Sarapan itu selesai dengan Aliya yang kalah telak.
Bukan cuma karena Gellar punya jawaban untuk semua pertanyaan nya, tapi karena mama nya berkali-kali membela laki-laki itu, dan papa nya cuma tertawa sembari menuang teh, dan bahkan Aletta yang seharusnya berada di pihak nya justru duduk di seberang meja sembari mengacungkan jempol ke arah Gellar.
“Mbak, buruan. Kasian di tungguin.” Ucap Aletta ketika Aliya berdiri untuk mengambil tas nya.
“Diem lo.”
“Kaki gua masih sakit loh, jangan galak-galak.”
“Kaki lo udah sembuh dari bulan lalu, Let.” Balas Aliya.
Di kamar, Aliya buru-buru memasukkan satu setel baju ke dalam paper bag. Ia memilih yang warnanya paling aman, tidak terlalu ramai, tidak terlalu formal, jenis baju yang kalau salah tempat masih bisa di selamatkan dengan alasan baru pulang kantor. Sepatu nya ia bungkus terpisah, lalu ia masukkan ke dalam tas besar bersama dompet dan kotak bedak nya.
Malam ini makan malam di rumah Gellar. Dan Aliya tidak berencana datang ke sana dengan kemeja kantor yang sudah di pakai sejak pagi.
“Kamu bawa apa?” Tanya Gellar ketika Aliya kembali ke ruang depan dengan dua tas di tangan.
“Baju.” Jawab Aliya.
“Buat nanti malam?”
“Iya. Emang boleh langsung dari kantor?”
“Boleh. Malah lebih bagus, jadi kamu gak usah bolak-balik.” Ucap Gellar sembari mengambil alih paper bag di tangan Aliya tanpa bertanya, lalu berjalan lebih dulu ke arah mobil.
Di belakang nya, Aliya sempat menoleh ke arah mama nya, dan wanita paruh baya itu langsung memberikan tatapan yang artinya sudah sangat jelas: awas kalau kamu bikin ulah.
*****
Dua puluh menit pertama di dalam mobil, seperti biasa, di habiskan tanpa suara.
Gellar menyetir dengan tenang, tidak pernah mengklakson, tidak pernah menyalip mendadak, dan berhenti dengan jarak yang sama persis di setiap lampu merah. Aliya diam-diam memperhatikan itu sambil berpikir betapa berbeda nya cara orang ini menyetir dengan seseorang yang selama empat belas tahun terakhir jadi supir tidak resmi nya.
“Kamu ngapain ngeliatin setir terus?” Tanya Gellar tanpa menoleh.
“Gak ngeliatin.”
“Dari tadi.”
“Aku ngeliatin jalan.”
“Jalan nya di depan, bukan di kanan.” Ucap Gellar.
Aliya memutar bola matanya, lalu memalingkan wajah ke jendela. “Mas ini kalau ngomong emang harus menang terus ya?”
“Nggak. Cuma kebetulan aja kamu selalu salah.” Jawab Gellar.
“Astaga.”
Gellar tertawa. Pendek sekali, hampir tidak terdengar, tapi Aliya mendengar nya, dan entah kenapa itu membuat sisa perjalanan terasa jauh lebih ringan.
*****
“Nanti malam saya jemput di kantor kamu jam berapa?” Tanya Gellar ketika mereka sudah masuk ke jalan besar menuju kawasan kantor.
“Aku pulang jam lima. Tapi kan aku harus ganti baju dulu.”
“Ya udah, jam enam saya di lobby.”
“Jam enam? Berarti sampai sana jam berapa mas?”
“Tergantung macet.” Jawab nya. “Tenang aja, cuma makan malam.”
Aliya menoleh. “Cuma makan malam gimana? Aku belum pernah makan bareng orang tua mas tanpa ada mama papa aku.”
“Ya berarti sekarang pertama kali nya.” Ucap Gellar.
“Mas, aku serius nih. Aku harus bawa apa? Kue? Buah? Aku gak tau adat rumah mas gimana.”
“Gak usah bawa apa-apa.”
“Gak enak.”
“Kalau kamu bawa, mama saya bakal bilang ngapain repot-repot , terus besok nya beliau bakal cerita ke semua orang kalau kamu bawa oleh-oleh. Kamu mau yang mana?” Tanya Gellar.
Aliya berpikir sebentar. “Ya yang kedua sih enak juga.”
“Nah.” Ucap Gellar. “Bawa aja kalau gitu.”
Aliya tertawa, dan Gellar tersenyum tipis ke arah kaca depan, dan di lampu merah berikutnya tidak ada satu pun dari mereka yang merasa perlu untuk mengisi keheningan.
*****
Masalah nya baru di mulai ketika mobil itu berhenti di depan lobby.
Jam delapan kurang seperempat adalah jam paling ramai di gedung itu. Orang-orang berdiri di depan pintu masuk, di depan mesin absen, di depan lift, dan sebagian lagi berdiri di trotoar sembari merokok sebelum masuk. Semua nya, tanpa terkecuali, menoleh ketika sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pintu dan menurunkan Aliya lengkap dengan tas dan paper bag nya.
“Ya Allah.” Desis Aliya.
“Kenapa?” Tanya Gellar.
“Gak apa-apa. Makasih ya mas.”
“Paper bag nya jangan ketinggalan.”
“Iya, iya.”
Aliya turun secepat yang ia bisa, menutup pintu, dan berjalan masuk dengan langkah yang ia usahakan terlihat biasa saja. Ia bahkan tidak berani menoleh ke belakang untuk melihat apakah mobil itu sudah pergi atau belum.
Dan tentu saja, belum sepuluh langkah, sudah ada yang menghadang.
“Mbak Al.” Ucap Nana yang muncul entah dari mana dengan mata yang sudah berbinar-binar.
“Apa.”
“Itu tadi siapa mbak?”
“Temen.”
“Temen apa temen?”
“Temen.” Ulang Aliya sembari mempercepat langkah nya.
“Mbak, mobil nya-”
“Na, gua telat.” Ucap Aliya, lalu masuk ke lift yang untungnya baru saja terbuka, dan menekan tombol tutup pintu dengan kecepatan yang sebenarnya tidak sopan.
*****
Pagi itu Aliya punya dua rapat berturut-turut, dan itu satu-satunya hal baik yang terjadi pada nya sampai jam sebelas, karena artinya ia punya alasan resmi untuk tidak berbicara dengan siapa pun.
Di rapat pertama, ia duduk di ujung meja dan mencatat semua hal yang tidak perlu di catat.
Di rapat kedua, ia sempat kehilangan konsentrasi selama beberapa menit karena tiba-tiba teringat bahwa nanti malam ia akan duduk di meja makan orang lain, di rumah yang belum pernah ia masuki, bersama orang tua yang belum pernah benar-benar ia ajak bicara berdua.
“Aliya, menurut kamu gimana?” Tanya Bu Widya tiba-tiba.
“Eh.” Aliya menegakkan badan nya. “Menurut saya, kita lihat dulu hasil rekonsiliasi nya bu. Kalau selisih nya masih di bawah ambang, gak perlu di eskalasi.”
Bu Widya mengangguk puas, dan Aliya diam-diam bersyukur karena setidaknya bagian dari otak nya yang di gaji masih bekerja dengan benar.
Keluar dari ruang rapat, Aliya berpapasan dengan tiga orang dari divisi sebelah yang langsung berhenti bicara begitu melihat nya lewat. Aliya berjalan terus, pura-pura sibuk dengan berkas di tangan nya, sampai jarak nya cukup jauh dan suara-suara itu terdengar lagi di belakang punggung nya.
Ia sudah biasa. Dulu, ketika semua orang mengira ia berpacaran dengan Dean, ia juga jadi bahan pembicaraan seperti ini. Bedanya, dulu Aliya diam-diam senang. Sekarang, ia cuma merasa lelah.
*****
Selesai rapat kedua, Aliya kembali ke ruangan nya dan langsung mendapati paper bag berisi baju ganti nya sudah di pindahkan ke atas kursi tamu, tersusun rapih, dengan satu kertas kecil menempel di atas nya.
Mbak Al, aku pindahin, tadi ke injek anak-anak. Btw itu mobil siapa sih mbak???? Nana.
Aliya menghela napas panjang, meremas kertas itu, dan membuang nya ke tempat sampah.
Ia duduk, menyalakan laptop, dan membuka berkas yang harusnya selesai kemarin. Tapi baru dua paragraf, layar ponsel nya menyala di sebelah keyboard.
Jangan lupa makan siang.
Dari Calon menantu.
Aliya menatap layar itu beberapa detik, lalu, untuk pertama kali nya sejak nomor itu masuk ke ponsel nya berbulan-bulan yang lalu, ia menekan nama kontak nya, memilih ubah , dan mengganti tulisan Calon menantu dengan satu kata saja.
Gellar.
Setelah itu ia menaruh ponsel nya menghadap ke bawah, kembali menatap layar laptop, dan berpura-pura bahwa ia tidak baru saja tersenyum sendirian di dalam ruangan kosong.
Jam menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh. Masih ada enam jam lagi sebelum ia harus berdiri di depan cermin toilet kantor dan mengganti baju nya.
Dan enam jam, seperti yang akan segera Aliya sadari, ternyata cukup panjang untuk merusak suasana hati siapa pun.