Setelah selesai berbincang dengan kedua orang tuanya tadi, kini dion memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan memberi kesempatan bagi reta dan juga prawira untuk bermesraan.
Hari sudah malam, tetapi keda mata milik laki-laki itu belum ingin untuk terpejam. banyak sekali beban yang harus dipikirkan.
salah satunya adalah tentu saja tentang keysa. perempuan yang sudah mampu untuk menarik hatinya, dan juga perkataan kedua orang tua yang tadi ia dengar.
"kalau dipikir-pikir lagi, apa yang diomongin ayah sama mama emang bener," gumam dion, otaknya bekerja lebih keras lagi.
"saya sendiri aja kalau ditawarin sesuatu, pasti langsung merasa malu dan juga enggak mampu. apalagi keysa yang saya tawarin merenovasi rumah ya?" sambung laki-laki tersebut.
kegiatan Dion saat ini memang tengah berpikir, jika biasanya akan berpikir mengenai keberlangsungan perusahaan yang ia punya. namun, kali ini tidak seperti itu.
Urusan tentang Keysa memang selalu penting di dalam hati dion. meskipun pikirannya saat ini tengah mumet dan juga rumit, tetapi laki-laki tersebut tak memperdulikan sama sekali.
sampai akhirnya, rasa kantuk menghampiri dion. membuat laki-laki itu secara tak sadar langsung menutup kedua mata dan berlanjut menuju ke alam mimpi.
-
Seperti apa yang sudah direncanakan, jika pada pagi hari nanti jadwal Dion akan pergi mengantarkan Keysa menuju ke kampus.
Dan saat ini, Dion tengah berada di depan indekos kekasihnya itu. menunggu persiapan yang tengah dilakukan oleh keysa, karena jika perempuan tengah berdandan memang membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Masih lama lagi, Sayang?" tanya Dion, dengan suara yang sebisa mungkin lembut.
Laki-laki memang selalu saja salah di mata perempuan, terkadang apa yang berada di pikiran perempuan memang tidak selaras dengan laki-laki.
Jika saja Dion menanyakan hal yang tadi menggunakan suara yang keras, bisa saja detik itu juga Keysa akan langsung marah dan juga ngambek, yang repot siapa? Tentu saja Dion. namun, perlu diketahui juga, sifat seperti itu yang justru memiliki daya tarik tersendiri.
"Udah selesai, maaf ya udah buat kamu nunggu lama banget," ucap Keysa, dengan wajah sumringah.
Mendengar suara Keysa, membuat Dion langsung menolehkan kepalanya, lalu mengulas senyum. Melihat sang kekasih yang sangat cantik sekali, tentu saja memiliki daya tarik tersendiri untuk mengulas senyum.
"Cantik banget ih! Sampai pangling aku, untung banget kalau aku itu masih bisa kenalin siapa kamu," ujar Dion, sedangkan Keysa langsung menahan malu sebisa mungkin.
"Ish! kamu tuh ya, mas, kalau sekalinya muji enggak tanggung-tanggung!" protes Keysa, supaya menetralkan rasa bahagia yang mampir di dalam hati.
"Loh, harusnya itu kamu seneng dong, sayang, tapi kamu memang bener-bener cantik banget kok," sahut Dion, dan kembali memuji perempuan yang ada di sampingnya saat ini.
Tangan kanan Keysa langsung bergerak untuk menggapai telapak tangan Dion, lalu perempuan tersebut pun berucap, "Udah yuk ah, jalan!"
Kedua sudut bibir Dion kembali menarik untuk mengulas senyum, dan menjawab, "Ya udah ayo!" seraya mencium puncak kepala Keysa.
"Oh iya, nanti kalau kamu masuk ke kampus, aku boleh kan minjem ponsel kamu?" tanya Dion hati-hati, karena ia tak ingin jika kekasihnya itu sampai merasa tersinggung lagi.
Benar saja, Keysa langsung heran, lalu bertanya, "minjem ponsel aku? buat apaan, kan kamu juga punya ponsel sendiri, mas?"
"Ya ... aku mau lihat-lihat aja ada isi apa di dalam ponsel kamu itu," jawab Dion, mengeluarkan alasan sebisa mungkin.
Di dalam hati laki-laki itu sangat berharap sekali, jika Keysa tidak akan memberi pertanyaan macam-macam.
"Padahal, di dalam ponsel aku itu enggak ada apa-apa loh, Mas," ucap Keysa, dengan kedua tangan yang kini bergerak untuk membuka tas, lalu meraih ponsel tersebut.
"Nih, aku kasih ponselnya sekarang aja, ya! takut nanti lupa, hehe," ucap Keysa, seraya menyerahkan ponsel miliknya itu.
Tentu saja dengan sangat senang hati Dion langsung menerima ponsel tersebut, lalu menjawab, "makasih banyak ya, ini aku simpan aja dulu."
Dion menyimpan ponsel milik keysa itu di dalam saku celana, bersatu dengan ponsel dirinya. sedangkan Keysa hanya menganggukkan kepala saja.
Karena memang ia tidak tahu akan dibuat apa ponsel miliknya itu, lalu mereka pun kembali melanjutkan lagi melangkah. supaya segera sampai di samping mobil Dion.
"Makasih ya, mas," ucap Keysa, saat ia sudah diantarkan oleh Dion dengan selamat di depan kampusnya itu.
"Eh, tunggu bentar, sayang," cegah Dion, membuat keysa langsung mengernyitkan dahinya heran.
"Ini, mungkin kamu nanti bakalan butuh ponsel. pakai ponsel aku dulu aja, oke?" ujar Dion, seraya menyerahkan ponsel yang baru saja ia ambil dari dalam saku celana.
Tentu saja dengan senang hati dan juga tak ada kata protes sama sekali yang keluar dari mulut Keysa, hanya saja tangan kanan perempuan itu yang tadinya akan membuka pintu jadi terlepas.
Tubuh Keysa sengaja untuk dimiringkan, supaya dapat menatap wajah laki-laki yang ada di sampingnya saat ini. "Kenapa jadi ponsel kita tukeran kek gini, Mas?"
"Kan tadi aku itu udah ngasih tau, kalau aku mau tau isi yang ada di ponsel kamu," jawab Dion langsung, tanpa banyak berpikir.
"Apa untungnya coba liat ponsel keysa?" tanya Keysa lagi.
Dion sudah menebak dan ia juga memiliki pikiran, jika kekasihnya pasti akan mengeluarkan pertanyaan yang seperti itu.
Sehingga Dion sudah mempersiapkan jawaban untuk hal itu, yang mungkin dan semoga saja membuat Keysa tak banyak mengeluarkan tanya.
"Aku enggak boleh liat ponsel kamu ini? ya udah, aku kembaliin lagi, nih!" Dion menyerahkan ponsel milik sang kekasih.
Dapat terbaca oleh Dion dari raut wajah Keysa, jika perempuan itu tengah merasa bersalah karena telah mengeluarkan pertanyaan yang seperti itu.
"Loh, Mas, bukannya kek gitu. Aku itu enggak ada maksud buat ngelarang kamu," ucap Keysa, yang membuat di dalam hati Dion langsung sangat senang.
"Kalau emang iya kamu itu keberatan buat ngasih ponsel ini, ya udah ini aku kembaliin lagi aja," jelas Dion, masih tetap dengan tangan kanan yang menyodorkan ponsel tersebut.
"Apaan sih? orang maksud aku bukan kek gitu kok. Udah ah, aku mau masuk ke kampus aja," ujar Keysa, lalu tanpa menunggu jawaban dari dion lagi. perempuan itu segera membuka pintu mobil itu.
Seperginya Keysa dari pandangan, Dion langsung mengulas senyum dan bergumam, "Maafin aku ya, key. sebenarnya aku enggak ada maksud buat ngancem kamu sama sekali."
Setelah itu, kini tangan Dion mulai bergerak lincah untuk melacak ponsel milik sang kekasih, tetapi lebih tepatnya adalah mencari kontak keluarga.
Supaya apa yang diinginkan oleh Dion itu tercapai, yaitu tentang pembangunan rumah, atau renovasi rumah milik Keysa.