Dion benar-benar tidak bisa fokus sama sekali, bahkan kali ini ia semkain berpikir keras untuk mencari tahu di mana Keysa berada saat ini.
Namun, Dion memutuskan untuk segera menyelesaikan pekerjaannya saat ini terlebih dulu. Baru setelah itu, Dion akan langsung menuju ke indekos yang ditempati oleh Keysa.
Entah akan ada kenyataan yang seperti apa, tetapi saat ini Dion tidak bisa tenang sama sekali. Ada rasa bersalah yang menghantui di dalam hati.
Sehingga, dengan sangat buru-buru sekali, Dion berusaha untuk segera menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Meskipun dengan keadaan pikiran yang sama sekali tidak tenang, tetapi jika pekerjaan ini tidak segera di selesaikan. Maka, bisa saja perusahaan yang ia miliki akan keteteran dan juga tidak terurus.
Tidak mungkin sekali, jika hanya karena Keysa, dirinya sampai melalaikan tugas yang sangat penting.
Pada akhirnya, Dion menyelesaikan pekerjaannya itu tepat pada pukul empat sore. Laki-laki itu bahkan tidak memikirkan sekali tentang keadaan perutnya yang belum terisi.
Setelah mematikan layar komputer, kini Dion langsung melangkahkan kaki menuju ke luar dari kantor. Berjalan ke arah parkiran dan juga segera masuk ke dalam mobil.
Sayangnya, keadaan jalan sama sekali tak mendukung niat Dion untuk segera tiba di indekos Keysa. Kali ini, Dion justru terjebak pada kemacetan.
Sebenarnya tidak terlalu parah, tetapi kemacetan tersebut mampu membuat Dion benar-benar tidak memiliki mood yang baik.
"Argh! Ini kenapa saya jadi kacau kek gini, sih?" gerutu Dion, dengan tangan kanan yang langsung bergerak untuk mengacak-acak rambutnya.
Cukup lama Dion sabar tentang kemacetan ini, dan pada akhirnya kesabaran itu berbuah manis.
Dion bisa dengan sangat lancar lagi mengendarai mobi, tanpa harus ada klakson yang terus saja berbunyi.
Sesampainya di depan indekos Keysa, benar saja, Dion mendapati sang kekasih bersama dengan laki-laki yang sangat tak disukai dirinya.
"Keysa, aku mau bicara sesuatu sama kamu!" titah Dion, membuat Keysa bingung akan melakukan apa dan memilih untuk melihat ke arah Delon.
Sedangkan Delon justru menunjukkan raut wajah yang bodo amat, dan juga terkesan tidak peduli sama sekali dengan apa yang terjadi ada Keysa saat ini.
"Ngapain juga sih kamu ada di sini? Bikin tambah badmood aja!" protes Keysa, dengan menampilkan wajah yang sangat tak suka.
Tangan kanan Dion langsung bergerak untuk meraih telapak tangan sebelah kiri dari Keysa, dengan kedua mata yang fokus menatap manik mata perempuan tersebut.
"Kamu kenapa kek gini? Aku bisa jelasin semuanya, Sayang," ucap Dion, sangat lembut.
Namun, respon yang ditunjukkan oleh Keysa justru langsung melepaskan tangan milik Dion dari tangannya, lalu menjawab, "Sudah berapa kali sih aku bilang? Kalau aku itu enggak mau denger penjelasan kamu sama sekali!"
Tangan kanan Dion kembali bergerak, kini digunakan untuk meraih ponsel milik Keysa. "Nih, kamu liat ponsel kamu sendiri. Aku mana tau kalau ponsel kamu itu mode silent, padahal aku itu nunggu notifikasi dari kamu loh dari tadi."
"Halah! Alesan aja, bisa juga, kan dimanipulasi! Lagian, aku enggak pernah kok nyalain mode silent di ponsel, itu cuma akal-akalan kamu doang!" sarkas Keysa, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Dion saat ini.
"Aku ngelakuin hal yang kek gitu? Kurang kerjaan banget, Key, kamu enggak percaya sama sekali?" sahut Dion, dan kembali memberi pertanyaan di akhir ucapannya itu.
"Kan udah dari tadi juga aku bilang, kalau aku itu enggak mau dengerin penjelasan kamu! Masa kek gitu aja enggak ngerti, sih?" ujar Keysa, dan berniat untuk kembali melangkahkan kaki mendekat ke arah Delon.
Namun, sebelum Keysa benar-benar melangkahkan kaki, Dion memilih untuk segera berucap, "Besok aku ada kerjaan, dan itu mengharukan aku buat pergi ke luar kota."
Ternyata benar, mesipun tadi Keysa bilang jika dirinya tengah kesal, tetapi rasa sayang dan juga perhatian itu masih ada. Seperti saat ini, Keysa langsung menghentikan langkah kaki dan menolehkan kepala ke arah Dion.
"Ke luar kota? Berapa lama? Aku harap sih yang lama aja, biar enak hidup aku enggak digangguin terus!" tanya Keysa, tetapi di akhir kalimat justru membuat Dion langsung sakit hati lagi.
"Key, sampai semarah gitu sama aku?" tanya Dion, nadanya berubah menjadi sendu.
Tanggapan yang dikeluarkan Keysa justru mengedikkan kedua bahunya, lalu berucap, "Siniin ponselnya!"
Meskipun dengan hati yang masih bertanya-tanya, tetapi Dion tetap menyerahkan ponsel milik sang kekasih, lalu berucap, "Ini silahkan."
"Kalau gitu, aku pulang aja dulu ya," ucap Dion, dan tanpa menunggu jawaban dari Keysa, Dion langsung melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam mobil lagi.
Jujur saja, hatinya sangat sakit melihat sang kekasih dengan laki-laki lain, tetapi Keysa justru menyambut dirinya dengan sangat tak menyenangkan sekali.
"Ya Tuhan! Kenapa jadi seperti ini, sih? Padahal, ini bukan salah saya," lirih Dion dengan nada bicara yang sangat lemah sekali.
Untuk ke sekian lagi, Dion merasakan patah hati, tetapi kali ini alasannya tidak terlalu masuk akal. Bahkan, Dion memiliki pikiran jika Keysa memang punya rasa dengan laki-laki tersebut.
Mengendarai dengan perasaan yang sangat tak bisa dimengerti, tetapi satu hal yang pasti, saat ini Dion tengah merasakan sakit hati.
Dan kali ini, Dion tak langsung pulang ke rumah, melainkan memilih untuk mampir ke salah satu cafe terlebih dulu.
Mendiamkan emosi dan juga sekaligus menyegarkan pikiran, ia langsung teringat tentang adik dari Keysa, Di mana nomor tersebut sudah ia catat.
Buru-buru Dion menghubungi nomor tersebut, dan mempersiapkan suatu perkataan, sehingga tidak akan membuat kedua orang tua dari Keysa tersinggung.
Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama lagi, sambungan telepon yang dilakukan oleh Dion ternyata langsung diangkat.
"Halo, dengan siapa dan juga ada keperluan apa?" tanya Sulis, dengan wajah yang sangat heran.
Saat ini, adik dari Keysa sedang berada di dalam kamar dan tak ada orang tua yang ada di sampingnya.
"Saya Dion, kekasih kakak kamu. Masih ingat?" tanya Dion, seraya memperkenalkan diri.
"Oh iya, Sulis ingat! Ada apa ya, Kak?" jawab Sulis, disusul dengan pertanyaan yang langsung terlontar.
"Ada mama kamu?" tanya Dion lagi.
Sulis tak langsung menjawab, ia diam terlebih dulu, berpikir sejenak barulah ia menjawab, "Memangnya ada apa sama mama?"
"Ada sesuatu yang mau saya omongin, Dek," ujar Dion, yang membuat Sulis langsung menganggukkan kepalnya, lalu berdiri dari posisinya yang tadi.
Berjalan untuk segera mendekat ke arah Nisa yang tengah menyiapkan makanan, untuk makan malam.
"Ma, ada Kak Dion yang mau ngomong sesuatu sama Mama, masih ingat, kan?" ucap Sulis memberitahu, sambil menyerahkan ponsel yang sedari tadi masih berada di genggaman tangan.