Dinan memanggil June lagi. “Bantu Nona Sakura persiapan untuk dinner nanti malam,” suruh Dinan.
“Oui,” sahut June mengiyakan perintah Dinan.
Setelah itu, Dinan melangkah keluar ruangan bersama asistennya. Pergi meninggalkan Sakura tanpa sepatah kata apapun.
Sakura hanya bisa melongo menatap kepergian Dinan. Kesadarannya baru benar-benar kembali ketika June menggamit lengannya.
“Nona, mari ikut saya,” ajak June dengan sopan.
Sakura mengangguk kaku. Dia mengikuti langkah June bersiap pergi keluar rumah.
Ya, ini pertama kalinya bagi Sakura pergi keluar rumah. Sekalinya pergi, dia diajak June ke beberapa butik untuk memilih outfit dinner nanti malam.
“Aduh, capeknya,” ucap Sakura saat sudah kembali di dalam mobil. Seharian penuh dia berkeliling butik. Mencoba aneka macam gaun, sepatu, lalu ke toko perhiasan.
“Nona, setelah ini kita langsung ke pulang. Sudah ada penata rias menunggu di rumah,” tutur June.
“June, apa dinnernya nanti malam sangat spesial?” tanya Sakura mulai penasaran.
June mengulas senyuman simpul. “Tentu saja, Nona. Nanti malam Nona akan bertemu dengan orang tua Tuan Dinan. Mereka pejabat penting di Paris. Sekarang lagi ikut Pilpres,” celoteh June membanggakan majikannya.
Sakura termangu. “Pilpres ya?” gumam Sakura. “Berarti akan jadi presiden?”
“Iya. Kalau sukses pasti jadi presiden. Keren kan? Nona jadi menantu presiden,” June tersenyum lebar. “Saya janji akan jadi pelayan setia Nona. Nona jangan cari pegawai lain ya?” June menggenggam erat jemari tangan Sakura. Membuat Sakura terkaget.
“Ah, um, ya,” jawab Sakura kaku.
“Merci,” sahut June penuh rasa syukur.
Sakura tak tahu apakah dirinya layak menjadi menantu presiden. Satu-satunya yang ada di pikiran Sakura hanyalah mengembalikan ingatannya. Lalu, bertemu kembali dengan keluarganya. Hanya itu.
Namun, untuk mewujudkan itu semua, dia harus pura-pura menjadi istri Dinan. Ya, pria tampan berbadan tegap dengan tinggi 190 sentimeter yang kini sudah datang menjemputnya.
“Sakura, are you ready?” tanya Dinan. Dia mengulurkan tangan kanannya untuk menggandeng Sakura.
“Oui,” sahut Sakura. Dia meraih uluran tangan Dinan.
Dengan sigap, Dinan langsung menggamit lengan Sakura. Dia menggandeng Sakura masuk ke dalam mobil limosinnya yang sudah terparkir di depan halaman rumah.
Sakura menatap lurus ke depan selama berada di dalam mobil. Jujur saja dia merasa grogi sekarang.
“Kamu sudah diberitahu June kan? Dinner ini kita akan bertemu orang tuaku?” tanya Dinan membuka percakapan.
Sakura menoleh kaku ke Dinan. Dia mengangguk. “Apa aku perlu membawa sesuatu untuk orang tuamu?” tanya Sakura.
“Tidak usah. Mereka hanya ingin aku datang denganmu saja,” Dinan menatap Sakura secara keseluruhan. “Kamu cantik sekarang. Seharusnya mereka menyukaimu.”
Sakura mengangguk. “Merci,” ucap Sakura.
Sakura mencoba mempercayai ucapan Dinan. Namun, semua kepercayaan itu mendadak luntur ketika Sakura sudah berhadapan dengan kedua orang tua Dinan di ruang makan.
“Jadi dia yang bakal jadi istrimu?” tanya Adam, Papa Dinan. Pria itu membenarkan posisi kacamatanya. Tampak kerut-kerut penuaan di sekitar mata pria berusia 58 tahun itu.
“Iya, Pa. Namanya Sakura,” ucap Dinan. “Dia pasangan terbaik bagiku.”
“Pasangan terbaik?” Adam tertawa mengejek. “Pasangan terbaik dengan latar belakang tak jelas seperti ini? Itu yang kamu sebut terbaik?!”
Dinan tersenyum dan merangkul Sakura. “Malah bagus kan? Sakura nggak akan memiliki kepentingan politik apapun ke keluarga kita, Pa. Dia hanya akan menjadi istri terbaik untukku,” terang Dinan.
Adam mendesah berat. “Sudahlah. Terserah kamu saja,” ucap Adam tak bisa membantah Dinan. “Kita makan dulu sekarang.”
“Fine,” sahut Dinan. Dia tersenyum ke Sakura. Bibirnya bergerak mendekati telinga Sakura. “Nevermind. Kamu santai saja. Makan yang tenang,” bisik Dinan.
Sakura mengangguk pelan. Dia mengambil garpu dan pisau di hadapannya. Lantas, mulai menyantap steak dan pasta yang tersaji sebagai menu makan malam.
“Kamu suka makanannya?” tanya Amy, mama Dinan.
“Suka. Rasanya enak,” jawab Sakura.
“Baguslah. Dinner malam ini kurang persiapan soalnya,” timpal Amy.
“Ah, iya,” Sakura mendesah pelan. Dia merasa berada di dalam neraka sunyi sekarang.
“Kapan kalian akan menikah?” tanya Adam saat makanan penutup datang. Sebuah waffle dengan es krim cokelat yang manis ditambah dengan potongan strawberry.
“Rencananya minggu depan. Setelah itu, kami akan mengikuti variety show yang Papa inginkan itu,” terang Dinan santai. Pria itu tidak menyentuh sama sekali makanan penutup yang ada di hadapannya.
“Kali ini kamu akan bersaing dengan Paola,” ujar Adam. “Jangan sampai kamu menggagalkan rencana Papa hanya gara-gara dia,” tekan Adam dengan tegas.
“Come on, Pa. Kami sudah tidak ada hubungan apapun. Thank to you by the way,” balas Dinan sinis.
“Memang sebaiknya begitu,” timpal Adam tak peduli. “Jeremy sama sekali tidak mau menurunkan egonya. Berusaha jadi sainganku terus. Pria gendut tak tahu malu!”
Dinan memilih diam. Dia menoleh ke Sakura. Pandangannya memperhatikan sudut bibir Sakura yang berwarna peach manis itu.
Sakura bisa merasakan sentuhan jari Dinan mampir di sana. Dia terkaget dan menoleh. “Ada es krim di sana,” ucap Dinan dengan senyum menawannya.
“Ah, iya. Maaf,” Sakura gugup. Dia buru-buru mengambil sapu tangan yang ada di hadapannya. Lalu, dia membersihkan sudut bibirnya. “Terima kasih.”
Dinan hanya menjawabnya dengan ulasan senyum saja. Ulasan senyum yang membuat perhatian orang tua Dinan menatap intens ke arah mereka.
“Well, kalian terlihat saling mencintai,” komentar Amy dengan senyuman puas. “Aku rasa ini akan bekerja sesuai rencanamu Adam.”
Amy menoleh ke Adam. Dia tersenyum mendukung hubungan Dinan dan Sakura.
“Yah, oke. Aku akan menyetujui hubungan mereka. Tapi, pernikahan tidak boleh ditunda,” terang Adam langsung pada poinnya. Dia menatap ke arah Sakura.
“Kamu tidak keberatan menikah dengan anakku, Dinan?” tanya Adam langsung ke Sakura. “Sedikit banyak aku sudah tahu tentang kondisimu saat ini. Hilang ingatan. No family. Alone. Menikah dengan Dinan tidak hanya sekadar menjadi istrinya. Kalian harus bisa saling mendukung satu sama lain agar aku bisa menang Pilpres.”
Sakura mengangguk secepat kilat. “Iya, saya setuju!” jawab Sakura secepat kilat. “Saya mau menjadi istri Dinan.”
Amy meraih jemari tangan kiri Adam. “Ayolah. Setidaknya izinkan Dinan memilih pasangan sesuai dengan keinginannya. Dia sudah mengalami banyak kesulitan juga,” pinta Amy.
“Baiklah. Tapi, aku yang akan mengatur pesta pernikahan kalian,” terang Adam. “Dan kamu, harus bisa berdansa sebelum pesta pernikahan diadakan. Paham?”
“Dansa?” Sakura menatap bingung Dinan.
Dinan hanya membalas dengan senyuman saja. “Kamu pasti bisa,” lanjut Dinan sebelum dinner selesai.
“Dinan, aku tidak bisa berdansa,” beritahu Sakura sebelum berpisah dengan Dinan.
“Nanti aku ajari. Sekarang kamu istirahat saja,” Dinan meraih jemari tangan kanan Sakura. Lantas, dia mencium punggung tangan Sakura dengan lembut.
“Eh?” Sakura buru-buru menariknya. Namun, Dinan tetap memeganginya dengan erat. Membuat bola mata Sakura membeliak lebar menatap Dinan.
“Kamu harus terbiasa dengan perlakuanku ini. Sebentar lagi kita akan menikah. You and I will be one, okay?” Dinan tersenyum penuh pesona.
Membuat hati Sakura gemetar sekaligus lidahnya menjadi kelu. Satu-satunya yang bisa Sakura lakukan hanyalah menganggukkan kepala kaku.
“Sekarang masuk ya?” Dinan menarik Sakura dalam pelukannya. Sebuah kecupan manis singgah di kening Sakura. Membuat d**a Sakura seperti ingin meledak sekarang juga.