"Hah? Maksud Kakak gimana? Aya nggak ngerti." Maksudnya apaan lagi sekarang? Terlalu banyak yang Kak Ken inginkan cuma karena ngeliat wajah gue? Kenapa? Apa yang salah? Sebegitu nggak bagusnyakah penampilan gue semalam? Apa Kak Ken kecewa setelah ketemu gue secara langsung? Kalau memang iya, gue harus gimana? Selama ini gue cuma mikirin pendapat dan pandangan dari sisi gue sendiri, selama gue nggak kecewa sama Kak Ken, ya nggak ada masalah juga, aman-aman aja tapi sekarang, apa yang aman cuma dari sisi gue? Apa nggak ada yang aman kalau dari sisi Kak Kendra sendiri? Kenapa gue malah jadi kebingungan?
"Kamu nggak ngerti? Beneran nggak ngerti sampai kamu harus pasang wajah kebingungan kaya gitu?" Tanya Kak Ken ulang yang gue angguki pelan, melihat anggukan gue, Kak Kendra langsung tersenyum kecil sembari memijat keningnya pelan, kenapa lagi sekarang? Apa beneran ada yang salah? Gue jadi bingung sendiri.
"Kenapa Kakak malah senyum? Aya nanya sama Kakak bukan lagi ngelawak, memangnya Aya ngelakuin apa? Apa ada yang salah? Kalau memang ada dari sikap Aya yang membuat Kakak nggak nyaman Aya minta maaf, Kakak cuma harus ngomong sama Aya jadi Aya bisa ngerti." Semua masalah bisa di bicarakan baik-baik, begitupun kalau ada salah satu sikap gue yang membuat Kak Ken merasa nggak nyaman ya gue minta maaf, gue minta maaf untuk apa yang udah gue perbuat, Kak Ken bisa jujur jadi gue juga bisa tahu kesalahan gue apa dan belajar memperbaiki sikap gue kedepannya.
"Kamu ngomong apa sih Ay? Nggak ada yang salah sama kamu, kamu beneran nggak ngerti? Kalau kamu beneran nggak ngerti, Kakak sendiri juga bingung harus ngejelasinnya gimana?" Gue nggak apapun salah tapi Kak Kendra pindah ke kamar tamu tanpa sepengetahuan gue kaya semalam? Apa itu mungkin? Kak Kendra nggak mungkin pindah kamar kalau nggak ada yang salah sama gue, itu aneh.
"Kakak jelasin aja, Aya dengerin." Gue akan mendengarkan apapun penjelasan Kak Ken sekarang.
"Heum, karena kamu istri Kakak dan kamu tanggung jawab Kakak sekarang, Kakak rasa, nggak akan ada masalah kalau Kakak ngasih tahu kamu hal ini, Kakak pindah ke kamar tamu bukan karena ada yang salah sama kamu, Kakak hanya terlalu banyak menginginkan sesuatu kalau terus ada disamping kamu semalam." Jelas Kak Ken yang gue angguki, yaiya Kak Ken menginginkan banyak hal dan sesuatu tapi apa? Gue nggak bakalan paham kalau Kak Ken ngomongnya setengah-setengah begitu, ngomong aja, gue nggak akan salah paham lagi dan gue juga nggak akan marah karena gue tahu kalau itu ternyata memang karena kesalahan gue sendiri.
"Menginginkan sesuatu? Tapi apa?" Kasih tahu gue yang jelas, jangan setengah-setengah, jangan sampai gue kesal sendiri karena sangking penasarannya.
"Apa yang diinginkan orang lain setelah menikah? Kakak laki-laki normal, apa kamu belum paham juga sekarang?" Jawaban Kak Ken yang membuat gue langsung keselek angin, cemilan yang gue makan pada nyangkut di tenggorokan semua, gue kaget sampai sebegitunya mendengarkan jawaban Kak Ken barusan, apa itu yang Kak Ken inginkan? Karena gue Kak Ken menginginkan banyak hal, gue bahkan terlalu malu untuk natap Kak Ken yang berdiri dihadapan gue sekarang, muka gue udah merah banget kayanya.
"Kakak turun sebentar." Ucap Kak Ken setelah menepuk bahu gue beberapa kali, setelah Kak Ken keluar dari kamar, gue langsung meletakkan cemilan gue dan menyandarkan tubuh gue di sofa sambilan mengusap d**a heran, wah, gue yang terlalu polos atau memang Kak Ken yang terlalu jujur? Gue sama sekali nggak mikirin hal ini, gue lupa setelah menikah akan ada banyak hal yang berubah, akan ada banyak hal yang menjadi tanggungjawab gue sebagai seorang istri dan bisa-bisanya gue melupakan hal kaya gini, muka gue malu tapi kalau harus menghadapi Kak Ken sekarang, malu gue malah jadi berkali-kali lipat.
Gue terlalu sibuk memikirkan hal lain sampai lupa mikirin hal kaya gini, lagian semalam bukannya Kak Ken minta gue istirahat lebih awal? Udah jelas kalau gue memang nggak akan mikirin hal ini lebih-lebih lagi, kalau udah disuruh istirahat, gue mau mikirin apaan lagi coba? Gue mau mikirin apa memangnya? Kalau memang harus berpikir keras, udah jelas gue nggak akan memikirkan hal kaya gitu, gue sama Kak Ken ketemu secara langsung bahkan baru tadi jadi rasanya beneran aneh kalau gue harus ngomongin hal yang bersifat kaya gitu, gue sama sekali nggak mikirin apa yang Kak Ken maksudkan barusan, ya cuma itu masalahnya, masih gue merutuki sesuatu, Kak Ken balik masuk ke kamar dengan membawa segelas air dan sepiring makanan sekarang.
'Kamu minum sama makan dulu, setelahnya kita bicara." Ucap Kak Ken memberikan segelas air dan sepiring makanan yang dibawanya ke gue, masih dengan perasaan sedikit canggung, gue menerima apa yang dibawa Kak Kendra sekarang, gue memang lapar, itu juga kenyataan dan gue sama sekali nggak bisa menyembunyikan senyuman bahagia gue melihat apa yang Kak Ken lakuin, bahkan disaat kaya ginipun, Kak Ken masih memikirkan perut gue yang keroncongan, bukannya itu adalah hal lain yang luar biasa? Ini malah jadi nilai tambah Kak Ken di mata gue, lagi-lagi cuma Kak Ken yang terlihat sangat baik di depan mata gue tapi apa kabar nasib gue di depan mata Kak Kendra? Apa akan sama bagusnya atau malah jadi kebalikannya?
"Maaf udah ngerepotin Kakak dan makasih karena Kakak udah ngambilin Aya makanannya, Kakak makan juga, porsinya terlalu banyak kalau cuma untuk Aya abisin sendiri." Gue mengulurkan sesendok makanan ke hadapan Kak Ken, walaupun sempat termenung untuk sesaat, Kak Ken tetap menerima suapan gue dengan senyuman yang merekah dari wajahnya, melihat senyuman Kak Ken sekarang, perasaan gue juga terasa semakin membaik, malu gue juga berkurang banyak dan itu membuat keadaan gue sama Kak Ken sekarang berubah menjadi jauh lebih nyaman.
"Mengenai alasan Kakak pindah ke kamar tamu semalam tanpa ngomong sama kamu lebih dulu, Kakak minta maaf, Kakak cuma nggak mau istirahat kamu terganggu dan Kakak ngerasa kalau kita berdua butuh waktu, walaupun Kakak menginginkan banyak hal, tapi Kakak juga sangat memikirkan posisi dan perasaan kamu, kalau sikap Kakak salah dan malah membuat kamu diomeli sama Bunda, Kakak minta maaf untuk itu." Ucap Kak Ken sembari mengusap sudut bibir gue yang sepertinya sedikit belepotan, gue menatap Kak Ken sedikit kaget sembari teemenung beberapa detik setelahnya, apa ini yang dirasain Kak Ken sewaktu gue dengan santainya ingin menyuapi Kak Ken seperti barusan?
"Heum, nggak papa, Aya juga minta maaf, ini hari pertama Kakak tinggal di rumah tapi Kakak malah udah ngeliat masalah Aya sama Bunda kaya gini." Sesal gue juga, nggak cuma Kak Ken yang merasa nggak enak dan bersalah, gue juga sama, harusnya gue memberikan kesan yang baik untuk Kak Kendra karena bagaimanapun ini adalah hari pertama Kak Kendra tinggal di rumah keluarga gue tapi bukannya memberikan kesan yang baik, kesannya malah kaya gini, amburadul nggak karuan, kudu banyak-banyak minta maaf juga.
"Tapi hal baiknya adalah, Kakak melihat sisi lain kamu tepat dihari Kakak tinggal disini untuk hari pertama dan itu sesuatu yang cukup menarik jadi kamu juga bisa berhenti merasa bersalah, Kakak nggak papa." Kak Ken lagi-lagi tersenyum kecil setelah meyakinkan gue kaya gitu, gue sangat-sangat bersyukur.