Dean tidak menjawab.
Pria itu tetap menatap ke arah jendela, ke deretan warung yang tutup dan lampu jalan yang menyala setengah, seolah-olah di sana ada jawaban yang bisa ia ambil dan ia bacakan. Mesin mobil masih menyala, pendingin ruangan masih berbunyi pelan, dan Aliya masih menunggu.
“Gua nanya, De.” Ucap Aliya lagi.
“Iya, gua denger.” Jawab Dean.
“Terus?”
Dean menarik napas panjang, lalu mengusap wajah nya dengan kedua telapak tangan, kasar, sampai rambut depan nya jadi berantakan.
“Gua gak tau.” Jawab nya.
“Gak tau egois, atau gak tau harus jawab apa?”
“Dua-dua nya.” Ucap Dean.
Aliya tertawa kecil, tawa yang tidak ada senang nya sama sekali. Ia menyandarkan kepala nya ke jok, menatap langit-langit mobil yang sudah ia hafal tiap sudut nya.
“Lo tau gak, De, yang bikin gua capek tuh bukan lo nya. Yang bikin gua capek tuh gua nya sendiri, yang tiap kali lo ngomong kayak gitu, gua langsung mikir macem-macem.” Ucap Aliya. “Lo bilang aneh kalau gua nikah, lo bilang setengah dunia lo keisi sama gua, lo bilang lo gak sanggup liat gua sama cowok lain. Terus gua harus ngapain? Batalin? Terus abis gua batalin, lo mau ngapain?”
Dean terdiam.
“Nah kan.” Ucap Aliya. “Lo gak punya jawabannya.”
“Al, gua-”
“Gua tau lo gak jahat.” Potong Aliya, kali ini suara nya lebih pelan. “Gua kenal lo empat belas tahun. Gua tau lo gak sengaja. Tapi lo tuh selalu gitu, lo selalu nahan gua di tempat, tapi lo gak pernah mau nentuin gua mau di taro di mana.”
Ada sesuatu di wajah Dean yang berubah setelah kalimat itu. Bukan marah, bukan juga tersinggung. Lebih mirip orang yang baru saja di tunjukan foto lama nya sendiri dan tidak suka dengan apa yang ia lihat.
“Gua minta maaf.” Ucap Dean.
“Gua gak minta maaf lo.”
“Terus lo minta apa?”
Aliya menoleh, menatap sahabatnya itu lekat-lekat. Ini bagian yang selalu paling sulit, karena Aliya tahu persis apa yang ia inginkan, dan ia juga tahu persis bahwa mengucapkan nya cuma akan membuat semuanya lebih berantakan dari yang sudah-sudah.
“Gua minta lo diem.” Jawab Aliya akhirnya. “Kalau lo emang gak mau apa-apa sama gua, ya udah, diem aja. Jangan ngomong hal-hal yang bikin gua mikir. Itu doang.”
Dean membuka mulut nya, lalu menutup nya lagi.
Untuk pertama kalinya sejak mereka SMP, Aliya melihat Dean benar-benar kehabisan kata.
“Lo tau gak, De.” Ucap Aliya lagi, kali ini pelan sekali. “Dulu waktu lo mau tunangan, gua sempet mikir mau ngomong. Beneran. Gua udah ngetik, udah gua baca berkali-kali, tinggal kirim doang.”
“Terus?”
“Gua hapus.” Jawab Aliya. “Bukan karena gua takut. Tapi karena gua sadar, kalau gua ngomong malem itu, gua bukan cuma ngerusak hidup gua, gua ngerusak hari orang. Ada nyokap lo yang udah nyiapin tenda, ada Eyang yang udah jahit kebaya, ada papan bunga yang warnanya gua sendiri yang pilih.”
Dean menoleh, dan untuk pertama kali nya malam itu, ia benar-benar menatap Aliya.
“Jadi gua diem.” Sambung Aliya. “Dan sekarang giliran lo yang gak bisa diem pas gua yang mau jalan. Lucu ya.”
Dean tidak menjawab. Tidak ada yang bisa ia jawab.
*****
Sisa perjalanan itu di habiskan tanpa suara. Bahkan tape mobil pun tidak ada yang menyalakan. Dean menyetir dengan kecepatan yang jauh lebih pelan dari biasanya, dan Aliya menghitung tiang listrik di pinggir jalan sampai ia lupa sudah sampai berapa.
Di depan pagar rumah, Dean menghentikan mobil nya. Mesin nya tidak ia matikan.
“Al.” Ucap Dean.
“Apa?”
“Kapan lo ketemu dia lagi?”
Aliya memegang gagang pintu. “Gak tau. Kayaknya minggu ini. Orang tua nya mau ketemu orang tua gua.”
Dean mengangguk pelan. “Kalau dia nyakitin lo, bilang gua.”
“Dia belum ngapa-ngapain, De.”
“Ya makanya, kalau nanti.”
Aliya menoleh, dan untuk sepersekian detik ada dorongan untuk mengatakan sesuatu yang sudah delapan tahun lebih ia simpan, sesuatu yang sebenarnya sudah pernah ia katakan tapi tidak pernah benar-benar di anggap. Tapi kemudian ia teringat wajah orang tua nya di ruang keluarga, teringat papa nya yang bilang papa cuma kenalin, sisanya kamu yang jalanin , dan dorongan itu hilang secepat datang nya.
“Iya. Nanti gua bilang.” Jawab Aliya, lalu turun dan menutup pintu mobil pelan-pelan.
Ia berjalan masuk tanpa menoleh. Baru setelah pintu rumah tertutup, Aliya mendengar suara mobil Dean menjauh.
*****
“Lo abis berantem ya?” Tanya Aletta yang sedang duduk di sofa dengan kaki nya yang di angkat ke atas bantal.
“Nggak.”
“Bohong. Muka lo tuh kayak orang abis di tagih hutang.”
Aliya menjatuhkan tubuh nya di sofa sebelah adik nya, melempar tas ke meja, lalu menutup wajah nya dengan bantal.
“Let.” Ucap Aliya dari balik bantal.
“Hm?”
“Menurut lo, orang bisa gak sih sayang sama seseorang tapi gak mau miliki dia?”
Aletta berpikir sebentar, lalu menjawab dengan mulut penuh keripik. “Bisa. Tapi biasanya itu bukan sayang. Itu namanya males rugi.”
Aliya menurunkan bantal nya, menatap adik nya itu dengan tatapan takjub. “Anjir, dari mana lo dapet kalimat kayak gitu?”
“Twitter.” Jawab Aletta santai.
Aliya tertawa untuk pertama kalinya malam itu, tawa yang pendek tapi cukup untuk membuat dada nya terasa lebih longgar.
“Let.” Ucap Aliya lagi.
“Apa.”
“Kalau nanti gua nikah, lo bakal kangen gak sama gua?”
Aletta menoleh, menatap kakak nya dengan wajah yang di buat sedatar mungkin. “Nggak.”
“Anjir.”
“Ya gua kan bakal nyusul ke rumah lo terus. Buat apa kangen kalau bisa numpang.” Jawab Aletta, dan Aliya melempar bantal untuk kedua kali nya malam itu, kali ini tepat mengenai muka adik nya sampai keripik di tangan gadis itu berhamburan ke sofa.
“SIALAN MBAK, KAKI GUA MASIH SAKIT!”
“Kaki lo, bukan muka lo.” Jawab Aliya, dan untuk beberapa detik, rumah itu berisik seperti biasa, seperti tidak ada apa-apa yang sedang terjadi di dalam kepala salah satu penghuninya.
“Mbak.” Ucap Aletta lagi, kali ini nada nya berubah.
“Apa?”
“Lo beneran mau nerima perjodohan itu?”
Aliya menatap langit-langit ruang keluarga cukup lama sebelum menjawab.
“Gua gak punya alasan buat nolak.”
“Itu bukan jawaban.”
“Ya itu yang gua punya sekarang.” Jawab Aliya.
Aletta tidak bertanya lagi setelah itu. Adik nya itu memang berisik, tukang meledek, dan mulut nya tidak ada rem nya, tapi Aletta selalu tahu kapan harus berhenti bertanya. Mungkin itu satu-satunya hal yang mereka warisi sama-sama dari mama nya.
*****
Di tempat lain, Dean baru saja masuk ke kamar nya dan langsung duduk di tepi kasur tanpa menyalakan lampu.
Kalimat itu masih menempel di kepala nya. Lo selalu nahan gua di tempat, tapi lo gak pernah mau nentuin gua mau di taro di mana.
Dean tidak bisa membantah nya, dan itu yang paling menyebalkan. Selama ini ia selalu merasa dirinya adalah orang yang paling menjaga Aliya, orang yang paling tahu apa yang baik untuk perempuan itu. Ia yang melarang Aliya dekat dengan siapa pun, ia yang mengomel kalau Aliya pulang malam, ia yang hafal jam berapa maag Aliya biasanya kambuh. Dan hari ini ia baru sadar bahwa semua itu tidak pernah ia bayar dengan satu pun kepastian.
Dean mengambil ponsel nya, membuka room chat dengan Aliya, mengetik.
Al, hati-hati ya.
Di hapus.
Al, gua
Di hapus juga.
Pada akhirnya ia cuma mengirim satu stiker kucing, stiker yang sama yang biasa ia kirim kalau tidak tahu harus bilang apa. Aliya membaca nya, tidak membalas.
Dean menaruh ponsel nya di atas d**a, menatap langit-langit kamar, dan untuk pertama kali dalam hidup nya ia merasa cemburu kepada seseorang yang bahkan belum pernah ia lihat wajah nya.
Siapa sih orang ini, batin Dean.
Sialan, kenapa gua jadi pengen tau.