Sakura melongo takjub. Dia benar-benar kalah telak dengan Dinan. Tak tahu lagi harus bagaimana caranya untuk mengelak.
“Yang jelas pernikahan ini kita jalani senormal dan semanis mungkin. Aku tidak ingin ada siapapun yang tahu bahwa kita hanya nikah kontrak,” tegas Dinan. Kali ini dia menatap Sakura dengan serius.
“Hm, bayinya nanti gimana?” balas Sakura. “Setelah Papamu jadi Presiden, aku akan bertemu keluargaku, kan? Nanti bayinya gimana?”
“Jika kamu tidak menginginkan pernikahan ini berlanjut, bayi itu bisa tetap bersamaku. Dia anakku. Aku masih sanggup merawat dan membiayainya,” ucap Dinan. Tak ada keraguan sedikit pun dari cara bertuturnya. Tanda bahwa sedari awal, pria itu sungguh-sungguh serius dan tahu sebesar apa konsekuensi yang harus ditanggung dari pernikahan kontrak ini. “Any questions?”
Kepala Sakura menggeleng pelan. Dia tak tahu harus bertanya atau berkata seperti apa lagi agar Dinan berhenti menjalankan rencana untuk menghamilinya. Dinan mengambil semua tanggung jawab penuh atas segala kerugian yang mungkin bisa Sakura dapatkan. Termasuk soal hak asuh bayi mereka nanti.
“Good!” sahut Dinan dengan sebuah tepukan tangan. “Sekarang aku urusi pembantu di sini dulu. Biar mereka bisa memperlakukanmu dengan baik.”
Langkah Dinan mengayun keluar kamar. Dia menutup pintu kamar dengan rapat dari luar. Meninggalkan Sakura sendirian di kamar itu.
Sakura berbaring galau di atas kasur. Pandangannya menatap langit-langit kamar yang kosong dan berwarna putih itu.
“Wah, hamil,” tangan kanan Sakura bergerak mengusap-usap perutnya.
Tak pernah dia bayangkan akan hamil. Apalagi dengan Dinan. Dia pikir dia hanya akan jadi sebatas istri pajangan yang hanya memiliki kewajiban untuk tersenyum manis di hadapan semua orang. Nyatanya, Dinan menginginkan hal lebih. Bukan hanya Dinan, mertuanya pun menginginkan seorang cucu sesegera mungkin.
“Argh! Kenapa harus cepat punya anak? Sebegitu pentingnya kah memiliki seorang anak setelah menikah?” keluh Sakura. Dia memukuli bantal berisi bulu angsa yang empuk itu. Suaranya terdengar meratapi nasibnya.
Butuh waktu satu jam untuk meraung meratapi nasib seorang diri hingga akhirnya Sakura tertidur pulas. Bangun-bangun, hari sudah gelap. Tak ada cahaya matahari menelusup dari jendela kamar yang gordennya masih terbuka. Pun, lampu kamar belum menyala.
“Duh, gelapnya,” Sakura turun dari ranjang. Dia berjalan tertatih mencari saklar lampu.
CTAK!
Lampu menyala tepat setelah Sakura menekan saklarnya. Dia melangkah menutup gorden jendela kamar karena dari luar sangat gelap. Jujur saja Sakura tak suka dengan kegelapan. Dia takut jika ada sesuatu yang mengerikan muncul dari sana.
TAP!
Sebuah tepukan mampir di kedua bahu Sakura. Membuat sekujur tubuh Sakura merinding.
“AAA!” teriak Sakura ketakutan.
“Hei, ini aku. Dinan,” beritahu Dinan. Telinganya pekak sekarang karena suara Sakura yang begitu kencang.
Sakura berhenti berteriak. Dia menoleh ke belakang. Memang Dinan ada di belakangnya.
“Ka-kamu mengagetkanku,” ucap Sakura dengan suara gemetar.
“Suara teriakanmu lebih mengagetkanku,” tandas Dinan kesal. Pria itu mendengus berat tepat di depan Sakura.
“Maaf. Aku pikir itu bukan kamu,” terang Sakura dengan wajah bersalahnya. “Soalnya kan tadi hanya ada aku di sini.”
“Sekarang sudah ada aku,” ucap Dinan. “Kamu sudah mandi?”
Dinan mengendus aroma tubuh Sakura. Tentu saja Sakura langsung menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan. “A-aku baru bangun,” jawab Sakura tergagap. “Bentar. Aku mandi dulu.”
“Ya, mandilah. Setelah itu, kita makan malam,” suruh Dinan.
Sakura mengangguk. Dia melewati Dinan dengan pandangan menunduk. Langkahnya bergegas menuju lemari. Dia mengambil set pakaian malamnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Salah satu kesenangan Sakura adalah berendam air hangat di dalam bak mandi. Rasanya beban yang ada di sekujur tubuhnya bisa menghilang.
Sayangnya, beban itu kembali muncul ketika sesi mandi selesai. Sakura benar-benar malas karena harus bertemu Dinan malam ini.
“Kita makan di sini?” Sakura terkaget saat melihat ada sebuah meja dan sepasang kursi di balkon kamar.
Tak hanya ada makanan hangat. Pun, ada vas bunga dan nyala lilin yang menambah kesan romantis di sana.
“Iya,” jawab Dinan.
“Bukankah ini berlebihan? Kan sekarang kita sedang berada di vilamu.”
“Pasti ada wartawan yang diam-diam menyelinap di sini. Kita pastikan saja dengan menunjukkan sikap mesra kita,” Dinan merangkul pinggul Sakura. Dia mengajak Sakura melangkah menuju balkon dan duduk di kursi.
Tubuh Dinan menunduk mendekati wajah Sakura. Bibir pria itu langsung mengecup dan memagut lembut bibir Sakura beberapa saat.
Tentu saja Sakura terkaget. Namun, dia memang tak bisa melakukan apapun hingga ciuman Dinan selesai.
Dinan duduk di depan Sakura. Dia membukakan tutup makanan yang ada di depan Sakura.
“Makanlah yang banyak,” ujar Dinan.
Sakura mengangguk. Dia menikmati steak dan olahan hati angsa yang sering disebut dengan nama foei grass. Hati angsa ini tentunya salah satu menu termahal di dunia. Hanya orang-orang elit dan kaya yang bisa menikmati foei grass yang dibanderol dengan harga tinggi dengan porsi yang mini itu.
Pandangan Sakura menatap Dinan. Pria itu tidak makan. Hanya menyesap wine merah sesekali.
Tampak Dinan sedang menatap ke arah lain. Pria itu melihat ke arah semak-semak rumput yang ada di bawah dan remang-remang.
Sakura akhirnya ikut melihat ke arah sana. Ada kilatan cahaya kecil dari sana dan tersembunyi di balik semak-semak gelap.
“Kilat itu pantulan lensa kamera,” beritahu Dinan. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Sakura. “Sekarang kamu sudah tahu benar kan betapa banyak mata-mata yang memperhatikan kita sekarang?”
“Sebegitu pentingnya kah Kampanye Nikah Muda ini?” balas Sakura. “Bukankah orang yang sudah jatuh cinta bisa langsung menikah.”
“Tidak dengan di sini,” ujar Dinan. “Jatuh cinta itu mudah tapi komitmen untuk menikah dan memiliki anak adalah hal yang berbeda. Kamu bisa jatuh cinta ratusan kali dengan orang yang berbeda. Tapi, pernikahan tidak bisa dilakukan sampai ratusan kali.”
“Berarti sedikit sekali orang yang mau menikah?”
“Sama sedikitnya dengan jumlah kelahiran tiap tahunnya,” imbuh Dinan. “Dulu sampai ada program mengambil anak-anak dari negara-negara miskin. Namun, itu terhitung ilegal dan dikecam secara HAM. Menyewa rahim perempuan Asia untuk melahirkan anak pun sebenarnya tidak manusiawi. Meski banyak praktiknya, tetap saja menimbulkan pro-kontra. Karena itulah, ada muncul kampanye ini. Kampanye Nikah Muda. Kamu bisa memahami betapa pentingnya hal ini, kan?”
Sakura hanya mengerjap-ngerjapkan pandangannya. Otaknya tak bisa memproses informasi dari Dinan sejauh itu. Baginya, tetap saja tak masuk akal.
“Intinya kamu lakukan saja apa tugasmu,” ucap Dinan kemudian. Dia bisa menerka bahwa Sakura pasti tak bisa memahami semua ucapannya. Ya, otak Sakura memang terkena benturan dan mungkin saja akan berpengaruh banyak pada tingkat kepandaiannya.
“Termasuk hamil?” Sakura kembali menatap memelas ke arah Dinan. Dia sungguh belum siap melakukannya.
“Tentu saja. Setelah ini, kamu segera bersihkan tubuhmu. Kita nikmati malam pengantin kita. Tidak ada penolakan apapun,” jawab Dinan.
Tangan Dinan meraih pisau dan garpu. Pria itu mulai menikmati hidangan makan malam mereka dengan sangat lahap.
Berbeda sekali dengan Sakura yang justru diam mematung dalam kegamangan. Dia sungguh-sungguh tak bisa melakukan ini. Haruskah aku kabur?
Meski sudah berpikir untuk kabur, tentu saja Sakura tak bisa kabur. Dinan mengunci pintu kamar dengan rapat. Sakura pun tak berani keluar lewat jendela karena mereka berada di lantai dua bangunan vila itu. Jika nekat, kaki Sakura tak hanya akan terkilir. Bahkan, kakinya bisa saja retak atau patah. Dia bergidik ngeri membayangkan itu semua.
“Pakai ini,” Dinan menyerahkan sebuah pakaian pada Sakura. Warnanya merah.
Sakura tak tahu apa itu. Dia hanya menerimanya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Sakura membelalakkan mata saat tahu pakaian apa yang diberikan Dinan padanya. Sebuah pakaian tipis dan transparan. Tak akan bisa menutupi permukaan tubuh Sakura meski Sakura sudah mengenakannya pada tubuhnya.
“Apa-apaan ini?! Baju macam apa ini?! Kenapa aku harus mengenakannya?!” celoteh Sakura histeris. Dia ingin sekali mengumpati Dinan.
“Sakura! Cepatlah! Aku sudah menunggumu, Honey,” teriak Dinan.
Sakura tergugup. Dia berdecak. Hatinya menolak untuk mengenakannya tapi Dinan pasti akan mengungkit lagi soal perjanjian pernikahan mereka.
“Hah! Kenapa aku harus terjebak dengan kondisi seperti ini?! Aku kangen keluargaku. Di mana mereka sekarang,” ratap Sakura sedih.
Dia sungguh-sungguh malu saat menatap dirinya mengenakan lingerie merah itu. Tak ada yang bisa menutupi tubuhnya secara sempurna. Bahkan, bagian intim tubuhnya pun masih terekspos dalam balutan lingerie merah transparan.
Sakura meraih handuk. Dia melilitkan handuk itu menutupi tubuhnya. “Ya, ini jauh lebih sempurna!” ucap Sakura.
Kini dia lebih berani melangkah keluar kamar mandi. Pandangannya mengedar mencari sosok Dinan. Tampak suaminya itu sudah berada di atas kasur dan hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya saja.
“Astaga!” Sakura langsung membuang wajah ke arah lain.
Tubuh suaminya tampak sangat kekar sekarang. d**a dan perutnya bidang bagaikan tumpukan batu bata kokoh. Sangat rapi, padat, dan kuat. Belum lagi dengan otot lengan suaminya yang gagah itu. Sakura tak bisa membayangkan bagaimana jadinya dirinya saat ditindih suaminya di atas kasur nanti. Bakal jadi apa aku nanti?
“Honey, kemarilah,” panggil Dinan. “Lepaskan handukmu. Mengganggu pemandangan saja.”
“Eh? Ja-jangan dong!” tolak Sakura refleks. Dia memegangi erat handuknya.
Dinan berdecak. Pria itu segera turun dari atas ranjangnya. Dia melangkah menghampiri Sakura. Tangannya bergerak meraih ujung bawah handuk Sakura dan langsung menariknya. Dalam sekali hentakan, handuk yang melilit tubuh langsing Sakura langsung jatuh melorot ke lantai tanpa sedikit pun perlawanan yang berarti.
“HAH?!” Sakura sampai melongo kaget.
Kini tubuhnya hanya dilapisi oleh lingerie merah saja. Tangan Sakura langsung bergerak menutupi d**a dan bagian bawahnya.
Dinan mengulas senyuman simpul. Istrinya tampak manis dan menggoda dengan lingerie itu. dia merasa tak rugi karena sudah memilih Sakura sebagai pasangan untuk kampanye Nikah Muda ini. Setidaknya dia masih bisa bersenang-senang dengan Sakura yang manis dan penurut. Ini adalah sebuah hiburan juga bagi diri Dinan.
Tangan Dinan langsung melingkari tubuh Sakura. Tanpa banyak kata, pria itu mendekati wajah Sakura dan memiringkan wajahnya. Bibirnya langsung memagut dan melumat bibir Sakura.
Jantung Sakura langsung berdebar tiada henti. Sekujur tubuhnya seperti dijalari oleh aliran listrik yang membawa panas secara signifikan.
Dapat dia rasakan tangan Dinan mulai menjelajahi bagian belakang tubuhnya. Dia terkesiap saaaat merasakan Dinan meremas kuat pantatnya. Semakin kaget ketika pria itu akhirnya menariknya dalam sebuah gendongan bridal.
Dinan membawa Sakura ke kasur. Pria itu membaringkan Sakura di bagian tengah kasur yang berukuran king size itu. Dia langsung naik menindih tubuh Sakura. Kedua tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Sakura sedangkan bibirnya masih melumat dalam bibir Sakura dengan french kiss andalannya yang begitu panas dan menggairahkan.