Arzan masih belum menemukan jalannya. Ia terjebak di lorong waktu yang sangat gelap tak menyisahkan cahaya sedikitpun, lelaki itu sekarang memakai kemeja dan celana putih, tangannya bersimpah darah dan nafasnya tersenggal-senggal, keringat di pelipisnya kentara bercucuran jatuh membasahi wajahnya.
Arzan menoleh saat mendengar suara tangisan yang sangat familiar, ia melihat sekelilingnya mencari namun tak menemukan. Dia bukan lelaki bodoh yang mau dipermainkan situasi ini. Dari arah utara ia menemukan cahaya kecil, arzan berlari secepat kilat namun cahaya itu lebih cepat menghilang, arzan meneriaki cahaya itu. Emosional Arzan terduduk di lantai gelap, lelaki itu menangis. kondisinya parah hampir tak tertolong.
"Hei!"
Seorang lelaki tinggi datang melambaikan tangan didepan wajah harin.
"Ngelamun aja neg, entar kesambet."
Cowok itu terkekeh lalu menjatuhkan bokongnya duduk di hadapan harin.
Tubuh mereka terhalang oleh meja kafee yang jaraknya hanya 5 jengkal.
Harin menghela nafas, lelaki ganteng di depannya tak ia hiraukan, gadis yang mengerai rambutnya itu memilih menatap keluar jendela kaca yang mendinding tempat ini. Sebuah kafee bernuansa garden green penuh dengan bunga-bungan segar berwarna-warni, didepan harin contohnya, vas lonjong bening berisi bunga-bungan dengan daun berwarna sangat hijau. Harin menatap halaman kafee yang terisi beberapa set kursi dan meja yang di susun semenarik mungkin untuk pelangggan yang memilih outdoor. Banyak orang yang berlalu lalang, harin mengamati satu persatu orang yang berjalan kaki.
Karena merasa bosan harin memberanikan diri melirik Galih, lalu "Ga aku bosan." tersenyum kecut, "Pengen ke rumah sakit, tapi masih ada kelas." ungkapnya bersendeng dagu.
Galih tersenyum, sebuah lengkungan bulan sabit yang mampu mencetak bibir menawannya. Hanya harin yang tak tertarik melihat senyum mengagumkan seorang cowok populer seuniversitas itu.
"Kamu bosan?" Tanya Galih seakan mengulang ucapan cewek manis didepannya.
Harin hanya mengangguk polos, bak anak kecil.
Galih menggulung kemeja birunya hingga siku, kemudian menarik tangan harin yang menempel di pipi, Harin hampir saja menjatuhkan pipinya ke meja.
Galih tertawa melihat itu, lalu berucap. "Pamali."
Harin mencibir. "Kaget tau!"
Galih mengangkat bahu tidak peduli, ia tersenyum saat ternyata tangannya menggenggam tangan kiri perempuan yang duduk didepannya ini.
Semoga aja gue bisa megang tangan lo di saat lo mulai lelah dengan semuanya. Gue siap rin demi Tuhan! Gue selalu ada buat lo, meskipun gue gak pernah lo pandang.
Galih menatap mata harin, hatinya bergetar, harin sangat cantik, ia memliki mata indah dengan iris keabau-abuan, galih lantas curiga Harin bukan keturunan Indonesia tapi lebih ke inggris. Sama seperti dirinya yang punya rambut pirang dengan hidung yang mancung dan kulit sangat putih.
"Ga, kamu kenapa natap aku seperti itu?"
Harin bingung kenapa galih sangat suka menatapnya,Harin jadi risih padahal jika wanita lain mungkin orang itu akan jantungan melihat wajah tampan galih yang terpahat rapih mirip seorang dewa yunani.
"Tuh kan aku risih kalo ditatap kayak gini." Cebik harin menarik tanganya.
"Eh!iya deh maaf," galih mengambil kembali tangan harin di remasnya dengan lembut sambil tercengir. "Kamu mirip cewek inggris masa."
"Makasih atas pujiannya." Balas harin tersenyum kikuk.
Jelas saja, siapa yang tidak jatuh cinta dengan kecantikan Harin prianda, harin punya segala kesempurnaan diwajahnya, sebuah pahatan boneka yang lucu-lucu imut, bibir bawah yang tidak terlalu tebal dipoles dengan lipstick berwarna coklat muda, pipinya yang terangkat ketika tersenyum, hidung sedang, gigi putih yang rapih, kulitnya sangat putih dan halus, mata berbinar dengan bulu mata lentik, rambut hitam sebahu meliuk indah ketika tertiup angin. Sempurna! dan sekarang gadis itu mengenakan mini drees hijau yang sangat pas di tubuh rampingnya.
Galih seperti melihat duplikat boneka Barbie dihadapnnya. Dan untuk gadis yang lahir dari rahim mantan seorang model tak bisa menyangkal bahwa seluruh aset yang dimiliki Harin itu tercermin dari perempuan bernama Prianda Dwi Ayuningtias. ibu Harin sendiri.
Harin mengerutkan dahi, sungguh tidak jelas lelaki ini lantas menarik tanganya lagi namun di tahan oleh lelaki itu, "lepasin Ga!" Galih berdecak memajukan kepalanya, "Sebentar aja kenapa sih? gak bakal hilang juga kalo gue pegang. " galih memundurkan kepalanya kembali bersandar di kursi.
"Bukan berarti kamu bisa bebas megang tangan aku Ga," Harin menarik paksa tanganya hingga terlepas. "Aku punya pacar tau!" Tegas harin mengelus pergelangannya.
Galih berdecih. "Takut amat. "
Sindiran barusan membuat Galih terluka. Seandainya dulu ia lebih tanggas, dan tidak menjadi lelaki cupu mungkin Galih bisa memiliki gadis itu setelah insiden dari menyelamatkannya yang hampir tenggelam di kolam sekolah.
Ada raut kecewa yang harin lihat di wajah Galih , tapi ia tidak peduli, semoga saja Galih bisa mengerti bahwa dirinya sangat tidak suka denga pria itu, selama Arzan tidak ada disisinya Galih semakin bebas mendekatinya, harin awalnya tidak suka namun galih seperti menebalkan muka dan mendekati gadis itu kemanapun Harin melangkah. Harin jadi membiasakan diri dan mencoba menganggap Galih adalah seorang teman seperti Jessica dan Gwen.
Galih mengangkat alis saat gadis didepannya terdiam menatapnya dengan tatapan kosong,"Katanya tadi bosan," kemudian menarik pelan tangan perempuan itu, "Sini deh. Aku punya permainan biar kamu enggak bosan."
Harin menurut kali ini, gadis itu membiarkan saja galih memegangnya. "Permainan pegang tangan?" sindir Harin memutar bola matanya dan Galih hanya terkekeh.
"Ih pede banget pengen di pegang." jenaka cowok itu.
Sayangnya dihadiahi dengusan kasar oleh Harin, cewek itu menggeram dalam hati, kalau modus ya modus aja kali, gak usah nyari pembelaan. "Ya udah jangan pegang!" kesal harin ingin menarik tangannya lagi. Tapi cowok itu tidak menyerah dan menahannya sangat kuat.
"Gitu aja ngambek, sekarang dengerin gue," Galih menatap Harin serius.
Harin hanya mendengus pasrah."Oke."
"Permainan ini bisa buat lo sakit hati jadi lo harus kuat, gue sengaja megang tangan lo biar kalo misalnya lo gak tahan, gue bisa bantu lo nahan rasa sakitnya. Sekarang tutup mata lo Rin," perintah Galih yang langsung di turuti harin.
Modus!
Dalam hati harin melapalkan.
Harin menggurat tawa."lo udah mirip psikiater aja tau gak."
Galih hanya membalasnya dengan kekehan, setelah gadis itu menutup matanya, galih kini manarik nafas seolah apa yang akan di ucapkannya butuh energy yang kuat.
"Sebutin nama orang yang di pikiran lo sekarang!"
"Arzan!" jawab harin lantang dengan senyuman.
"Eit!jangan buka mata," sela Galih saat harin hampir saja membuka mata. "Jangan, sampe gue ngasih perintah."
Harin mengangguk. "pertanyaannya jangan aneh-aneh dong, entar aku gak kuat. Trus masuk ke lorong waktu yang gak bisa bawa aku pulang,"
Galih tertawa jenaka, ternyata selain polos harin juga punya sisi yang sangat lucu.
Harin mengernyit dengan mata yang memejam, hidungnya mengerut lucu. "Kok ketawa? Lucu ya?"
Cowok itu terkekh lagi. "Iya lo lucu, kayak boneka, ckck. "
"Udah ih, lanjut. " peritah harin tidak sabar.
Cowok itu semakin meremas pergelangan harin. Mencondongkan kepalanya lebih dekat dengan wajah gadis itu. Harin bisa merasakan nafas berbau mint yang menyeruak menerpa permukaan kulitnya. Membuatnya seketika bergidik "Ihh galih, kamu jangan macam-macam ya!" ancam harin mengerucutkan bibirnya.
Galih sangat gemas melihatnya, "Ok kita lanjutin," senyum kecil terpatri dibibir cowok itu, "Kenapa lo mikirin Arzan?" Tanya Galih membuat harin mengerut alisnya.
"Gak tau," jawabnya enteng.
Galih menjepit kelingking Harin dengan kedua jarinya, entah apa fungsinya, harin seketika berjengit sebuah letupan di kepalanya memberitahu arti sebenarnya, ia benar-benar lupa ternyata mama Galih seorang psikiater "Kasih satu alasan." lanjut cowok itu meminta sembari memijat jari-jari lentik cewek itu.
"Karena dipikiran aku yang muncul Cuma dia. Contohnya, aku mikirin arzan lagi ngapain? Apa dia udah makan? Apakah dia selalu mikirin aku juga? Mikirin...dia gak selingkuh?'
Setelah itu harin memekik karena Galih menyentil dahinya. "Aww! Sakit Ga! Aku buka mata sekarang aja ah!"
Kelihatannya saja mengancam tapi Harin mulai tertarik dengan permainan question-answer ini, memurutnya itu sangat asik karena seluruh pertanyaannya akan menyangkut cowok yang sangat Harin Banggakan. Siapa lagi kalo bukan sang pacar Arzan leonardo.
"Ini nih, yang bikin cewek sedunia gampang di tinggalin sama pacarnya," galih menggeleng, "Model kayak begini, suka neting, gampang terpengaruh sama omongan orang. Gak percaya diri." sambungnya.
Harin memberenggut kesal, ia herman dengan pikiran cowok ini, katanya harin disuruh ngungkapin alasan kenapa mikirin arzan, tau-taunya malah di kasih wejangan, sok benar lagi.
"lah? tadikan suruh mikirin. gimana sih? emang salah kalo aku mikir Arzan selingkuh? Cowokkan semua sama aja, giliaran liat cewek cantik aja langsung melek matanya."
Galih hanya berdecak ria, "ok kalo itu menurut isi kepala lo, sekarang gue Tanya apa lo takut kehilangan Arzan?"
"Pertanyaan macam apa nih?" harin merasakan nyeri kepala karena terlalu lama merem sambil duduk, udah persis orang buta. Tapi pertanyaan galih yang lebih membuatnya sakit kepala.
Tentu saja ia takut,untuk hubungan yang sudah berjalan lebih dari dua tahun siapa yang rela jika berpisah? apalagi Arzan tipe cowok langka yang harus di lestarikan sepanjang hayat harin, mana bisa dia menemukan cowok super perhatian dan protektif macam arzan? meskipun terkadang penuh misteri dan sangat menyebalkan sih! terkadangn juga gombalnya berlebihan Harin mengakui itu.
"Jawab aja cewek bawel," dengus galih, tak sadar mengusap pergelangan harin dengan ibu jarinya. Berulang kali membuat yang punya menjadi sedikit lebih nyaman.
"kalau aku bilang takut kehilangan dia... kedengarannya alay gak? kalau aku bilang gak bisa hidup tanpa dia kedengaran geli banget gak?" harin tersenyum kecut.
Kedengarannya sangat miris itu lebih tepatnya. itu sama sekali tidak alay di telinga cowok yang sekarang memegang tangannya, tapi lebih tepatnya sebuah pengakuan keras bahwa Galih tak mendapat ruang sedikit pun di hati gadis ini, kenyataannya bukan harin yang harus menguatkan hatinya tapi dirinya lah yang pantas dikuatkan dan digenggam tangannya agar tidak lepas.
Galih tersenyum getir, ia seperti lelaki badoh yang tidak tau diri karena mengejar kekasih orang. bodoh memang tapi ia tidak peduli. Kadang kita menjadi egois terhadap cinta, tak perlu tau siapa dan kenapa, asalkan jatuh cinta maka tak ada alasan untuk bertanya.
Karena sesuatu yang jatuh pasti tiba-tiba sama halnya dengan cinta saat orang terjatuh karena cinta, pasti tiba-tiba juga dan orang itu tak tau alasannya apa. Seperti itu Galih jatuh cinta jatuh teramat dalam hingga ia tidak bisa melihat wanita lain, tak ada yang bisa mengalihkan dunianya selain harin. berkali-kali namun sia-sia tak ada perempuan yang menandingi harin dalam hidupnya.
3 tahun yang lalu cukup menjawab kenapa ia bisa mencintai gadis ini, harin yang polos, harin yang tulus , selalu terbuka dengan orang lain, harin yang selalu terlihat baik-baik saja, namun ternyata selalu membutuhkan perhatian. harin yang dengan rela terjun kedalam air demi menyelamatkan nyawanya membawanya keluar dari permukaan dan memberinya nafas hingga akhirnya ia kembali dalam gelap yang menyiksa. seandainya harin tak menyelamatkannya malam itu mungkin galih akan ditemukan dengan tubuh membengkak keesokan harinya. untunglah harin tidak pulang sampai malam setelah menangis seharian di rooftop. saat akan pulang harin tidak sengaja lewat di ruangan eskul renang dan mendengar sesuatu yang jatuh sangat keras kedalam air, dan ia menemukan cowok berseragam sama dengannya terapung di atas air. Dan cowok itu adalah Galih, cowok nerd yang mengakhiri hidupnya karena papa dan mamanya akan bercerai.
"Ga udahan ya, capek, pening kepala harin," rengek gadis itu, sebelah tangannya memegang kepala,"Tiba-tiba kepalaku pusing, mungkin kebanyakan mikirin Arzan. " tuturnya namun matanya masih memejam ia tak akan membuka mata sebelum Galih memintanya.
Galih meremas kuat tangan harin, "Seandainya Arzan ninggalin lo karena suatu sebab apa lo yang bakal lo lakuin?"
Galih masih melanjutkan pertanyannya dan artinya permainan quetion-answer ini masih berlanjut.
Galih lagi-lagi mendekatkan kepala, sedikit lagi hidungnya menyentuh hidung mungil Harin. "Apa yang bakal lo lakuin?" ulanganya.
Harin tersentak hatinya. "Jauh-jauh dikit dong, " suruhnya karena merasakan nafas Galih.
Ia kembali memikirkan jawaban, bagaimna bisa galih bertanya seperti itu, membayangkannya saja tidak pernah, tapi bagaimana jika itu benar-benar terjadi? Harin bertanya pada dirinya sendiri.
"Arzan gak mungkin ninggalin aku Ga, dia udah janji sama aku," jawabnya entah sejak kapan kakinya mulai gemetar.
"Bagaimana kalau misalnya dia mati karena kecelakaan itu?"
"Gimana seandainya dia gak bangun dari komanya?"
Duar!!!
Seperti ada gledek yang barus aja menyambar kaca di samping harin.
Harin membuka mata tiba-tiba dengan mata menyorot tajam, sontak ia menarik tangannya menyentak Galih yang menatapnya terkejut, cowok yang wajahnya berkilau karena terkena pancaran sinar matahari itu, menutup rapata-rapat bibirnya mata yang selalu menatap lembut, membulat ketika menyadari harin menangis tanpa suara. Air matanya merembes kemana-mana, sesakit itukah harin terhadap arzan ? setakut itukah Harin kehilangan cowok itu. Sampai ia menangis hanya karena Galih berandai-andai?
"Kamu keterlaluan Ga, doa kamu lebih kejam dari seorang psikopat!dan sekarang aku ngerti Ga kamu sengaja kan nanya kayak gitu ke aku, karena kamu senang kalau aku benar-benar kehilangan Arzan, supaya kamu punya kesempatan buat deketin aku, tapi sayang banget Ga, itu Cuma bayang-bayang semu yang bersarang di pikiran kamu, aku gak akan pernah gantiin siapa-siapa di hati aku selain Arzan, terima kasih atas permainan paling mem-BOSANkan yang pernah aku mainin!" Harin meraih tas kecil di sebelahnya, kemudian menatap galih dengan sorot tajam "Jangan deketin aku lagi Ga, aku gak mau ketemu kamu lagi."
Setelah mengucapkan kalimat itu dengan puas, harin melenggang pergi meninggalkan Galih yang terduduk diam dengan kedua tangan terkepal kuat. Galih memaki-maki dirinya sendiri sambil meremas rambutnya sampai suara dentingan pintu kafee berbunyi kembali. Dan Seorang gadis memakai bluse dan celana panjang masuk ke kafee mencari-cari, setelah matanya menemukan punggung Galih,gadis itu segera melangkah dan duduk di kursi harin tadi.
"Hei ganteng, lo liat Harin gak?"
Bukannya menjawab cowok di depannya malah berdiri dengan tatapan gusar, wajahnya pias sangat kentara lalu detik berikutnya cowok itu berbalik dan pergi meninggalkan kafee tanpa dosa.
"Astaga ganteng! Gwen di tinggal." Gwen memberenggut kesal, "Emang kebiasaan ya Gwen cantik di tinggalin mulu," omel gadis itu malah memanggil waiters kemudian memesan minuman.
Alih-alih mengejar cowok itu untuk menanyakan Harin, cewek yang mengombre hijau rambutnya itu menekan nomor di ponselnya.
"Sayang kesini dong, Gwen cantik ditinggal sama ayang Galih, Harin juga gak ada nih, sepi hayati."
"Gwen!! gue lagi dikelas dosen killer meraja lela! "
Gwen tidak peduli dengan suara Jesicca yang berbisik, yang jelas cewek itu merasa kesepian dan butuh teman ngobrol.
"Aduh Jessica cantik, walaupun tak secantik Gwen, dengerin gue ya, bilangin ke dosen lo, kalo satu jam lagi lo gak dikeluarin dari kelas, suruh tuh dosen berhadapan sama gue, lagian ini udah jam berapa Jes, katanya mau kerumah sakit jenguk Arzan, "
Gwen mengomel panjang lebar sambari menyedot ice lemon tee nya menyedotnya berlebihan sampai pipi dan sedotannya kempis bersamaan, kepalanya bahkan sengaja di buat berjengit macam ekor kucing sampai tarikan terakhir di ujung sedotannya, Gwen lantas tersedak mendengar suara di seberang telfon.
"Gwen menghadap keruangan saya sekarang!"
"Uuhhuk!"
Gwen terbatuk-batuk, gadis itu sampai memukul dadanya, berharap telinganya salah mendengar suara Pak Herman dosen Killer sejagat raya dan seluas semesta memanggilnya ke ruangan merah!. Demi apa itu suara pak Herman.
OH MY GOD! tamatlah Gwen hari ini. Sementara di sisi lain Jesicca terkikik geli saat baru saja dosen itu mengembalikan ponselnya, dan menatapnya horror.
"Jangan menerima telpon lagi saat saya mengajar kuliah, "
"Iya pak maaf. " ucap Jesicca meminta maaf sembari terkekeh kecil.
"Bagus, dan beritahu teman kamu itu, menemui saya setelah ini. "
"Siap pak!" seru Jesicca dengan senyuman.
Dan dalam hati berucap kidhmat
Mampus lo!
sementara Gwen langsung beranjak dari tempat duduk menuju ke kasir, membayar minumnnya yang tak habis itu terburu-buru, Gwen bukan tipe cewek yang suka menyisahkan makanan apalagi minuman tapi ada yang lebih Gwen takutkan, nilainya bisa terancam dan Gwen benar-benar anti dengan menawar ulang, ogah banget sekelas ama junior!.
Syalan Jesicca!
Sambil berlari kembali ke gedung kampusnya, cewek pecicilan itu kuat-kuat berlari dengan mulut yang tak berhenti memaki temannya.
Siapakah yang pantas disalahkan wahai hayati? Mari kita berdoa saja semoga Gwen selamat dari mimpi buruknya.