Arzan meminggirkan mobilnya ketika ia sampai di depan gerbang rumah Harin. Cowok itu buru-buru mematikan mesin, lalu menarik kunci. Ia keluar dari mobil dan segera berlari mendorong gerbang tampa permisi.
Ia berlari melewati taman yang cukup luas. Dengan begitu ia harus berlari sekitar 2 menit melewati taman yang luas dan jalan setapak untuk sampai ke rumah besar yang terlihat di sana.
Setelah berlari selama dua menit, Akhirnya cowok itu sampai di depan Rumah besar bertingkat 2. Rumah mewah bercat putih abu-abu sudah di depan mata Arzan.
Rumah itu juga memliki patung air mancur yang cukup besar terletak tidak jauh dari rumah mewah itu, dimana wadah dari air mancur adalah kolam ikan yang di buat melingkar. Halaman rumah ini sangat luas. Bahkan bisa dibilang menyerupai lapangan golft. Jika di perkirakan tanah ini bisa muat Tiga rumah besar.
Arzan mengatur nafasnya. Cowok itu berjalan hingga sampai di depan teras rumah yang cukup luas itu. Arzan mengetuk pintu utama dengan helaan nafas yang masih keluar dari bibirnya. Sesekali cowok itu menengok jendela kaca samping, yang tertutupi oleh horden putih.
"Assalamualaikum?" Arzan mengetuk pintu berkali-kali namum tak ada tanda-tanda orang yang akan membuka pintu.
Sampai suara langkah kaki terdengar di belakangnya. Arzan menoleh mendapati seorang Gadis manis bertubuh ramping memakai rok berwarna biru dan atasan kaus kasual berwarna putih. Cewek itu Berjalan kerahnya dengan tatapan datar.
memasang wajahnya santai sambil berjalan mendekati pintu. Ia sudah berdiri di samping Arzan, ia Seolah tak melihat keberadaan Arzan. Arzan cukup tertegun melihat gadis itu mendorong pintu hingga terbuka lebar.
"Gak ada orang disini. Kamu pulang aja, " ucap cewek itu dengan nada judes. Lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Arzan tak peduli dengan omongan cewek itu dan memilih mengikuti langkah cewek cantik itu.
"Harin, aku tadi nyanyi buat kamu sayang," Tak di pedulikan, Arzan langsung menahan lengan cewek itu ketika gadis itu sudah berada di ruang tamu dan saat itu juga gadis bersurai coklat itu melirikkan matanya karena jengkel.
"Apaan si! Lepasin gak?"
"Dengerin aku Rin," Arzan menarik cewek itu keluar dari rumah kembali.
"Aku gak mau denger apa-apa. Kamu pulang aja. Sana tebar pesona sama cewek baru kamu," Arin melepas tangan Arzan. Arzan menggeleng lemah melihat tingkah kekanak-kanakan Gadis itu.
"Sana sama pacar kamu. Kamu gak pernah ngerti perasaan aku kan? Jadi percuma kamu ke sini. Aku selama ini udah nurutin semua kemauan kamu Zan, Semuanya! gak ada yang tersisah. Jadi sekarang apa lagi?" Arin terus mengomel sambil menatap Arzan dengan mata indahnya yang membulat.
Arin melihat cowok itu hanya menatapnya dengan sorotan penuh penyesalan. Cowok itu lalu meraih tangan kirinya.
"Ikut aku. Kita bicara di taman, Di sini gak enak, nanti mama kamu denger." Arzan menarik tangan Arin sampai di tengah taman, Harin kemudian menghempas tangannya hingga terlepas.
Arzan menoleh perlahan menatap telapak tangannya, miris ketika ia tak merasakan kehangatan telapak tangan Arin lagi. Cowok itu beralih menatap mata Arin yang menyiratkan kesedihan. "Harin-, "
"Kamu selama ini gak sayang sama aku kan zan?. Kamu gak pernah cinta sama aku dan Bener kata Jessi aku cuman kekasih bayangan kamu. Buktinya kamu gak mau ngakuin aku kalau aku cewek kamu. Iya kan?"
Arzan yang kini berhadapan dengan gadis itu menatapnya dengan sorotan dingin.
Gadis itu menitihkan air mata lagi.
Dan itu membuat Arzan mengepal kedua tangannya. Entah Mengapa ia begitu benci melihat Arin selalu menangis. Dan meributkan hal-hal kecil. Menurutnya Arin terlalu berlebihan dan melewati batas kesabaran Arzan.
"Kamu salah paham Harin. Aku-aku sayang sama kamu, " ucapnya dengan nada frustasi.
Ia menarik kembali telapak tangan Arin. Dan kali ini secara lembut tak lupa ia menatap mata gadis itu dengan perasaan tulus. "Aku cinta kamu, apa kamu udah lupa apa yang aku bilamg kemarin? "
Arin menggeleng, "Aku gak suka ada cewek yang deketin kamu, " jujur Arin mendekat, memeluk cowok itu. Dan menyenderkan kepadanya di d**a Arzan. "Aku mau mereka tau Kamu milik aku,"
Arin menggesek kepalanya di d**a bidang Arzan. Mencari kenyaman di pelukan cowok itu.
Arzan membalas pelukan Arin, sebelah tangannya mengelus belakang kepala gadis itu. "Ada alasannya Rin, Kenapa aku gak mau orang tau kita pacaran. Aku cuma gak mau masa lalu aku terulang kembali, "
Arin melonggarkan pelukannya. Mendongak menatap wajah Arzan yang begitu tampan saat cowok itu menatap matanya. Arin mencari kejujuran di mata Arzan.
Kemudian Arin merunduk mencium d**a Arzan lembut. sambil menutup mata, membuat cowok itu spechlees karena perlakuan gadis itu secara tiba-tiba. lalu Arin kembali menyandarkan kepalanya. Mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Arzan.
"Masa lalu Apa yang buat kamu nutupin semua ini?" tanya Arin masih dipelukan cowok itu.
Arzan menunduk mencium puncak kepala Arin cukup lama sampai Arzan menutup matanya menikmati setiap aroma dari rambut gadis itu.
"Karena aku terlalu sayang sama kamu. Aku gak mau rasa sayang aku ini, buat aku salah jalan lagi kayak dulu, "
Arin mengangkat kepala beradu tatapan dengan cowok itu "maksud kamu?. Aku gak ngerti, kalau kamu sayang harusnya orang bisa tau aku ini milik kamu. Gimana kalau aku di ambil orang? "
Arzan melepaskan pelukannya, membuat sedikit jarak, cowok itu menatap dalam mata Arin yang begitu hangat jika terus di pandang.
"Kamu gak perlu tau, sayang. Itu masa lalu aku. Aku gak mau kamu tau masa lalu aku yang buruk. Intinya sekarang kita saling mencintai. Itu aja, jadi sekarang kamu masuk. Istirahat dan jangan lupa makan. Aku masih ada urusan di kampus. Nanti sore aku jemput kamu."
Arin mengerutkan Alis saat Arzan tersenyum mendekatkan kepala dan mencium keningnya singkat. "Kamu istirahat, sebentar sore aku datang lagi, " Arzan mengacak poninya.
Arun masih berdiri dengan tatapan bingung, "Kita mau kemana?" tanya Arin menatap Arzan yang terus tersenyum padanya.
"Mau ngajak kamu nonton film Dilan 1990."
"Ya sayang dong, Aku udah nonton kemarin soalnya, " ucap Arin dengan ekspresi yang dibuat-buat sekecewa mungkin.
"Kamu nonton sama siapa?" Arzan melototkan mata. Sedikit terkejut.
Padahal Arzan sudah merencanakan ini dari jau-jauh hari. Yaitu untuk nonton berdua dengan Arin. Tapi ternyata gadis di depannya ini sudah menonton film yang disebut Arin.
"Sama temen aku, " ucap Arin membuat raut muka Arzan berubah masam.
"Siapa Jessi? Gwen? " tanya Arzan menebak.
Arin menggeleng lucu.
"Sama Bima." jawabnya dengan muka polosnya. Arin tersenyum melihat wajah Arzan yang terlihat mengerut.
"Bima? Aku gak pernah denger nama itu. Anak mana?" tanya Arzan dengan nada menyelidiki.
"Gak perlu tau. Kamu balik aja ke kampus, seperti yang kamu bilang aku sekarang mau istirahat, " Arin tersenyum kecil membalikkan badan berjalan meninggalkan cowok itu dengan tawa yang hampir lepas, ia mendengar langkah kaki yang cepat dari belakangnya. Dan ia sudah menebak siapa orangnya.
Harin menghentikan langkahnya tiba-tiba, saat hampir saja ia menubruk d**a bidang cowok di depannya. Ia melihat Arzan sudah berdiri dengan kedua tangan di rentangkan seperti menghalangi dirinya .
"Kenapa?" tanya Arin pura-pura tidak tau.
Cowok itu menurunkan tangannya, "Siapa Bima. Kenapa kamu bisa nonton sama dia?" tanyanya melipat kedua tangan di d**a.
Arin tertawa di depan Arzan, membuat Arzan menautkan Alis melihat gadis itu seperti mengerjai dirinya "Hahaha! Kamu serius amat sih, udah ah! aku mau masuk ke rumah, " ucap Arin berjalan melewati
Arzan. Arzan tak melakukan perlawanan lagi. Membiarkan dirinya berdiri mematung menatap punggung cewek itu.
Setelah cewek itu benar-benar sudah jauh dan masuk ke dalam rumah. Arzan mengehela nafas. Meremas kepalanya dengan gusar
"Bima. Bima? Ah s**t! " umpat Arzan menendang batu yang kebetulan berada di ujung sepatunya. Ia melihat pintu rumah Harin di tutup oleh Bi Diah. Pembantu rumah itu. Pembantu itu tersenyum ke arah Arzan sebelum menutup pintu.
Arzan berbalik dan berjalan keluar gerbang. Di sana dia bertemu dengan seorang laki-laki memakai pakaian satpam
"Eh kamu kok bisa masuk ke rumah Pak Julian? kamu maling ya?" tuduh orang itu tiba-tiba berdiri di depan Arzan.
"Bukan pak. saya Arzan pacarnya Harin. " Arzan menggaruk tengkuk merasa canggung.
Pria bertubuh ringkih itu kemudian terkekeh "Oh, pacarnya non Arin. Maaf saya satpam baru disini jadi gak tau. Ternyata pacarnya non Harin," ucap satpam tertunduk malu.
Arsan tersenyum kecut, "hehehe iya pak,"
Satpam itu langsung meraih tangan Arzan menjabat tangannya. "Kenalin saya Bima, baru diterima hari ini"
Cukup lama Arzan menatap pria itu dengan ekspresi dingin, sampai ia tersadar dan mengembangkan senyumnya pada Bima.
"Oh jadi bapak yang namanya Bima!" Girang Arzan merangkul bahu Pak bima dengan bangga. "Bapak keren banget, salut saya sama bapak. Arzan pamit ya pak, " kemudian dengan senyum jahilnya cowok itu melepas rangkulannya.
Arzan lalu Berdiri dan hormat di depan pak Bima "Jagain cewek saya ya pak, jangan biarin dia keluar sama cowok lain. Apalagi sama bapak," Arzan melempar senyum lalu berbalik dan berlari ke mobilnya.
Setelah cowok itu masuk dan menjalankan mesin. Ia menurunkan kaca mobil memunculkan kepalanya ia melihat Pak Bima yang masih berdiri di depan gerbang. "Saya pergi dulu ya pak, sebentar saya kesini lagi"
Teriak Arzan lalu menutup kembali kaca mobilnya dan seketika mobilnya beranjak pergi dan menghilang di ujung jalan kompleks.
"Pacarnya non Arin teh, Aneh pisan. " pak Bima geleng-geleng tak percaya. Pria itu kemudian memasuki gerbang rumah dan menutupnya rapat-rapat.
***
Arin keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang terlilit di tubuh rampingnya. Rambutnya yang basah sudah terbungkus dengan handuk kecil berwarna putih.
Ia berjalan kearah lemari tepat di samping ranjangnya. Gadis itu bersenandung kecil dan mengeluarkan dress pink soft dari lemari lalu melemparnya ke ranjang.
Gadis itu kemudian menoleh ke arah nakas di sampingnya. Sebuah ponselnya teletak di sana dan bergetar. Harin menghentikan Aktivitas mengambil pakaian dalamnya di lemari.
Gadis itu langsung mengangkat telfon dan dengan cepat berlari membuka horden kamarnya. Ia menengok ke bawah Mendapati seorang cowok memakai jaket bomber duduk di pinggir kolam air mancur. Cowok itu sangat tampan memakai kaca mata hitam dan menggengam ponsel di telinganya.
"Udah siap? " tanya cowok itu di telfon. Membuat Arin menggigit bibir tak tahan melihat pesona cowok di bawah sana.
"Baru juga selesai mandi. Kamu kenapa duduk di sana. Cepat masuk ada Mama di ruang tamu"
Cowok di bawa sana terlihat menurunkan kacamata hitamnya. Mendongak ke arah jendela lantai dua dan mendapati Arin berdiri di depan jendela. Cowok itu meruntuki dirinya karena melihat Arin hanya mengenakan handuk,
Lalu dengan senyum jahilnya cowok itu berdiri memasukkan sebelah tanyanya di dalam saku celana. Masih mendongak menatap gadis itu dengan tatapan menggoda.
"Kamu kenapa lihat aku kayak gitu? Cepetan Masuk, "
Arzan menyeringai, memgedipkan sebelah mata, lalu berbisik di telfon
"You are so sexy with that towel"
"ARZAN!!! "
lalu suara teriakan Arin membuat Arzan terkejut dan refleks melempar ponselnya kebelakang.
Plung~
Sangat miris ketika melihat ponsel itu sudah berenang dengan ikan koi di dlam kolam.
"Ponsel gue a***y!"