Enam orang yang sudah mati berdiri di belakang Galang Pradana. Dilan tahu gambar itu dapat dipalsukan, tetapi melihat wajah teman-temannya tetap membuat dadanya sesak. Irene memegangi leher, sementara tubuh Petra dipenuhi luka yang tidak lagi mengeluarkan darah.
'Jangan panggil nama mereka,' Laras memperingatkan.
Aini menutup mulutnya sendiri agar tidak menjawab suara Rian. Alex memalingkan wajah. Arga tetap mengawasi layar, barangkali berharap mengenali ruang tempat mereka berada.
Galang mengangkat undangan kosong. 'Aku menerima undangan ini dua puluh empat tahun lalu. Tidak ada yang datang menjemput ku.'
'Dia bukan manusia hidup,' kata Mira. 'Galang bahkan nggak ada dalam data keluarga kami.'
Sosok di layar tersenyum. 'Data membuat manusia ada. Kalian memberi nama, foto, dan pekerjaan. Apa lagi yang dibutuhkan?'
Dilan mengerti sedikit. Galang adalah identitas buatan yang tumbuh dari arsip sekolah. Raka memakai nama Alfani pada kartu Galang, lalu sekolah memakai nama Galang untuk membangun penerima yang tidak dapat pergi.
'Kalau dia penerima ketiga, apa yang dia lakukan pada hubungan kedua?' tanya Dilan.
'Dia menerima setiap panggilan yang ditolak orang lain,' jawab Laras. 'Karena itu jumlah pintu tidak pernah benar-benar habis.'
Hitungan pada mesin menunjukkan tiga puluh tujuh. Setiap kali seorang penerima di luar menolak, satu garis merah pindah ke undangan Galang. Bila terlalu banyak terkumpul, sosok itu mungkin memperoleh cukup hubungan untuk keluar dari sekolah.
'Kita nggak bisa cuma menyuruh orang menolak,' kata Alfa. 'Penolakannya harus berhenti di tempat lain.'
Mira memeriksa pipa. Semua sambungan menuju undangan kosong melewati akun alumni yang dibajak. Setelah Alfa mengeluarkan perangkat Raka, satu jalur sudah tertutup. Namun foto undangan milik Aini masih berada pada grup dan terus dibagikan.
Aini memegang hapenya. 'Aku bisa menghapus pesan.'
'Menghapus paksa mungkin sama seperti mematikan mesin,' kata Laras.
'Kalau begitu aku kirim penolakan baru. Aku bilang foto itu dikirim tanpa tahu bahayanya dan aku nggak meminta siapa pun datang.'
Dilan menyetujui, selama kata-katanya benar-benar dipilih Aini. Mereka menghubungkan hape ke perangkat modern tanpa membuka panggilan masuk. Aini mengetik perlahan: Jangan datang. Jangan teruskan foto. Aku menarik ajakan ku dan memilih menghentikan pesan ini.
Sebelum mengirim, tangannya gemetar. Rian di layar memandangnya dan membuka mulut.
'Aini, kalau kamu kirim itu, aku mati sendirian.'
Aini menangis. Dilan tidak mengambil hape atau menekan tombol untuknya.
'Itu bukan Rian,' katanya. 'Tapi keputusan tetap milikmu.'
Aini menatap wajah Rian lama sekali. 'Rian yang asli nggak akan meminta orang lain mati supaya dia nggak sendirian.'
Ia menekan kirim.
Foto undangan pada grup berubah buram. Penerima di luar mendapatkan pesan asli sebelum Raka mampu mengubahnya. Satu per satu layar panggilan padam. Hitungan turun dari tiga puluh tujuh menjadi dua puluh, lalu sebelas.
Undangan Galang terbakar pada bagian tepi. Sosok di layar menjerit, dan enam mayat di belakangnya menghilang. Dilan merasakan lega karena teman-temannya tidak lagi dipakai sebagai alat menekan Aini.
Namun sebelas panggilan sudah dijawab. Penerimanya terlihat berjalan meninggalkan rumah masing-masing dengan mata kosong. Sebagian menuju kendaraan, sebagian berjalan kaki mengarah ke sekolah.
'Bisakah polisi menghentikan mereka?' tanya Alex.
Petugas di luar sudah memahami pesan Morse, tetapi mereka tidak dapat melihat atau mendengar kelompok di dalam. Dilan menggunakan papan ketik untuk mengirim daftar sebelas alamat. Raka kembali mencoba mengubah pesannya, namun akses akun Alfa sudah terputus. Kali ini informasi berhasil diteruskan.
Mereka memperhatikan proses penyelamatan melalui layar tanpa mampu membantu langsung. Pada rumah pertama, seorang ibu mengunci pintu dan mengambil kunci kendaraan dari anaknya yang masih memegang telepon. Di tempat lain, dua petugas menghentikan lelaki yang berjalan tanpa alas kaki di tengah jalan. Panggilan terputus setelah telepon dimasukkan ke dalam kotak kedap suara, bukan dihancurkan.
'Catat caranya,' kata Mira. 'Memisahkan suara tanpa merusak alat mungkin penting nanti.'
Aini menulis langkah sederhana dan mengirimkannya kepada polisi: jangan panggil nama penerima, jangan menjawab suara dari telepon, jauhkan perangkat dalam keadaan tetap menyala, dan tunggu sampai korban memilih memutus sambungan sendiri. Pesan tersebut berasal dari pengalaman mereka, bukan kepastian. Dilan menambahkan peringatan agar petugas mengutamakan keselamatan fisik bila korban berada di jalan.
Satu layar memperlihatkan penerima menyerang keluarganya ketika telepon hendak diambil. Polisi tidak memukulnya. Mereka memutar suara bising tanpa kata sampai panggilan tidak lagi terdengar, lalu berbicara melalui tulisan. Perlahan lelaki itu berhenti berjalan dan membaca pesan pada papan.
Siapa yang kamu dengar?
Ia menulis nama anaknya yang sudah meninggal. Petugas menunjukkan foto anak tersebut dari ponsel keluarga, lalu meminta lelaki itu membandingkan kenangan yang hanya mereka miliki. Suara di telepon salah menyebut tempat pemakaman. Lelaki itu akhirnya menekan tombol akhir sendiri.
Hitungan turun satu angka.
Dilan merasakan harapan sekaligus kesedihan. Makhluk sekolah memakai kehilangan orang lain seperti memakai pakaian. Namun ingatan yang nyata masih dapat menjadi pembeda selama korban tidak dipaksa mengambil keputusan.
Pada layar lain, petugas toko percetakan terus berkendara. Panggilannya tidak melewati akun Alfa dan tidak terpengaruh pesan Aini. Andrea mengenali jalan yang dilaluinya menuju pintu belakang sekolah.
'Dia penerima yang terhubung langsung ke Galang,' kata Laras. 'Kalau sampai masuk, undangan kosong akan memperoleh tubuh hidup.'
Arga menyarankan polisi menutup jalan, tetapi kamera memperlihatkan kendaraan tersebut menghilang setiap melewati persimpangan dan muncul lebih dekat ke sekolah. Jalannya tidak lagi mengikuti jarak biasa.
'Kita tutup pintu belakang dari dalam,' kata Alex.
'Jangan,' ujar Mira. 'Kalau pintu ditutup paksa, dia mungkin muncul melalui pintu lain seperti jalan ke apartemen Dilan.'
Mereka mengirim pesan kepada polisi agar tidak mengejar kendaraan ke dalam halaman. Tujuannya bukan menghentikan tubuh dengan tabrakan, melainkan memutus suara yang mengarahkannya.
Pada layar, polisi mulai menghubungi tim lain. Beberapa penerima dihentikan keluarga sebelum pergi. Hitungan turun menjadi tujuh.
Empat orang sudah berada di jalan dan tidak menjawab siapa pun.
Galang menatap Dilan melalui layar. Separuh tubuhnya hangus bersama undangan kosong, tetapi ia masih tersenyum.
'Kalian menolak panggilan, tapi tidak menolak tempatnya,' katanya.
Dilan menoleh. Di belakang mereka, mesin terus mencetak alamat sekolah pada setiap undangan kosong.
'Selama sekolah menjadi tujuan, hubungan akan mencari jalan baru,' ujar Laras.
Andrea menunjuk pintu semu menuju apartemen. 'Raka yang memasukkan alamat ini. Kita paksa dia menghapus tujuannya.'
Pintu tersebut terbuka sendiri. Kali ini ruang di baliknya bukan apartemen Dilan.
Pria berbekas luka berdiri di sana, hanya beberapa langkah dari mereka, seolah dua tempat sudah terhubung sempurna.
'Kalian ingin aku menghentikannya?' tanya Raka. 'Berikan penerima pertama kepada ku.'
Ia menunjuk Dilan. (*)