Dilan menjatuhkan kamera. Benda itu membentur meja, tetapi gambarnya tetap menyala. Wajah Dilan delapan tahun lalu membeku di layar dengan mata terbuka dan amplop hitam di tangannya.
'Itu bukan aku,' katanya cepat.
Andrea mengambil kamera sebelum jatuh lagi. 'Wajahnya jelas wajah lo.'
'Sosok itu bisa memakai wajah Alfa. Dia juga bisa memakai wajahku.'
'Tapi saat itu hubungan baru dibuat,' kata Kinan. 'Ia belum mampu membentuk tubuh penuh.'
Dilan memandang Alfa, berharap sahabatnya segera menyangkal apa yang terlihat. Alfa justru menunduk.
'Kamu sadar waktu aku membawa mu keluar,' katanya. 'Tapi suara mu berbeda.'
'Kenapa kamu nggak pernah bilang?'
'Kara menyuruhku nggak menanggapi apa pun yang kamu katakan. Dia bilang kalau aku menjawab, makhluk itu akan keluar memakai tubuh mu.'
Dilan mengusap wajahnya kasar. Potongan ingatan lain muncul. Rasa sakit di tenggorokan. Suara banyak orang berbicara dari dalam mulutnya. Gelang Alfa menekan telapak tangannya. Kemudian seorang perempuan berambut pendek memegang wajahnya dan memintanya memilih satu suara yang benar-benar miliknya.
Ingatan itu tidak datang seperti film yang utuh. Potongannya saling bertabrakan. Dilan melihat tangga perpustakaan diterangi tiga lilin. Alfa berdiri di depan pintu besi dengan tangan pada gagang. Perempuan berambut pendek yang disebut Kara menggambar lingkaran menggunakan kapur, lalu melarang mereka menjawab suara dari bawah.
Namun Dilan mendengar seseorang menangis. Suara itu miliknya sendiri, lebih muda dan penuh ketakutan.
Tolong buka. Aku terjebak.
Dilan dalam ingatan mendekati pintu meski Kara menahannya. Ia bertanya siapa yang berada di bawah. Suara itu menjawab dengan nama lengkap Dilan dan menyebut hal yang hanya ia sendiri ketahui: malam ketika ia memutuskan tinggal sendirian agar tidak menjadi beban bagi siapa pun.
'Aku menjawab karena dia tahu ingatanku,' gumam Dilan.
'Kamu pikir ada versi dirimu yang terkunci di sana,' kata Alfa. 'Aku mencoba menarikmu, tapi pintunya keburu terbuka.'
Dilan kembali melihat kilasan lain. Benang hitam keluar dari celah pintu dan melilit gelang Alfa. Kara menangkap benang menggunakan telapak tangannya hingga kulitnya robek. Ia berteriak kepada Dilan agar menolak hubungan, tetapi dari mulut Dilan keluar jawaban yang bukan kehendaknya.
Aku mau tetap terhubung.
Dilan memegangi tenggorokan. 'Itu jawabannya?'
'Aku nggak tahu apakah itu suara mu atau suara makhluk itu,' jawab Alfa. 'Setelah mengatakannya, kamu pingsan.'
Andrea menatap mereka bergantian. 'Kalau makhluk itu bisa menjawab memakai mulut Dilan, berarti hubungan pertamanya juga belum tentu sah.'
Kinan mengangguk pelan. 'Itu salah satu alasan hubungan dapat dibatalkan. Suara harus menolak jawaban yang pernah diberikan. Tapi penolakannya harus datang dari Dilan sendiri, bukan dipaksakan orang lain.'
'Kenapa nggak dilakukan sejak delapan tahun lalu?'
'Dilan tidak mengingat pertanyaannya. Penolakan tanpa mengetahui apa yang ditolak hanya menjadi suara kosong.'
Dilan merasakan secercah harapan. Bila ingatannya dapat kembali, mungkin ia mampu menutup salah satu jalan. Namun ia juga menyadari setiap potongan ingatan membuat benang dalam dinding bergerak semakin aktif, seolah gedung ikut menunggu dirinya mengingat seluruh kejadian.
Ia memilih tidak memaksakan potongan berikutnya. Mengingat dengan terburu-buru dapat menjadi bentuk lain dari menjawab panggilan gedung tanpa memahami akibatnya.
'Kara mati di bawah sana?' tanyanya.
Kinan menggeleng. 'Tidak pada hari itu. Dia kehilangan namanya saat menutup hubungan, kemudian memakai nama Kiyan agar makhluk di dalam gedung tidak dapat menemukannya.'
'Berarti Kiyan yang bersama kita adalah Kara?'
'Harusnya.'
'Harusnya?' Andrea menaikkan suara.
Kinan memegangi lukanya lebih kuat. 'Aku tidak tahu siapa yang kembali malam ini. Kara memiliki bekas luka di telapak tangan karena memegang benang untuk menyelamatkan Dilan. Kiyan yang barusan kalian lihat tidak memiliki luka apa pun.'
Petunjuk pada halaman kembali terbukti. Orang yang kembali tanpa luka.
'Lalu kamu siapa?' tanya Dilan.
'Namaku Mira. Aku membantu Kara sesudah kejadian itu. Kami memakai nama dua murid yang mati karena nama asli membuat gedung mudah memanggil kami.'
Nama di balik foto. Laras dan Mira. Dilan ingat ada enam nama di sana, termasuk Gilang serta Alfa.
'Kenapa namamu ada di foto lama?'
'Foto itu berubah setiap kali hubungan menemukan orang baru. Bukan semua orang di sana benar-benar hadir dua puluh empat tahun lalu.'
Andrea tampak semakin kesal. 'Jadi bukti apa pun bisa berubah sesuka gedung ini?'
'Benda di dalam sekolah dapat diubah. Ingatan pribadi lebih sulit, itu sebabnya Dilan bisa membedakan dua Alfa tadi.'
Dilan mengambil napas panjang. Ia tidak tahu apakah harus mempercayai Kinan yang mengaku bernama Mira. Setidaknya, perempuan itu memiliki luka dan beberapa perkataannya sesuai petunjuk. Namun kecocokan bukan bukti mutlak.
Alfa memutar rekaman lanjutannya. Setelah membawa Dilan pergi, ia kembali seorang diri ke pintu perpustakaan. Ia mengetuk tiga kali, lalu menunggu. Pintu terbuka tanpa disentuh dan Kara keluar dengan telapak tangan berlumuran darah. Ia menyerahkan gelang cokelat kepada Alfa.
Dilan menatap pergelangan tangan sahabatnya. 'Gelang itu dari Kara?'
'Aku membelinya di pasar malam,' jawab Alfa bingung.
'Kamu yakin?'
Alfa membuka mulut, lalu terdiam. Ingatan pasar malam yang juga dimiliki Dilan terasa jelas, tetapi rekaman menunjukkan hal berbeda. Dilan sendiri pernah mengikat gelang itu. Mana yang asli?
Kinan mendekati layar. 'Benda dapat diberi ingatan palsu kepada pemiliknya. Lepaskan gelang itu sekarang.'
Alfa berusaha membuka simpul, tetapi tali semakin mengerat. Kulit di pergelangannya berubah hitam. Dilan membantu menarik, sedangkan Andrea memakai sisi tumpul pisau agar tidak memutus tali. Gelang itu menancap semakin dalam seperti akar.
'Jangan dipotong!' peringat Kinan. 'Itu salah satu benang hubungan.'
Alfa menahan sakit. 'Terus bagaimana melepasnya?'
'Kembalikan kepada orang yang memberikannya.'
'Kara? Tapi kita nggak tahu dia masih hidup atau tidak.'
Dari kamera terdengar suara berdesis. Rekaman yang semula tanpa suara tiba-tiba memutar percakapan.
'Kalau delapan tahun lagi undangan datang,' suara Kara berkata, 'jangan biarkan Dilan menjawab telepon pertama.'
Alfa di dalam rekaman bertanya, 'Kenapa?'
'Karena suara yang menelepon bukan milikmu.'
Dilan teringat malam sebelum reuni. Ia menelepon Alfa setelah menemukan undangan. Namun sebelum nada sambung terdengar, ada suara yang berbisik sangat pelan dan Dilan mengira itu gangguan jaringan.
Selamat datang kembali.
Hape di saku Dilan bergetar. Tidak ada jaringan sejak mereka terjebak, tetapi sebuah panggilan masuk muncul di layar.
Nama peneleponnya Dilan.
'Jangan dijawab,' kata Alfa.
Hape Alfa ikut berdering. Nama Dilan juga muncul di layarnya. Kemudian hape Andrea dan Alex yang jauh di laboratorium menyusul, mengeluarkan nada panggilan bersamaan.
Di kamera lama, Kara menatap ke arah lensa dan menyelesaikan peringatannya.
'Kalau Dilan menjawab untuk kedua kali, nama ketiga akan kembali dan pintu tidak bisa ditutup lagi.' (*)