Aliya sedang berdiri di depan kulkas dengan rambut yang belum di sisir dan kaos tidur bergambar beruang ketika Aletta berteriak dari ruang depan.
“MBAAK! Calon laki lo dateng!”
Aliya hampir menjatuhkan botol air di tangan nya.
“Apa?!”
“Calon laki lo. Yang tinggi itu. Yang muka nya kayak orang lagi nahan marah terus.” Ucap Aletta sembari terpincang-pincang masuk ke dapur dengan penyangga kaki nya, wajah nya sudah penuh kepuasan.
“Dia gak bilang apa-apa!”
“Ya makanya seru.” Jawab Aletta.
Aliya berlari ke kamar nya, menaiki tangga dua-dua sampai hampir tersandung, dan menghabiskan tujuh menit berikutnya untuk berganti baju, mencuci muka, dan mengikat rambut nya asal-asalan. Dari jendela kamar, ia bisa melihat mobil hitam itu terparkir rapih di depan pagar, dan tiga orang duduk di teras dengan cangkir masing-masing seolah-olah ini adalah hari minggu paling normal di dunia.
“Ya Allah, bisa-bisa nya.” Desis Aliya.
*****
Gellar berdiri ketika Aliya keluar, sopan sekali, kebiasaan yang membuat papa nya langsung mengangguk-angguk puas.
“Pagi.” Ucap Gellar.
“Pagi mas.” Jawab Aliya, lalu duduk di kursi rotan yang tersisa, sejauh mungkin dari pria itu tanpa terlihat sedang menjauh.
“Al, mas mu ini udah dari jam delapan loh.” Ucap sang mama.
“Sekarang jam sembilan lewat ma.”
“Ya makanya, kamu tuh kalau libur bangunnya siang terus.” Balas mama nya, dan Aliya cuma bisa menggigit bagian dalam pipi nya sendiri.
Mereka mengobrol sekitar setengah jam. Lebih tepat nya, orang tua Aliya yang mengobrol, Gellar yang menjawab, dan Aliya yang duduk sembari sesekali di lempar pertanyaan yang jawabannya sudah di sediakan duluan oleh mama nya. Gellar bicara seperlunya, tapi tidak pernah membiarkan satu pertanyaan pun jatuh tanpa jawaban. Kalau di lihat dari luar, laki-laki itu memang enak sekali di ajak berbicara oleh orang tua.
Sampai akhirnya Gellar meletakkan cangkir nya.
“Om, tante, saya boleh ajak Aliya keluar sebentar?” Tanya nya.
“Boleh, boleh banget.” Jawab mama nya bahkan sebelum papa nya sempat membuka mulut.
“Ma, aku belum-”
“Udah, sana. Ganti baju gih.” Potong mama nya.
Aliya menatap Gellar. Gellar menatap balik, wajah nya datar, tapi ada sesuatu di sudut bibir nya yang bergerak sedikit sekali, terlalu sedikit untuk di sebut senyum, tapi cukup untuk membuat Aliya yakin bahwa laki-laki itu sedang menikmati situasi ini.
“Sialan.” Batin Aliya.
*****
Dua puluh menit pertama di dalam mobil, tidak ada yang bicara.
Gellar menyetir dengan satu tangan, satu nya lagi bertumpu di jendela. Musik nya menyala, tapi pelan sekali, jenis musik instrumental yang biasanya di pakai orang untuk kerja dan bukan untuk jalan-jalan.
“Kita mau ke mana sih mas?” Tanya Aliya akhirnya.
“Nanti juga sampai.”
“Ya kan aku nanya.”
“Nanya nya nanti aja pas udah sampai.” Jawab Gellar.
Aliya melipat tangan nya, memalingkan wajah ke jendela, dan bersumpah dalam hati untuk tidak bicara sepanjang sisa perjalanan. Sumpah itu bertahan sekitar empat menit, karena kemudian mobil berhenti di depan sebuah toko roti kecil di daerah yang Aliya bahkan tidak tahu nama nya.
“Sarapan dulu.” Ucap Gellar sembari mematikan mesin.
“Aku udah sarapan.”
“Bohong. Tadi kamu baru buka kulkas terus di teriakin adik kamu.”
Aliya menoleh cepat. “Kok tau?”
“Rumah kamu itu kedengeran sampai teras.” Jawab Gellar sembari turun dari mobil.
Aliya duduk diam beberapa detik di dalam mobil, wajah nya panas, sebelum akhirnya ikut turun sambil menggerutu.
*****
Ternyata hari itu tidak seburuk yang Aliya bayangkan.
Mereka sarapan di toko roti itu, lalu Gellar membawanya ke sebuah toko buku bekas yang isinya berdebu tapi lengkap sekali. Aliya tidak menyangka laki-laki sekaku itu punya tempat seperti ini di daftar nya. Gellar berjalan di antara rak dengan tenang, sesekali menarik satu buku, membaca dua paragraf, lalu mengembalikan nya.
“Kamu sering ke sini?” Tanya Aliya.
“Kalau lagi gak mau ketemu orang.” Jawab nya.
“Sekarang lagi ketemu orang.”
“Iya. Aneh ya.” Ucap Gellar, dan itu adalah kalimat pertama nya hari itu yang terdengar seperti bercanda.
Siang nya mereka makan di sebuah rumah makan sunda yang tempatnya lesehan. Aliya yang biasanya susah makan justru menghabiskan porsi nya, mungkin karena lapar, mungkin juga karena Gellar diam-diam memesan tambahan tanpa bertanya, sama persis seperti yang di lakukan Dean bertahun-tahun. Bedanya, kalau Dean memesan karena hafal, Gellar memesan karena memperhatikan.
“Kamu maag ya?” Tanya Gellar tiba-tiba.
Aliya berhenti mengunyah. “Kok tau?”
“Kamu makan nya pelan di awal terus buru-buru di akhir. Orang maag biasanya gitu.” Jawab nya sembari menuang air ke gelas Aliya.
Aliya menatap laki-laki itu lama, dan untuk kesekian kalinya hari itu, satu kalimat naik ke ujung lidah nya.
“Mas.”
“Hm?”
“Kita bener-bener belum pernah ketemu sebelum di rumah aku?” Tanya Aliya.
Gellar tidak langsung menjawab. Ia menaruh gelas nya, mengelap tangan dengan tisu, lalu menatap Aliya dengan wajah yang tidak berubah sedikit pun.
“Menurut kamu?”
“Menurut aku udah.”
“Ya udah, berarti udah.” Jawab Gellar santai, lalu memanggil pelayan untuk minta bon.
“Loh, itu bukan jawaban!”
“Itu jawaban. Cuma bukan yang kamu mau.” Ucap nya.
Aliya ingin sekali melempar sesuatu ke arah laki-laki itu, tapi ia masih ingat bahwa mereka sedang berada di tempat umum dan bahwa orang tua nya akan sangat kecewa kalau tahu.
*****
Sore nya mereka mampir ke satu tempat lagi, sebuah pelataran di daerah kota tua yang ramai oleh orang-orang yang menyewakan sepeda warna-warni. Mereka tidak menyewa apa-apa, cuma duduk di anak tangga, memandangi orang lain berfoto.
Dan di sana, tanpa di minta, Gellar tiba-tiba berdiri, berjalan ke gerobak es krim yang lewat, lalu kembali dengan dua cone di tangan.
Aliya menerima nya dengan tatapan yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Kenapa?” Tanya Gellar.
“Nggak.” Jawab Aliya sembari menunduk, menyembunyikan senyum yang sudah keburu keluar duluan.
Mereka duduk di sana sampai matahari mulai turun dan lampu-lampu di sekitar mulai menyala satu per satu. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Ada satu momen di mana rombongan anak-anak lewat sambil bernyanyi, dan Aliya tanpa sadar ikut mengetuk-ngetukkan jari nya di lutut mengikuti irama, dan ketika ia menoleh, Gellar sedang memperhatikan nya dengan tatapan yang buru-buru ia alihkan begitu ketahuan.
“Apa?” Tanya Aliya.
“Gak apa-apa.”
“Mas dari tadi ngeliatin.”
“Kamu juga dari tadi ngeliatin.” Balas nya.
“Ya kan aku ngeliatin karena mas ngeliatin duluan.”
“Gimana kamu tau saya ngeliatin duluan kalau kamu gak lagi ngeliatin?” Tanya Gellar dengan wajah yang sama sekali tidak berubah.
Aliya membuka mulut nya, lalu menutup nya lagi, lalu menyerah.
“Ya udah, aku kalah.” Ucap Aliya, dan Gellar tertawa, benar-benar tertawa kali ini, dan Aliya baru sadar bahwa suara tawa nya sama sekali tidak cocok dengan wajah dingin yang selalu ia pasang. Gellar bercerita sedikit soal pekerjaan nya, soal orang tua nya yang menurut nya terlalu semangat, soal kebiasaan nya bangun jam empat pagi yang menurut Aliya sama sekali tidak masuk akal.
Dan Aliya bercerita, sedikit sekali, tapi bercerita.
*****
Gellar mengantar Aliya pulang menjelang jam delapan malam. Ia turun dari mobil, mengantar sampai ke pagar, menyalami papa dan mama Aliya yang kebetulan sedang duduk di teras, lalu pamit dengan sopan seperti tadi pagi.
“Hati-hati ya nak.” Ucap mama nya.
“Iya tante. Terima kasih.” Jawab Gellar.
Aliya berdiri di teras, menatap mobil itu keluar dari gang, dan baru sadar bahwa sejak tadi ia masih memegang bungkus tisu dari toko roti pagi tadi.
“Gimana? Seru gak?” Tanya mama nya dengan nada yang sudah bisa Aliya tebak arah nya.
“Biasa aja.” Jawab Aliya sembari masuk ke dalam rumah.
Ia naik ke kamar, mandi, sholat, lalu berbaring di kasur dengan ponsel di tangan. Aliya sudah hampir tertidur ketika layar ponsel nya menyala di sebelah bantal, menampilkan satu notifikasi dari nomor yang sampai hari itu masih ia simpan dengan nama Calon menantu.