Aliya baru sadar bahwa Dean sudah pergi ketika perawat memanggil nama Aletta untuk yang kedua kalinya.
“Mbak, ini yang tadi nemenin mana ya? Bisa bantuin adik nya turun dari ranjang periksa?” Tanya perawat itu.
Aliya menoleh ke pintu. Kosong. Kursi tempat Dean tadi duduk juga kosong, cuma ada botol air mineral setengah penuh yang tergeletak miring di sana.
“Oh, dia lagi keluar mbak. Sini saya aja.” Jawab Aliya sembari menaruh tas nya di lantai.
Aletta menatap kakak nya dengan alis terangkat. “Mas Dean mana?”
“Ke toilet kali.”
“Dari tadi?”
“Ya mana gua tau, Let. Berat lo, jangan banyak ngomong.” Ucap Aliya sembari menahan tubuh adik nya yang bertumpu di bahunya.
Hujan di luar semakin deras. Suara nya sampai masuk ke dalam ruangan, memukul-mukul atap seng di bagian belakang klinik. Aliya sempat mengecek ponsel nya sekali, dua kali, tiga kali. Tidak ada apa-apa. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan tak terjawab, tidak ada penjelasan.
Empat puluh menit. Itu waktu yang Aliya habiskan untuk menunggu, sembari memapah adik nya ke ruang tunggu, meminjam kursi roda ke bagian depan, mengurus obat, dan berdiri di depan pintu kaca sembari menatap parkiran yang sudah tergenang.
Selama empat puluh menit itu, Aliya sempat menelepon dua kali. Yang pertama masuk tapi tidak di angkat, yang kedua langsung ke kotak suara. Ia sempat berpikir yang tidak-tidak, kecelakaan, mobil mogok, atau hal buruk lain nya, sampai satu hal kecil membuat semua kekhawatiran itu berubah jadi sesuatu yang lain.
Ketika Aliya keluar sebentar untuk mengecek parkiran, ia sempat melihat bahwa tempat mobil Dean tadi berhenti sekarang sudah kosong, dan yang tertinggal di sana cuma bagian aspal berbentuk persegi panjang yang tidak sempat basah karena tadi tertutup mobil.
Artinya Dean pergi bukan barusan.
Artinya Dean sudah pergi sejak lama.
Aliya berdiri di sana beberapa detik, membiarkan ujung sepatu nya basah, sebelum akhirnya kembali masuk dan berpura-pura tidak melihat apa-apa.
Mobil Dean sudah tidak ada di sana.
“Mbak, mas Dean beneran ke toilet apa gimana sih?” Tanya Aletta lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.
Aliya menarik napas panjang. “Ada urusan katanya.”
“Kok gak pamit?”
“Ya udah lah Let, orang punya urusan masing-masing.” Jawab Aliya, dan ia sendiri kaget karena suara nya keluar jauh lebih datar dari yang ia rencanakan.
*****
Mereka pulang naik taksi online yang harus Aliya tunggu dua puluh menit karena hujan, dengan tarif yang naik dua kali lipat, dan dengan supir yang sopan sekali sampai Aliya merasa tidak enak hati membuat kursi belakang nya basah. Aliya memapah Aletta masuk ke rumah, melepas penyangga kaki nya, mengambilkan air, mengambilkan obat, dan baru setelah semuanya selesai ia menyadari bahwa bahu kanan baju nya basah kuyup.
Di kamar, Aliya duduk di lantai bersandar ke sisi kasur, rambut nya masih menempel di leher. Ponsel nya bergetar tepat jam sembilan lewat.
Al, sorry banget. Gua ada urusan mendadak tadi. Aletta gimana? Udah sampai rumah?
Aliya menatap pesan itu lama sekali. Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi, menghapus lagi, sampai akhirnya cuma satu kata yang ia kirim.
Udah.
Tiga titik muncul di layar. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi.
Lalu, sepuluh menit kemudian, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
*****
Dean berdiri di ruang keluarga dengan rambut yang masih setengah basah, membawa dua kotak martabak, satu manis satu asin, persis seperti yang selalu ia bawa setiap kali ia merasa bersalah dan tidak tahu harus berkata apa.
“Buat Aletta.” Ucap Dean sembari menaruh kotak itu di meja.
“Aletta udah tidur.” Jawab Aliya, tetap duduk di sofa, tidak beranjak.
“Ya buat lo juga.”
Aliya tidak menjawab. Ia cuma menyalakan televisi, mengecilkan volume nya, lalu membiarkan layar itu menyala tanpa ada yang menonton. Dean duduk di sofa seberang, menggosok-gosok telapak tangan nya sendiri seperti orang kedinginan.
“Gua minta maaf.” Ucap Dean.
“Iya.”
“Al.”
“Iya, udah gua bilang iya kan?” Jawab Aliya.
“Nah itu, lo gitu berarti lo marah.” Ucap Dean.
Aliya menoleh. “Ya iyalah gua marah De. Adek gua kaki nya retak, hujan deres, dan lo pergi gitu aja tanpa ngomong apa-apa. Gua gak marah karena lo pergi, gua marah karena lo gak bilang. Kalau lo bilang, gua bisa siap-siap. Ini gua nunggu kayak orang bego di depan pintu kaca empat puluh menit.”
Dean menunduk. Tidak membantah, tidak menjelaskan, cuma menunduk.
Dan justru itu yang membuat Aliya semakin yakin.
Ada satu hal yang Aliya tahu tentang laki-laki itu setelah empat belas tahun. Dean adalah orang yang paling tidak bisa berbohong dengan diam. Kalau dia benar-benar cuma ada urusan kantor, dia akan bercerita panjang lebar sampai Aliya bosan mendengarnya. Kalau dia diam, artinya ada nama yang tidak ingin dia sebut.
Aliya menatap sahabatnya itu dari ujung rambut sampai ke sepatu. Kemeja nya bukan yang tadi siang. Rambut nya basah tapi bukan basah karena hujan-hujanan sebentar, dan yang paling jelas, jaket yang selama tiga tahun terakhir tidak pernah mau dia keluarkan dari dashboard mobil, jaket yang Aliya berikan waktu ulang tahun nya yang ke dua puluh tiga, tidak ada di kursi belakang mobil nya tadi.
Aliya melihat sendiri waktu Dean masuk. Kursi itu kosong.
“Lo tadi jemput Lulu ya?” Tanya Aliya.
Kepala Dean langsung terangkat. Matanya melebar sedikit, cuma sedikit, tapi cukup.
“Al-”
“Jawab aja.” Ucap Aliya.
Hening beberapa detik. Suara hujan di luar masih terdengar, sudah tidak sederas tadi, tapi belum juga berhenti.
“Iya.” Jawab Dean pada akhirnya. “Dia kejebak hujan di halte, gak ada taksi. Gua gak enak kalau gua diemin.”
“Terus jaket lo?”
“Gua pinjemin.” Jawab Dean, lebih pelan.
Aliya tertawa. Bukan tawa yang lucu, tawa yang keluar karena tidak tahu harus bereaksi apa lagi.
“Anjir.” Desis Aliya. “Jaket yang sampai tua gak bakal lo pakai itu ya?”
“Al, itu cuma jaket.”
“Iya. Cuma jaket.” Ulang Aliya.
Dean membuka mulut nya, hendak menjelaskan sesuatu, tapi Aliya lebih dulu mengangkat tangan.
“Gua gak marah soal jaket nya kok. Serius. Lo mau kasih jaket itu ke siapa juga terserah lo, itu punya lo.” Ucap Aliya, suaranya sudah kembali tenang, terlalu tenang malah. “Gua cuma... ya udahlah.”
“Ya udahlah apa?”
Aliya menggeleng, menatap layar televisi yang menampilkan iklan mie instan dengan volume yang hampir tidak terdengar.
Di dalam kepalanya, semua nya tersusun terlalu rapih untuk bisa di abaikan. Sushi Tei minggu lalu. Permintaan maaf yang di terima terlalu cepat. Pertanyaan soal memaafkan orang yang meninggalkan kita di depan orang banyak. Dan malam ini, hujan, halte, dan satu jaket yang tidak pernah boleh di sentuh siapa pun.
Aliya sudah tahu jawaban nya sejak awal. Ia cuma butuh mendengar nya keluar dari mulut orang itu sendiri, karena selama belum di dengar, masih ada ruang kecil di dalam dada nya yang bisa ia pakai untuk berpura-pura.
“De.” Ucap Aliya.
“Hm?”
Aliya mematikan televisi, menaruh remot nya di meja, lalu menggeser duduk nya sampai berhadapan langsung dengan sahabatnya itu. Dean mengangkat kepala nya, dan untuk pertama kali malam itu, mereka benar-benar saling menatap.
“Gua mau nanya satu hal. Cuma satu, abis itu gua gak bakal bahas lagi.” Ucap Aliya.
“Nanya apa?”
Aliya menarik napas, dalam-dalam, seperti orang yang mau menyelam dan tidak yakin bisa naik lagi.