia pegang omongan, gak pernah di tarik lagi.”
Aliya mengangguk pelan. Di kepalanya, gambaran laki-laki itu tetap kosong. Tidak ada wajah, tidak ada suara, tidak ada apa-apa. Cuma satu kontak tanpa nama dan satu keterangan yang sama sekali tidak membantu.
*****
Malam itu Aliya pulang ke rumah lebih dulu, membiarkan mama nya menemani Aletta di rumah sakit. Ia mandi lama sekali, lalu duduk di tepi kasur dengan rambut yang masih basah, menatap layar ponsel nya.
Room chat dengan Dean masih di baris paling atas. Terakhir dilihat: kemarin sore.
Aliya menekan nama itu, membuka nya, membaca ulang percakapan mereka yang terakhir. Isinya cuma soal berkas kantor dan satu stiker kucing yang di kirim Dean tanpa alasan. Tidak ada apa-apa. Tapi Aliya membacanya sampai tiga kali.
Sudah beberapa minggu sejak malam itu, malam di mana Aliya akhirnya mengaku, dengan suara yang setengah bercanda supaya kalau di tolak ia masih punya pintu keluar. Dean tahu. Dean sudah tahu semuanya. Dan sejak hari itu, tidak ada apa-apa yang berubah. Dean tetap membelikan Americano, tetap menjemput, tetap mengacak rambut nya, tetap memanggil nya dengan panggilan yang sama.
Seolah-olah pengakuan itu tidak pernah terjadi.
Atau lebih parah lagi, seolah-olah pengakuan itu memang cuma lelucon yang tidak perlu di tanggapi.
“Ya bagus lah Al, lo emang gak berhak berharap.” Desis Aliya kepada dirinya sendiri sembari melempar ponsel nya ke sisi kasur yang lain.
*****
Besok paginya Dean muncul di ruangan Aliya seperti biasa, membawa dua gelas kopi, satu untuk nya sendiri dan satu untuk Aliya.
“Aletta gimana?” Tanya Dean.
“Gak apa-apa. Cuma retak, gak di operasi. Nanti kontrol aja.” Jawab Aliya.
“Syukur deh. Bilangin gua nanti main ke rumah.”
“Iya.”
Dean duduk di kursi depan meja Aliya, memutar-mutar bolpoin, dan tidak beranjak selama lima belas menit berikutnya walaupun Aliya sudah memberi kode berkali-kali bahwa ia sedang banyak kerjaan. Sampai akhirnya Aliya menyerah, menutup laptop nya, dan menatap sahabatnya itu.
“Lo kenapa sih dari tadi di sini? Ruangan lo kebakaran?”
“Enak aja.” Jawab Dean. “Gua cuma lagi males aja di atas.”
“Lo lagi ada masalah?”
“Nggak.” Jawab Dean, terlalu cepat.
Aliya menatap nya lama, dan Dean balas menatap, dan untuk beberapa detik ruangan itu jadi hening. Di detik-detik seperti itu Aliya selalu berpikir, apakah ada satu bagian kecil di dalam kepala Dean yang sedang memikirkan hal yang sama dengan dirinya. Tapi Dean selalu lebih dulu memutus nya, selalu, dengan cara yang sama.
“Ya udah, gua ke atas. Jangan lupa makan siang, maag lo jangan di ajak berantem.” Ucap Dean sembari berdiri dan mengacak rambut Aliya, lalu keluar.
Aliya menghela napas panjang setelah pintu tertutup.
Empat belas tahun, dan pria itu masih saja bisa membuat pekerjaan satu hari nya berantakan cuma dengan satu usapan di kepala.
*****
Sore nya Aliya keluar lebih awal, menitipkan sisa berkas kepada Nana, lalu turun ke basement. Ia perlu ke rumah sakit sebentar sebelum pulang, mengambil beberapa barang Aletta yang tertinggal, dan mama nya sudah menelepon dua kali menanyakan posisi.
Aliya masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan memasang seatbelt nya. Radio menyala sendiri, memutar lagu yang liriknya kebetulan sekali terlalu pas untuk hari itu, dan Aliya membiarkan nya. Ia keluar dari basement, membelok ke jalan besar, dan langsung di sambut oleh antrian panjang lampu belakang mobil yang menyala merah.