Keysa menganggukkan kepala dengan sangat ikhlas sekali, lalu perempuan itu meletakkan kue ulang tahun tersebut kembali di atas meja.
"Ini, Mas, silahkan potong kuenya," ucap Keysa, seraya menyerahkan pisau yang sudah berada di genggaman tangan.
Dion mengangguk, pertanyaan yang sedikit usil tiba-tiba saja berada di pikiran Dion. Dan laki-laki itu adalah tipe yang tidak bisa berbohong sama sekali.
Sehingga, pada akhirnya Dion pun bertanya, "Key, kamu itu udah nyaman ya manggil aku pakai 'mas'?"
"Eh, memangnya kenapa sih? Salah kah?" tanya Keysa, dengan dahi yang langsung berkerut, karena memang apa yang menjadi pertanyaan Dion itu sedikit sensitif sekali.
"Enggak, bahkan aku itu seneng banget kok bisa dipanggil kek gitu sama kamu, dan saya anggap itu sebagai tanda kalau kamu itu emang udah siap," jawab Dion, dan tangan kanan yang langsung mengusap lembut kepala Keysa.
Setelah mengusap kepala, kini tangan kanan laki-laki itu beralih untuk memegang pisau, dan juga bersiap untuk memotong kue ulang tahun tersebut.
"Sayang, ini kue pertama yang aku persembahkan buat kamu," ucap Dion, dan menyerahkan potongan kue tersebut.
"Ya iyalah pasti kue ini buat aku, orang enggak ada lagi orang di sekitar sini," jawab Keysa, diiringi dengan tawa kecil yang keluar dari mulut perempuan tersebut.
"Eum ... enggak kek gitu juga kali, Sayang. Emang kamu itu kan orang yang paling spesial di hidup aku," ujar Dion, kedua matanya itu melihat dengan sangat fokus pada wajah Keysa.
Bukan tanpa alasan Dion seperti itu, tetapi karena Keysa yang akan melaksanakan aktivitas memakan kue tersebut.
Namun, sebelum kue itu masuk ke dalam Keysa, Dion justru memutuskan untuk cepat-cepat menghentikannya.
"Bentar dulu ya, Sayang, karena emang enggak baik kalau makan itu sambil berdiri. Jadi, yuk kita duduk dulu!" ajak Dion, dan langsung mengarahkan di meja mana yang akan mereka tempati itu.
"Tunggu bentar deh, aku juga mau ngambil kue satu potong. Biar kita bisa sama-sama makan, sweet banget, kan?" ucap Dion, langsung berdiri dari posisinya yang tadi sudah duduk di kursi tersebut.
Melangkahkan kaki mendekat ke meja yang menyediakan kue ulang tahun miliknya itu, memotong dengan ukuran yang sama. Seperti milik Keysa.
Setelah itu, Dion pun kembali melangkah menuju ke meja yang ditempati oleh Keysa, seraya mengulas senyum dengan sangat manis sekali.
"Eh, bentar dulu! Keknya kalau makan tanpa minum itu enggak afdal banget ya?" Hanya berucap seperti itu saja, tanpa menunggu sahutan dari Dion, Keysa langsung berdiri untuk mengambil minum.
Melihat kekasihnya yang seperti itu, Dion hanya mampu untuk menggelengkan kepalanya saja. "Kenapa ada pikiran kek gitu, Sayang?" tanya Dion, setelah melihat Keysa dengan dua gelas yang dipegang.
"Eum ... emangnya kenapa? Kan semua manusia itu pasti butuh air, apalagi abis makan," jawab Keysa, lalu meletakkan gelas tersebut tepat di atas meja.
"Sekarang tinggal makan ini aja? Udah enggak ada yang kurang lagi, kan?" tanya Dion terlebih dulu, sebelum akhirnya Keysa menggelengkan kepala.
Dan kedua orang yang memiliki status sebagai kekasih itu pun langsung memasukkan potongan kue ke dalam mulut.
"Hm, kuenya enak. Sama kek hubungan kita," celetuk Dion, yang membuat Keysa berhenti mengunyah dan langsung mengeluarkan tawa pada detik berikutnya.
"Aku setuju sama kamu, haha. Kamu tau? Kue ini emang enak, manis, bahkan buat orang yang makannya itu mau nambah terus. Sama kek kita," ucap Keysa menjelaskan.
"Jangan berubah ya," pinta Dion, nada bicaranya kini berubah menjadi sendu. Tak hanya itu, bahkan sorot kedua mata Dion menyiratkan akan harapan yang sangat besar.
Keysa menganggukkan kepala dan menjawab, "Mas, aku itu manusia biasa. Mana bisa aku jadi berubah."
"Dasar ya! Orang aku itu lagi ngomong serius, malah ditanggapinya dengan bercanda," ucap Dion, dengan tangan kiri yang langsung mencubit pipi milik sang kekasih.
"Udah, jangan dibahas kek gitu terus ya! Ini itu adalah hari bahagia kamu, masa iya harus sedih kek gitu sih suasananya?" Kini Keysa yang mengusap lembut lengan Dion.
Tak ada sahutan yang keluar dari mulut Dion, membuat Keysa yang memilih untuk bertanya, "Oh iya, Mas, boleh tahu enggak, doa apa yang kamu ucapin tadi?"
"Sederhana aja kok, tapi kamu jangan tahu, yang pasti doa yang aku minta ke Yang Maha Kuasa itu sederhana banget," jawab Dion, seraya mengulas senyum.
Namun, mendapat jawaban seperti itu dari sang kekasih, tentu saja membuat Keysa sedikit tersinggung, tetapi Keysa sama sekali tak mau menampakkannya.
Perempuan itu lebih memilih untuk mengulas senyum, dan juga menguatkan di dalam hati, jika apa yang sudah menjadi keputusan Dion, itu adalah yang terbaik.
"Eh, kamu ke sini bawa sesuatu enggak sama aku?" tanya Dion, dengan kedua alis yang sengaja untuk naik turunkan.
Keysa kembali tersinggung dengan pertanyaan yang seperti itu, membuatnya harus diam dan menggelengkan kepala pelan.
"Eum, kalau aku liat sih kamu itu enggak bawa apa-apa. Iya, kan?" tanya Dion lagi, laki-laki itu masih tak menyadari bagaimana perasaan Keysa saat ini.
Dan menanggapi pertanyaan seperti itu, dari laki-laki yang sudah sah sebagai kekasihnya. Keysa memilih untuk berdeham terlebih dulu, lalu berucap, "Memangnya semua perayaan ulang tahun, harus membawa hadiah dan sejenisnya gitu?"
"Ya iyalah! Kamu baru tahu tentang hal itu? Seriusan?" sahut Dion tanpa salah sama sekali.
Ya ... sebenarnya apa yang diucapkan oleh Dion, itu sesuai dengan pengalaman yang ia punya.
Sehingga, laki-laki itu sama sekali tak merasa salah. Karena pada kenyataannya memang seperti itu.
"Saya rasa, enggak semuanya itu harus memakai hadiah dan juga kado, yang terpenting adalah doa tulus saja," ujar Keysa. Mengutarakan pendapatnya itu.
Dan Dion dengan sangat mudahnya langsung menggelengkan kepala. "Enggak gitu, eum karena kamu itu enggak bawa apa pun. Maka saya aja yang minta langsung sama kamu."
Melupakan ungkapan opini yang baru satu menit ia ucapkan, dan memutuskan untuk fokus pada permintaan Dion tadi.
"Mau tahu enggak apa permintaan saya?" tanya Dion, dengan kedua alis yang sengaja naik turun.
"Memangnya apa? Tinggal bilang aja, enggak susah kan?"
"Yakin mau tahu? Kalau udah dikasih tahu sama saya, kamu mau ngelakuinnya?" tanya Dion lagi, tentu saja untuk memastikan keputusan yang sudah dipilih oleh Keysa.
"Iya, saya mau tahu. Memangnya apa?"
"Saya mau bibir kamu, iin adalah yang pertama kali bagi kamu, kan?" tutur Dion.
Bagaikan tersambar petir, bahkan Keysa langsung merasa sangat direndahkan sekali. Apa maksud dari semua perkataan Dion tadi? Mengapa laki-laki yang sudah ia anggap sebagai seorang pahlawan, justru seperti itu?